Kamis, 19 Januari 2006

"Tuhan itu memang pemain catur yang hebat!"

"Sebelum melangkah ke agenda rapat berikutnya, saya ingin melaporkan tentang suvenir Natal" ujar bu Yono dalam rapat Panitia Natal, Kelompok I & II, GKI Klaten. Mantan bidan ini mulai bercerita: "Menurut perencanaan, kita akan memberikan suvenir satu buah gelas kepada semua orang yang datang pada perayaan Natal nanti. Untuk itu, saya bersama mas Yono telah mencari gelas yang dimaksud ke kantor Kedaung di Jogja."
Sayangnya, ternyata gelas jenis tersebut sudah tidak diproduksi. Sebagai gantinya, wiraniaga Kedaung menawarkan Mug. Akan tetapi tawaran ini ditolak oleh pak Yono dan bu Yono karena harga per itemnya jauh di atas anggaran. Maka dengan perasaan kecewa, suami-istri ini pun pulang ke Klaten. Untuk menghibur hati, mereka mampir ke rumah pak Ronald.
"Mari silakan masuk! Darimana saja ini?" sambut pak Ronald.
Bu Yono lalu bercerita bahwa mereka baru saja mencari gelas di Jogja untuk suvenir, tapi hasilnya nihil.
"Oh, mengapa tidak memakai Mug saja?" tanya pak Ronald, "Di tempat saya ada Mug. Ambil saja!"
Pak Ronald lalu menunjukkan satu buah Mug yang dimaksudkan. Desainnya cukup bagus.
"Mug ini memang bagus, Pak. Tetapi kami butuh banyak" sahut pak Yono. Dia membayangkan pak Ronald paling-paling hanya punya satu atau dua lusin Mug saja.
"Berapa sih, yang dibutuhkan?" tanya pak Ronald.
"Banyak, pak. Sebanyak 150 biji" jawab bu Yono.
"Saya punya banyak, kok. Di gudang saya masih ada limaribu biji! Itu sisa ekspor kemarin," timpak pak Ronald enteng.
Mendengar itu, pasangan suami-isteri ini pun girang bukan main. Satu masalah bisa diselesaikan. Mereka lalu berpamitan pulang.
Sesampai di rumah, mereka mendapat kiriman surat dari Panti Asuhan di Boyolali. Setelah membaca isi surat itu, bu Yono merasa digerakkan untuk berbuat sesuatu. Meskipun tidak menuliskan maksudnya dengan tegas, bu Yono merasa bahwa Panti Asuhan itu membutuhkan sesuatu yang harus segera dipenuhi.
Maka dia pun berkonsultasi dengan beberapa anggota panitia Natal. Dia mengusulkan supaya anggaran untuk pembelian suvenir tersebut dialihkan untuk membantu Panti Asuhan di Boyolali itu. Anggota panitia yang lain setuju. Maka bu Yono dan beberapa orang segera berangkat ke Boyolali. Memang benar, Panti Asuhan itu benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Beberapa hari yang lalu, Panti Asuhan ini memang mengirimkan surat ucapan Selamat Natal kepada para dermawan, dengan harapan mereka teringat kembali dengan Panti Asuhan itu.
"Tuhan itu memang pemain catur yang hebat!" kata bu Yono mengakhiri ceritanya. "Bayangkan, seandainya pihak Kedaung tidak menghentikan produksi gelas itu, mungkin kami tidak akan mampir ke rumah pak Ronald. Seandainya pak Ronald tidak tergerak untuk menyumbang Mug, mungkin Panti Asuhan itu tidak segera mendapat bantuan. Seandainya Tuhan tidak menggerakkan pengurus Panti Asuhan untuk menulis surat, mungkin kita tidak ingat pada Panti Asuhan itu. . . ."
Peserta rapat yang lainnya manggut-manggut. Strategi Tuhan memamg sering susah kita mengerti. Sebagai pion-Nya, biarlah kita menurut saja pada Pengatur Strategi Agung itu!

Wawan

* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 13 Januari 2006

Jangan Menahan Kebaikan

Hari masih pagi. Seorang pemuda tertunduk terisak-isak di pojok rumahku. Badannya kurus, tinggi, berkulit hitam. Kacamata minus menempel di atas hidungnya. "Ada mas?" tetangga sebelah bertanya. Dia mengangkat wajahnya. Pipinya basah oleh air mata. "Saya kehabisan uang," katanya lirih."Lho kenapa?" tanya pak Gimin, tetanggaku yang lain."Saya kerja di Wonosobo dan mau pulang ke Surabaya. Saya naik travel ke Magelang, karena bis jurusan ke Surabaya, cuma ada di sana. Waktu turun dari mobil travel, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Setelah itu saya tidak ingat lagi. Begitu sadar, uang di dompet sudah lenyap," ujarnya sambil berusaha menahan tangis."Apakah sudah lapor polisi" tanyaku."Sudah mas. Tapi saya malah dimintai uang sepuluh ribu," jawabnya. 'Polisi sialan. Dengan korban kejahatan pun masih tega memeras!' umpatku dalam hati.Pak Gimin mengeluarkan dompetnya. Dia menarik beberapa lembar uang, lalu menyerahkan pada pemuda itu."Nama mas ini siapa?" tanyaku"Yohanes" jawabnya pendek. Kulirik ada kalung salib besar dari kayu hitam di lehernya."Mas kok bisa sampai Klaten ini?" tanyaku menyelidik. "Saya jalan kaki dari Jogja" jawabnya. Aku agak ragu. Benarkah dia berjalan kaki? Padahal jarak Johja-Klaten lebih dari 20 km. Waktu kulirik bawaanya, dia menjinjing tas koper besar yang ada rodanya. Di punggungnya ada tas ransel. Benarkah dia kehabisan uang? Hatiku bimbang antara rasa iba dan curiga. Jangan-jangan ini hanya taktik penipuan untuk mencari uang. Aku teringat cerita isteriku. Beberapa bulan lalu, ada seseorang yang beberapa kali datang ke rumahku ini. Ceritanya selalu sama: kehabisan ongkos untuk pulang ke luar kota. Apakah orang ini memakai modus yang sama? Tapi bagaimana, kalau dia benar-benar kehabisan uang. Aku lalu teringat kotbah pendeta Petrus: "Jangan menahan kebaikan! Selagi kita masih bisa melakukan kebaikan, jangan pernah menahannya." Aku ingat juga nasihat pak Xavier, "Wan, bagian kita adalah memberi selama kita mampu. Soal apakah cerita orang itu benar atau bohong, itu urusan dia dengan Tuhan." Ah benar juga."Mas Yohanes sudah makan?" tanyaku."Saya tadi sudah minum air putih," jawabnya."Sekarang sarapan dulu di rumah kami. Setelah itu, saya antar ke terminal dan saya belikan tiket bus ke Surabaya dan sedikit uang saku." Isteriku menghangatkan gurameh goreng. Sementara aku menyiapkan sepeda motor. Usai sarapan, aku dan Yohanes meluncur ke terminal."Sudah lama bekerja di Wonosobo?" tanyaku dalam perjalanan."Baru dua bulan.""Sebelumnya, kerja dimana?""Saya kuliah, Mas. tapi tidak selesai karena ayah saya meninggal.""Surabayanya dimana?""Kenjeran."Sesampai di terminal, Yohanes langsung naik bis "Putra Jaya" jurusan Solo. Dari Solo, dia berpindah bis jurusan Surabaya. Semoga saja, Yohanes bisa selamat sampai Surabaya. * Visit my personal homepage at:http://www.Geocities.com/purnawankristanto * Read my writings at: http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 08 Januari 2006

Obituari: Mas Narko

Pukul 06.30, telepon berdering. "Mas Narko wis ora ono." Terdengar suara adik iparku di ujung telepon. Deeg! Begitu cepat penyakit itu menggerogoti tubuhnya. Hanya kurang dari 3 bulan, kondisi tubuh mas Tri Wijanarko mengalami kemorosotan drastis.
"Mas Narko, mas Narko . . . kau luput dari sapuan gelompang Tsunami, tapi tak bisa mengelak paparan penyakit," batinku sambil memacu sepeda motor untuk melayat. Aku teringat sekitar setahun yang lalu, tepatnya bulan Desember. Tiba-tiba datang ke rumahku dengan wajah memerah. "Temanku tersapu gelombang Tsunami," katanya lirih.
"Bagaimana ceritanya?" tanya aku dan Tanto, adik iparku.
"Semestinya aku yang berangkat ke Aceh!" katanya.
" Lho kok bisa," tanyaku semakin tak mengerti.
"Begini lho ceritanya," katanya sambil menyalakan rokoknya. Aku menyorongkan asbak kepadanya. Kalau sudah mulai bercerita sambil menyalakan rokok, dia bisa habis berbatang-batang. "Beberapa minggu lalu, Jaringan Radio Komunitas mengadakan pertemuan di Bandung. Dalam pertemuan itu diputuskan untuk mendirikan Radio Komunitas di Aceh. Aku yang ditunjuk untuk berangkat ke sana. Tiba-tba salah satu temanku mendekati aku. Dia ingin menggantikan aku yang berangkat ke Aceh. Alasannya, isterinya hamil tua. Dia butuh uang untuk biaya persalinan."
"Berarti dia langsung menggantikan Sampeyan?" aku menyela ceritanya.
"Aku setuju. Tapi rupanya ada peserta pertemuan yang tidak setuju penggantian itu. Akhirnya diputuskan dengan membuang undi. Uang logam seratusan dilempar. Dia yang menang. Singkat cerita, dia berangkat ke Aceh. Dua hari setelah dia sampai di Aceh, Tsunami menerjang Aceh!"
"Berarti Sampeyan beruntung!" kata Tanto
"Entahlah, apakah ini disebut beruntung atau tidak. Kalau disebut beruntung, mengapa aku yang diluputkan dari bencana itu? Apa kelebihanku dibandingkan temanku itu?" tanya mas Narko dengan suara bergetar.
"Entahlah, tapi Tuhan pasti menyimpan rencana lain," jawabku.
Sebulan kemudian, mas Narko memutuskan untuk pergi ke Aceh untuk meneruskan rencana mendirikan Radio Komunitas. Stasiun radio yang hanya sederhana ini ternyata memberi sumbangan besar dalam penanganan bencana Paska Tsunami. Dengan ketiadaan pasokan listrik, maka pesawat televisi tidak dapat dinyalakan. Pada situasi ini, pesawat radio penerima yang dinyalakan dengan tenaga baterai mampu menyampaikan informasi-informasi penting secara masif dan cepat. Selain itu, siaran radio juga menjadi sumber penghiburan bagi para pngungsi.
Sepulang dari Aceh, setumpuk cerita diboyong mas Narko. Mulai dari cerita menelusup ke markas GAM sampai pengalaman melindas mayat-mayat dengan sepeda motor yang bergelimpangan di pinggir jalan.
Pengalaman bergaul dengan mas Narko adalah pengalaman bekerja keras. Tanpa mengenal waktu, dia sekuat tenaga membangun Radio Komunitas Wiladeg supaya dapat mandiri secara keuangan maupun dari sisi content-nya. Kini, setelah tiga tahun, siaran radio yang dipancarkan dari balai desa itu bisa siaran rutin dari pukul enam pagi sampai duabelas malam. Bahkan pada saat-saat tertentu, mereka menyiarkan pertunjukan wayang secara langsung. Aku beberapa kali ikut begadang menunggui teman-teman melakukan siaran relay. Semua tenaga di radio ini bersifat volunteer. Ini yang kukagumi dari mas Narko. Dia mampu memotivasi pemuda-pemuda di kampungnya mengelola radio secara sukarela tapi profesional.
Jika ada rejeki berlebih yang didapat dari iklan, mas Narko tak segan-segan bagi-bagi berkat.
Aku masih ingat, pukul delapan malam mas Narko mengetuk pintu rumahku. Dia mengajak nge-teh di pasar Munggi. Berdelapan, kami berboncengan menerobos udara dingin pegununungan menuju Munggi. Di tengah pasar sapi Munggi, ada warung sederhana yang teh poci-nya sedap. Sambil menyeruput teh panas, kami mengobrol meriah, sambil sesekali mencomot empal sapi goreng. Ehmmmmm . . . meski kolesterolnya tinggi, tapi tak apalah kalau cuma sekali-sekali. Rasanya tak kalah dengan steak sapi yang dijual di Jogja.
Sayangnya, etos kerja keras mas Narko harus dibayar mahal. Dia tidak memedulikan penyakit yang sebenarnya sudah dirasakan selama setahun lebih. Tiga bulan lalu, tubuhnya terpaksa memberikan peringatan keras kepada mas Narko. Dia harus diopname di RSD Wonosari. Semula diduga ia menderita radang tenggorokan. Ternyata diagnosisnya keliru. Dokter kemudian mengira ada tumor di lehernya. Tapi perkiraan ini meleset juga. Ketika dipindahkan ke RS Bethesda, dokter di sana mendiagnosis terkena serangan TBC. Mendengar diagnosis dokter, mas Narko masih menanggapinya dengan bercanda, 'Wah, penyakitku kurang elit! TBC 'kan penyakit orang miskin.'
Seminggu terakhir, mas Narko sudah tidak mau makan. "Kalau kondisinya seperti itu, mas Narko sepertinya tidak akan bertahan lama," kata Tanto, adik iparku. Perkiraan Tanto benar. Tuhan memanggil mas Narko pada usia 40 tahun. Dalam suasana mendung, pukul empat sore, mas Narko berangkat ke tempat peristirahatannya terakhir. Tanpa diantar oleh anak-anak dan mantan isterinya, yang sedang berlibur ke Malaysia!


* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More