Kamis, 08 Juni 2006

Relawan Bencana di Klaten

Pekerjaan kemanusiaan terhadap korban bencana alam tidak dapat berjalan baik tanpa dukungan para relawan. Namun keberadaan mereka kadang tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal mereka telah bekerja keras sejak hari pertama bencana, tanpa berharap imbalan atau pun pujian. Kebanggan dan kepuasaan mereka adalah ketika melihat penderitaan para korban menjadi lebih ringan dengan kehadiran mereka.
Pak Yoyok, siang hari setelah gempa terjadi sudah berkeliling melihat dampak gempa. Bersama Agus Permadi, mereka segera mengkoordinasikan bantuan secepatnya. Meski masih terbatas, mereka memberikan tenda sebagai tempat berteduh dan nasi bungkus kepada para korban. Bantuan seperti ini belum sempat terpikirkan oleh para korban karena mereka masih syok oleh goncangan gempa dahysat itu.
Pak Yoyok adalah seorang pedagang kelontong yang tokonya ada di sebelah timur pasar Klaten. Dia sama sekali meninggalkan pekerjaannya untuk terjun sebagai relawan. "Saya tidak bisa berdiam diri saja, Mas," kata pak Yoyok,"sebagian dari korban ini adalah pedagang kecil yang kulakan di tempat saya." Pedagang dari suku Tionghoa ini menyediakan truknya sebagai kendaraan operasional untuk mengangkut logistik dan bantuan lain. Jika daerah bencana itu tak dapat dijangkau dengan mobil, maka bersama dengan saya, menjangkaunya dengan sepeda motor. Terutama di daerah pegunungan kapur di perbatasan dengan Gunungkidul.
Agus Permadi, sehari-harinya mengaku sebagai botanis. Bapak yang humoris ini termasuk di antara sedikit relawan yang sudah berada di lokasi bencana sejak hari pertama. Dia juga meninggalkan sama sekali pekerjaannya, yaitu membangun dan merancang pertamanan. Kepada saya, dia mengaku bahwa uangnya sudah menipis karena tidak mengerjakan pembuatan taman. Namun dia percaya, dengan melakukan pelayanan kemanusiaan ini, Tuhan tetap memelihara dia dan keluarganya.
Hari-hari berikutnya, menyusul relawan-relawan lain, diantaranya adalah Susanjanto (Ajion), Agus Mulia, Dina, Ari Suparyono, Debby, Sarce dll. Mereka juga bekerja dengan tulus, ulet dan giat. Hari ketiga, pdt. Surya Giamsyah memimpin rombongan relawan dari GKI Sangkrah. Tenaga-tenaga muda ini membantu kami membersihkan dan menyingkirkan puing-puing gedung gereja. Di bawah sengatan matahari yang sangat terik, mereka bekerja dengan hati yang sukacita dan diselipi humor. Bantuan mereka sangat berarti bagi kami dan para korban, karena kami bisa segera membuka Posko Kesehatan.
Relawan Tim Medis dari R.S Bethesda, Serukam, Kalimantan juga tergolong cepat bertindak. Mereka segera mengirimkan dokter dan perawat ke lokasi bencana. Tidak tanggung-tanggung, tim yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan ini bersedia menginap di lokasi bencana, di dalam tenda sekama 10 hari. Mereka tidur hanya dengan beralas matras dan dengan fasilitas seadanya. Saya salut dengan mereka.
Relawan lainnya yang patut diacungi jempol adalah pemuda dari GKI Temanggung dan Parakan. Mereka diangkut dengan truk ke lokasi bencana dengan membawa sendiri kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak mau merepotkan orang yang dibantu. Karena itu, mereka mau mengurus dirinya sendiri. Bahkan mereka juga memasak sendiri.
Dengan kekuatan anak muda, mereka membantu membersihkan puing-puing. Ketika pembersihan di bekas gereja dirasakan sudah selesai, mereka diperbantukan untuk membantu warga sekitar. Bagi warga, bantuan ini cukup berart karena anak-anak muda ini bekerja dengan penuh semangat. Pemilik rumah tidak perlu menyediakan makan siang dan air minum bagi mereka karena sudah disuplai oleh Posko di Bajem Pesu. Anak-anak muda ini juga menginap di lokasi bencana.
Apabila euforia bencana ini sudah usai, kemungkinan jasa-jasa mereka akan terlupakan. Tidak ada bintang jasa tersemat di dada mereka. Tidak ada liputan media yang memuji-muji kiprah mereka. Bahkan yang menerima bantuan mereka juga akan melupakannya. Bagi relawan, hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting bagi mereka adalah telah diberi kesempatan membagikan kasih Kristus kepada sesama. "Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini," kata Yusak, yang rela mengambil cuti selama seminggu untuk menjadi relawan.


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Untuk foto aktivitas Gerakan Kemanusiaan Indonsia di Klaten, klik:http://www.geocities.com/gki_klaten/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It