Selasa, 07 November 2006

Kenangan Singkat atas Omi Intan naomi

Saya kaget membaca berita di Kompas: Omi Intan Naomi telah dipanggil Bapa di sorga dalam usia 36 tahun. Saya mengenal pertama kali mengenal Omi melalui karya-karyanya yang dimuat di Sinar Harapan Minggu (sebelum dibereidel). Dia sangat rajin menulis di rubrik anak-anak. Maklum saja, ayahnya adalah seorang penyair ternama, Darmanto Jatman. Bersama dengan Remi Silado, Darmanto membuat inovasi dengan menciptakan puisi-puisi mbelingnya.Sebagai anak yang hidup di pelosok Gunungkidul, saya cukup beruntung telah diperkenalkan dengan dunia literatur oleh ayah saya. Meski agak susah dijangkau tansportasi, tapi ayah saya sering 'berhasil' mendapatkan koran SH dan almarhum majalah Mutiara. Minat kepenulisan saya banyak dibentuk oleh kedua media ini,Perkenalan saya pribadi dengan Omi Intan Naomi bermula ketika saya kuliah di jurusan Komunikasi UGM. Omi menjadi kakak angkatan saya. Saya angkatan 1991, dia angkatan 1989. Kami sempat beraktivitas bersama-sama di dalam Korps Mahasiswa Komunikasi (Komako), khususnya di divisi Jurnalistik dan Penerbitan. Kami menerbitkan tabloid SWARA. Dia menjadi Pemimpin Redaksi, saya reporternya. Saya masih ingat, laporan utama yang diangkat adalah tentang kewajiban Penataran P4 bagi mahasiswa baru. Kami mengadakan jajak pendapat. Hasilnya, mayoritas responden menolak Penataran P4.Selain Omi, rekan sekerja kami adalah Imam Wahyu(pernah di Editor dan Tiras. Entah sekarang dia ada dimana), Sagiyo, Yuyun Wardhana (fotografer Detik), Berto, Candra dan satu teman lagi yang sekarang di Metro TV. Namanya Matius Dwi Hartanto, tapi teman-teman memanggilnya Gimin.Saya tidak lama bergaul dengan Omi karena dia cepat menyelesaikan teorinya. Setelah itu, dia jarang nongol di kampus. Dari pergaulan singkat saya dengannya, saya melihat Omi sebagai mahasiswa yang cerdas dan kritis. Namun ada juga jiwa pemberontak di dalamnya. Setiap kami rapat redaksi, dia biasanya melontarkan opini-opini cerdas sambil tak lupa mengepulkan asap rokok ringan dari mulutnya.Omi menyelesaikan skripsi dengan topik penelitian analisis isi pojok Kompas. Setelah itu, kami tidak pernah kontak lagi. Saya dengar kabar, dia menerjemahkan karya-karya sastra dari Australia. Harus saya akui, perjalanan kepenulisan saya telah dihiasi oleh kekaguman saya pada wanita manis, berkulit langsat dan berambut ikal ini. Selamat jalan mbak Omi.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It