Senin, 27 Februari 2006

[Sharing]: Seulas Senyum Tulus

Seulas Senyum Tulus

Saya dan isteri saya senang berwisata kuliner. Jika ada rumah makan yang baru atau unik, biasanya kami menyempatkan diri mencicipi masakannya [dengan catatan, tarifnya sesuai dengan kantong kami]. Beberapa bulan lalu, kami mendengar kabar bahwa pesinden kondang Anik Sunyahni, membuka rumah makan di Bogem, sekitar 300 meter di sebalah Barat candi Prambanan.

"Wah asyik, nih! Seperti apa ya kalau pesinden membuka warung makan? Apakah musiknya gending-gending tradisional?" demikian kami saling bercakap. Saya lalu ingat kalau pernah mampir di rumah makan pesinden lain, yaitu milik Yati Pesek. Lokasinya sekitar 300 meter di sebelah Timur candi Prambanan. Penataan ruangannya sangat sederhana. Tidak ada hal yang istimewa kecuali foto-foto Yati Pesek dalam berbagai pose yang dipajang di dinding dan tiang bangunan. Bahkan di balik kaca meja makan juga dipasang foto Yaiti Pesek, sehingga ketika akan menyedok makanan, kita pasti akan menatap wajah pelawak kondang ini.

Namun dari sisi menu makanan, saya menilai termasuk enak. Rumah makan ini menyajikan menu-menu tradisional Jawa, sambel dan minumannya. Harganya pun tidak lebih mahal dari warung di kaki lima.

Ketika akan pergi ke daerah Cangkringan, kami memutuskan untuk mampir di warung Sunyahni. Kami berempat berjalan melewati bangunan joglo kecil yang seluruhnya terbuat dari kayu. Bangunan ini sering dipakai untuk shooting stasiun TV lokal di Jogja. Setelah melintasi meja kasir, kami disambut bangunan-bangunan gazebo dari kayu dengan kapasitas 4 orang. Setiap pengunjung bebas memilih gazebo yang disukai.

Usai memesan makanan, kami mengobrol santai sambil menikmati lenggak-lenggok ikan mas di bawah Gazebo. Ketika melemparkan pandangan ke arah Utara, kita dapat melihat hamparan sawah yang masih hijau dengan latar belakang gunung Merapi yang sering tertutup kabut. Namun sayangnya, pemandangan sebelah Timur terganggu oleh menara operator seluler yang berdiri pongah. Lima belas menit berlalu, pesanan belum datang. Tak lama kemudian, pramusaji datang membawakan wedang secang. "Ini wellcome drink" kata pramusaji. Saya segera mencicipi minuman yang merah menyala itu. Rasanya pedas, seperti serbat atau sekoteng.

Menit-menit berlalu, tapi masakan tak kunjung datang juga. Kami mulai gelisah. "Jangan-jangan ikannya masih harus dibeli di pasar," gurau bu Agus. Aku tersenyum kecut. Perutku mulai berontak. Keringat dingin mulai terasa. Tandanya maag akan kumat.

Sekian menit kemudian, lemon tea pesananku disajikan, tetapi es kelapa muda yang dipesan istriku belum datang. Entah beberapa menit berlalu, makanan pesanan kami ta kunjung datang juga. Hatiku sudah kesal. Rumah makan ini tidak profesional.

Akhirnya masakan utama yang dipesan datang juga. Semua masakan itu disajikan dengan alas daun pisang. Piring makan juga di alasi daun pisang. Aku sebenarnya suka cara menghidangkan seperti ini. Ketika panas masakan menyentuh daun pisang, maka menimbulkan aroma harum yang khas. Akan tetapi karena hati sudah terlanjur kesal karena kelamaan menunggu, maka rasa masakan itu tidak dapat dinikmati sepenuhnya.

Selesai bersantap, hatiku masih sedikit bersunggut-sungut. Ketika melewati joglo, beberapa kru stasiun TV sedang menyiapkan peralatan untuk shooting. Aku melihat Sunyahni, pemilik rumah makan ini, sekaligus bintang utama cara yang akan diproduksi. Sudah berdandan rapi, dia terlihat berbincang serius dengan kru TV.

Ketika melihat kami, dia mengentikan pembicaraan itu untuk menyapa kami. "Terimakasih sudah berkunjung ke rumah makan ini," katanya ramah, dengan senyum tulus, tak dibuat-buat. Aku membalas senyuman sambil menganggukkan kepala.

"Dari mana, nih?" tanya Suyahni.

"Dari Klaten" jawab bu Agus.

"Lalu akan pergi ke mana?" lanjutnya.

"Mau ke Cangkringan"

"Oh, kalau begitu selamat jalan. Jangan lupa mampir kembali," katanya dengan nada bicara yang kenes.

Kami mengangguk sambil berpamitan.

Hmmmm......seulas senyum itu telah merubah pandangan kami. Keramahan pemilik rumah makan itu telah mengikis kesan miring tentang pelayanan di sana. Ketulusan itu tidak membutuhkan biaya, tapi dapat mendatangkan untung yang tak terduga.

'Ah, karena masih baru, mungkin saja pelayan dan juru masaknya belum mahir. Jadi tidak bisa bekerja dengan cepat,' batinku di dalam perjalanan. Mungkin pikiran ini merupakan pembenaranku setelah mendapat keramahan dari Sunyahni. Entahlah....yang jelas, kalau tidak bertemu dengan Sunyahni, aku sebenarnya sudah bertekad tidak akan makan di situ lagi.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Catatan Harian

Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Ketika mobil kami berbelok memasuki pelataran parkir YAKKUM (Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum)-Bethesda yang teduh, mas Mono sudah terlihat menunggu sambil duduk di bangku panjang. Bu Agus segera menyelesaikan pembayaran untuk pelatihan selama tiga hari di sana. Kurang dari setengah jam, mobil pun berjalan kembali.

"Gimana hasil pelatihan, mas?" tanya bu Agus dari kursi tengah.

"Baik, bu. Kemarin saya ikut tes psikologi. Kata pengawasnya, IQ saya rendah. Lalu saya jawab, 'jelas saja pak, lha wong otaknya ini sudah lama tidak pernah dipakai lagi'....he...he...he...." jawab mas Mono setengah bercanda.

"Lalu rencana selanjutnya apa?" lanjut bu Agus.

"Saya pingin menjadi agen koran. Saya 'kan sudah bisa naik sepeda."

"Di Yakkum, dilatih apa saja?"

"Saya diajari cara mencuci baju, menyetrika, pokoknya ketrampilan untuk mengurus diri sendiri."

Ah....mas Mono sudah menemukan kembali semangat hidupnya, demikian batinku. Aku melirik kedua lengan mas Mono yang sudah tidak punya telapak tangan lagi. Setiap lengan itu dibelah menjadi dua. Tujuannya supaya bisa difungsikan sebagai telapak tangan, walaupun tidak bisa berfusngsi secara normal. Belahan lengan yang sebelah dalam lebih kecil, berfungsi sebagai jempol, dan sebelah luar sebagai jari. Kedua jari buatan ini hanya bisa digunakan untuk menjepit sesuatu. Selama tiga hari di Yakkum, mas Mono dilatih melakukan tugas-tugas untuk mengurus diri sendiri.

Aku melayangkan pandangan ke kabel-kabel listrik tegangan tinggi yang membentang di antara hamparan sawah di kaki gunung Merapi. Anganku melayang, membayangkan lagi cerita isteriku, tentang kisah hidup mas Mono.

Mas Mono dilahirkan di daerah pedesaan. Umurnya sekitar 30 tahunan. Tubuhnya kerempeng, tapi ototnya berisi karena ditempa oleh pekerjaan-pekerjaan fisik di pedesaan. Kulitnya legam, karena sering tersengat sinar matahari. Bentuk wajahnya agak tirus dengan rambut kemerah-merahan kasar, dipotong pendek.

Layaknya pemuda lain di desanya, mas Mono ingin mengejar mimpi hidup sukses. Beberapa kota di Jawa dan Bali telah dijelajahinya. Hingga suatu ketika ia mendapat pekerjaan di kota Jogja. Hanya berjarak 20 km dari desa kelahirannya. Dia mendapat pekerjaan sebagai tukang las, di perusahaan yang dimiliki pengusaha Taiwan dan Australia. Bersama satu temannya, dia mendapat tugas mengelas potongan-potongan besi menggunakan tenaga listrik.

Akan tetapi naas tak dapat ditolak. Temannya ini melakukan kelalaian dengan menyenggol sebuah batangan besi sehingga menyebabkan kecelakaan kerja! Kabel listrik berkekuatan tinggi itu menggeliat dan menyeterum mas Mono dan kedua tangannya. Akibatnya keduanya mengalami luka-luka bakar tingkat tinggi. Teman kerjanya harus rela salah satu tangannya diamputasi. Derita yang ditanggung mas Mono, lebih parah lagi. Dokter terpaksa memotong kedua tangan mas Mono, di batas pergelangan tangannya. Bagian tubuh lainnya juga mengalami luka bakar. Bahkan salah satu telapak kakinya juga ikut cacat, sehingga mas Mono berjalan dengan terpincang-pincang.

Impian kesuksesan itu pupus sudah. Mas Mono harus menanggung kecacatan tubuh yang permanen. Pihak perusahaan terpaksa merumahkannya, karena dia dianggap tidak mampu bekerja lagi. Meski begitu, perusahaan tetap menggaji mas Mono, setiap bulannya. Selain itu, perusahaan juga berjanji akan memberikan bantuan modal kerja. Akan tetapi janji tinggal janji. Ketika mas Mono menagih modal kerja ini, ternyata perusahaan ini telah tutup dan pemiliknya sudah kabur.

Sedih, bingung, putus asa, marah, ingin berontak. Perasaan-perasaan itu berkecamuk dalam diri mas Mono. Hampir selama setahun mas Mono dirundung dalam duka yang mendalam. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Setiap kali mendapat perkunjungan dari anggota gereja, mas Mono lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Batinnya masih terlalu malu menunjukkan kondisi tubuhnya. Pada malam-malam tertentu, mas Mono keluar rumah. Dia tidur di kuburan desanya!

Hingga suatu ketika, mas Mono menghilang. Dia pergi tanpa memberitahu keluarganya. Tentu saja keluarganya kebingungan mencarinya. Dua minggu kemudian, dia muncul lagi dengan wajah cengengesan. "Kemana saja kamu selama ini?" tanya mbaknya. "Ke Bali, mbak," jawab mas Mono santai.

Entah mengapa, sejak saat itu mas Mono mulai menunjukkan perubahan hidup. Dia mulai belajar naik sepeda. Sebenarnya dia sudah bisa mengendarai sepeda, namun dengan tubuh yang lengkap. Sekarang dengan lengan yang buntung dan kaki yang cacat seperti itu, tentu dia harus menyesuaikan diri lagi.

"Apakah selama naik sepeda pernah jatuh?" tanya Eko, sopir gereja.

"Wah, berkali-kali, mas. Dan itu sakit. Namun rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit ketika kecelakaan dulu," jawab mas Mono.

"Kebangkitan" mas Mono ini tidak lepas dari kesabaran keluarganya. Selama setahun mereka merawat mas Mono dengan penuh kasih. Selama setahun mas Mono menjalani masa 'penolakan' diri. Inilah masa-masa yang berat bagi keluarganya. Mereka harus tetap menghibur dan memahami perilaku-perilaku mas Mono yang agak aneh itu.

Semangat hidupnya telah tumbuh kembali. Sekarang dia punya keinginan untuk membeli traktor. Dia punya rencana akan menyewakan mesin pertanian itu pada petani-petani di desanya. Sayangnya dia belum punya modal untuk membeli mesin itu. Untuk itu, dia akan menabung dan menjadi agen koran dulu.

Klaten 27/02/2006 21:29:04

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 21 Februari 2006

Bahaya Tersembunyi di Balik Pornografi

Akhir-ahir ini sedang diperdebatkan tentang perlu-tidaknya Undang-Undang Anti pornografi dan porono aksi. Wacana ini memang telah membelah opini masyarakat menjadi dua kelompok: kubu pengecam pornografi yang menghendaki pembatasan sajian gambar dan foto sensual; sementara itu kubu yang lain menolak pembatasan ini karena dianggap memasung kreativitas. Sayangnya, hingga saat ini belum ada rumusan yang dapat dipakai untuk menakar kadar pornografi yang disajikan oleh media massa. Akibatnya kita kesulitan menentukan apakah sebuah gambar, tulisan atau pertunjukkan itu masih dapat dipahami dan dinikmati sebagai produk kesenian atau sudah mengarah kepada percabulan.

Batasan yang Kabur

Pornografi sebenarnya sebuah fenomena kuno yang telah menempuh perjalanan yang panjang. Kaisar Romawi, Tiberius Claudius Nero (berkuasa tahun 14-37 M), diperkirakan memiliki koleksi pribadi berbagai benda-benda pornografi eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah orang Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani, pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" + graphein= "tulisan"). Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya "menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi (seperti buku atau foto) yang menggambarkan perliaku erotis dan sengaja bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat dan kuat.

Pada zaman dulu, kebanyakan gambar-gambar porno justru tersebar luas di peradaban Timur, terutama di India dan Jepang. Di Indonesia, salah satu pengaruhnya, dapat kita lihat di candi Sukuh. Di masa modern ini, pornografi telah lama menjadi bahan perdebatan yang kontroversial, terutama menyangkut status legalitas dari pornografi itu. Perdebatan berpusat pada apakah pornografi bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari percabulan, atau tidak; dan apakah perlu dilakukan penyensoran terhadap pornografi, atau tidak.

Kecanduan Pornografi
Di Indonesia, kubu pengecam pornografi mengeluarkan argumentasi bahwa bahwa pornografi bisa berubah menjadi porno aksi. Mereka menyodorkan sejumlah fakta pemerkosan dan pelecehan seksual lainnya yang terjadi sesaat setelah si pelaku kriminal itu menonton gambar atau VCD porno. Harus diakui bahwa, bagaimanapun juga pornografi memiliki dampak buruk bagi kaum penikmatnya.

Salah satunya berupa potensi yang dimilikinya dalam menciptakan kecanduan. Menurut Dr. Robert Weiss dari Sexual Recovery Institute di Los Angeles, pornografi memiliki reputasi efek mirip kokain, yaitu menimbulkan kecanduan seksual. "Cara kerjanya sangat cepat dan kuat," kata Weiss. Sama seperti penggunaan narkotika, pengalaman kenikmatan seksual yang didapat dengan melihat gambar-gambar porno dapat menimbulkan pola perilaku yang berulang dan semakin intensif. Walhasil, terciptalah kecanduan pornografi. Dalam hal ini, Dr. Victor Cline, dari University of Utah, membagi tahapan kecanduan menjadi lima bagian: (1). Terpaan Awal. Pada tahapan ini, orang itu mengenal pornografi untuk pertama kalinya. Biasanya terjadi pada usia muda. Mula-mula dia terkejut, jijik dan merasa bersalah.(2). Ketagihan. Setelah itu, dia mulai bisa menikmati pornografi dan berusaha mengulangi kenikmatan itu. Perilaku yang berulang ini tanpa disadarinya telah meresap menjadi bagian dari kehidupannya. Dia sudah terjerat dan sulit melepaskan diri dari kebiasaan itu. (3). Peningkatan. Dia mulai mencari lebih banyak lagi gambar-gambar porno. Dia mulai menikmati sesuatu yang pada mulanya dia merasa jijik melihatnya. (4). Mati Rasa. Dia mulai mati rasa terhadap gambar yang dia pelototi. Bahkan gambar yang paling porno sekalipun, sudah tidak lagi menarik minatnya. Dia berusaha mencari perasaan kepuasan yang didapatnya ketika pertama kali melihat gambar itu. Akan tetapi dia tidak bisa mendapatkannya lagi karena perasannya sudah kebal. (5). Tindakan seksual. Pada titik ini, dia melakukan lompatan besar, yaitu mencari kenikmatan seksual di dunia nyata.

Dengan kata lain, perbuatan kriminal yang dipicu oleh pornografi sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari efek negatif pornografi. Di bawah permukaan, justru ada lebih banyak efek negatif yang tidak kelihatan. Dalam bukunya, The Centrefold Syndrome, psikolog Gary R. Brooks, Ph.D memaparkan ada lima "gangguan mental" yang dikaitkan dengan konsumsi pornografi jenis soft-core semacam dari majalah Playboy atau Penthouse.

Voyeurisme - Sebuah gangguan pikiran yang lebih suka memandangi tubuh wanita daripada menjalin interaksi dengannya. Brooks menyebutkan bahwa karena ada pemujaan dan objektifikasi terhadap tubuh wanita, maka hal ini menciptakan citra wanita yang semu, membiaskan realitas dan menciptakan sebuah obsesi berupa rangsangan visual. Hal ini mengabaikan pentingnya sebuah hubungan psikoseksual yang sehat dan dewasa.

Objektifikasi - Sebuah sikap yang menaksir kualitas wanita berdasarkan ukuran, bentuk dan keharmonisan anggota tubuhnya semata. Brooks menegaskan bahwa jika seorang pria lebih suka menghabiskan energi emosionalnya pada fantasi seksual dengan orang yang tidak mungkin diaksesnya secara nyata, maka dia juga tidak akan bisa "diakses" oleh pasangannya untuk menciptakan momentum keintiman.

Validasi-Yaitu suatu kebutuhan untuk membuktikan kesahihan kejantanan seorang pria dengan berhasil menggaet wanita cantik. Menurut Brooks, wanita dianggap memenuhi standard apabila dia mampu mempertahankan ksempurnaan tubuhnya. Kaum pria yang belum bisa mendapatan kenikmatan seksual dengan wanita impiannya, dia merasa belum menjadi pria sejati.

Trofisme - Yaitu suatu sikap yang menganggap wanita sebagai sebuah koleksi trofi atau piala. Orang itu mengukur tingkatan kejantanan pria berdasarkan jumlah trofi yang berhasil dia koleksi. Brooks menambahkan mentalitas seperti ini sangat berbahaya di kalangan remaja, dan cukup merusak di kalangan orang dewasa.

Ketakutan pada Keintiman Sejati - Yaitu suatu ketidak-mampuan untuk menjalin relasi secara jujur dan intim dengan wanita. Pornografi telah menutup mata kaum pria tentang pentingnya sensualitas dan keintiman. Karena hanya mementingkan pemuasan hawa nafsu seksual, beberapa pria mendapat hambatan dalam menjalin hubungan emosional dengan sesama kaum pria dan hubungan nonseksual dengan kaum wanita.

Industri Menggiurkan
Teman saya yang tinggal di Solo bercerita: Suatu kali dia pergi ke warnet. Ketika melewati bilik-bilik komputer, iseng-iseng dia melirik ke salah satu bilik. Dia melihat seorang remaja yang masih mengenakan seragam SMP. Dia terkejut, karena remaja itu sedang melakukan masturbasi sambil menatap layar monitor komputer. Dia bisa memastikan bahwa anak ingusan ini sedang mengakses situs porno.

Majalah Time menulis pernah menulis"... pornografi menjadi sangat berbeda di dalam jaringan komputer. Anda bisa mendapatkan privasi di rumah Anda--tanpa harus mengendap-endap ke toko buku atau bioskop. Anda hanya tinggal download file yang membuat Anda terangsang, tidak perlu mengeluarkan uang atau terlibat masalah hukum." Gambar porno hanya sejauh satu "klik" pada mouse komputer Anda.

Benarkah situs-situs porno menawarkan gambar porno dengan gratis? Ada pepatah, "dalam dunia bisnis tidak pernah ada makan siang gratis." Kita sering mendengar istilah "berselancar di internet," tetapi istilah ini lebih tepat jika diganti dengan kalimat "berjalan di pantai." Mengapa? Karena setiap kali berjalan di atas pasir, kita selalu meninggalkan "jejak kaki". Demikian juga di internet. Semua browser seperti Netscape, Internet Explorer, atau AOL, diperlengkapi dengan cache, yaitu sebuah file sementara yang menyimpan salinan halaman, gambar atau file. Tujuan semula bertujuan untuk mempercepat download pada akses di kesempatan lain. Akan tetapi dalam perkembangannya, file ini dimanfaatkan untuk memata-matai penggunaan komputer itu. Dalam dunia bisnis, data-data ini sangat berharga. Selain melalui chache dan cookie, pengelola situs biasanya mensyaratkan calon pengakses memasukkan alamat emailnya untuk mendapatkan password-nya. Begitu alamat email diberitahukan, maka kotak email si pengakses ini akan disesaki dengan kiriman email sampah (junk email).

Ada juga yang menawarkan akses situs dengan membayar secara on line. Mereka diminta memasukkan nomor kartu kredit dan PIN untuk mendapatkan kode akses. Begitu nomor-nomor ini dimasukkan, maka dimulailah pembobolan kartu kredit. Sebagian besar pria yang tertipu modus operandi ini, biasanya enggan melaporkan karena merasa malu.

Dalam e-commerce, industri pornografi termasuk pionirnya. Mereka yang pertama kali memakai teknologi belanja elektronik dan menggunakan kartu kredit untuk pembayaran on line. Mereka juga yang menemukan cara untuk mengirimkan file grafis berukuran besar melalui bandwith yang sempit. Mereka pula yang mempelopori penggunaan streaming video. Mereka juga yang menemukan cara "melumpuhkan" tombol "back" di browser Anda dan yang memunculkan teknik selalu memunculkan jendela baru ketika pengakses menutup satu jendela. Akibatnya, di layar itu selalu terpampang gambar porno.

Hal ini tidak mengherankan karena industri pornografi ini telah menjadi bisnis yang menggiurkan. Bandingkan marjin keuntungan yang didapat sektor perdagangan on-line yang hanya 0,2 persen, dengan keuntungan yang diraup situs porno sebesar 30 persen! Pada tahun 1999, diperkirakan situs porno meraup 1,1-1,2 milyar Dollar. Sayangnya di Indonesia tidak ada data yang pasti. Tetapi untuk membayangkan saja, sebuah tabloid yang menonjolkan sensualitas seksual mengaku bisa mendapat keuntungan yang setara dengan sepuluh mobil (tapi tidak jelas, mobil merek apa).

Itu artinya, dicegat dengan cara apapun, pornografi akan selalu mencari celah untuk bisa berkelit. Selama masih banyak penikmatnya, industri pemikat syahwat ini akan tetap memikat. Karena itu cara yang lebih efektif dengan menggalang gerakan masyarakat untuk menolak mengkonsumsi pornografi ini. Cara ini lebih elegan dan jauh dari kontroversi.


http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 05 Februari 2006

Foto Respesi Pernikahan



Pdt. Phan Bien Thon membuka acara resepsi dengan doa pembukaan. Resepsi dilangsungkan di gedung pertemuan Rumah Sakit Silam Klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Foto Resepsi Pernikahan




Ucapan selamat dari om dan tante Anggie
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Foto Janji Pernikahan




Di hadapan jemaat dan pdt. Phan Bien Thon, Anggie mengucapkan janji pernikahan
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Foto Pernikahanku


pdt. Phan Bien Thon M.Th. memberkati kedua mempelai
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More