Sabtu, 19 Agustus 2006

Telah terbit buku yang ditulis Relawan Kemanusiaan

Rekan-rekan,
Saya ingin berbagi kabar gembira. Telah terbit dua buku baru saya, yaitu:
1. "Tuhan Yesus tidak Tidur; 100 Renungan tentang Hikmah di Balik Musibah". Sebagian tulisan dalam buku ini adalah hasil perenungan saya sebagai relawan kemanusiaan pada gempa bumi tahun kemarin.
2. Humor Cinta.
Selanjutnya akan menyusul "Secret Bible Codes". Ketiganya diterbitkan oleh PBMR Andi, Yogyakarta.
Khusus untuk buku  "Tuhan Yesus tidak Tidur", SEMUA ROYALTI AKAN DISUMBANGKAN ke gereja-gereja di Klaten yang menjadi korban gempa 27 Mei 2006.  Berikut ini tulisan di back covernya:
Kecelakaan dan bencana alam yang bertubi-tubi mendera bangsa Indonesia mulai dari kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, gempa bumi sampai lumpur Lapindo yang menggoreskan luka mendalam di benak sejumlah korban dan para penyintas (orang-orang yang selamat dari musibah). Berbagai peristiwa yang mengharu biru, kesaksian akan perlindungan dan keselamatan yang nyata dari Tuhan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di tengah bencana yang dahsyat ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk menuliskan permenungan di balik setiap kejadian dan mengambil hikmahnya. Di balik bencana ada hikmah yang bisa dipetik walaupun pahit. Kita sudah selayaknya berserah dalam segala situasi kehidupan yang berubah tiada tentu.
Melalui  "Tuhan Yesus tidak Tidur", pembaca diajak menemukan mutiara ilahi di balik kepedihan dan di anatara gelimang air mata kesedihan serta keputusasaan. Tidak hanya itu, penulis juga ingin mempersembahkan sekelumit kisah konyol ketika ia berkesempatan menjadi relawan untuk menolong para korban gempa di Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006. Jadi buku ini tidak hanya berisi kisah pilu nan mengetuk hati dan menderaskan air mata, tetapi juga memberi penghiburan lewat kisah konyol dan lucu yang didasarkan pada pengalaman nyata para relawan dan penyintas.
Sebuah kombinasu unik yang patut Anda baca di tengah membanjirnya buku-buku renungan.  Buku ini menawarkan sesuatu yang membuat pembaca melihat berbagai sisi dari sebuah bencana. Semoga buku ini memberkati dan membuat Anda tersenyum, lalu menyadari bahwa  "Tuhan Yesus tidak Tidur"!
 
Mari dapatkan berkat dengan membeli dan membaca buku ini, sekaligus juga memberkati gereja-gereja korban gempa di Klaten.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 07 Agustus 2006

Pembajakan Ide

Hari-hari ini, kegiatan di posko bencana yang dikelola GKI Klaten justru semakin bertambah banyak. Kami memulai proyek pembangunan rumah tumbuh. Ada lebih dari 250 keluarga yang terlibat dalam kegiatan. Bayangkan, betapa repotnya relawan-relawan yang ada di sana.
Kalau melihat jumlah rumah yang akan dibangun, sebagian orang akan segera menghitung berapa biaya yang dikeluarkan. Jumlahnya termasuk besar. Untuk ukuran Indonesia memang, ya. Namun jika dihitung dengan kurs luar negeri, jumlahnya tidak sebesar itu. Ada gereja-gereja di luar negeri yang bersedia menyokong proyek ini.
GKI dapat komisi banyak, nih! Mungkin begitu pikiran beberapa orang. Nyatanya tidak. Untuk melaksanakan proyek ini, tim GKI justru ikut mengeluarkan biaya operasional sendiri. Relawan-relawannya juga tidak digaji. Bantuan dari luar negeri, sepenuhnya diberikan pada korban.
Tapi tidak semua orang mengerti hal ini. Ada gereja lain yang rupanya juga ingin menjalankan proyek seperti ini. Sayangnya, cara yang digunakan kurang tepat. Ceritanya begini: Ada pendeta yang memperoleh rancangan pembangunan rumah tumbuh yang dikerjakan tim GKI. Dia menunjukkan konsep rumah tumbuh itu kepada donatur dari Jerman. Dia mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan rumah seperti ini [padahal sesungguhnya tidak].
Bule dari Jerman lalu mencermati desain rumah itu. Dia teringat, temannya yang sama-sama eks-patriat pernah menunjukkan desain rumah yang mirip seperti ini. Orang Jerman ini lalu menghubungi temannya. Temannya lalu menegaskan bahwa desain ini sama persis dengan desain yang diusulkan oleh tim GKI kepadanya. Untuk lebih memastikan kebenaran informasi tersebut, maka kedua donatur itu sepakat untuk mengundang koordinator lapangan proyek ini. Tapi sebelum koordinator datang, pendeta itu sudah pamitan. Sampai sekarang dia tidak nongol lagi.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Urung Mendonorkan Darah

Kamis sore (3/8), pak Agus menelepon. Katanya, "Adiknya Eko masuk rumah sakit. Dia harus operasi. Sekarang butuh tambahan darah golongan darah B. Mas Wawan mau menyumbang darah?"
"Ya," jawab saya. Sebenarnya badan saya sedang tidak sehat. Kecapekan dari Jakarta, virus flu bangkit menyerang sistem pertahanan tubuh saya. Tapi entah mengapa saya tidak bisa menolak permintaan itu. Untuk mengurangi meriang, saya menyambar jaket.
Malam itu juga bersama dengan Eko, pak Teguh dan Jiang-Jiang saya meluncur ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sampai di sana sudah lewat pukul malam. Kami masuk melewati ruang UGD sudah sepi. Di dekat meja resepsionis, kami naik tangga. Kemudian berbelok menuju ruang Laboratorium.
"Siapa nih yang diambil duluan?" tanya pak Teguh.
"Untuk menghormati orangtua, sebaiknya pak Teguh dulu saja," kata saya setengah bercanda. Pak Teguh tersenyum kecut sambil masuk ruang pengambilan sampel darah. Cukup lama juga pengambilan darah ini. Rupanya pembuluh darah pak Teguh ada di tempat tersembunyi sehingga susah ditemukan. Sampel daah ini kemudian diperiksa di lab untuk dipastikan kecocokannya. Jika tidak cocok, maka giliran saya yang diambil darahnya.
Kami harus menunggu satu setengah jam untuk mengetahui hasilnya. Alhamdulillah, ternyata darah pak Teguh cocok, seperti yang dicari. Dengan begitu, saya dan Jiang-Jiang lolos dari ujung jarum. Pengambilan darahnya sendiri ternyata sangat cepat. Tidak sampai setengah jam.
Selesai pengambilan darah, kami menengok dulu adik Eko. Namanya U'ut. Usianya masih muda. Belum ada 20 tahun. Kata Eko, selama berhari-hari dia tidak bisa buang air besar. Dia sudah menjalani operasi di sebuah Rumah Sakit Swasta di Klaten. Tapi anehnya, kata ibunya, luka bekas operasi ini tidak ditutup. Kata dokter lubang ini untuk mengeluarkan kotoran, demikian yang ditirukan ibu U'ut. Saya menduga lobang ini adalah anus darurat.
Malam itu, U'ut terlihat kesakitan. Napasnya tersengal-sengal, meski masker oksigen sudah dipasang di mulutnya. Berkali-kali dia menggeliat-geliat kesakitan, sambil merintih. Tidak tega melihat penderitaan itu. Kami segera berpamitan kepada keluarga.
Lewat tengah malam, kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang di rumah sakit. Di beberapa tempat, terlihat retakan tembok akibat gempa bulan Mei lalu. Di pintu gerbang, kami ditanyai oleh satpamnya. "Apakah pasien sudah dioperasi?" tanyanya. "Belum," jawab kami. "Apakah membutuhkan darah?" "Sudah cukup." Saya menduga Satpam ini punya profesi sampingan, yaitu menyediakan pendonor darah bayaran. Hal yang lazim terjadi di rumah sakit. Saya merenung sejenak, etiskah penyedia jasa seperti ini? Di satu sisi, dia mengkomersialkan salah satu anggota tubuhnya; Tetapi di sisi lain, dalam kondisi darurat ketika tidak ada orang yang bisa menjadi donor, kehadiran mereka dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sedang kritis.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak untuk makan malam yang sudah sangat terlambat. Ada gudeg di dekat bandara, tepatnya di dekat rumah makan Hegar. Saya suka tehnya: Wangi dan kenthel. Selain lumayan enak, warung gudeg ini juga bertarif wajar. Empat porsi, dengan ayam tepong, tidak sampai menghabiskan lima puluh ribu.
---****---
Sabtu pagi (4/8), saya mendapat kabar bahwa U'ut telah dipanggil pulang Bapa di Sorga.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%http://www.Geocities.com/purnawankristantohttp://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More