Rabu, 31 Mei 2006

Jurnal Gempa 31 Mei 2006

Klaten, 31 Juli 2006
Bantuan mulai merata. Meskipun jauh dari mencukupi, tapi hampir seluruh wilayah korban gempa sudah mulai mendapat bantuan darurat. Beberapa organisasi dan perusahaan sudah mulai menyalurkan bantuan. Kami melihat bantuan disalurkan oleh Bank Mandiri Klaten, Alfamart, Pusat Grosir Solo dan lain-lain. Teman-teman dari Nahdatul Ulama sudah membuka Posko Besar di depan mesjid Wedi. Beberapa partai politik juga sudah mendirikan poskonya. Kami melihat setidaknya ada Posko yang didirkan oleh PAN, Partai Bulan Bintang dan PKS.
Untuk itu, mulai hari ini kami lebih memfokuskan pada daerah yang lebih "dalam", yaitu di sekitar perbatasan dengan Gunungkidul, yang belum terjamah bantuan. Jumlah warga di setiap cluster tidak begitu banyak dan tersebar di wilayah yang berjauhan. Hari ini kami mulai membuka dua Posko lagi yaitu di desa Bayat dan di daerah Pedan. Masing-masing berada di Zona tengah dan Tenggara. Sementara Pos yang ada di GKI Prambanan diserahkan kepada GKI Gejayan.
Berikut ini nama-nama Contact Person yang dapat dihubungi di setiap Posko:
Posko I
Lokasi: Sarap+Pesu/Wedi
Koordinator: Agus Permadi (0813-288-1330) & Siwi (0817-0622-834)
Tempat Posko: Gereja Bajem Pesu
Posko II:
Lokasi: Gantiwarno
Koordinator: Pdt Herry (0812-2974-065)
Tempat Posko: Rumzh. Bpk Suparlan
Posko III:
Lokasi: Gondang & Jogonalan
Koordinator: Pdt Sutomo (0813-2877-6103)
Tempat Posko: GKJ Gondang
Posko IV:
Lokasi: Pedan
Koordinator: Pdt Ndaru (0817-0411-716)
Tempat Posko:STM Kristen Pedan
Posko V:
Lokasi: Bayat
Koordinator: Bpk. Petrus Gunadia (0815-7816-3511)
Tempat Posko: Menden Paseban (Timur makam Pandanaran)

Untuk memperlancar komunikasi setiap Posko, mulai besok akan ditambahi fasilitas radio panggil. Setiap Posko akan mendapat pesawat CB. Selama ini komunikasi melalui HP. Hal ini dirasa sangat memberatkan dari sisi pemakaian pulsa dan kerepotan untuk mengisi ulang baterainya. Meskipun begitu, sebagai cadangan, kami mulai menggunakan Fren yang jauh lebih murah dibandingkan dengan GSM.

BANTUAN
Bantuan perseorangan dan kelompok masih berdatangan. Baik dari jemaat dan luar kota.
Berikut ini nama-nama Penyumbang:
Arie Pradanawati Semarang
Bp Ielung
Gabby
GKI Jabar
GKI Jatim
GKI Sangkrah
Handoyo
Happy Family Centre
Happy Sumaring
Hauw Siang
Ibu Enis
Ibu Ing Kiauw Solo
Indrawati
Ineke Dewi
Karyawan Asean Bearing Surabaya
Nining (Toko Moro Seneng)
Pdt. Nanang (GKI Delima_
PT Sonto Putro, Klaten
Rudi Mudita & Maria
STT Abdiel Ungaran
TIM Gerakan Kemanusiaan Indonesia
Toko Bintang Abadi (Cik Hana)
Toko Cendrawasih
Toko Kota Baru (Yang-Yang)

Sedangkan untuk penyaluran bantuan, hari ini kami berhasil membawa bantuan sampai ke dusun Lengkon yang ada di punggung pegunungan seribu. Jembatan yang kemarin putus, sudah bisa dilewati mobil kembali sehingga bantuan dapat langsung dibawa ke lokasi bencana. Selama ini, mobil hanya sampai di jembatan yang putus itu, kemudian teman-teman dari desa Lengkong yang mengambil bantuan dengan sepeda motor.
Selain Lengkong, penyaluran bantuan diberikan ke Cawas, Gayamharjo, Dukuh Lemah Abang, Kradenan, Mireng, Posko Bayat, Posko Gondang, Posko Pesu, Posko Bayat, R.S Tegalyoso, SMA 3, Suharno-Jimbung, Tegal Mawen, Tim Medis Keliling.

RUMAH SAKIT DARURAT
Pembersihan puing-puing untuk lokasi Rumah Sakit Darurat belum memenuhi target. Meskipun sudah mengerahkan tenaga yang diupah dan dibantu Relawan, namun kami belum bisa membersihkan puing-puing tersebut. Untuk mempercepat pendirian tenda, maka kami memprioritaskan pendirian tenda komando yang dibawa oleh Tim GKI pusat. Dengan demikian, tim dokter dari RS. Bethesda Kalimantan Tengah. Sedangkan tim medis dari F.K Ukrida melakukan fungsi medis keliling. Hari ini, tim medis ini berkeliling menggunakan mobil dan telah melayani lebih dari 100 orang.
Salah satunya adalah seorang Ibu yang mengalami keguguran. Kami sudah mengusahakan merujuk ke RSUD Tegalyoso dan Rumah Bersalin PKU Aisyiah, tetapi ditolak karena sudah penuh. Karena itu, tim medis dikirim untuk merawat ibu tersebut.
Mengenai bayi yang ditemukan selamat, sampai hari ini masih dirawat di R.S. Bethesda. Namanya Aisyiah. Namun yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi bapak bayi ini, Slamet. Berdasarkan foto ronsen dia menderita retak tulang di tulang panggulnya karena tertimpa reruntuhan rumah. Sejak Sabtu, pak Slamet tidak dapat kencing sehingga kantung kemihnya penuh. Dia tidak mendapat tindakan medis apapun dari RSUD Tegalyoso.

SITUS GKI KLATEN
Hari ini saya telah membuat situs Posko GKI Klaten. Isinya berupa informasi sekitar aktivitas Gerakan Kemanusiaan Indonesia, Posko GKI Klaten. Juga terdapat foto-foto kegiatan kami. Silakan mengklik alamat berikut ini:
http://geocities.com/gki_klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 30 Mei 2006

Jurnal Gempa Klaten, 30 Mei 2006

Penjarahan mulai berkurang sejak diturunkannya aparat keamanan di sepanjang jalan antara Bendhogantungan hingga daerah bencana di wilayah kecamatan Wedi. Anggota tentara dari Kodim yang bermarkas di depan gereja juga menawarkan bantuan pengawalan apabila diperlukan. Namun hingga saat ini, kami belum memerlukan pengawalan karena kami memilih teknik kamuflase. Pada kaca depan mobil, kami tulisi "Relawan". Dengan demikian, kami tidak mendapat gangguan berarti.
Tim dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia dari Sinode GKI di Jakarta juga sudah "turun" di Klaten. Sebelumnya, tim yang dipimpin oleh pak Yusan dan Matias ini berkunjung ke GKI Gejayan yang menjadi markas komando untuk penyaluran daerah gempa. Kedatangan tim yang sudah berpengalaman menangani gempa di Nias ini telah membantu pembenahan sistem penyaluran bahan bantuan yang telah dilakukan. Hingga saat ini, kami sudah membuka empat Posko:
Posko I: Dusun Sarap, desa Pesu, kecamatan Wedi. Berlokasi di bekas gedung gereja Bakal Jemaat Pesu.
Posko II: Di bekas gedung GKI Prambanan yang roboh.
Posko III: Di bekas gedung Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gantiwarno.
Posko IV: Di kecamatan Trucuk.

Bantuan masih mengalir, tetapi belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Pada pagi hari, datang bantuan satu truk dari GRII Surabaya. Namun pada siang hari, bantuan tersebut sudah habis didistribusikan. Sementara itu, tim kesehatan dari Fakultas Kedokteran Ukrida sduah sampai di desa Pesu. Menurut rencana, kami akan membuka Rumah Sakit darurat di bekas reruntuhan gereja. Karena tenda belum berdiri dan puing-puing belum selesai dibersihkan, maka mereka untuk sementara beroperasi di tenda dapur umum. Beberapa hari mendatang, akan datang juga tim medis dari RS Bethesda, Jogja dan dari negara Hongaria. Sedangkan rombongan dari Universitas Udayana masih menunggu konfirmasi.
Rumah sakit darurat ini akan bisa merawat pasien-pasien dari penyakit ringan hingga penyakit yang memerlukan penanganan operasi minor. Menurut dokter dari Ukrida, kebanyakan keluhan gangguan kesehatan yang dialami penduduk adalah luka-luka dan memar akibat tertimpa reruntuhan. Selain itu juga gangguan kesehatan yang umum ditemui seperti tekanan darah tinggi, pusing, masuk angin dll. Yang perlu diwaspadai ke depan adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), karena sisa reruntuhan sudah mulai menimbulkan debu. Ini perlu juga diperhatikan oleh relawan.
Ada satu peristiwa yang cukup mengharukan. Pukul 10 pagi, relawan yang ada di GKI Klaten mendapat informasi dari lapangan bahwa ada bayi berumur 8 hari yang ditinggal mati oleh ibunya. Pada saat gempa terjadi, keluarga ini tertimpa rumah yang roboh. Sang Ibu meninggal di lokasi. Sedangkan Suaminya mengalami luka-luka pada pinggangnya. Yang sungguh ajaib adalah nasib bayi ini. Dia sempat ikut terkubur dalam reruntuhan. Namun ketika sang Nenek mengais-ngais puing-puing, ternyata bayi yang ketika gempa terjadi masih berumur 5 hari itu SELAMAT! Padahal seluruh tubuhnya sudah tertutup oleh debu-debu.
Begitu mendengar kabar itu, Ibu Budi Kusnan dan Ibu Kristin segera meluncur ke lokasi. Pada mulanya sang Ayah dari bayi enggan untuk membawa bayinya ke Rumah Sakit. [Kemungkinan dia trauma pada RS karena hari sebelumnya dia sempat dilarikan ke RS Kustati Solo (khusus tulang), tetapi disuruh pulang karena tidak mampu membayar]. Akan tetapi setelah dibujuk-bujuk, akhirnya dia bersedia membawa bayinya ke RS. Selama perjalanan ke RS (sekitar 10 km), bayi ini tidak menangis sama sekali.
Ketika melewati desa Tegalngawen, saya mulai mencium bau busuk. Entah itu dari bau binatang, tapi bisa juga dari korban manusia yang belum sempat dievakuasi. Hal yang sama dialami oleh relawan lain, koh Yoyok, di tempat lain. Jika memang masih ada jenazah yang belum ditemukan, maka hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Di antara kepedulian dari sesama anak bangsa yang patut diacungi jempol, ada juga perilaku para pemberi bantuan yang menyebalkan. Kami menyebutnya "wisatawan bencana". Mereka telah menjadikan daerah bencana sebagai sarana rekreasi. Bantuan yang diberikan disertai dengan rombongan yang datang beramai-ramai. Sesampai di lokasi, setelah menyerahkan bantuan, mereka berfoto-foto dengan riangnya. Perilaku ini justru tidak menunjukkan empati kepada korban bencana. Selain itu kendaraan yang dibawa oleh para "wisatawan" ini juga memacetkan jalan utama yang dilalui oleh mobil ambulans, pembawa bantuan dan kendaraan relawan. Dalam perjalanan pulang, mobil yang saya tumpangi hanya bisa merayap dengan kecepatan di bawah 20 km/jam. Padahal dalam kondisi biasa, dapat mencapai kecepatan 40 km/jam.
Selain itu, mengantarkan bantuan secara beramai-ramai ini kadangkala malah merepotkan penerima bantuan. Sebagai contoh, ada pemberi bantuan yang 'ngotot' harus membagikan bantuan secara langsung ke para korban. Situasi di lapangan hal ini tidak efesien karena bantuan tersebut harus dipilah dan disistribusikan sesuai kebutuhan. Misalnya saja, desa ini hanya butuh beras. Semantara desa itu, yang jaraknya cukup jauh hanya membutuhkan selimut. Jika menuruti keinginan mereka, tentu saja sangat merepotkan pengelola posko. Setelah adu argumentasi, akhirnya dicapai jalan tengah. Bantuan diturunkan di Posko Utama, kemudian rombongan ini diantar untuk "meninjau" lokasi.
Demikian jurnal untuk hari ini. Jika Anda tergerak untuk memberikan sumbangan, Anda dapat menghubungi Posko Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang berpusat di GKI Klaten, dengan alamat Jl. Pemuda 195, Klaten Jawatengah. Telepon 0272-321187. Untuk saat ini bantuan justru diharapkan dalam bentuk barang. Mengapa begitu? Karena persediaan barang-barang di Klaten mulai menipis. Sebagai contoh, kami kesulitan mencari tenda. Kami terpaksa mencarinya di Solo atau Semarang. Adapun kebutuhan Posko saat ini adalah:
* Tenda Terpal (jumlah ratusan)
* Sembako (beras, mie instan)
* Sandal
* Senter, Lampu badai, petromaks
* Obat-obatan
* Air mineral
Jika ada yang membutuhkan informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi saya di 08122731237 atau 0272-327776 (malam)
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 29 Mei 2006

Foto kondisi pasca gempa tanggal 29 Mei 2006


Mimbar yang terbuat dari kayu masih utuh berdiri

Bantuan sedang disalurkan
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Gempa hari ke-3

Jurnal tanggal 29 Mei 2006
Situasi Masih Kacah Balau
Sampai hari ketiga, 29 Mei 2006, suasana masih kacau balau. Sirene ambulans masih seringmeraung-raung membawa korban luka-luka maupun meninggal. Terjadi kelangkaan minyak tanah. Bantuandari pemerintah dan tidak merata. Hal ini menyebabkan banyak korban gempa yang terpaksa memintasumbangan dari kendaraan yang lewat dan menghentikan mobil yang membawa bantuan. Gempa susulan masihsering terjadi. Hari ini terasa dua kali gempa susulan, yaitu sekitar pukul 4 pagi dan 3 sore.Sejak hari pertama, GKI Klaten membuka Posko Bantuan Bencana Alam. Berbagai bantuan dari luar kotamulai berdatangan. Hari Sabtu malam, pdt. Lany Maryani dari GKI Coyudan mengirimkan 100 kardus mieinstan. Malamnya, pdt. Agustinus Kermite dari GKI Sangkrah menawarkan tenaga relawan. PDS dari Solomengirimkan lampu penerangan dan tenda. Bantuan perseorangan juga mulai berdatangan.
Pada hari Senin, pdt. Surya Giamsyah datang beserta dengan 5 orang relawan. Jemaat di kota Klatenjuga mulai memberikan sumbangan menurut kemampuan masing-masing. Anda yang memberikan roti, sayursegar, bandeng, telur, beras dan uang. Beberapa ibu menawarkan diri untuk membantu di dapur umum didaerah bencana. Pada hari ini kami memutuskan untuk membersihkan puing-puing gedung gereja bakaljemaat Pesu. Untuk itu, kami membawa sekitar 20 tenaga (buruh dan relawan) ke sana. Kamimerencanakan untuk mendirikan tenda besar, yang akan difungsikan sebagai Posko Kesehatan. Sedangkanpada hari Minggu dapat digunakan sebagai tempat ibadah darurat.Sekitar pukul 10, dua pick up dan dua mobil pribadi yang membawa bantuan meluncur ke arah Pesu. Disepanjang jalan, mulai dari kecamatan Wedi kami menyaksikan puing-puing bangunan yang belumdibersihkan. Gudang tembakau milik PTPN hancur total. Banyak penduduk yang menyetop kendaraanuntuk minta sumbangan. Tiba-tiba mobil pick up yang saya tumpangi dicegat lima pemuda. Merekabermaksud meminta bantuan yang kami bawa. Kami beritahukan bahwa sumbangan ini sudah dijanjikanuntuk diberikan pada penduduk di Pesu. Dengan raut muka kekecewaan, mereka akhirnya memberi jalan.Ternyata pengalaman serupa juga dialami oleh mobil yang ditumpangi oleh koh Yoyok. Inilah yang kamikhawatirkan sekarang ini, yaitu Penjarahan.
Sesampai di lokasi, bahan pangan mentah segera didistribusikan ke dua dapur umum. Masing-masing didusun Sarap dan Pesu. Setelah itu kami berkonsentrasi membersihkan puing-puing gereja. Diharapkan,besok sudah dapat memulai pelayanan kesehatan. Meskipun kami tidak memasang tulisan "Posko", namunada beberapa orang yang mendatangi kami untuk meminta bantuan. Ternyata mereka belum tersentuh olehbantuan sama sekali. Mereka kebanyakan bermukim di desa pelosok, di kaki gunung seribu. Karenabantuan tidak juga datang, maka terpaksa mereka turun gunung untuk mencari bantuan.
Ada dua pemuda dari dusun Lengkong yang mendatangi kami dengam muka putus asa. Mereka menunjukkansurat pengantar dari kepala dusun, sambil bercerita bahwa hingga saat ini belum mendapat bantuansama sekali. Jembatan menuju desa Lengkong putus sehingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan rodaempat. Dengan kondisi yang masih terbatas, kami memberikan lima tenda, 50 kg beras, mie instan,susu dan satu keranjang telur rebus. Mereka mengangkut dengan dua sepeda motor.
Sesat kemudian, lurah desa dari Kaligayam datang. Dia bercerita bahwa desanya juga belum mendapatbantuan sama sekali. Tak berapa lama didapat informasi bahwa dusun Tegalbrangkal juga belumtersentuh oleh bantuan. Karena tidak dapat dilewati mobil, koh Yoyok lalu mengantarkan bantuanmenggunakan vespa buatan tahun 1962.
Pdt. Surya Giamsyah dari GKI Sangkrah pun ikut turun tangan membersihkan puing-puingHingga hari ketiga, masih banyak penduduk di dusun pelosok Klaten yang belum tersentuh bantuan.Meski bantuan sudah mengalir, namun jumlahnya belum memadai, mengingat wilayah bencana yang sangatluas. Peran pemerintah belum memuaskan. Saya hanya sedikit sekali melihat posko bantuan yangdidirikan oleh pemerintah daerah. Yang bergerak cepat adalah militer. Pada Sabtu sore, sayamelihat Grup 2, Kopassus Kartasura sudah mendirikan tenda operasional di desa Birin.
Yang cukup mengharukan adalah solidaritas dari warga di tempat lain. Saya melihat mulai ada banyakbantuan yang disalurkan oleh masyarakat dari tempat lain. Ada banyak mobil dengan tulisan "BantuanBencana Alam dari......." Meskipun hal ini tidak salah, tapi untuk kondisi sekarang, pemasangantulisan secara mencolok ini sungguh tidak tepat. Mengapa begitu? Karena penduduk yang ada di daerahpintu masuk daerah bencana dapat melihat tulisan itu, kemudian memaksa untuk menurunkan bantuantersebut. Padahal sebenarnya penduduk yang berada di wilayah yang lebih dengan kota sudah mendapatbantuan. Dengan kejadian ini, maka penduduk yang berada di wilayah yang lebih "dalam" (baca:pelosok), tidak mendapat bantuan sama sekali. Karena itu, sebaiknya bantuan tersebut dibawa secaratidak mencolok. kalau perlu ditutup dengan terpal.
Untuk saat ini, bantuan yang diperlukan adalah:* Tenda* Sembako* Alat penerangan (genset, lampu minyak, senter)* Obat-obatan
Demikian jurnal bencana di Pesu Klaten pada hari ketiga.
Jika ingin melihat foto-foto akibat gempa dan kegiatan Posko Bencana Alam GKI Klaten, silakanmengakses situs berikutini
http://www.geocities.com/purnawankristanto/gempa_klaten.htm
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%http://www.Geocities.com/purnawankristantohttp://purnawan-kristanto.blogspot.com%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 27 Mei 2006

Korban gempa di Klaten

Ibu Kliwati mengalami luka abkar akibat tersiram air panas ketika akan menyelamatkan diri. Rumahnya roboh.
Ibu Endang di depan rumahnya yang sudah roboh. Bela, anaknya, terpaksa dibawa ke RS Solo karena mengalami patah tulang kaki. Suaminya luka-luka di kepala karena tertimpa genting

Rumah Mbah Parto, sudah rata dengan tanah




Rumah Bpk. Dali, bagian dapur roboh, bagian depan retak-retak
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More


Gedung gereja Bajem Pesu roboh dan rata ke tanah
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Korban Gempa di Klaten

Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawatengah bagian Selatan pada tanggal 27 Mei ini telah memakan korban jiwa dan harta benda. Berikut ini saya bagikan hasil rekaman foto korban gempa di kecamatan Pesu, kabupaten Klaten. Di tempat itu, gereja yang saya--GKI Klaten-- memiliki bakal jemaat,yang berjarak 15 km dari Klaten. Ada sekitar 80 orang yang berjemaat di Pesu. Kebanyakan pekerjaan mereka adalah petani marjinal. Tidak ada korban jiwa di antara jemaat. Namun ada dua orang yang mengalami luka-luka. Masing-masing Bela (anak) yang mengalami patah tulang kaki dan Ibu Kliwati yang mengalami luka bakar.Gempa mengakibatkan ambruknya sebagian besar rumah di sekitar Pesu. Gedung gereja di bakal jemaat Pesu juga roboh, tinggal puing-puing saja. Rumah anggota jemaat yang mengalami kerusakan parah bahkan rata dengan tanah ada 13 rumah. Jumlah rumah yang roboh terbilang sangat banyak karena kualitas bangunan yang tidak tahan gempa. Karena tekanan ekonomi, mereka tidak memakai semen sebagai perekat dalam membangun rumah, tetapi memakai tumbukan bata merah. Mereka juga tidak menggunakan besi beton sebagai penguat bangunan. Akibatnya kekuatan bangunan sangat rapuh dan ambruk seketika digoyang gempa.
Sampai pukul 16.00, mereka belum berani masuk ke dalam rumah yang masih utuh lagi. Mereka duduk-duduk di luar rumah. Adapun bantuan darurat yang perlu segera diberikan adalah:1. Tenda besar sebagai tempat berteduh2. Sembako3. Alat penerangan karena listrik mati total4. Peralatan memasak, minyak tanah5. Tikar6. Pakaian pantas pakai karena pakaian mereka terkubur reruntuhan7. Obat-obatan
Sedangkan untuk jangka panjang, bantuan yang dieprlukan adalah renovasi rumah dan pembangunan kembali gedung gereja. Bagi jemaat Pesu, musibah ini dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan kasih Kristus. Selama ini keberadaan gedung gereja di sana mendapat tentangan dari kelompok radikal.
Demikian laporan singkat saya. Jika di antara sesama anggota tubuh Kristus ada yang tergerak untuk memberikan bantuan, dapat disalurkan melalui rekening berikut ini:Purnawan KristantoRekening: Bank Lippo Jogja Cab. Jend. SudirmanNo. 787-10-80177-4
atauPdt. Pelangi Kurnia PutriBank MandiriAcc No. 138-00-0428305-2
Terimakasih Tuhan memberkati.
Purnawan Kristanto0272-327-776081-2273-1237=======================================================================
Berikut ini beberapa gambar yang berhasil direkam pada tanggal 27 Mei 2006, pukul 15.00 WIB
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 09 Mei 2006


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More








Prasadha Iswara Narya Kirana ketika masih berumur 24 jam
Lahir: Sabtu Pon, 6 Mei 2006
Pukul: 19.20 Wib
Tempat Lahir: RSIA PKU 'Aisyah', Klaten
Berat: 3,1 kg
Panjang: 48 cm
Nama Orang Tua: Purnawan Kristanto dan Pelangi Kurnia Putri
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Anak pertama-ku telah lahir!

Nama : Prasadha Iswara Narya Kirana
Lahir : Sabtu Pon, 6 Mei 2006
Pukul : 19.20 Wib
Tempat Lahir : RSIA PKU 'Aisyah', Klaten
Berat : 3,1 kg
Panjang : 48 cm
Nama Orang Tua: Purnawan Kristanto dan Pelangi Kurnia Putri
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More