Kamis, 08 Juni 2006

Jurnal Gempa, 4 Juni 2006

Klaten, 4 Juni

Hari ini beredar SMS berantai tentang nubuatan Samuel Doktorian. Lengkapnya sebagai berikut:
'Menurut CNN disiarkan 3 hari yang lalu bahwa: lempeng bumi di Australia sedang berderak ke Utara
menuju ke Asia. Diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng di selatan bumi p. Jawa. Diperkirakan
11 hari setelaj gempa Jogja, sekitar Rabu besok, gempa itu diperkirakan sangat dahsyat dan mungkin
terjadi Tsunami. Seperti nubuatan Samuel Doktorian."

Aku cenderung skeptis terhadap isi berita ini dan kepada orang Kristen yang mempercayai nubuatan
ini. Sebab, jika mereka meyakini nubuatan ini benar-benar akan terjadi, lalu apa yang sudah mereka
lakukan untuk mengantisipasi dampak dari "bencana Tsunami"? Apakah mereka sudah menyiapkan sistem
peringatan dini kepada penduduk di daerah pantai? Apakah mereka sudah menyiapkan ambulans dan tenaga
medis untuk memberikan pertolongan pertama kepada para korban? Apakah mereka telah menyiapkan
logistik minimal seminggu kepada para korban? Jika jawabannya "Tidak" atau "Belum", maka aku berani
mengatakan mengatakan bahwa orang Kristen semacam ini tergolong MUNAFIK! Mereka percaya terhadap
nubuatan itu, tetapi tidak mengantisipasi terhadap bencana itu. Seandainya ada orang yang
memberitahu Anda bahwa presiden akan bertamu ke rumah Anda. Apa yang Anda lakukan? Jika Anda
mempercayai orang itu, maka Anda segera membenahi rumah supaya kelihatan rapi dan menyiapkan jamuan
makan. Tetapi jika Anda tidak melakukan apa-apa, itu artinya Anda tidak percaya kepada orang itu.

Tuhan memberikan nubuatan kepada seseorang tentu punya maksud tertentu. Tentunya, bukan sekadar
untuk entertainment di podium atau mimbar gereja saja. Dalam Alkitab, nubuatan bisa berlaku
terhadap pribadi atau sebuah bangsa. Jika menyangkut sebuah bangsa, maka biasanya nubuatan ini
disertai dengan seruan untuk melakukan tindakan tertentu. Lalu tindakan apa yang sudah dilakukan
untuk menindaklanjuti nubuatan itu? Paling-paling ya berdoa.

---***---

Usia ibadah minggu, aku memimpin lebih dari 25 relawan Solo meluncur ke Pesu. Kami berkonvoi
menggunakan sepeda motor, mobil Carry dan Truk. Setelah berjalan sekitar 3 km, ternyata truk tidak
kelihatan dalam rombongan. Aku terpaksa harus melacak keberadaan truk ini. Melalui komunikasi
lewat HP, diketahui ternyata truk ini salah mengambil belokan. Dia seharusnya berjalan lurus,
tetapi malah berbelok ke kanan.

Setelah mereda selama dua hari, hari ini wisatawan bencana mencapai puncaknya. Liburan pada hari
Minggu ini rupanya dimanfaatkan oleh masyarakat dari kota lain untuk menengok kerabatnya yang
menjadi korban gempa. Ruas jalan Bendhogantungan-Pesu macet total. Meskipun sudah melewati jalur
alternatif, tetapi masih harus masuk ke jalur utama lagi. Kami terjebak dalam kemacetan ini hampir
selama satu jam. Padahal dalam kondisi normal bisa ditempuh dalam 5 menit. Ini benar-benar
menguras enerji. Udara sangat panasa, sinar matahari sangat terik dan debu puing-puing beterbangan
dilindas oleh roda kendaraan.

Sesampai di Posko, aku segera mendapat tugas melakukan survei di daerah bencana. Ini adalah metode
peyaluran gempa yang kami terapkan. Kami tidak menyalurkan bantuan tanpa melakukan survei lebih
dulu. Ini untuk membuat prioritas pemberian bantuan, menghindari duplikasi pemberian bantuan dengan
jenis barang yang sudah ada dan untuk menjalin kontak dengan penduduk setempat. Petugas survei
bertugas mencatat kebutuhan para pengungsi dan menyesuaikan dengan stok barang. Daftar kebutuhan
ini ditulis pada selembar kertas memo, kemudian diserahkan kepada warga untuk diambil sendiri ke
Posko. Keuntungan metode ini adalah:

1. Bantuan yang diberikan adalah yang benar-benar dibutuhkan oleh pengungsi. Sebagai contoh, ada
banyak pemberi bantuan yang memberikan kompor pada pengungsi. Padahal minyak tanah sangat sulit
didapatkan. Hal ini membuat bantuan kompor itu menjadi mubazir. Selama ini penduduk memasak
menggunakan kayu, dai sisa-sisa rumah. Jadi, yang lebih dibutuhkan adalah pawon atau anglo.

2. Menghemat ongkos angkut. Dengan membawa memo itu, warga membawa sepeda motor untuk mengangkut
bantuan dari Posko. Dengan demikian, warga tidak sekadar menerima bantuan saja, tetapi juga turut
terlibat dalam penyaluran bantuan.

3. Bantuan tepat sasaran. Bantuan yang diberikan adalah jenis barang yang belum ada atau stoknya
sudah menipis. Tidak ada jenis barang yang berlebih. Sebagai contoh, hari ini kami justru ditawari
kobis dari warga pengungsi. Pasalnya mereka memiliki stok kobis yang melimpah.

4. Memudahkan pengawasan dan monitoring. Dengan disaksikan oleh semua warga, maka pengambil bantuan
tidak mungkin menyalahgunakan bantuan itu untuk kepentingan sendiri.

Daerah yang aku survei adalah Karangturi dan Nggathak Brangkal. Sorenya, naik gunung ke desa Ngunut
di wilayah Gunungkidul.

--***--

Usai jam makan siang, pendeta Iskandar datang ke lokasi bersama dengan Joe, seorang aktivis LSM
Amerika. Mereka menawarkan untuk mendirikan semi permanen yang cukup layak sebagai tempat tinggal.
Sebagai langkah awal, mereka melakukan uji coba dengan mendirikan 5 tenda terlebih dahulu. Aku
hanya memberi pesan supaya berhati-hati dalam memilih 5 keluarga yang mendapatkan bantuan awal ini.
Hal ini untuk menghindari sikap saling iri. "Itu menjadi bagian tugas kami. Jadi tenang saja,"
tegas pak Is. Dia lalu bercerita bahwa LSM ini sudah berpengalaman di Banda Aceh. Mereka memakai
bendera "Genesis".

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Relawan Bencana di Klaten

Pekerjaan kemanusiaan terhadap korban bencana alam tidak dapat berjalan baik tanpa dukungan para relawan. Namun keberadaan mereka kadang tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal mereka telah bekerja keras sejak hari pertama bencana, tanpa berharap imbalan atau pun pujian. Kebanggan dan kepuasaan mereka adalah ketika melihat penderitaan para korban menjadi lebih ringan dengan kehadiran mereka.
Pak Yoyok, siang hari setelah gempa terjadi sudah berkeliling melihat dampak gempa. Bersama Agus Permadi, mereka segera mengkoordinasikan bantuan secepatnya. Meski masih terbatas, mereka memberikan tenda sebagai tempat berteduh dan nasi bungkus kepada para korban. Bantuan seperti ini belum sempat terpikirkan oleh para korban karena mereka masih syok oleh goncangan gempa dahysat itu.
Pak Yoyok adalah seorang pedagang kelontong yang tokonya ada di sebelah timur pasar Klaten. Dia sama sekali meninggalkan pekerjaannya untuk terjun sebagai relawan. "Saya tidak bisa berdiam diri saja, Mas," kata pak Yoyok,"sebagian dari korban ini adalah pedagang kecil yang kulakan di tempat saya." Pedagang dari suku Tionghoa ini menyediakan truknya sebagai kendaraan operasional untuk mengangkut logistik dan bantuan lain. Jika daerah bencana itu tak dapat dijangkau dengan mobil, maka bersama dengan saya, menjangkaunya dengan sepeda motor. Terutama di daerah pegunungan kapur di perbatasan dengan Gunungkidul.
Agus Permadi, sehari-harinya mengaku sebagai botanis. Bapak yang humoris ini termasuk di antara sedikit relawan yang sudah berada di lokasi bencana sejak hari pertama. Dia juga meninggalkan sama sekali pekerjaannya, yaitu membangun dan merancang pertamanan. Kepada saya, dia mengaku bahwa uangnya sudah menipis karena tidak mengerjakan pembuatan taman. Namun dia percaya, dengan melakukan pelayanan kemanusiaan ini, Tuhan tetap memelihara dia dan keluarganya.
Hari-hari berikutnya, menyusul relawan-relawan lain, diantaranya adalah Susanjanto (Ajion), Agus Mulia, Dina, Ari Suparyono, Debby, Sarce dll. Mereka juga bekerja dengan tulus, ulet dan giat. Hari ketiga, pdt. Surya Giamsyah memimpin rombongan relawan dari GKI Sangkrah. Tenaga-tenaga muda ini membantu kami membersihkan dan menyingkirkan puing-puing gedung gereja. Di bawah sengatan matahari yang sangat terik, mereka bekerja dengan hati yang sukacita dan diselipi humor. Bantuan mereka sangat berarti bagi kami dan para korban, karena kami bisa segera membuka Posko Kesehatan.
Relawan Tim Medis dari R.S Bethesda, Serukam, Kalimantan juga tergolong cepat bertindak. Mereka segera mengirimkan dokter dan perawat ke lokasi bencana. Tidak tanggung-tanggung, tim yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan ini bersedia menginap di lokasi bencana, di dalam tenda sekama 10 hari. Mereka tidur hanya dengan beralas matras dan dengan fasilitas seadanya. Saya salut dengan mereka.
Relawan lainnya yang patut diacungi jempol adalah pemuda dari GKI Temanggung dan Parakan. Mereka diangkut dengan truk ke lokasi bencana dengan membawa sendiri kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak mau merepotkan orang yang dibantu. Karena itu, mereka mau mengurus dirinya sendiri. Bahkan mereka juga memasak sendiri.
Dengan kekuatan anak muda, mereka membantu membersihkan puing-puing. Ketika pembersihan di bekas gereja dirasakan sudah selesai, mereka diperbantukan untuk membantu warga sekitar. Bagi warga, bantuan ini cukup berart karena anak-anak muda ini bekerja dengan penuh semangat. Pemilik rumah tidak perlu menyediakan makan siang dan air minum bagi mereka karena sudah disuplai oleh Posko di Bajem Pesu. Anak-anak muda ini juga menginap di lokasi bencana.
Apabila euforia bencana ini sudah usai, kemungkinan jasa-jasa mereka akan terlupakan. Tidak ada bintang jasa tersemat di dada mereka. Tidak ada liputan media yang memuji-muji kiprah mereka. Bahkan yang menerima bantuan mereka juga akan melupakannya. Bagi relawan, hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting bagi mereka adalah telah diberi kesempatan membagikan kasih Kristus kepada sesama. "Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini," kata Yusak, yang rela mengambil cuti selama seminggu untuk menjadi relawan.


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Untuk foto aktivitas Gerakan Kemanusiaan Indonsia di Klaten, klik:http://www.geocities.com/gki_klaten/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 03 Juni 2006

Jurnal Gempa 3 Juni 2006

3 Juni
Pagi-pagi, aku sudah mendapat telepon dari Posko Induk. Aku harus segera membuat proposal karena sebuah lembaga charity yang terkenal di Indonesia, berinisial CI akan mengirimkan ribuan tenda dan selimut. Menurut informasi, mereka telah menyewa gudang di Klaten sebagai stok barang. Kami dijanjikan akan mendapat sekitar tiga ribu tenda. Pukul 9, proposal itu diserahkan kepada Mateas yang menjadi penghubung ke lembaga itu. Kami kemudian ditelepon bahwa harus menyediakan lebih dari lima tenaga untuk menjemput tenda dan selimut itu di bandara.
Dengan harapan yang sangat besar, mobil relawan dan truk meluncur di bandara. Tenda sebanyak itu akan sangat banyak membantu pengungsi di lokasi bencana. Begitu kiriman diturunkan dari pesawat, para relawabn segera memuat barang-barang itu ke atas truk. Rombongan kemudian meluncur ke arah Timur. Namun ketika sampai di Prambanan, bule-bule yang dari lembaga ini membelokkan rombongan ke arah Piyungan. Hal ini di luar yang disepakati semula. Tanpa berkoordinasi dengan kami, bule-bule itu segera membagikan tenda-tenda itu kepada masyarakat sampai habis. Padahal pengungsi yang mendapat bantuan tenda dan selimut itu masih termasuk wilayah korban gempa yang ringan. Setelah itu kami disuruh pulang dengan tangan hampa. Tak selembar selimut dan tenda yang didapatkan. Bahkan untuk jatah makan siang pun para bule-bule itu tidak memberikan. Teganya, teganya, teganya……
Selepas makan siang, aku dan Agus Permadi melakukan survei ke dusun Lengkong, Duren-Serut dan Pondok. Lokasi ini terbilang sulit dijangkau karena berada di lereng dan puncak pegunungan seribu. Belum ada jalan aspal. Jalan masih berupa susunan batu-batu putih, namun pada tanjakan yang sangat tajam telah dibuat dari cor semen. Dengan hanya memakai Astrea Grand, medan ini sangat sulit dijangkau. Mesin berkapasitas 80 cc ini harus membawa muatan dua orang, dengan total berat badan sekitar 1,5 kuintal! Setiap kali melewati tanjakan yang curam, roda depan sepeda motor tidak dapat menapak dengan sempurna karena sesekali terangkat.
Persediaan pangan di ketiga tempat ini ternyata sudah menipis. Untuk penduduk di dusub Lengkong, kami meminta penduduk setempat untuk memgambil sendiri bantuan pangan menggunakan sepeda motor. Sedangkan untuk desa yang ada di puncak gunung, kebetulan ada bantuan dari teman-teman Offroader dari Surabaya. Mereka membawa tiga mobil jeep. Dengan memuat 20 karung beras, 15 mie instan, tenda, selimut dan obat-obatan, kami segera meluncur ke lokasi. Namun rupanya medan yang kami lalui masih terlalu ringan bagi para Offroader ini. "Apa tidak ada medan yang lebih menantang?" tanya salah satu Offroader melalui Handie Talkie, dengan nada kecewa. Sesampai di posko Pesu, mereka segera berpamitan. Alasannya, mereka sudah janjian dengan pihak lain. Namun saya menduga, mereka mencari medan yang lebih sulit dan yang dapat memeras adrenalin mereka.
Sore hari, karyawan Hoka-hoka Bento menawarkan bantuan ke Posko Pesu. Namun sebelum itu, mereka lebih dulu mengajukan banyak sekali pertanyaan. Sebagian besar menanyakan masalah prosedural-birokrasi. Misalnya apakah keberadaan Posko ini sudah diketahui ketua RT setempat dan sebagainya. Hal ini membuat relawan-relawan yang muda menjadi tidak sabar. Mereka tidak punya waktu dan tenaga untuk melayani pertanyaan yang lebih mirip dengan interogasi ini. Untunglah ada anggota jemaat yang lebih tua, yang dengan sabar menjawab pertanyaan itu. Pada akhirnya, perusahaan waralaba dari Jepang ini menurunkan 400 lembar selimut dan 2600 biji roti isi pisang dan daging. Menurut mereka, roti ini dapat bertahan selama lima hari. Namun, sekarang adalah hari ketiga. Hari sudah petang. Kami sempat kebingungan bagaimana cara mendistribusikan roti sebanyak itu. Pada saat yang tepat, datanglah bala bantuan yang diperlukan. Pendeta Indrianto dari GKJ Gayamprit datang bersama dengan rombongan klub VW Combi-nya. Mereka bersedia membagikan roti ke daerah bencana.
Hari ini kami banyak dikecewakan oleh teman-teman sepelayanan. Ada yang mengingkari janji yang telah diberikan. Ada yang melontarkan kata-kata yang 'nylekit'. Ada pula yang justru merepotkan kami. Pada saat datang, dia sudah marah-marah karena tidak dijemput. Padahal dia tidak memberitahukan kedatangannya. Selama di lokasi, dia minta dilayani bermacam-macam. Ketika pulang, dia pun minta diantar ke bandara. Perilaku semacam ini sangat menguras energi dan emosi. Untuk itu, kami menyiasatinya dengan selalu menyelipkan humor dalam setiap situasi. "Di dalam pelayanan ini, kita tidak usah patah semangat" kata seorang teman lewat komunikasi radio. "Kalau patah, kita punya lem yang superkuat untuk menyambungnya kembali. Mereknya Yesus Kristu," timpal relawan lain. Aku teringat ucapan pak Yusak dalam sebuah briefing: "Kita harus melayani hingga sakit!"
Pada saat jurnal ini ditulis, gempa susulan terjadi lagi, pada sekitar 00.30. Goncangannya sangat terasa. Sebelumnya, sekitar pukul 18.00, teman dari GKJ Prambanan menginformasikan terjadi gempa yang sangat terasa di daerah sekitar kraton Boko. Namun tidak terasa di Klaten dan sekitarnya. Ya Allah, lindungilah kami dengan kasih karuniamu!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Gempa2 Juni 2006

2 Juni 2006
Pada hari ini, kami dihebohkan dengan kasus keracunan. Malamnya, teman-teman yang berjaga di poskoPesu dikejutkan oleh suara sirene yang meraung-raung dan hilir mudik yang membawa warga yangkeracunan setelah makan nasi bungkus. Sempat beredar spekulasi bahwa ini bukan kasus keracunanmakanan, melainkan peracunan. Hal ini mengingat jumlah korban yang sangat banyak dan dalam wilayahyang luas.
Ketika saya melakukan survei ke lapangan di desa Karangturi dan Brajan, yang menjadi korbanterbanyak, saya menemui beberapa korban keracunan. Penduduk desa Brajan mengakui makan nasi bungkusdengan lauk gudeg dan telur. Sedangkan penduduk di Brajan, mendapat lauk oseng-oseng dan ayam.Semula saya menduga keracunan itu bersumber dari sambel krecek (kulit sapi yang dikeringkan), yangbiasa ada pada nasi gudeg. Namun dugaan ini ditepis dengan adanya perbedaan lauk. Jika begitu,kemungkinan besar sumber keracunan adalah pada nasinya, pengolahan pangan yang tidak hiegenis ataulainnya. Apapun sumber racun itu, yang jelas peristiwa ini semakin memperberat penderitaan danmerepotkan para relawan.
Kasus keracunan ini membuat tim medis yang ada di lapangan desa Pasung mengalami keletihan yang luarbiasa. Oleh sebab itu, pada pukul 9 pagi, Gerakan Kemanusiaan Indonesia memasok tenaga medis untukmenggantikan sementara tim medis yang bertugas, untuk memberi kesempatan mereka untuk beristirahat.
Sementara itu, Rumah Sakit Darurat di Posko Pesu mulai melayani banyak pasien. Sampai dengan sianghari, setidaknya sudah ada lebih dari 50 orang yang dilayani. Dan jumlah ini semakin bertambah. Timmedis yang melayani berasal dari PKMD RS Bethesda, Serukam, Kalimantan Tengah. Sedangkan satu timmedis lagi berfungsi sebagai tim medis keliling.
Menurut pemantauan di lapangan, bantuan sudah didistribusikan secara merata. Hari ini sayamelakukan survei di desa-desa pelosok di perbatasan Klaten-Gunungkidul, yaitu desa Karangturi,Brajan dan Gentan. Semuanya sudah terjamah bantuan, meskipun dengan jumlah yang terbatas. DesaKarangturi sudah mendapat bantuan beras 5 kg setiap KK. Saya membaca newstag di SCTV, Pundi AmalSCTV sudah sampai di desa Karangturi. Pada sore hari, saya mendapat informasi bahwa desa Ngandong,kecamatan Gantiwarno selama 3 hari hanya mendapat bantuan 3 dos supermie. Dengan semangat 45, sayasegera meluncur ke sana untuk mengecek kebenaran berita itu. Kebenaran berita itu menguat ketikamendapati bahwa jembatan di desa Soka telah putus. Kami terpaksa mengambil jalan melingkar. Namunketika sampai di lokasi, ternyata kabar itu hanya isapan jempol. Bantuan yang mengalir ke sana sudahlebih dari cukup.
Saya dan Agus Permadi pulang dengan perasaan antara senang dan dongkol. Senang karena bantuan sudahmencukupi, tapi dongkol karena dikibuli oleh pembawa berita itu. Namun dalam perjalanan pulang,hati kami sempat terhibur oleh pertunjukan Jatilan yang dibawakan oleh mahasiswa STSI Surakarta.
Hari ini bayi Aisyah yang ditemukan selamat dari puing-puing reruntuhan telah diperbolehkan pulangdari Rumah Sakit. Kondisinya sebenarnya masih lemah, namun pak Slamet--bapaknya--sangat ngotot untukminta pulang. Kami mengantarkan mereka ke desa Tegalmawen. Sesampai desa Pesu, bayi Aisyah tampaksangat pucat. Ketika akan diberi susu formula, ternyata tidak ada dot. Kebetulan isteri saya,Pelangi, masih menyusui bayi kami. Dia bersedia menyusui bayi ini di dalam mobil dalam perjalananpulang. Namun karena terlalu lemah, bayi yang belum genap berumur seminggu ini hanya mampu menyususebentar. Jika ada yang ingin melihat foto bayi ini, silakan mengklik situs Gerakan KemanusiaanIndonesia-Klaten di http://www.geocities.com/gki_klaten/
Sebagai tambahan catatan, hari kemarin saya berkeliling bersama tim dari Happy Family CentreSurabaya,masing-masing pak Xavier Quentin Pranata, pak Kim Ho dan pak Musa. Mereka bertindak sebagai timpendahulu yang mensurvei kondisi di lapangan. Bersama dengan teman-teman dari GKJ Pedan, kamimengunjungi desa-desa di kecamatan Karangdowo sambil sesekali membagikan telur rebus dan tenda.Lokasi ini berada di wilayah Timur. Secara umum, kondisi di kecamatan Karangdowo relatif lebih baikdaripada di Wedi dan Gantiwarno. Saya melihat ada beberapa tenda peleton bertuliskan DepartemenSosial. Personel tentara juga terlihat membantu evakuasi. Ada satu truk dari Pundi Amal SCTV yangmenurunkan bantuan. "Pengemis" dadakan juga tidak ada sama sekali. Ini menandakan bahwa bantuanlogistik sudah mencukupi. Listrik di pinggir jalan juga sudah mulai dihidupkan.
Kami kemudian bergerak ke selatan menuju kecamatan Cawas. Kondisinya jauh lebih baik. Kerusakanbangunan di bawah 50 persen. Pasar masih berfungsi. Mobil-mobil bantuan hilir mudik. Kami berbelokke Barat menuju kecamatan Bayat. Di sini mulai ada banyak peminta bantuan di pinggir jalan.Persentase bangunan yang roboh juga mulai meningkat.
Jumlah wisatawan bencana sudah mulai berkurang. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena sudahtidak ada lagi yang bisa dilihat karena para korban sudah mulai membersihkan puing-puing rumahmereka. Jalan Wedi-Bendhogantungan sudah lancar kembali. Saya melewati jalan ini menjelangmaghrib, sudah lancar. Padahal pada hari-hari sebelumnya, ruas jalan ini sangat macet.
Untuk menghindari gangguan di jalan, ada metode baru yang digunakan oleh pembawa mobil. Merekamemasang tulisan "Keluarga Korban" atau "Membawa Pasien" di kaca depan. Cara ini terbukti manjur,sehingga kendaraan dapat berjalan lancar.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More