Senin, 07 Agustus 2006

Pembajakan Ide

Hari-hari ini, kegiatan di posko bencana yang dikelola GKI Klaten justru semakin bertambah banyak. Kami memulai proyek pembangunan rumah tumbuh. Ada lebih dari 250 keluarga yang terlibat dalam kegiatan. Bayangkan, betapa repotnya relawan-relawan yang ada di sana.
Kalau melihat jumlah rumah yang akan dibangun, sebagian orang akan segera menghitung berapa biaya yang dikeluarkan. Jumlahnya termasuk besar. Untuk ukuran Indonesia memang, ya. Namun jika dihitung dengan kurs luar negeri, jumlahnya tidak sebesar itu. Ada gereja-gereja di luar negeri yang bersedia menyokong proyek ini.
GKI dapat komisi banyak, nih! Mungkin begitu pikiran beberapa orang. Nyatanya tidak. Untuk melaksanakan proyek ini, tim GKI justru ikut mengeluarkan biaya operasional sendiri. Relawan-relawannya juga tidak digaji. Bantuan dari luar negeri, sepenuhnya diberikan pada korban.
Tapi tidak semua orang mengerti hal ini. Ada gereja lain yang rupanya juga ingin menjalankan proyek seperti ini. Sayangnya, cara yang digunakan kurang tepat. Ceritanya begini: Ada pendeta yang memperoleh rancangan pembangunan rumah tumbuh yang dikerjakan tim GKI. Dia menunjukkan konsep rumah tumbuh itu kepada donatur dari Jerman. Dia mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan rumah seperti ini [padahal sesungguhnya tidak].
Bule dari Jerman lalu mencermati desain rumah itu. Dia teringat, temannya yang sama-sama eks-patriat pernah menunjukkan desain rumah yang mirip seperti ini. Orang Jerman ini lalu menghubungi temannya. Temannya lalu menegaskan bahwa desain ini sama persis dengan desain yang diusulkan oleh tim GKI kepadanya. Untuk lebih memastikan kebenaran informasi tersebut, maka kedua donatur itu sepakat untuk mengundang koordinator lapangan proyek ini. Tapi sebelum koordinator datang, pendeta itu sudah pamitan. Sampai sekarang dia tidak nongol lagi.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It