Jumat, 13 Januari 2006

Jangan Menahan Kebaikan

Hari masih pagi. Seorang pemuda tertunduk terisak-isak di pojok rumahku. Badannya kurus, tinggi, berkulit hitam. Kacamata minus menempel di atas hidungnya. "Ada mas?" tetangga sebelah bertanya. Dia mengangkat wajahnya. Pipinya basah oleh air mata. "Saya kehabisan uang," katanya lirih."Lho kenapa?" tanya pak Gimin, tetanggaku yang lain."Saya kerja di Wonosobo dan mau pulang ke Surabaya. Saya naik travel ke Magelang, karena bis jurusan ke Surabaya, cuma ada di sana. Waktu turun dari mobil travel, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Setelah itu saya tidak ingat lagi. Begitu sadar, uang di dompet sudah lenyap," ujarnya sambil berusaha menahan tangis."Apakah sudah lapor polisi" tanyaku."Sudah mas. Tapi saya malah dimintai uang sepuluh ribu," jawabnya. 'Polisi sialan. Dengan korban kejahatan pun masih tega memeras!' umpatku dalam hati.Pak Gimin mengeluarkan dompetnya. Dia menarik beberapa lembar uang, lalu menyerahkan pada pemuda itu."Nama mas ini siapa?" tanyaku"Yohanes" jawabnya pendek. Kulirik ada kalung salib besar dari kayu hitam di lehernya."Mas kok bisa sampai Klaten ini?" tanyaku menyelidik. "Saya jalan kaki dari Jogja" jawabnya. Aku agak ragu. Benarkah dia berjalan kaki? Padahal jarak Johja-Klaten lebih dari 20 km. Waktu kulirik bawaanya, dia menjinjing tas koper besar yang ada rodanya. Di punggungnya ada tas ransel. Benarkah dia kehabisan uang? Hatiku bimbang antara rasa iba dan curiga. Jangan-jangan ini hanya taktik penipuan untuk mencari uang. Aku teringat cerita isteriku. Beberapa bulan lalu, ada seseorang yang beberapa kali datang ke rumahku ini. Ceritanya selalu sama: kehabisan ongkos untuk pulang ke luar kota. Apakah orang ini memakai modus yang sama? Tapi bagaimana, kalau dia benar-benar kehabisan uang. Aku lalu teringat kotbah pendeta Petrus: "Jangan menahan kebaikan! Selagi kita masih bisa melakukan kebaikan, jangan pernah menahannya." Aku ingat juga nasihat pak Xavier, "Wan, bagian kita adalah memberi selama kita mampu. Soal apakah cerita orang itu benar atau bohong, itu urusan dia dengan Tuhan." Ah benar juga."Mas Yohanes sudah makan?" tanyaku."Saya tadi sudah minum air putih," jawabnya."Sekarang sarapan dulu di rumah kami. Setelah itu, saya antar ke terminal dan saya belikan tiket bus ke Surabaya dan sedikit uang saku." Isteriku menghangatkan gurameh goreng. Sementara aku menyiapkan sepeda motor. Usai sarapan, aku dan Yohanes meluncur ke terminal."Sudah lama bekerja di Wonosobo?" tanyaku dalam perjalanan."Baru dua bulan.""Sebelumnya, kerja dimana?""Saya kuliah, Mas. tapi tidak selesai karena ayah saya meninggal.""Surabayanya dimana?""Kenjeran."Sesampai di terminal, Yohanes langsung naik bis "Putra Jaya" jurusan Solo. Dari Solo, dia berpindah bis jurusan Surabaya. Semoga saja, Yohanes bisa selamat sampai Surabaya. * Visit my personal homepage at:http://www.Geocities.com/purnawankristanto * Read my writings at: http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It