Senin, 07 Agustus 2006

Urung Mendonorkan Darah

Kamis sore (3/8), pak Agus menelepon. Katanya, "Adiknya Eko masuk rumah sakit. Dia harus operasi. Sekarang butuh tambahan darah golongan darah B. Mas Wawan mau menyumbang darah?"
"Ya," jawab saya. Sebenarnya badan saya sedang tidak sehat. Kecapekan dari Jakarta, virus flu bangkit menyerang sistem pertahanan tubuh saya. Tapi entah mengapa saya tidak bisa menolak permintaan itu. Untuk mengurangi meriang, saya menyambar jaket.
Malam itu juga bersama dengan Eko, pak Teguh dan Jiang-Jiang saya meluncur ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sampai di sana sudah lewat pukul malam. Kami masuk melewati ruang UGD sudah sepi. Di dekat meja resepsionis, kami naik tangga. Kemudian berbelok menuju ruang Laboratorium.
"Siapa nih yang diambil duluan?" tanya pak Teguh.
"Untuk menghormati orangtua, sebaiknya pak Teguh dulu saja," kata saya setengah bercanda. Pak Teguh tersenyum kecut sambil masuk ruang pengambilan sampel darah. Cukup lama juga pengambilan darah ini. Rupanya pembuluh darah pak Teguh ada di tempat tersembunyi sehingga susah ditemukan. Sampel daah ini kemudian diperiksa di lab untuk dipastikan kecocokannya. Jika tidak cocok, maka giliran saya yang diambil darahnya.
Kami harus menunggu satu setengah jam untuk mengetahui hasilnya. Alhamdulillah, ternyata darah pak Teguh cocok, seperti yang dicari. Dengan begitu, saya dan Jiang-Jiang lolos dari ujung jarum. Pengambilan darahnya sendiri ternyata sangat cepat. Tidak sampai setengah jam.
Selesai pengambilan darah, kami menengok dulu adik Eko. Namanya U'ut. Usianya masih muda. Belum ada 20 tahun. Kata Eko, selama berhari-hari dia tidak bisa buang air besar. Dia sudah menjalani operasi di sebuah Rumah Sakit Swasta di Klaten. Tapi anehnya, kata ibunya, luka bekas operasi ini tidak ditutup. Kata dokter lubang ini untuk mengeluarkan kotoran, demikian yang ditirukan ibu U'ut. Saya menduga lobang ini adalah anus darurat.
Malam itu, U'ut terlihat kesakitan. Napasnya tersengal-sengal, meski masker oksigen sudah dipasang di mulutnya. Berkali-kali dia menggeliat-geliat kesakitan, sambil merintih. Tidak tega melihat penderitaan itu. Kami segera berpamitan kepada keluarga.
Lewat tengah malam, kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang di rumah sakit. Di beberapa tempat, terlihat retakan tembok akibat gempa bulan Mei lalu. Di pintu gerbang, kami ditanyai oleh satpamnya. "Apakah pasien sudah dioperasi?" tanyanya. "Belum," jawab kami. "Apakah membutuhkan darah?" "Sudah cukup." Saya menduga Satpam ini punya profesi sampingan, yaitu menyediakan pendonor darah bayaran. Hal yang lazim terjadi di rumah sakit. Saya merenung sejenak, etiskah penyedia jasa seperti ini? Di satu sisi, dia mengkomersialkan salah satu anggota tubuhnya; Tetapi di sisi lain, dalam kondisi darurat ketika tidak ada orang yang bisa menjadi donor, kehadiran mereka dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sedang kritis.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak untuk makan malam yang sudah sangat terlambat. Ada gudeg di dekat bandara, tepatnya di dekat rumah makan Hegar. Saya suka tehnya: Wangi dan kenthel. Selain lumayan enak, warung gudeg ini juga bertarif wajar. Empat porsi, dengan ayam tepong, tidak sampai menghabiskan lima puluh ribu.
---****---
Sabtu pagi (4/8), saya mendapat kabar bahwa U'ut telah dipanggil pulang Bapa di Sorga.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%http://www.Geocities.com/purnawankristantohttp://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It