Rabu, 20 Desember 2006

Memahami Proses Komunikasi

Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bahkan sebagian besar kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apapun yang Anda sampaikan--entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau paparan teori Fisika yang rumit,--yang paling terutama pesan Anda itu harus bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau pesan itu tidak bisa dimengerti maka kegiatan itu tidak bisa disebut sebagai komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami kepada orang lain.

Di dalam komunikasi lisan, ada dua cara dasar di dalam berkomunikasi, yaitu: komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Di dalam komunikasi verbal, kita menyampaikan pesan menggunakan kata-kata(bahasa). Sedangkan di dalam komunikasi non-verbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh (gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat.

Bagaimana sih cara kerja komunikasi? Faktor apa yang menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi? Proses komunikasi sedikitnya melibatkan empat komponen, yaitu:

1. Komunikator, Sumber Komunikasi atau Pengirim Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi yang mengambil inisiatif mengirimkan pesan.

2. Pesan, berupa lambang atau tanda, seperti kata-kata (dalam bentuk tertulis atau lisan) gesture dll.

3. Media atau Saluran Komunikasi, yakni sesuatu yang dipakai sebagai alat pengiriman pesan (misalnya telepon, radio, surat, suratkabar, email, SMS, TV atau gelombang udara

4. Komunikan atau Penerima Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sasaran penerima pesan.

Di samping keempat elemen tersebut, masih ada tiga elemen atau faktor lain yang juga penting dalam proses komunikasi, yakni:

5. Dampak/Akibat/Hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan.

6. Umpan balik (feedback), yakni reaksi atau tanggapan balik dari pihak penerima/komunikan atas pesan yang diterimanya.

7. Gangguan (noise) yakni faktor-faktor eksternal maupun internal (psikologis) yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.

Secara sederhana, proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:Pertama-tama, proses komunikasi selalu ditimbulkan oleh inisiatif seseorang yang ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang lain atau sekelompok orang. Orang yang memprakarsai komuniasi ini disebut sebagai Komunikator. Jika Anda berbicara kepada teman Anda, isi perkataan Anda itulah yang disebut dengan pesan (message) Anda. Ketika Anda mengirimkan SMS, Anda juga sedang mengirimkan pesan. Demikian juga, ketika Anda ingin menyampaikan cerita Alkitab pada anak-anak Sekolah Minggu, Anda pun sebenarnya mengambil inisiatif untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.

Supaya bisa menyampaikan pesan, komunikator itu membutuhkan media atau saluran. Ibarat kantor Perusahaan Air Minum (PAM), mereka membutuhkan saluran untuk meneruskan air yang mereka olah supaya sampai kepada pelanggan. Mereka bisa memakai pipa, selang plastik, selokan, atau truk tangki. Demikian juga dalam proses komunikasi, ada berbagai pilihan saluran komunikasi: lewat kabel (telepon, TV kabel, internet), gelombang elektronik (handphone, televisi, radio), cetakan (surat kabar, surat, majalah, buku).

Lalu bagaimana dengan pembawa cerita? Mereka memakai saluran komunikasi apa? Di dalam ranah komunikasi lisan, saluran komunikasi yang digunakan adalah melalui panca indera manusia. Kita dapat menerima pesan itu menggunakan satu atau lebih indera kita. Ketika melihat langit yang mendung, kita menangkap pesan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Ketika kita mendengar suara bergemuruh di stasiun, kita mendapat pesan bahwa kereta api sebentar lagi akan lewat. Ketika kita merasa pahit ketika mencicipi makanan, kita memperoleh informasi bahwa makanan tersebut tidak enak.

Di dalam komunikasi lisan, indera yang paling sering digunakan untuk menerima pesan adalah penglihatan dan pendengaran kita. Itu sebabnya kalau Anda berkomunikasi dengan orang buta dan tuli, maka Anda akan menemui hambatan. Mengapa demikian? Karena kedua saluran komunikasi mereka yang paling utama telah tertutup. Banyak orang yang menganggap bahwa dalam komunikasi lisan, yang paling penting adalah berkomunikasi menggunakan kata-kata (suara). Pada kenyatannya, komunikan Anda, yaitu anak-anak, tidak hanya mendengar cerita Anda, tapi juga melihat Anda. Mereka mengamat-amati gerak-gerik Anda, ekspresi Anda, dandanan Anda, tekanan suara Anda,dll. Semua yang mereka lihat ini dapat memperkuat pesan yang Anda sampaikan; Tapi bisa juga berakibat sebaliknya, yaitu melemahkan pesan Anda.

Dalam penyampaian pesan melalui media, komunikasi ini ada kemungkinan akan menemui gangguan. Ibarat saluran pipa PAM, jika pipa ini yang mengalami kebocoran, maka akibatnya pelanggan menerima air yang berkualitas buruk. Demikian juga di dalam komunikasi. Karena ada gangguan (noise) dalam saluran komunikasi, maka akibatnya pesan yang diterima oleh komunikan mengalami gangguan.

Ada dua macam gangguan: gangguan eksternal dan gangguan internal dan. Gangguan eksternal adalah berbagai gangguan yang berasal dari luar komunikator dan komunikan. Gangguan ini dapat berupa suara gaduh, suhu udara yang panas, ada hal lain yang lebih menarik perhatian audiens, bau yang tidak sedap, udara yang terlalu dingin dll. Gangguan dari luar biasanya tidak banyak mengganggu media atau saluran komunikasi, sepanjang tingkat gangguan itu masih bisa ditoleransi. Akan tetapi gangguan yang lebih sulit untuk dikendalikan adalah gangguan internal. Gangguan ini berasal dari faktor-faktor psikologis. Misalnya rasa takut, kecewa, cemas, grogi atau gejolak emosi lainnya. Sebagai contoh, anak yang baru saja pindah ke kelompok Sekolah Minggu Anda, biasanya dia akan menemui kesulitan di dalam menerima pesan yang Anda sampaikan. Penyebabnya, karena dia merasa cemas sebagai anak baru. Dia merasa berada di dalam lingkungan yang masih asing. Dia tidak merasa aman, karena belum memiliki kenalam. Akibatnya, dia tidak bisa berkonsentrasi di dalam menyimak cerita Guru Sekolah Minggu.

Pesan yang disampaikan oleh komunikator ini harus melewati berbagai gangguan (noise). Pesan-pesan ini harus bisa lolos dari berbagai gangguan sebelum akhirnya bisa mencapai komunikan. Komunikasi terjadi apabila komunikan bisa mengerti pesan-pesan yang diterimanya.

Aspek berikutnya di dalam proses komunikasi adalah umpan balik. Umpan balik adalah informasi yang diberikan oleh komunikan kepada komunikator, yang menandakan bahwa pesan tersebut telah diterima dan dipahami. Melalui umpan balik ini, komunikator dapat memeriksa dan memastikan apakah penerima pesan atau komunikan sudah menerima pesan, sesuai dengan keinginannya atau tidak. Ada kemungkinan, pesan yang dipahami oleh komunikan itu berbeda dengan yang di yang dikehendaki. Hal ini bisa terjadi karena pesan tersebut mengalami gangguan selama pengiriman. Akibatnya, pesan tersebut tidak dapat diterima dengan utuh. Ilustrasi berikut ini bisa menjelaskan:

Seorang Ibu baru saja melahirkan bayi kembar empat. Dia segera meraih handphone-nya. Dia ingin membagikan kabar gembira ini kepada redaksi suratkabar di kotanya.

Namun dia karena berada di dalam gedung rumah sakit, maka sinyal di sana sangat lemah. Sambungan telepon itu buruk dan terputus-putus.

"Pak, saya mengabarkan bahwa saya telah melahirkan kembar empat," kata Ibu itu.

Dari ujung telepon, terdengar suara redaksi suratkabar, "Apakah Ibu bisa mengulanginya lagi?"

Dengan kesal Ibu itu menjawab, "Tidak,Pak. Punya anak empat saja sudah cukup banyak."

Di sini, ada kesalahan penerimaan pesan antara Ibu dan Redaksi. Redaksi sebenarnya meminta Ibu itu supaya mengulangi berita pertama karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Akan tetapi Ibu itu mengira Redaksi tadi menanyakan apakah dia mau melahirkan kembar empat lagi!

Di dalam komunikasi lisan, umpan balik itu bisa berupa kata-kata. Akan tetapi yang lebih sering muncul justru berupa pesan nonverbal. Misalnya, komunikasn tersenyum yang menandakan bahwa dia merasa senang, mengangguk sebagai isyarat setuju, atau gelisah yang menunjukkan bahwa dia merasa bosan. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas tentang berbagai jenis umpan balik, cara mengenalinya dan bagaimana menghindari umpan balik yang negatif.

Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.

Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com





"Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.


Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 06 Desember 2006

Lagu Langka

Pada tahun 1627, parlemen Inggris yang puritan melarang penggunaan lagu-lagu Natal (Christmas carol) karena mereka menganggap perayaan ini sebagai "festival duniawi". Akibatnya, hingga awal abad ke-18, terjadi kelangkaan lagu-lagu Natal. Lagu "Hark! The Herald Angels Sing" yang ditulis Charles Wesley termasuk di antara sedikit lagu yang ditulis pada masa itu. Sama seperti 6500 lagu lainnya yang ditulis Wesley, lagu ini juga mengandung doktrin-doktrin Alkitabiah dalam bentuk puisi. Bait pertama menceritakan lagu para malaikat yang mengundang untuk bergabung memuji Kristus.

Charles Wesley mengikuti jejak ayahnya dan John Wesley, kakaknya, masuk dalam kegiatan pelayanan. Tahun 1730-an, tidak berapa lama setelah pentahbisannya, Charles Wesley dan dua saudaranya mengikuti gubernur Oglethorpe melakukan perjalanan ke Amerika. Saat itu, Chares Wesley menjadi sekretaris gubernur. Dalam pelancongan ini Charles Wesley mengalami pertobatan. Sekembalinya ke Inggris, dia lalu memutuskan menjadi pengkhotbah keliling.
Setahun setelah pertobatannya, Wesley menciptakan lagu Natal yang oleh Yamuger diterjemahkan dengan judul "Gita Sorga Bergema" (1977). Menurut John Julian, pakar himne terkenal, lagu ini termasuk salah satu di antara empat himne paling populer di Inggris.
Lagu yang terakhir ini memiliki syair sederhana sehingga mudah dimengerti maknanya oleh anak-anak sekalipun. Itulah sebabnya, lagu ini termasuk lagu Natal yang pertama kali diajarkan pada anak-anak. Pada mulanya, lagu "Away in the Manger" ini berjudul "Luther Cradle Hymn". Konon, syair lagu ini sengaja ditulis Martin Luther untuk anak-anaknya. Tetapi melalui penelitian yang seksama, ternyata tidak ada bukti yang mendukung kebenaran klaim ini. Bait pertama dan kedua pertama kali dimuat di "Litle Children's Book", Philadelphia, tahun 1885. Sedangkan bait ketiga disusun oleh John T. Mcfarland, seorang pendeta Methodis.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kebosanan Watts

"Gembira" atau "Joy" merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa Advent (saat-saat penantian menjelang Natal). Himne ini diciptakan oleh Isaac Watts (1674-1748), yang merupakan parafrase dari Mazmur 98:4-9. Perikop ayat ini menceritakan janji Tuhan untuk memulihkan dan melindungi umat-Nya.

Sejak kecil, Isaac Watts sudah menampakann kejeniusannya. Pada usia lima tahun, bocah Inggris ini sudah fasih bahasa Latin. Usia sembilan tahun menguasai bahasa Yunani. Belajar bahasa Perancis pada usia sebelas tahun dan bahass Ibrani pada umur tiga belas. Pada usia 18 tahun, dia merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat mazmur pada masa Advent. Suatu hari Minggu, setelah kebaktian, ayahnya menantang Watts: "Anak muda, kalau kamu bosan, mengapa tidak menciptakan lagu yang lebih baik?"

Merasa mendapat tantangan, Watts bertekad menciptakan lagu berdasarkan kitab Mazmur. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul "The Messiah's Coming and Kingdom". Untuk musiknya, Lawol Mason, seorang musisi Amerika mengadaptasi fragmen komposisi George Frederick Handel, seorang komponis Jerman. Tahun 1980, Yamuger menterjemahkan lagu Joy to the World" ini dengan judul "Hai Dunia, Gembiralah"
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Nada-nada dari Sorga

Lagu Natal lain yang juga terkenal adalah "O Litle Town of Betlehem". Lagu ini berasal dari coretan pena Phillips Brooks, seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Brooks menuliskan lagu ini setelah berkunjung ke Israel, tahun 1865. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem. Tiga tahun kemudian, ketika menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.

Brooks lalu memberikan syair itu pada Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu. Brooks minta dibuatkan melodi untuk dipentaskan pada malam Natal. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tetapi tidak juga ditemukan yang pas. Hingga pada sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Dia langsung menyusun komposisi lagu, yang tiba-tiba meluncur deras di batinnya. Sampai meninggal dunia, Redner tetap yakin bahwa nada-nada itu berasal dari Sorga. Yamuger menterjemahkannya menjadi "Hai Kota Mungil Betlehem", tahun 1978.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

KISAH PENCIPTAAN LAGU NATAL

Malam itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Joseph Mohr berjalan menulusuri jalan setapak, usai menonton pertunjukan drama Natal yang dipentaskan oleh sekelompok aktor keliling. Menurut rencana, sebenernya drama itu akan dipentaskan di gereja St. Nichoas, tetapi karena organ gereja rusak akibat digigiti tikus, maka pentas itu terpaksa dialihkan ke rumah salah satu jemaat.

Ketika sampai di puncak bukit, Mohr berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di bawahnya. Dia begitu terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh. Hal itu membuat Mohr membayangkan suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem. "Malam sunyi! Malam kudus!" Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.

Sesampai di rumahnya, Mohr segera menyambar pena dan kertas untuk menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya. Setelah itu, dia punya rencana untuk menyanyikan syair gubahannya itu pada malam kebaktian Natal di gerejanya. Keesokan harinya, dia segera menemui Franz Xaver Grüber, seorang guru desa dan pemain organ gereja. Pada hari itu juga, Grüber bisa merampungkan melodi untuk syair itu. Maka jadilah lagu "Malam Kudus" (Silent Night) yang beberapa abad kemudian menjadi "lagu wajib" pada setiap perayaann Natal.
Siapakah Joseph Mohr? Dia dilahirkan tahun 1792 di Steingasse, di sebuah perkampungan kumuh di Austria. Seorang pastor merasa kasihan melihat Mohr kecil terpaksa mengamen di jalanan. Imam Katolik itu lalu memungutnya dari jalanan dan menyekolahkan di Salzburg. Di sana, selain belajar agama, Mohr juga belajar bermain organ, biola dan gitar. Tahun 1818, Mohr ditempatkn sebagai asisten pastor di gereja St. Nicholas.

Sesuai dengan rencananya, pada malam Natal di tahun 1818, Mohr menyanyikan lagu ciptaanya itu dengan iringan gitar Grüber (karena organ gereja masih rusak). Lagu yang masih gres itu ternyata menyentuh hati jemaat yang datang beribadah.
Meski terbilang sukses, namun mereka tidak pernah punya niat untuk menyebarkan lagu itu ke luar desa. Seminggu kemudian, Karl Maurachen, tukang servis organ kenamaan dari Zillerthal datang untuk memperbaiki alat musik di gereja itu. Ketika sudah beres, Grüber dipersilahkan mencoba memainkan organ itu. Pada kesempatan itu, Grüber memainkan lagu yang baru diciptakan itu. Maurachen sangat terkesan mendengar lagu itu. Dia minta salinan komposisi lagu itu dan membawanya pulang.

Di tangan Maurachen, lagu itu mulai menyebar dan menjadi lagu rakyat di wilayah Tyrol. Lagu ini menjadi semakin populer ketika kuartet Strasser,--empat wanita bersaudara--, menyanyikan lagu ini berkeliling di seluruh Austria. Tahun 1838, lagu ini sudah dikenal di Jerman sebagai "lagu tidak jelas asal-usulnya."

Di Amerika, lagu ini diperkenalkan oleh Rainers, sebuah keluarga penyanyi dari Tyrol dalam sebuah tur konser, tahun 1839. Seperempat abad kemudian, Jane Campbell menterjemahkan syairnya ke dalam bahasa Inggris. Tahun 1980, Yayasan Musik Gereja (Yamuger) menterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Syairnya sebagai berikut: "Malam kudus, sunyi senyap. Dunia terlelap. Hanya dua berjaga terus. Ayah Bunda mesra dan kudus. Anak tidur tenang."
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Menggugat Sinterklas

Berdasarkan hasil survei di Eropa dan Amerika, ternyata Sinterklas merupakan figur paling beken, setelah Yesus Kristus dan bunda Maria. Sayangnya meskipun terbilang ngetop, hanya sedikit orang yang mengatahui siapa sebenatnya Sinterklas ini. Bagaimana duduk perkaranya, sehingga dia bisa menjadi ikon di setiap perayaan Natal?
Sinterklas atau Santa Claus sesungguhnya adalah tokoh yang nyata dan pernah hidup yaitu, Santo Nicholas. Dia dilahirkan di Patara, Turki tahun 280 M. Ayahnya adalah seorang pedagang kaya dari Arab yang bernama Ephiphanius. Ibunya bernama Nonna. Dapat dikatakan, berdasarkan keturunan maupun tempat kelahiran, Nicholas adalah orang Arab.
Saat masih belia, dia sudah menjadi yatim piatu dan dibesarkan di biara. Pada usia 17 tahun, Nicholas sudah menjadi biarawan termuda. Pada usia itu, dia berziarah ke Pales­tina dan Mesir. Menurut legenda, dalam perjalanan itu kapalnya diterpa angin badai hingga salah satu tiang kapalnya patah, dan menimpa kepala seorang kelas kapal. Kelasi malang ini mati. Namun setelah didoakan oleh Nicholas, dia bisa hidup kembali. Nicholas muda juga berhasil menenangkan angin ribut itu. Berawal dari kisah ini, Nicholas di kemudian hari diangkat menjadi Santo (orang suci) pelindung para pelaut.
Pulang dari tanah suci, Nicholas diang­kat menjadi uskup Myra, Lycia. Pada masa itu, kaisar Romawi, Diocletes yang berkuasa melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Uskup Nicholas dijebloskan dalam penjara. Akan tetapi ketika kaisar Konstantin Agung dan mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama negara, Nicholas pun dibebaskan.

Menolong Gadis Miskin
Reputasi Nicholas sebagai sosok yang murah hati telah menciptakan legenda tentang perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya pada orang yang miskin tidak beruntung. Menurut legenda, Nicholas penah menolong tiga anak kecil yang dilukai oleh tukang jagal dan di­rendam dalam kolam air garam.
Cerita lain yang paling terkenal adalah ketika uskup Nicholas menolong tiga gadis miskin yang dipaksa menjadi pekerja seks, supaya bisa membayar mas kawin. Mendengar tragedi ini, Nicholas tergerak hatinya. Pada suatu malam, dia diam-diam merayap ke atap rumah keluarga miskin itu dan menjatuhkan sekantung uang emas melalui cerobong asap. Secara kebetulan, uang itu jatuh ke dalam kaos kaki yang sedang digantung di dekat perapian. Hal ini sempat diketahui oleh ayah dari ketiga gadis ini, yang lalu mengejarnya. Nicholas lalu berpesan supaya tidak menceritakan peristiwa ini, setidaknya selama dia (Nicholas) masih hidup. Kemungkinan, berawal dari kisah ini, lalu timbul kepercayan bahwa Sinterklas turun dari cerobong asap untuk memberi hadiah pada anak-anak.
Setelah wafat, jasad Nicholas dikuburkan di gereja Myra. Untuk menghormatinya, kaisar Romawi membangun gereja di Konstantinopel yang kemudian menjadi tempat peziarahan terkenal. Seperti dikisahkan sebelumnya, para pelaut sangat mengeramatkan Nicholas. Karena pada 9 Mei 1087, para pelaut dan pedagang Italia bertekad membongkar kuburan Nicholas dan memboyongnya ke Bari, Italia.
Pemindahan ini meningkat­kan popularitas Nicholas di Eropa, karena saat itu Bari sedang menjadi pusat perdagangan Eropa. Sebelum pemindahan, orang Italia percaya ada seorang nenek sihir bernama Befana. Dia mendapat tugas dari malaikat untuk memberi hadiah bagi bayi Yesus, tapi dia datang terlambat. Karena itu, Befana dihukum harus memberi hadiah pada anak-anak miskin setiap perayaan Natal. Rupanya para pemuka agama Italia tidak sreg dengan kepercayaan ini. Mereka lalu memutuskan untuk mengalihkan kepercayan pada Befana ini kepada Nicholas.

Iklan Coca-Cola
Setelah gerakan Reformasi gereja, reputasi Nicholas di kalangan gereja Protestan di Eropa mulai meredup. Beda halnya dengan yang di Belanda. Di negeri kincir angin inilah bemula legenda Sinterklaas ini (nama Belanda un­tuk Saint Nicholas). Perlahan-lahan figur Sinterklaas ini diadopsi oleh negara-negara lain yang mema­kai bahasa Inggris. Mereka menyebutnya Santa Claus, yang kemudian digabungkan dengan le­genda rakyat Nordic, yaitu seorang nujum yang menghukum anak-anak nakal dan memberi ha­diah pada anak-anak yang baik hati. Di sinilah lalu muncul tokoh Piet Hitam yang membawa karung untuk mengantongi anak-anak yang nakal.
Pendapat lain dikemukakan Herlianto. Menurutnya, figur Sinterklas merupakan campuran figur santo Nicholas dengan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odini ini juga disertai dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang, yang bisa mendatangkan mukjizat.
Di Amerika, tradisi dan kepercayaan ini dibawa oleh koloni Belanda ketika mereka merantau ke New Amsterdam (sekarang New York City), abad ke-17. Di negeri paman Sam inilah figur Santa Claus mengalami pembiasan makna besar-besaran. Dengan sokongan modal dan kekuatan persebaran oleh media massa, Sinterklas telah berubah menjadi "tenaga pemasaran" yang menganjurkan konsumsi yang berlebihan di masa Natal. Ini tidak heran, karena karakter Santa Claus yang dikenal seluruh dunia selama ini, sesungguhnya merupakan hasil rekayasa Haddon Sundblom, manajer humas Coca Cola. Figur itu dibuat untuk keperluan iklan Coca-Cola (1931-1964). Iklan yang terpam­pang di majalah National Geographic ini menam­pilkan sosok Santa yang berjubah merah dengan hiasan bulu binatang berwarna putih di pinggirnya. Dia memakai sabuk dan sepatu boot kulit. Juga ber­janggut putih dan kantong goni penuh mainan yang tersampir di pundaknya
Ini sungguh ironis. Pada zaman ini, Santa Claus lebih senang nongkrong di supermal sambil memangku dan mengelus anak-anak orang berada ketimbang menolong orang yang kekurangan. Padahal jika St. Nicholas yang asli hidup di Indonesia, kemungkinan besar, dia memilih untuk diam-diam mendatangi barak-barak pengungsi korban konflik di Ambon, Poso atau Aceh. Mungkin dia juga akan mengunjungi para korban penggusuran di Jakarta.
Dalam perayaan Natal tahun ini, tepat bagi kita untuk melakukan demitologi atas sosok Sinterklas, untuk kembali meneladani St.Nicholas dalam hal kemurahan dan kepeduliannya terhadap sesama yang kurang beruntung. Bukankah itu juga makna kedatangan bayi Yesus yang sesungguhnya?
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 07 November 2006

Kenangan Singkat atas Omi Intan naomi

Saya kaget membaca berita di Kompas: Omi Intan Naomi telah dipanggil Bapa di sorga dalam usia 36 tahun. Saya mengenal pertama kali mengenal Omi melalui karya-karyanya yang dimuat di Sinar Harapan Minggu (sebelum dibereidel). Dia sangat rajin menulis di rubrik anak-anak. Maklum saja, ayahnya adalah seorang penyair ternama, Darmanto Jatman. Bersama dengan Remi Silado, Darmanto membuat inovasi dengan menciptakan puisi-puisi mbelingnya.Sebagai anak yang hidup di pelosok Gunungkidul, saya cukup beruntung telah diperkenalkan dengan dunia literatur oleh ayah saya. Meski agak susah dijangkau tansportasi, tapi ayah saya sering 'berhasil' mendapatkan koran SH dan almarhum majalah Mutiara. Minat kepenulisan saya banyak dibentuk oleh kedua media ini,Perkenalan saya pribadi dengan Omi Intan Naomi bermula ketika saya kuliah di jurusan Komunikasi UGM. Omi menjadi kakak angkatan saya. Saya angkatan 1991, dia angkatan 1989. Kami sempat beraktivitas bersama-sama di dalam Korps Mahasiswa Komunikasi (Komako), khususnya di divisi Jurnalistik dan Penerbitan. Kami menerbitkan tabloid SWARA. Dia menjadi Pemimpin Redaksi, saya reporternya. Saya masih ingat, laporan utama yang diangkat adalah tentang kewajiban Penataran P4 bagi mahasiswa baru. Kami mengadakan jajak pendapat. Hasilnya, mayoritas responden menolak Penataran P4.Selain Omi, rekan sekerja kami adalah Imam Wahyu(pernah di Editor dan Tiras. Entah sekarang dia ada dimana), Sagiyo, Yuyun Wardhana (fotografer Detik), Berto, Candra dan satu teman lagi yang sekarang di Metro TV. Namanya Matius Dwi Hartanto, tapi teman-teman memanggilnya Gimin.Saya tidak lama bergaul dengan Omi karena dia cepat menyelesaikan teorinya. Setelah itu, dia jarang nongol di kampus. Dari pergaulan singkat saya dengannya, saya melihat Omi sebagai mahasiswa yang cerdas dan kritis. Namun ada juga jiwa pemberontak di dalamnya. Setiap kami rapat redaksi, dia biasanya melontarkan opini-opini cerdas sambil tak lupa mengepulkan asap rokok ringan dari mulutnya.Omi menyelesaikan skripsi dengan topik penelitian analisis isi pojok Kompas. Setelah itu, kami tidak pernah kontak lagi. Saya dengar kabar, dia menerjemahkan karya-karya sastra dari Australia. Harus saya akui, perjalanan kepenulisan saya telah dihiasi oleh kekaguman saya pada wanita manis, berkulit langsat dan berambut ikal ini. Selamat jalan mbak Omi.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 07 Oktober 2006

Orang Pesu Menertawakan Gempa (5)

Kitab Baru
Pendeta Krisapndaru dari Gereja Kristen Jawa Pedan membuka posko untuk membantu korban gempa di kecamatan Pedan, Cawas dan Karangdowo. Wilayah yang harus dijangkau sangat luas sehingga pdt. Ndaru harus bekerja keras dari pagi hingga malam.
Selain harus mengkoordinasikan penyaluran, dia juga harus memikirkan bagaimana cara mencari bantuan dari dermawan dan donatur. Begitu seriusnya dia memikirkan hal ini, hingga yang ada di kepalanya adalah bagaimana mendapat bantuan beras.beras..beras..
"Karena terus-terusan memikirkan beras, maka pada saat berkhotbah hari Minggu saya sampai kepleset mengatakan, 'Mari kita buka Alkitab kita dan membaca Beras, pasal lima, ayat tiga'", kata pak Ndaru sambil terkekeh.

(c) Purnawan Kristanto
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Orang Pesu Menertawakan Gempa (4)

Lantai Keramik

Seorang relawan ngobrol dengan salah satu warga desa Pesu yang rumahnya roboh.
Relawan: "Warga di sini lebih hebat dari penduduk di kota, ya."
Warga: "Mengapa Anda bisa berkata begitu?"
Relawan: "Soalnya kalau di sini, halaman rumahnya saja dilapisi keramik" (sambil menunjuk bekas lantai rumah orang itu)

(c) Purnawan Kristanto
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Orang Pesu Menertawakan Gempa (3)

Setelah gempa besar, biasanya ada gempa susulan. Jika ada gempa susulan, di kalangan korban gempa di Pesu ada kelakar demikian:
Warga I: "Bagaimana keadaan rumahmu setelah gempa tadi?"
Warga II: "Tidak ada retaknya sama sekali."
Warga I: "Hebat dong! Apakah rumahmu tahan gempa?"
Warga II:"Bagaimana bisa retak, lha wong temboknya saja sudah tidak ada."

(c) Purnawan Kristanto
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Orang Pesu Menertawakan Gempa (2)

Seorang warga desa mendatangi posko Gerakan Kemanusiaan Indonesia, di Pesu, Klaten. Kepada pelaksana
rekonstruksi dia mengutarakan maksudnya untuk meminta bantuan pembangunan satu unit lagi bagi
anaknya.

Koordinator proyek menolak permintaannya karena menurut peraturan, anaknya tidak berhak menerima
bantuan.

Tapi Bapak itu tidak putus asa. Dengan terang-terangan dia menawarkam sejumlah uang untuk
koordinator itu, supaya meluluskan permintannya.Dia berusaha menyuap. Tapi sekali lagi, permintaan
itu ditolak dengan tegas oleh sang koordinator.

Bapak ini akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga kejadian itu. Namanya juga bantuan, tanpa diiming-imingi akan diberi
uang pun, bantuan itu sebenarnya akan dibeikan jikalau dia memang berhak menerimanya. Nah, kalau
korban menawarkan uang kepada pemberi bantuan, lalu apa artinya memberikan bantuan. Logikanya sudah
terbalik-balik!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Orang Pesu Menertawakan Gempa (1)

Trauma Healing
Untuk memberi penguatan kerohanian pada korban gempa, pendeta Hosea (bukan nama sebenarnya) punya ide untuk mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Kebetulan dia menjadi aktivis sebuah Forum Kerjasama Gereja-gereja. Maka dia mengajukan gagasannya ke organisasi ini. Sedangkan untuk anggaran biayanya akan dipenuhi oleh Forum ini.
Pada kenyataannya, rencana ini tidak berjalan mulus. Karena kurangnya koordinasi, panitia tidak dapat bekerja sama dengan baik. Padahal publikasi sudah disebar dan artis sudah diundang, yaitu Edo Kodlonggit. Waktu semakin mepet, tapi persiapan belum matang. Melihat hal tersebut, pemuda-pemuda di sebuah gereja (bukan gereja yang dilayani oleh pdt. Hosea) mengambil inisiatif untuk menyiapkan acara ini. Mereka bahkan mengeluarkan uang sendiri untuk menalangi biaya yang diperlukan.
Berkat kasih karunia Tuhan, acara tersebut berlangsung dengan lancar. Ada ratusan orang yang menghadiri acara ini.
Rupanya Pdt. Hosea terkesan dengan kinerja pada pemuda gereja yang bekerja secara sigap dan efesien ini. Maka dia menghubungi salah satu majelis di gereja itu untuk menawarkan kerjasama lagi. Dia ingin mengadakan program pemulihan trauma (trauma healing) terhadap korban gempa.
Majelis gereja kemudian menyampaikan tawaran pdt. Hosea ini kepada para pemuda di gerejanya. Reaksi pertama yang ditunjukkan oleh para pemuda adalah tertawa ngakak.
"Sebenarnya yang lebih membutuhkan pemulihan trauma adalah kami," kata salah seorang pemuda.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Majelis dengan heran.
"Kami, --para pemuda gereja--, sampai sekarang masih merasa trauma bekerja sama dengan pendeta Hosea itu," lanjut sang pemuda.
Sang Majelis hanya tertawa kecut
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kejadian Aneh

Bulan September lalu, saya sekeluarga pergi ke Jakarta menggunakan mobil. Berangkat dari Klaten pukul 10, ke Wonosari dulu untuk menjemput Bapak dan Ibu, kemudian meluncur ke Jakarta pukul 12.00 WIB.Karena membawa bayi yang berusia 4,5 bulan, perjalanan dibuat sesantai mungkin. Sekitar pukul 21, mobil memasuki Ajibarang. Kami berhenti sejenak di sebuah pompa bensin. Setelah rasa capai hilang, perjalanan dilanjutkan kembali. Sebagian penumpang masih terkantuk-kantuk.
Sekitar satu jam kemudian, tiba-tiba sopir menghentikan mobilnya. "Lho...lho...lho, bukankah itu pompa bensin, tempat kita beristirahat lagi???" seru sopir dengan heran. Dalam sekejap, semua penumpang terjaga kembali."Ah, mana mungkin. Kita 'kan sudah berjalan jauh. Mungkin pompa bensin itu mirip yang tadi," kata saya."Nggak, ini pasti pompa bensin yang tadi!!!" kata sopir dengan penuh keyakinan. Saya pun menjadi ragu. Kayaknya sih memang pompa bensin yang tadi."Kalau begitu, kita masuk ke pompa bensin itu untuk memastikannya," usul dik Anggie.
Mobil dibawa masuk ke pompa bensin itu. Ternyata betul. Itu pompa bensin yang dijadikan tempat beristirahat tadi.Itu berarti, mobil ini telah berjalan melingkar sehingga kembali ke titik semula. Tapi yang mengherankan, tidak ada seorang pun di dalam mobil yang menyadarinya. Akibatnya, kami membuang waktu dan bahan bakar untuk berputar-putar di Ajibarang selama satu jam. Bussyet!

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Our Memories of Siwi Budi Wibowo

Our Memories of Siwi

Pagi ini kami mendapat kabar yang mengagetkan. Rekan sepelayanan kami di posko Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI Klaten), Siwi Budi Wibowo dipanggil pulang oleh Bapa di sorga pada hari Sabtu, 7 Oktober lewat tengah malam. Ah, Siwi…begitu cepatnya Tuhan ingin bertemu denganmu. Siangnya, kita masih bercanda-canda dan saling meledek. Engkau memamerkan PDA baru pada isteriku. “Ini pemberian kok” katamu sambil nyengar-nyengir karena belum bisa memakai gadget canggih itu. Maklum engkau agak gaptek.
“Mbok saya juga dimintakan,” goda isteri saya. “Saya tidak minta kok. Saya Cuma dikasih,” sahutmu sambil berkelit. Engkau lalu menghampiri aku yang sedang menyiapkan powerpoint untuk acara Tertawa Bersama Den Baguse Ngarso. “Wan, aku mau beli laptop” katamu. “Semakin makmur saya kamu ini,” canda saya.
Saya lalu memberi beberapa saran jika ingin beli laptop. Engkau manggut-manggut lalu pamitan sambil berpesan minta tolong supaya saya memperbaiki setting communicatormu yang berantakan gara-gara diotak-atik oleh dokter di Posko. “Bawa saya ke Pastori,” jawab saya.
---***---
Saya mengenal Siwi karena sama-sama relawan di tim GKI Klaten. Beberapa hari setelah gempa, Siwi bergabung dengan kami. Kesan pertama saya ketika pertama kali mengenalnya, Siwi terlihat sebagai sosok yang penuh enerji, antusias, tapi agak ‘kemlinthi’ dan ‘mbagusi’.
Dia sangat bersemangat membantu korban bencana. Ketika mendengar ada desa yang belum mendapat bantuan, dia langsung menyambar Suzukinya dan segera menghantarkan bantuan yang diperlukan. Dia rela menerobos medan yang berat demi menolong korban bencana.
Hatinya mudah tergerak oleh belas kasihan. Jika mendengar ada orang yang membutuhkan bantuan, dia akan memberikan pertolongan dengan sekuat tenaga. Ada seorang kakek yang hidup sendirian. Tidak ada keluarga yang mau merawatnya karena sakit-sakitan. Gempa telah meratakan gubuknya. Akibatnya, dia hanya berteduh di bawah pohon pisang. Melihat keadaan ini, Siwi segera menghantarkan terpal supaya dapat dipakai untuk berteduh. Tindakan Siwi ini sempat dipersoalkan oleh rekan-rekan di Posko karena waktu itu ada kebijaksanaan bahwa bantuan tenda/terpal adalah untuk digunakan bersama-sama. Karena jumlahnya yang terbatas, maka kami belum bisa memberi satu tenda untuk setiap keluarga.
Tapi itulah gaya Siwi, dia sering menerabas aturan main yang ditetapkan oleh posko bencana. Padahal aturan main ini dibuat bersama. Dia ikut serta dalam merumuskan kebijaksanaan itu. Tindakannya yang srudag-srudug ini kadang membuat kesal relawan yang lain. Sebagai contoh, orang-orang di posko agak gaduh karena mencari meja besar yang tidak ada. Usut punya usut, ternyata meja ini digunakan Siwi untuk klinik kesehatan di tempat lain. Dia mengambilnya begitu saja tanpa memberitahukan kepada anggota Posko.
Pembawaannya santai. Kalau berbicara dia ceplas-ceplos dan suka bercanda. Supaya tidak stress, kami sering bercanda dan saling meledek. Siwi biasanya menjadi sasaran empuk untuk dijadikan korban ledekan. Tapi dia menanggapinya dengan santai, dan tidak pernah dimasukkan dalam hati. Teman-teman di posko sering meledekinya karena Siwi sering membantu korban gempa yang berstatus janda. Namun dipikir-pikir, apa yang dilakukan oleh Siwi ini masuk akal juga, karena janda termasuk di antara lapisan masyarakat yang marjinal. Sebagai perempuan, mereka sudah terpinggirkan, apalagi statusnya sebagai janda.
---***---
Sebagai sesama relawan, saya beberapa kali berbeda pendapat dengannya. Dalam sebuah rapat, dia mengatakan ada seorang pria muslim yang berminat bergabung dengan tim GKI. Pria ini dulu pernah bergabung dengan sebuah laskar bersenjata dan dikirim ke Ambon. Sekarang, setelah melihat kiprah orang-orang Kristen dalam menolong korban gempa, pandangannya terdadap orang Kristen mulai berubah. Dia menyatakan minat pada Siwi untuk bergabung dengan tim GKI.
Menanggapi hal itu, saya tidak setuju jika pria ini diterima ke dalam tim GKI. Alasan yang saya kemukakan, kita belum mengenal lebih dalam orang ini. Jika dia bergabung dengan GKI, maka dia bisa mengakses informasi yang strategis dari gerakan ini. Karena belum yakin 100% pada ketulusan orang ini, maka saya menyarankan supaya orang ini diikutsertakan secara terbatas saja.
“Saya setuju kita harus inklusif, tapi harus bijak. Kita tidak boleh terlalu terbuka sehingga kelihatan sangat telanjang,” kata saya. Teman-teman yang lain tidak ada yang menyanggah pendapat saya.
Perbedaan pendapat lainnya adalah soal klinik kesehatan. Ketika terjadi gempa di Pangandaran, kami kesulitan tenaga medis karena dokter yang bertugas di posko kami telah ditarik dan dipindahkan ke Pangandaran. Melihat hal ini, Siwi sangat gigih mengusahakan dokter yang bersedia kerja sosial.
Dia pernah mendatangi pos PMI Klaten. Pertanyaan pertama yang diajukan oleh petugas PMI pada Siwi adalah, “Apakah Anda bisa memberi honor kepada dokter kami?”
Dengan nada tinggi Siwi segera menukas, “Anda minta berapa? Akan kami bayar?”
“Sebelum ini, dokter yang ada di posko Anda diberi honor berapa?”
“Mereka tidak minta honor. Mereka datang dengan biaya sendiri. Bahkan membawa obat-obatan sendiri!”
Gagal mendapat bantuan dari PMI, Siwi mengontak beberapa orang di Jakarta, Solo, Kalimatan, Jogja dan Bali. Akan tetapi tuntutan yang diajukan oleh dokter itu sangat berat bagi kami. Selain honor, mereka minta tiket pesawat setiap dua minggu, asuransi, tunjangan, akomodasi dll.
Ketika semua upaya hampir mentok, saya mengusulkan supaya klinik kesehatan ini dihentikan saja. Menurut saya, masa darurat sudah selesai. Pada kenyataannya, orang-orang yang dilayani oleh klinik itu bukan korban gempa lagi, tapi penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh hal lain. Hal ini mengakibatkan masyarakat menjadi manja dan menciptakan ketergantungan pada pelayanan kesehatan kami. “Semua ini sudah dapat dilayani oleh Puskesmas setempat” kata saya.
Namun Siwi punya pendirian yang berbeda. Pelayanan kesehatan harus jalan terus. Kalau tidak ada dokter yang mau kerja sosial, maka dia akan menggaji dokter profesional. Itu sebabnya, dia sekuat tenaga mencari dana dari berbagai sumber untuk mendanai pelayanan kesehatan ini. Bahkan sebagian besar penghasilannya pun disumbangkan untuk pos kesehatan ini.
Rupanya Siwi terinspirasi oleh kata-kata pendeta dari Jabar yang berkunjung ke posko kami. “Apakah kalian tidak akan meninggalkan sesuatu yang monumental di sini? Bagaimana kalau kalian membuat klinik yang permanen di sini,” kata pendeta itu. Klinik itu direncanakan ada di dalam kompleks gereja bakal jemaat di Pesu yang rata dengan tanah. Dalam rancana rekonstruksi, kami akan membangun kembali gedung gereja itu. Selain tempat ibadah, juga akan dilengkapi dengan ruang untuk konsistori, ruang Sekolah Minggu dan klinik kesehatan untuk umum. Kami punya impian bahwa gereja ini dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat setempat. Warga yang bukan menjadi anggota gereja tidak merasa sungkan untuk masuk ke dalam gereja. Hal itu dimulai dengan membangun klinik kesehatan untuk umum.
---***---
“Totalitas”, kata ini dapat menggambarkan jalan hidupnya paska gempa. Sejak 27 Mei sampai dengan 7 Oktober 2006, seluruh hidupnya diabdikan untuk korban gempa. Saya memperkirakan upacara pemakaman besok akan banyak didatangi oleh warga yang menjadi korban gempa.
Hingga saat ini, kami sudah membangun rumah sebanyak 379 unit tipe 21 m2. Masih akan menyusul 300 unit lagi. Dalam proyek ini, peran Siwi sangat signifikan. Dia menjadi penghubung antara tim GKI dan Lembaga Donor yang menjadi mitra kerja kami. Dengan penuh dedikasi, dia menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh kunci di dalam masyarakat. Dia berusaha meyakinkan bahwa bantuan dari tim GKI ini tulus. Inilah monumen sesungguhnya yang telah dibangun oleh Siwi. Dengan dorongan hati yang tulus, Siwi telah ikut membalut luka-luka para korban gempa itu.
Selamat jalan pak Siwi…..untuk menghantar kepergianmu, biarlah saya kutipkan SMS dari ibu Jane, isteri duta besar Perancis: “Kami sangat kehilangan beliau yang begitu bersemangat dan rela hati dalam membantu sesamanya.”
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 03 September 2006

Jurnal Gempa

Sabtu, 26 Agustus 2006
Kami menerima kunjungan Jacob, dari Gereja Reformeed di Kanada. Dia diantar oleh Marvin dan Martin dari GenAssist. Kami memaparkan perkembangan proyek pembangunan rumah berukuran 3 x 4 meter. Hingga saat ini, sudah hampir 90 persen dari 279 unit rumah sudah selesai pengerjaannya. Sebagian rumah sudah memasang atap genting, sehingga sudah bisa dipakai untuk tempat berteduh.
Nilai proyek untuk setiap unit rumah sebesar 200 US$. Bantuan diberikan dalam bentuk satu rit pasir, 15 zak semen, besi (ring, kolom dll) dan kawat bendrat. Sedangkan penduduk menyediakan bata, genting, kusen dan tenaga kerja. Melihat hasil pekerjaan tim GKI, Jacob terlihat sangat terkesan. "Kami sangat senang bekerjasama dengan tim yang solid dan bekerja secara profesional," katanya. Dia mengambil beberapa foto rumah untuk dilaporkan ke Kanada.
Dalam kesempatan itu Jacob menceritakan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Saat ini, bangsa Kanada sudah mengalami "disaster fatigue" atau "keletihan bencana." Akhir-akhir ini, banyak sekali terjadi bencana. Mulai dari Tsunami di Aceh, gempa di Pakistan dan Iran, gempa di Jawa Tengah hingga Tsunami kecil di Pangandaran. Berita-berita tentang bencana itu telah membuat bangsa Kanada mengalami kejenuhan. Itu sebabnya ada penurunan drastis dalam hal jumlah bantuan yang diberikan. Jacob mencontohkan, ketika terjadi Tsunami di Aceh, bantuan yang diberikan sebesar 6 juta US$. Sedangkan untuk gempa di Jogja dan Jawa Tengah ini "hanya" tersedia 300 ribu US$.
Saat ini, GenAssit tengah mengupayakan bantuan dari pemerintah Kanada. Namun hal ini tidak mudah, karena pemerintah Kanada memiliki rencana menyalurkan bantuan melalui Lembaga Multidonor. Maksudnya beberapa negara maju seperti Kanada, Jerman, Amerika, Perancis dll akan menggabungkan bantuan ke dalam satu lembaga donor. Jika ini terjadi, maka tidak ada jaminan bahwa bantuan tersebut akan diberikan kepada pihak yang tepat.
Kenyataan di lapangan menunjukkan, ada beberapa organisasi bantuan yang "sembarangan" dalam memberikan bantuan. Sebagai contoh adalah Organisasi Palang Merah dari sebuah negara maju di Eropa. Mereka punya program untuk membangun rumah transisi, berupa rumah dengan tiang dari kayu kelapa dan dinding bambu. Mereka membangun dua rumah percontohan di setiap desa. Setelah itu mereka menge-drop bertruk-truk dinding bambu dan kayu glugu (batang kelapa). Kepada warga desa, mereka berpesan, "Kami sudah membangun rumah percontohan. Ini bahan-bahan bangunan rumah yang dibutuhkan. Silakan membangun rumah dengan mencontoh rumah tersebut!" Sesudah itu mereka pergi 'mak semprung'.
Hingga kini, bahan-bahan bangunan tersebut masih teronggok di pojokan desa. Tidak ada warga desa yang menyentuh bangunan tersebut. Jika dibiarkan begitu terus-menerus, maka bahan bangunan tersebut akan mengalami kerusakan. Kalau tidak dimakan rayap, ya akan mengalami kelapukan karena sengatan panas dan kelembaban udara.
Persoalan lain yang menghambat rekonstruksi ini adalah sikap pemerintah yang tidak jelas. Pemerintah Kabupaten Klaten tidak mempunyai blue print penanganan gempa. Kebijakannya pun sering berubah-ubah. Ada kesan pemerintah bersikap ekstra hati-hati mengingat anggaran yang terbatas, sementara jumlah korban sangat besar (di Klaten lebih dari 40 ribu rumah yang roboh). Salah satu hambatan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah adalah soal kriteria rumah yang akan dibantu pemerintah. Pejabat di pemda pernah mengatakan bahwa pemerintah tidak akan memberikan bantuan kepada rumah warga yang sudah dibangun lagi, tapi luas bangunannya melebihi 21 meter persegi. Meski begitu, keputusan ini bukan kebijakan resmi pemerintah kabupaten Klaten. Ada juga kabar bahwa bantuan disalurkan dalam tiga tahap. Tahap pertama disalurkan pada bulan Nopember. Bantuan berikutnya diberikan pada tahun depan dan tahun depannya lagi.
Jika ditilik lebih jauh, persoalan yang sesungguhnya bukan pada keterbatasan anggaran melainkan karena krisis kepemimpinan di kalangan pemerintah. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah tidak berfungsi di wilayah gempa. Pejabat-pejabat pemerintah hanya berfungsi sebagai manajer, bukan sebagai leader. Mereka tidak punya visi, inisiatif dan keberanian mengambil risiko dalam menangangi gempa ini.
Pengalaman tim GKI menunjukkan, kami masih bisa membangun kembali rumah-rumah yang roboh hanya dengan dana yang semula akan dipakai untuk membuat tenda. Ini menunjukkan bahwa dana yang terbatas bukanlah penghambat utama. Kuncinya adalah kemampuan mengorganisasikan masyarakat (community develompment). Dengan pendekatan yang tepat, korban gempa sebenarnya bersedia bekerja untuk membangun kembali rumah mereka. Mereka juga tidak keberatan jika harus menyediakan sisa-sisa bangunan yang masih dipakai. Mereka juga rela menyediakan tenaga untuk mengerjakan pembangunan itu. Semua itu bisa dilakukan karena ada kepemimpinan dan pengorganisasian masyarakat. Kami selalu menjalin komunikasi dan kerjasama dengan ketua-ketua RT. Mereka inilah yang menjadi pemimpin sesungguhnya di masyarakat. Mereka berhubungan langsung dengan masyarakat, menyerap aspirasi korban dan bersedia memperjuangkan kepentingan warga tanpa pretensi apa-apa (misalnya ingin mendapatkan proyek).
Akibat kebijakan 'masa mengambang' yang diterapkan oleh rezim Orba, banyak para pemimpin formal yang tidak mengakar ke masyarakat. Mereka tidak memiliki basis massa. Itu sebabnya, banyak pejabat menjadi gagap ketika harus menentukan kebijakan yang berdampak pada masyarakat. Mereka tidak berani mengambil risiko, karena mereka menyadari tidak punya basis dukungan yang tepat. Sementara di sisi lain, masyarakat sudah semakin kritis. Salah langkah, maka bisa didemo. Maka para pejabat pun cenderung mencari aman saja.
Di balik semua itu, ada hikmah yang bisa dipetik. Gempa ini memberi kesempatan kepada kekuatan masyarakat sipil untuk bangkit. Mereka mengorganisasi diri secara swadaya. Meski tak ada bantuan dari pemerintah, masyarakat sudah mulai menggeliat bangkit kembali. Ini dapat menjadi momentum yang tepat untuk mengikis dominasi negara.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 19 Agustus 2006

Telah terbit buku yang ditulis Relawan Kemanusiaan

Rekan-rekan,
Saya ingin berbagi kabar gembira. Telah terbit dua buku baru saya, yaitu:
1. "Tuhan Yesus tidak Tidur; 100 Renungan tentang Hikmah di Balik Musibah". Sebagian tulisan dalam buku ini adalah hasil perenungan saya sebagai relawan kemanusiaan pada gempa bumi tahun kemarin.
2. Humor Cinta.
Selanjutnya akan menyusul "Secret Bible Codes". Ketiganya diterbitkan oleh PBMR Andi, Yogyakarta.
Khusus untuk buku  "Tuhan Yesus tidak Tidur", SEMUA ROYALTI AKAN DISUMBANGKAN ke gereja-gereja di Klaten yang menjadi korban gempa 27 Mei 2006.  Berikut ini tulisan di back covernya:
Kecelakaan dan bencana alam yang bertubi-tubi mendera bangsa Indonesia mulai dari kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, gempa bumi sampai lumpur Lapindo yang menggoreskan luka mendalam di benak sejumlah korban dan para penyintas (orang-orang yang selamat dari musibah). Berbagai peristiwa yang mengharu biru, kesaksian akan perlindungan dan keselamatan yang nyata dari Tuhan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di tengah bencana yang dahsyat ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk menuliskan permenungan di balik setiap kejadian dan mengambil hikmahnya. Di balik bencana ada hikmah yang bisa dipetik walaupun pahit. Kita sudah selayaknya berserah dalam segala situasi kehidupan yang berubah tiada tentu.
Melalui  "Tuhan Yesus tidak Tidur", pembaca diajak menemukan mutiara ilahi di balik kepedihan dan di anatara gelimang air mata kesedihan serta keputusasaan. Tidak hanya itu, penulis juga ingin mempersembahkan sekelumit kisah konyol ketika ia berkesempatan menjadi relawan untuk menolong para korban gempa di Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006. Jadi buku ini tidak hanya berisi kisah pilu nan mengetuk hati dan menderaskan air mata, tetapi juga memberi penghiburan lewat kisah konyol dan lucu yang didasarkan pada pengalaman nyata para relawan dan penyintas.
Sebuah kombinasu unik yang patut Anda baca di tengah membanjirnya buku-buku renungan.  Buku ini menawarkan sesuatu yang membuat pembaca melihat berbagai sisi dari sebuah bencana. Semoga buku ini memberkati dan membuat Anda tersenyum, lalu menyadari bahwa  "Tuhan Yesus tidak Tidur"!
 
Mari dapatkan berkat dengan membeli dan membaca buku ini, sekaligus juga memberkati gereja-gereja korban gempa di Klaten.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 07 Agustus 2006

Pembajakan Ide

Hari-hari ini, kegiatan di posko bencana yang dikelola GKI Klaten justru semakin bertambah banyak. Kami memulai proyek pembangunan rumah tumbuh. Ada lebih dari 250 keluarga yang terlibat dalam kegiatan. Bayangkan, betapa repotnya relawan-relawan yang ada di sana.
Kalau melihat jumlah rumah yang akan dibangun, sebagian orang akan segera menghitung berapa biaya yang dikeluarkan. Jumlahnya termasuk besar. Untuk ukuran Indonesia memang, ya. Namun jika dihitung dengan kurs luar negeri, jumlahnya tidak sebesar itu. Ada gereja-gereja di luar negeri yang bersedia menyokong proyek ini.
GKI dapat komisi banyak, nih! Mungkin begitu pikiran beberapa orang. Nyatanya tidak. Untuk melaksanakan proyek ini, tim GKI justru ikut mengeluarkan biaya operasional sendiri. Relawan-relawannya juga tidak digaji. Bantuan dari luar negeri, sepenuhnya diberikan pada korban.
Tapi tidak semua orang mengerti hal ini. Ada gereja lain yang rupanya juga ingin menjalankan proyek seperti ini. Sayangnya, cara yang digunakan kurang tepat. Ceritanya begini: Ada pendeta yang memperoleh rancangan pembangunan rumah tumbuh yang dikerjakan tim GKI. Dia menunjukkan konsep rumah tumbuh itu kepada donatur dari Jerman. Dia mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan rumah seperti ini [padahal sesungguhnya tidak].
Bule dari Jerman lalu mencermati desain rumah itu. Dia teringat, temannya yang sama-sama eks-patriat pernah menunjukkan desain rumah yang mirip seperti ini. Orang Jerman ini lalu menghubungi temannya. Temannya lalu menegaskan bahwa desain ini sama persis dengan desain yang diusulkan oleh tim GKI kepadanya. Untuk lebih memastikan kebenaran informasi tersebut, maka kedua donatur itu sepakat untuk mengundang koordinator lapangan proyek ini. Tapi sebelum koordinator datang, pendeta itu sudah pamitan. Sampai sekarang dia tidak nongol lagi.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Urung Mendonorkan Darah

Kamis sore (3/8), pak Agus menelepon. Katanya, "Adiknya Eko masuk rumah sakit. Dia harus operasi. Sekarang butuh tambahan darah golongan darah B. Mas Wawan mau menyumbang darah?"
"Ya," jawab saya. Sebenarnya badan saya sedang tidak sehat. Kecapekan dari Jakarta, virus flu bangkit menyerang sistem pertahanan tubuh saya. Tapi entah mengapa saya tidak bisa menolak permintaan itu. Untuk mengurangi meriang, saya menyambar jaket.
Malam itu juga bersama dengan Eko, pak Teguh dan Jiang-Jiang saya meluncur ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sampai di sana sudah lewat pukul malam. Kami masuk melewati ruang UGD sudah sepi. Di dekat meja resepsionis, kami naik tangga. Kemudian berbelok menuju ruang Laboratorium.
"Siapa nih yang diambil duluan?" tanya pak Teguh.
"Untuk menghormati orangtua, sebaiknya pak Teguh dulu saja," kata saya setengah bercanda. Pak Teguh tersenyum kecut sambil masuk ruang pengambilan sampel darah. Cukup lama juga pengambilan darah ini. Rupanya pembuluh darah pak Teguh ada di tempat tersembunyi sehingga susah ditemukan. Sampel daah ini kemudian diperiksa di lab untuk dipastikan kecocokannya. Jika tidak cocok, maka giliran saya yang diambil darahnya.
Kami harus menunggu satu setengah jam untuk mengetahui hasilnya. Alhamdulillah, ternyata darah pak Teguh cocok, seperti yang dicari. Dengan begitu, saya dan Jiang-Jiang lolos dari ujung jarum. Pengambilan darahnya sendiri ternyata sangat cepat. Tidak sampai setengah jam.
Selesai pengambilan darah, kami menengok dulu adik Eko. Namanya U'ut. Usianya masih muda. Belum ada 20 tahun. Kata Eko, selama berhari-hari dia tidak bisa buang air besar. Dia sudah menjalani operasi di sebuah Rumah Sakit Swasta di Klaten. Tapi anehnya, kata ibunya, luka bekas operasi ini tidak ditutup. Kata dokter lubang ini untuk mengeluarkan kotoran, demikian yang ditirukan ibu U'ut. Saya menduga lobang ini adalah anus darurat.
Malam itu, U'ut terlihat kesakitan. Napasnya tersengal-sengal, meski masker oksigen sudah dipasang di mulutnya. Berkali-kali dia menggeliat-geliat kesakitan, sambil merintih. Tidak tega melihat penderitaan itu. Kami segera berpamitan kepada keluarga.
Lewat tengah malam, kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang di rumah sakit. Di beberapa tempat, terlihat retakan tembok akibat gempa bulan Mei lalu. Di pintu gerbang, kami ditanyai oleh satpamnya. "Apakah pasien sudah dioperasi?" tanyanya. "Belum," jawab kami. "Apakah membutuhkan darah?" "Sudah cukup." Saya menduga Satpam ini punya profesi sampingan, yaitu menyediakan pendonor darah bayaran. Hal yang lazim terjadi di rumah sakit. Saya merenung sejenak, etiskah penyedia jasa seperti ini? Di satu sisi, dia mengkomersialkan salah satu anggota tubuhnya; Tetapi di sisi lain, dalam kondisi darurat ketika tidak ada orang yang bisa menjadi donor, kehadiran mereka dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sedang kritis.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak untuk makan malam yang sudah sangat terlambat. Ada gudeg di dekat bandara, tepatnya di dekat rumah makan Hegar. Saya suka tehnya: Wangi dan kenthel. Selain lumayan enak, warung gudeg ini juga bertarif wajar. Empat porsi, dengan ayam tepong, tidak sampai menghabiskan lima puluh ribu.
---****---
Sabtu pagi (4/8), saya mendapat kabar bahwa U'ut telah dipanggil pulang Bapa di Sorga.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%http://www.Geocities.com/purnawankristantohttp://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 18 Juli 2006

Salam Sejahtera,Berikut ini kami sampaikan laporan kegiatan Posko Bencana Gempa--Gerakan Kemanusiaan Indonesia di Klaten
a. Bantuan Alat MasakTim GKI Klaten bekerja sama dengan "GenAssist" Global Relief Jogja dalam memberikan bantuan alat memasak kepada korban gempa. Bantuan ini diberikan mengingat banyak alat-alat memasak milik penduduk yang rusak karena tertimpa reruntuhan bangunan. Pada masa-masa awal setelah gempa, warga yang selamat berkelompok dan mendirikan dapur umum dengan mengumpulkan alat-alat masak yang masih bisa digunakan. Namun setelah masa darurat selesai, setiap keluarga mulai memasak sendiri-sendiri. Sehubungan dengan itu, tim GKI pada hari Rabu (5 Juli) dan Sabtu (8 Juli) membagikan lebih dari 250 paket alat masak kepada warga yang bermukim di desa Pesu. Setiap paket terdiri dari:1. Gentong plastik besar2. Ember plastik3. Kompor minyak tanah4. Wajan 5. Panci sayur6. Panci nasi7. Piring (6 buah)8. Gelas (6 buah)9. Cobek10. Pisau dan telenan


b. Kakus DaruratGempa 27 Mei, selain merusak rumah dan bangunan besar lainnya, juga telah merusak sarana MCK (MandiCuci dan Kakus) warga. Hal ini juga terjadi di desa Pesu, kecamatan Wedi, kabupaten Klaten. Di daerah ini, hampir lebih dari 80 persen rumah warga yang roboh dan sisanya rusak berat terkenagempa. Dengan tingkat kerusakan yang begitu parah ini, dapat dibayangkan bahwa sarana MCK juga ikut rusak.
Hal ini terlihat jelas dari perubahan perilaku warga. Setiap pagi hari, akan terlihat banyak warga--laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa-- yang nongkrong untuk (maaf) buang air besar.Sungai ini mengitari sebagian pemukiman penduduk. Akibatnya pemukiman penduduk menjadi tidak sehat.Dampak ini mulai terlihat dengan meningkatnya kasus sakit diare yang ditangani oleh Klinik Kesehatan di Posko Gerakan Kemanusiaan Indonesia.Untuk mengantisipasi hal ini, tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (tim GKI) di Klaten telah membangun 10 unit Kakus Darurat, yang terdiri dari 40 bilik. Dengan jumlah ini, satu bilik kakus digunakan oleh 4 Kepala Keluarga. Warga yang akan menerima manfaat ini sebanyak 163 Kepala Keluarga.Pembangunan kakus darurat ini ditargetkan selesai pada hari Senin (10 Juli).Catatan: Karena keterbatasan anggaran, tim GKI Klaten baru bisa membangun kakus untuk 4 RT. Padahal masih ada 3 RT lagi yang membutuhkan kakus darurat. Siapa mau peduli?

c. Pos RondaPada minggu pertama dan kedua setelah gempa, korban bencana merasa resah karena ada banyak pencurian di daerah bencana. Sasaran pencurian meliputi sepeda motor, ternak dan harta benda yang tidak terlindungi karena rumah yang ambruk. Untuk mengantisipasi hal ini, warga menggiatkan kembali aktivitas ronda kampung. Sayangnya, pos ronda yang tersedia tidak ada. Sehubungan dengan itu, tim GKI Klaten membangun 6 (enam) pos ronda. Pada hari sabtu, bambu sudah datang di lokasi. Pembuatan pos ronda akan dilakukan pada hari Selasa (11 Juli) dengan bergotong royong.

d. Inisiasi program rekonstruksiUntuk membangun kembali rumah-rumah yang roboh, tim GKI Klaten bekerja sama dengan lembaga donor berencana membangun rumah tumbuh. Tahap pertama adalah membuat bangunan berukuran 3x4 m, dengan memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang masih ada. Bangunan kecil ini akan berfungsi sebagai kamar tidur. Ini akan segera dilakukan, supaya pada saat memasuki musim hujan, penduduk sudah memiliki tempat berteduh yang permanen.Apabila ada berkat dari Tuhan, maka pembangunan rumah ini akan diteruskan dengan membuat ruang-ruang lain, yaitu ruang tamu dan dapur.Masih banyak dibutuhkan dana untuk pembangunan rumah ini. Siapa mau membantu?Untuk memulai program ini, tim GKI Klaten sudah menjalin kontak dengan ketua-ketua RT yang akan menerima bantuan ini. Dengan demikian, diharapkan terjadi kerjasama yang baik di masa mendatang. Pertemuan yang dihadiri 4 ketua RT, ketua RW, wakil dari Badan Perwakilan Desa, dan relawan tim GKI ini berlangsung hangat dan antusias. Semua yang hadir sepakat untuk meneruskan program ini.Langkah berikutnya, ketua RT akan mengumpulkan warganya untuk menawarkan program ini. Warga yang setuju dengan program ini akan diorganisir dengan membentuk kelompok-kelompok kerja. Setiap kelompok terdiri dari 10 Kepala Keluarga. Setiap kelompok diharapkan segera membuat daftar urutan rumah yang akan dibangun dan membuat aturan main di dalam kelompok.
Demikian laporan perkembangan kegiatan tim GKI Klaten. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Gerakan Kemanusiaan Indonesia Klaten, silakan klik: http://www.geocities.com/gki_klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kamis, 08 Juni 2006

Jurnal Gempa, 4 Juni 2006

Klaten, 4 Juni

Hari ini beredar SMS berantai tentang nubuatan Samuel Doktorian. Lengkapnya sebagai berikut:
'Menurut CNN disiarkan 3 hari yang lalu bahwa: lempeng bumi di Australia sedang berderak ke Utara
menuju ke Asia. Diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng di selatan bumi p. Jawa. Diperkirakan
11 hari setelaj gempa Jogja, sekitar Rabu besok, gempa itu diperkirakan sangat dahsyat dan mungkin
terjadi Tsunami. Seperti nubuatan Samuel Doktorian."

Aku cenderung skeptis terhadap isi berita ini dan kepada orang Kristen yang mempercayai nubuatan
ini. Sebab, jika mereka meyakini nubuatan ini benar-benar akan terjadi, lalu apa yang sudah mereka
lakukan untuk mengantisipasi dampak dari "bencana Tsunami"? Apakah mereka sudah menyiapkan sistem
peringatan dini kepada penduduk di daerah pantai? Apakah mereka sudah menyiapkan ambulans dan tenaga
medis untuk memberikan pertolongan pertama kepada para korban? Apakah mereka telah menyiapkan
logistik minimal seminggu kepada para korban? Jika jawabannya "Tidak" atau "Belum", maka aku berani
mengatakan mengatakan bahwa orang Kristen semacam ini tergolong MUNAFIK! Mereka percaya terhadap
nubuatan itu, tetapi tidak mengantisipasi terhadap bencana itu. Seandainya ada orang yang
memberitahu Anda bahwa presiden akan bertamu ke rumah Anda. Apa yang Anda lakukan? Jika Anda
mempercayai orang itu, maka Anda segera membenahi rumah supaya kelihatan rapi dan menyiapkan jamuan
makan. Tetapi jika Anda tidak melakukan apa-apa, itu artinya Anda tidak percaya kepada orang itu.

Tuhan memberikan nubuatan kepada seseorang tentu punya maksud tertentu. Tentunya, bukan sekadar
untuk entertainment di podium atau mimbar gereja saja. Dalam Alkitab, nubuatan bisa berlaku
terhadap pribadi atau sebuah bangsa. Jika menyangkut sebuah bangsa, maka biasanya nubuatan ini
disertai dengan seruan untuk melakukan tindakan tertentu. Lalu tindakan apa yang sudah dilakukan
untuk menindaklanjuti nubuatan itu? Paling-paling ya berdoa.

---***---

Usia ibadah minggu, aku memimpin lebih dari 25 relawan Solo meluncur ke Pesu. Kami berkonvoi
menggunakan sepeda motor, mobil Carry dan Truk. Setelah berjalan sekitar 3 km, ternyata truk tidak
kelihatan dalam rombongan. Aku terpaksa harus melacak keberadaan truk ini. Melalui komunikasi
lewat HP, diketahui ternyata truk ini salah mengambil belokan. Dia seharusnya berjalan lurus,
tetapi malah berbelok ke kanan.

Setelah mereda selama dua hari, hari ini wisatawan bencana mencapai puncaknya. Liburan pada hari
Minggu ini rupanya dimanfaatkan oleh masyarakat dari kota lain untuk menengok kerabatnya yang
menjadi korban gempa. Ruas jalan Bendhogantungan-Pesu macet total. Meskipun sudah melewati jalur
alternatif, tetapi masih harus masuk ke jalur utama lagi. Kami terjebak dalam kemacetan ini hampir
selama satu jam. Padahal dalam kondisi normal bisa ditempuh dalam 5 menit. Ini benar-benar
menguras enerji. Udara sangat panasa, sinar matahari sangat terik dan debu puing-puing beterbangan
dilindas oleh roda kendaraan.

Sesampai di Posko, aku segera mendapat tugas melakukan survei di daerah bencana. Ini adalah metode
peyaluran gempa yang kami terapkan. Kami tidak menyalurkan bantuan tanpa melakukan survei lebih
dulu. Ini untuk membuat prioritas pemberian bantuan, menghindari duplikasi pemberian bantuan dengan
jenis barang yang sudah ada dan untuk menjalin kontak dengan penduduk setempat. Petugas survei
bertugas mencatat kebutuhan para pengungsi dan menyesuaikan dengan stok barang. Daftar kebutuhan
ini ditulis pada selembar kertas memo, kemudian diserahkan kepada warga untuk diambil sendiri ke
Posko. Keuntungan metode ini adalah:

1. Bantuan yang diberikan adalah yang benar-benar dibutuhkan oleh pengungsi. Sebagai contoh, ada
banyak pemberi bantuan yang memberikan kompor pada pengungsi. Padahal minyak tanah sangat sulit
didapatkan. Hal ini membuat bantuan kompor itu menjadi mubazir. Selama ini penduduk memasak
menggunakan kayu, dai sisa-sisa rumah. Jadi, yang lebih dibutuhkan adalah pawon atau anglo.

2. Menghemat ongkos angkut. Dengan membawa memo itu, warga membawa sepeda motor untuk mengangkut
bantuan dari Posko. Dengan demikian, warga tidak sekadar menerima bantuan saja, tetapi juga turut
terlibat dalam penyaluran bantuan.

3. Bantuan tepat sasaran. Bantuan yang diberikan adalah jenis barang yang belum ada atau stoknya
sudah menipis. Tidak ada jenis barang yang berlebih. Sebagai contoh, hari ini kami justru ditawari
kobis dari warga pengungsi. Pasalnya mereka memiliki stok kobis yang melimpah.

4. Memudahkan pengawasan dan monitoring. Dengan disaksikan oleh semua warga, maka pengambil bantuan
tidak mungkin menyalahgunakan bantuan itu untuk kepentingan sendiri.

Daerah yang aku survei adalah Karangturi dan Nggathak Brangkal. Sorenya, naik gunung ke desa Ngunut
di wilayah Gunungkidul.

--***--

Usai jam makan siang, pendeta Iskandar datang ke lokasi bersama dengan Joe, seorang aktivis LSM
Amerika. Mereka menawarkan untuk mendirikan semi permanen yang cukup layak sebagai tempat tinggal.
Sebagai langkah awal, mereka melakukan uji coba dengan mendirikan 5 tenda terlebih dahulu. Aku
hanya memberi pesan supaya berhati-hati dalam memilih 5 keluarga yang mendapatkan bantuan awal ini.
Hal ini untuk menghindari sikap saling iri. "Itu menjadi bagian tugas kami. Jadi tenang saja,"
tegas pak Is. Dia lalu bercerita bahwa LSM ini sudah berpengalaman di Banda Aceh. Mereka memakai
bendera "Genesis".

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Relawan Bencana di Klaten

Pekerjaan kemanusiaan terhadap korban bencana alam tidak dapat berjalan baik tanpa dukungan para relawan. Namun keberadaan mereka kadang tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal mereka telah bekerja keras sejak hari pertama bencana, tanpa berharap imbalan atau pun pujian. Kebanggan dan kepuasaan mereka adalah ketika melihat penderitaan para korban menjadi lebih ringan dengan kehadiran mereka.
Pak Yoyok, siang hari setelah gempa terjadi sudah berkeliling melihat dampak gempa. Bersama Agus Permadi, mereka segera mengkoordinasikan bantuan secepatnya. Meski masih terbatas, mereka memberikan tenda sebagai tempat berteduh dan nasi bungkus kepada para korban. Bantuan seperti ini belum sempat terpikirkan oleh para korban karena mereka masih syok oleh goncangan gempa dahysat itu.
Pak Yoyok adalah seorang pedagang kelontong yang tokonya ada di sebelah timur pasar Klaten. Dia sama sekali meninggalkan pekerjaannya untuk terjun sebagai relawan. "Saya tidak bisa berdiam diri saja, Mas," kata pak Yoyok,"sebagian dari korban ini adalah pedagang kecil yang kulakan di tempat saya." Pedagang dari suku Tionghoa ini menyediakan truknya sebagai kendaraan operasional untuk mengangkut logistik dan bantuan lain. Jika daerah bencana itu tak dapat dijangkau dengan mobil, maka bersama dengan saya, menjangkaunya dengan sepeda motor. Terutama di daerah pegunungan kapur di perbatasan dengan Gunungkidul.
Agus Permadi, sehari-harinya mengaku sebagai botanis. Bapak yang humoris ini termasuk di antara sedikit relawan yang sudah berada di lokasi bencana sejak hari pertama. Dia juga meninggalkan sama sekali pekerjaannya, yaitu membangun dan merancang pertamanan. Kepada saya, dia mengaku bahwa uangnya sudah menipis karena tidak mengerjakan pembuatan taman. Namun dia percaya, dengan melakukan pelayanan kemanusiaan ini, Tuhan tetap memelihara dia dan keluarganya.
Hari-hari berikutnya, menyusul relawan-relawan lain, diantaranya adalah Susanjanto (Ajion), Agus Mulia, Dina, Ari Suparyono, Debby, Sarce dll. Mereka juga bekerja dengan tulus, ulet dan giat. Hari ketiga, pdt. Surya Giamsyah memimpin rombongan relawan dari GKI Sangkrah. Tenaga-tenaga muda ini membantu kami membersihkan dan menyingkirkan puing-puing gedung gereja. Di bawah sengatan matahari yang sangat terik, mereka bekerja dengan hati yang sukacita dan diselipi humor. Bantuan mereka sangat berarti bagi kami dan para korban, karena kami bisa segera membuka Posko Kesehatan.
Relawan Tim Medis dari R.S Bethesda, Serukam, Kalimantan juga tergolong cepat bertindak. Mereka segera mengirimkan dokter dan perawat ke lokasi bencana. Tidak tanggung-tanggung, tim yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan ini bersedia menginap di lokasi bencana, di dalam tenda sekama 10 hari. Mereka tidur hanya dengan beralas matras dan dengan fasilitas seadanya. Saya salut dengan mereka.
Relawan lainnya yang patut diacungi jempol adalah pemuda dari GKI Temanggung dan Parakan. Mereka diangkut dengan truk ke lokasi bencana dengan membawa sendiri kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak mau merepotkan orang yang dibantu. Karena itu, mereka mau mengurus dirinya sendiri. Bahkan mereka juga memasak sendiri.
Dengan kekuatan anak muda, mereka membantu membersihkan puing-puing. Ketika pembersihan di bekas gereja dirasakan sudah selesai, mereka diperbantukan untuk membantu warga sekitar. Bagi warga, bantuan ini cukup berart karena anak-anak muda ini bekerja dengan penuh semangat. Pemilik rumah tidak perlu menyediakan makan siang dan air minum bagi mereka karena sudah disuplai oleh Posko di Bajem Pesu. Anak-anak muda ini juga menginap di lokasi bencana.
Apabila euforia bencana ini sudah usai, kemungkinan jasa-jasa mereka akan terlupakan. Tidak ada bintang jasa tersemat di dada mereka. Tidak ada liputan media yang memuji-muji kiprah mereka. Bahkan yang menerima bantuan mereka juga akan melupakannya. Bagi relawan, hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting bagi mereka adalah telah diberi kesempatan membagikan kasih Kristus kepada sesama. "Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini," kata Yusak, yang rela mengambil cuti selama seminggu untuk menjadi relawan.


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Untuk foto aktivitas Gerakan Kemanusiaan Indonsia di Klaten, klik:http://www.geocities.com/gki_klaten/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 03 Juni 2006

Jurnal Gempa 3 Juni 2006

3 Juni
Pagi-pagi, aku sudah mendapat telepon dari Posko Induk. Aku harus segera membuat proposal karena sebuah lembaga charity yang terkenal di Indonesia, berinisial CI akan mengirimkan ribuan tenda dan selimut. Menurut informasi, mereka telah menyewa gudang di Klaten sebagai stok barang. Kami dijanjikan akan mendapat sekitar tiga ribu tenda. Pukul 9, proposal itu diserahkan kepada Mateas yang menjadi penghubung ke lembaga itu. Kami kemudian ditelepon bahwa harus menyediakan lebih dari lima tenaga untuk menjemput tenda dan selimut itu di bandara.
Dengan harapan yang sangat besar, mobil relawan dan truk meluncur di bandara. Tenda sebanyak itu akan sangat banyak membantu pengungsi di lokasi bencana. Begitu kiriman diturunkan dari pesawat, para relawabn segera memuat barang-barang itu ke atas truk. Rombongan kemudian meluncur ke arah Timur. Namun ketika sampai di Prambanan, bule-bule yang dari lembaga ini membelokkan rombongan ke arah Piyungan. Hal ini di luar yang disepakati semula. Tanpa berkoordinasi dengan kami, bule-bule itu segera membagikan tenda-tenda itu kepada masyarakat sampai habis. Padahal pengungsi yang mendapat bantuan tenda dan selimut itu masih termasuk wilayah korban gempa yang ringan. Setelah itu kami disuruh pulang dengan tangan hampa. Tak selembar selimut dan tenda yang didapatkan. Bahkan untuk jatah makan siang pun para bule-bule itu tidak memberikan. Teganya, teganya, teganya……
Selepas makan siang, aku dan Agus Permadi melakukan survei ke dusun Lengkong, Duren-Serut dan Pondok. Lokasi ini terbilang sulit dijangkau karena berada di lereng dan puncak pegunungan seribu. Belum ada jalan aspal. Jalan masih berupa susunan batu-batu putih, namun pada tanjakan yang sangat tajam telah dibuat dari cor semen. Dengan hanya memakai Astrea Grand, medan ini sangat sulit dijangkau. Mesin berkapasitas 80 cc ini harus membawa muatan dua orang, dengan total berat badan sekitar 1,5 kuintal! Setiap kali melewati tanjakan yang curam, roda depan sepeda motor tidak dapat menapak dengan sempurna karena sesekali terangkat.
Persediaan pangan di ketiga tempat ini ternyata sudah menipis. Untuk penduduk di dusub Lengkong, kami meminta penduduk setempat untuk memgambil sendiri bantuan pangan menggunakan sepeda motor. Sedangkan untuk desa yang ada di puncak gunung, kebetulan ada bantuan dari teman-teman Offroader dari Surabaya. Mereka membawa tiga mobil jeep. Dengan memuat 20 karung beras, 15 mie instan, tenda, selimut dan obat-obatan, kami segera meluncur ke lokasi. Namun rupanya medan yang kami lalui masih terlalu ringan bagi para Offroader ini. "Apa tidak ada medan yang lebih menantang?" tanya salah satu Offroader melalui Handie Talkie, dengan nada kecewa. Sesampai di posko Pesu, mereka segera berpamitan. Alasannya, mereka sudah janjian dengan pihak lain. Namun saya menduga, mereka mencari medan yang lebih sulit dan yang dapat memeras adrenalin mereka.
Sore hari, karyawan Hoka-hoka Bento menawarkan bantuan ke Posko Pesu. Namun sebelum itu, mereka lebih dulu mengajukan banyak sekali pertanyaan. Sebagian besar menanyakan masalah prosedural-birokrasi. Misalnya apakah keberadaan Posko ini sudah diketahui ketua RT setempat dan sebagainya. Hal ini membuat relawan-relawan yang muda menjadi tidak sabar. Mereka tidak punya waktu dan tenaga untuk melayani pertanyaan yang lebih mirip dengan interogasi ini. Untunglah ada anggota jemaat yang lebih tua, yang dengan sabar menjawab pertanyaan itu. Pada akhirnya, perusahaan waralaba dari Jepang ini menurunkan 400 lembar selimut dan 2600 biji roti isi pisang dan daging. Menurut mereka, roti ini dapat bertahan selama lima hari. Namun, sekarang adalah hari ketiga. Hari sudah petang. Kami sempat kebingungan bagaimana cara mendistribusikan roti sebanyak itu. Pada saat yang tepat, datanglah bala bantuan yang diperlukan. Pendeta Indrianto dari GKJ Gayamprit datang bersama dengan rombongan klub VW Combi-nya. Mereka bersedia membagikan roti ke daerah bencana.
Hari ini kami banyak dikecewakan oleh teman-teman sepelayanan. Ada yang mengingkari janji yang telah diberikan. Ada yang melontarkan kata-kata yang 'nylekit'. Ada pula yang justru merepotkan kami. Pada saat datang, dia sudah marah-marah karena tidak dijemput. Padahal dia tidak memberitahukan kedatangannya. Selama di lokasi, dia minta dilayani bermacam-macam. Ketika pulang, dia pun minta diantar ke bandara. Perilaku semacam ini sangat menguras energi dan emosi. Untuk itu, kami menyiasatinya dengan selalu menyelipkan humor dalam setiap situasi. "Di dalam pelayanan ini, kita tidak usah patah semangat" kata seorang teman lewat komunikasi radio. "Kalau patah, kita punya lem yang superkuat untuk menyambungnya kembali. Mereknya Yesus Kristu," timpal relawan lain. Aku teringat ucapan pak Yusak dalam sebuah briefing: "Kita harus melayani hingga sakit!"
Pada saat jurnal ini ditulis, gempa susulan terjadi lagi, pada sekitar 00.30. Goncangannya sangat terasa. Sebelumnya, sekitar pukul 18.00, teman dari GKJ Prambanan menginformasikan terjadi gempa yang sangat terasa di daerah sekitar kraton Boko. Namun tidak terasa di Klaten dan sekitarnya. Ya Allah, lindungilah kami dengan kasih karuniamu!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Gempa2 Juni 2006

2 Juni 2006
Pada hari ini, kami dihebohkan dengan kasus keracunan. Malamnya, teman-teman yang berjaga di poskoPesu dikejutkan oleh suara sirene yang meraung-raung dan hilir mudik yang membawa warga yangkeracunan setelah makan nasi bungkus. Sempat beredar spekulasi bahwa ini bukan kasus keracunanmakanan, melainkan peracunan. Hal ini mengingat jumlah korban yang sangat banyak dan dalam wilayahyang luas.
Ketika saya melakukan survei ke lapangan di desa Karangturi dan Brajan, yang menjadi korbanterbanyak, saya menemui beberapa korban keracunan. Penduduk desa Brajan mengakui makan nasi bungkusdengan lauk gudeg dan telur. Sedangkan penduduk di Brajan, mendapat lauk oseng-oseng dan ayam.Semula saya menduga keracunan itu bersumber dari sambel krecek (kulit sapi yang dikeringkan), yangbiasa ada pada nasi gudeg. Namun dugaan ini ditepis dengan adanya perbedaan lauk. Jika begitu,kemungkinan besar sumber keracunan adalah pada nasinya, pengolahan pangan yang tidak hiegenis ataulainnya. Apapun sumber racun itu, yang jelas peristiwa ini semakin memperberat penderitaan danmerepotkan para relawan.
Kasus keracunan ini membuat tim medis yang ada di lapangan desa Pasung mengalami keletihan yang luarbiasa. Oleh sebab itu, pada pukul 9 pagi, Gerakan Kemanusiaan Indonesia memasok tenaga medis untukmenggantikan sementara tim medis yang bertugas, untuk memberi kesempatan mereka untuk beristirahat.
Sementara itu, Rumah Sakit Darurat di Posko Pesu mulai melayani banyak pasien. Sampai dengan sianghari, setidaknya sudah ada lebih dari 50 orang yang dilayani. Dan jumlah ini semakin bertambah. Timmedis yang melayani berasal dari PKMD RS Bethesda, Serukam, Kalimantan Tengah. Sedangkan satu timmedis lagi berfungsi sebagai tim medis keliling.
Menurut pemantauan di lapangan, bantuan sudah didistribusikan secara merata. Hari ini sayamelakukan survei di desa-desa pelosok di perbatasan Klaten-Gunungkidul, yaitu desa Karangturi,Brajan dan Gentan. Semuanya sudah terjamah bantuan, meskipun dengan jumlah yang terbatas. DesaKarangturi sudah mendapat bantuan beras 5 kg setiap KK. Saya membaca newstag di SCTV, Pundi AmalSCTV sudah sampai di desa Karangturi. Pada sore hari, saya mendapat informasi bahwa desa Ngandong,kecamatan Gantiwarno selama 3 hari hanya mendapat bantuan 3 dos supermie. Dengan semangat 45, sayasegera meluncur ke sana untuk mengecek kebenaran berita itu. Kebenaran berita itu menguat ketikamendapati bahwa jembatan di desa Soka telah putus. Kami terpaksa mengambil jalan melingkar. Namunketika sampai di lokasi, ternyata kabar itu hanya isapan jempol. Bantuan yang mengalir ke sana sudahlebih dari cukup.
Saya dan Agus Permadi pulang dengan perasaan antara senang dan dongkol. Senang karena bantuan sudahmencukupi, tapi dongkol karena dikibuli oleh pembawa berita itu. Namun dalam perjalanan pulang,hati kami sempat terhibur oleh pertunjukan Jatilan yang dibawakan oleh mahasiswa STSI Surakarta.
Hari ini bayi Aisyah yang ditemukan selamat dari puing-puing reruntuhan telah diperbolehkan pulangdari Rumah Sakit. Kondisinya sebenarnya masih lemah, namun pak Slamet--bapaknya--sangat ngotot untukminta pulang. Kami mengantarkan mereka ke desa Tegalmawen. Sesampai desa Pesu, bayi Aisyah tampaksangat pucat. Ketika akan diberi susu formula, ternyata tidak ada dot. Kebetulan isteri saya,Pelangi, masih menyusui bayi kami. Dia bersedia menyusui bayi ini di dalam mobil dalam perjalananpulang. Namun karena terlalu lemah, bayi yang belum genap berumur seminggu ini hanya mampu menyususebentar. Jika ada yang ingin melihat foto bayi ini, silakan mengklik situs Gerakan KemanusiaanIndonesia-Klaten di http://www.geocities.com/gki_klaten/
Sebagai tambahan catatan, hari kemarin saya berkeliling bersama tim dari Happy Family CentreSurabaya,masing-masing pak Xavier Quentin Pranata, pak Kim Ho dan pak Musa. Mereka bertindak sebagai timpendahulu yang mensurvei kondisi di lapangan. Bersama dengan teman-teman dari GKJ Pedan, kamimengunjungi desa-desa di kecamatan Karangdowo sambil sesekali membagikan telur rebus dan tenda.Lokasi ini berada di wilayah Timur. Secara umum, kondisi di kecamatan Karangdowo relatif lebih baikdaripada di Wedi dan Gantiwarno. Saya melihat ada beberapa tenda peleton bertuliskan DepartemenSosial. Personel tentara juga terlihat membantu evakuasi. Ada satu truk dari Pundi Amal SCTV yangmenurunkan bantuan. "Pengemis" dadakan juga tidak ada sama sekali. Ini menandakan bahwa bantuanlogistik sudah mencukupi. Listrik di pinggir jalan juga sudah mulai dihidupkan.
Kami kemudian bergerak ke selatan menuju kecamatan Cawas. Kondisinya jauh lebih baik. Kerusakanbangunan di bawah 50 persen. Pasar masih berfungsi. Mobil-mobil bantuan hilir mudik. Kami berbelokke Barat menuju kecamatan Bayat. Di sini mulai ada banyak peminta bantuan di pinggir jalan.Persentase bangunan yang roboh juga mulai meningkat.
Jumlah wisatawan bencana sudah mulai berkurang. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena sudahtidak ada lagi yang bisa dilihat karena para korban sudah mulai membersihkan puing-puing rumahmereka. Jalan Wedi-Bendhogantungan sudah lancar kembali. Saya melewati jalan ini menjelangmaghrib, sudah lancar. Padahal pada hari-hari sebelumnya, ruas jalan ini sangat macet.
Untuk menghindari gangguan di jalan, ada metode baru yang digunakan oleh pembawa mobil. Merekamemasang tulisan "Keluarga Korban" atau "Membawa Pasien" di kaca depan. Cara ini terbukti manjur,sehingga kendaraan dapat berjalan lancar.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 31 Mei 2006

Jurnal Gempa 31 Mei 2006

Klaten, 31 Juli 2006
Bantuan mulai merata. Meskipun jauh dari mencukupi, tapi hampir seluruh wilayah korban gempa sudah mulai mendapat bantuan darurat. Beberapa organisasi dan perusahaan sudah mulai menyalurkan bantuan. Kami melihat bantuan disalurkan oleh Bank Mandiri Klaten, Alfamart, Pusat Grosir Solo dan lain-lain. Teman-teman dari Nahdatul Ulama sudah membuka Posko Besar di depan mesjid Wedi. Beberapa partai politik juga sudah mendirikan poskonya. Kami melihat setidaknya ada Posko yang didirkan oleh PAN, Partai Bulan Bintang dan PKS.
Untuk itu, mulai hari ini kami lebih memfokuskan pada daerah yang lebih "dalam", yaitu di sekitar perbatasan dengan Gunungkidul, yang belum terjamah bantuan. Jumlah warga di setiap cluster tidak begitu banyak dan tersebar di wilayah yang berjauhan. Hari ini kami mulai membuka dua Posko lagi yaitu di desa Bayat dan di daerah Pedan. Masing-masing berada di Zona tengah dan Tenggara. Sementara Pos yang ada di GKI Prambanan diserahkan kepada GKI Gejayan.
Berikut ini nama-nama Contact Person yang dapat dihubungi di setiap Posko:
Posko I
Lokasi: Sarap+Pesu/Wedi
Koordinator: Agus Permadi (0813-288-1330) & Siwi (0817-0622-834)
Tempat Posko: Gereja Bajem Pesu
Posko II:
Lokasi: Gantiwarno
Koordinator: Pdt Herry (0812-2974-065)
Tempat Posko: Rumzh. Bpk Suparlan
Posko III:
Lokasi: Gondang & Jogonalan
Koordinator: Pdt Sutomo (0813-2877-6103)
Tempat Posko: GKJ Gondang
Posko IV:
Lokasi: Pedan
Koordinator: Pdt Ndaru (0817-0411-716)
Tempat Posko:STM Kristen Pedan
Posko V:
Lokasi: Bayat
Koordinator: Bpk. Petrus Gunadia (0815-7816-3511)
Tempat Posko: Menden Paseban (Timur makam Pandanaran)

Untuk memperlancar komunikasi setiap Posko, mulai besok akan ditambahi fasilitas radio panggil. Setiap Posko akan mendapat pesawat CB. Selama ini komunikasi melalui HP. Hal ini dirasa sangat memberatkan dari sisi pemakaian pulsa dan kerepotan untuk mengisi ulang baterainya. Meskipun begitu, sebagai cadangan, kami mulai menggunakan Fren yang jauh lebih murah dibandingkan dengan GSM.

BANTUAN
Bantuan perseorangan dan kelompok masih berdatangan. Baik dari jemaat dan luar kota.
Berikut ini nama-nama Penyumbang:
Arie Pradanawati Semarang
Bp Ielung
Gabby
GKI Jabar
GKI Jatim
GKI Sangkrah
Handoyo
Happy Family Centre
Happy Sumaring
Hauw Siang
Ibu Enis
Ibu Ing Kiauw Solo
Indrawati
Ineke Dewi
Karyawan Asean Bearing Surabaya
Nining (Toko Moro Seneng)
Pdt. Nanang (GKI Delima_
PT Sonto Putro, Klaten
Rudi Mudita & Maria
STT Abdiel Ungaran
TIM Gerakan Kemanusiaan Indonesia
Toko Bintang Abadi (Cik Hana)
Toko Cendrawasih
Toko Kota Baru (Yang-Yang)

Sedangkan untuk penyaluran bantuan, hari ini kami berhasil membawa bantuan sampai ke dusun Lengkon yang ada di punggung pegunungan seribu. Jembatan yang kemarin putus, sudah bisa dilewati mobil kembali sehingga bantuan dapat langsung dibawa ke lokasi bencana. Selama ini, mobil hanya sampai di jembatan yang putus itu, kemudian teman-teman dari desa Lengkong yang mengambil bantuan dengan sepeda motor.
Selain Lengkong, penyaluran bantuan diberikan ke Cawas, Gayamharjo, Dukuh Lemah Abang, Kradenan, Mireng, Posko Bayat, Posko Gondang, Posko Pesu, Posko Bayat, R.S Tegalyoso, SMA 3, Suharno-Jimbung, Tegal Mawen, Tim Medis Keliling.

RUMAH SAKIT DARURAT
Pembersihan puing-puing untuk lokasi Rumah Sakit Darurat belum memenuhi target. Meskipun sudah mengerahkan tenaga yang diupah dan dibantu Relawan, namun kami belum bisa membersihkan puing-puing tersebut. Untuk mempercepat pendirian tenda, maka kami memprioritaskan pendirian tenda komando yang dibawa oleh Tim GKI pusat. Dengan demikian, tim dokter dari RS. Bethesda Kalimantan Tengah. Sedangkan tim medis dari F.K Ukrida melakukan fungsi medis keliling. Hari ini, tim medis ini berkeliling menggunakan mobil dan telah melayani lebih dari 100 orang.
Salah satunya adalah seorang Ibu yang mengalami keguguran. Kami sudah mengusahakan merujuk ke RSUD Tegalyoso dan Rumah Bersalin PKU Aisyiah, tetapi ditolak karena sudah penuh. Karena itu, tim medis dikirim untuk merawat ibu tersebut.
Mengenai bayi yang ditemukan selamat, sampai hari ini masih dirawat di R.S. Bethesda. Namanya Aisyiah. Namun yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi bapak bayi ini, Slamet. Berdasarkan foto ronsen dia menderita retak tulang di tulang panggulnya karena tertimpa reruntuhan rumah. Sejak Sabtu, pak Slamet tidak dapat kencing sehingga kantung kemihnya penuh. Dia tidak mendapat tindakan medis apapun dari RSUD Tegalyoso.

SITUS GKI KLATEN
Hari ini saya telah membuat situs Posko GKI Klaten. Isinya berupa informasi sekitar aktivitas Gerakan Kemanusiaan Indonesia, Posko GKI Klaten. Juga terdapat foto-foto kegiatan kami. Silakan mengklik alamat berikut ini:
http://geocities.com/gki_klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 30 Mei 2006

Jurnal Gempa Klaten, 30 Mei 2006

Penjarahan mulai berkurang sejak diturunkannya aparat keamanan di sepanjang jalan antara Bendhogantungan hingga daerah bencana di wilayah kecamatan Wedi. Anggota tentara dari Kodim yang bermarkas di depan gereja juga menawarkan bantuan pengawalan apabila diperlukan. Namun hingga saat ini, kami belum memerlukan pengawalan karena kami memilih teknik kamuflase. Pada kaca depan mobil, kami tulisi "Relawan". Dengan demikian, kami tidak mendapat gangguan berarti.
Tim dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia dari Sinode GKI di Jakarta juga sudah "turun" di Klaten. Sebelumnya, tim yang dipimpin oleh pak Yusan dan Matias ini berkunjung ke GKI Gejayan yang menjadi markas komando untuk penyaluran daerah gempa. Kedatangan tim yang sudah berpengalaman menangani gempa di Nias ini telah membantu pembenahan sistem penyaluran bahan bantuan yang telah dilakukan. Hingga saat ini, kami sudah membuka empat Posko:
Posko I: Dusun Sarap, desa Pesu, kecamatan Wedi. Berlokasi di bekas gedung gereja Bakal Jemaat Pesu.
Posko II: Di bekas gedung GKI Prambanan yang roboh.
Posko III: Di bekas gedung Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gantiwarno.
Posko IV: Di kecamatan Trucuk.

Bantuan masih mengalir, tetapi belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Pada pagi hari, datang bantuan satu truk dari GRII Surabaya. Namun pada siang hari, bantuan tersebut sudah habis didistribusikan. Sementara itu, tim kesehatan dari Fakultas Kedokteran Ukrida sduah sampai di desa Pesu. Menurut rencana, kami akan membuka Rumah Sakit darurat di bekas reruntuhan gereja. Karena tenda belum berdiri dan puing-puing belum selesai dibersihkan, maka mereka untuk sementara beroperasi di tenda dapur umum. Beberapa hari mendatang, akan datang juga tim medis dari RS Bethesda, Jogja dan dari negara Hongaria. Sedangkan rombongan dari Universitas Udayana masih menunggu konfirmasi.
Rumah sakit darurat ini akan bisa merawat pasien-pasien dari penyakit ringan hingga penyakit yang memerlukan penanganan operasi minor. Menurut dokter dari Ukrida, kebanyakan keluhan gangguan kesehatan yang dialami penduduk adalah luka-luka dan memar akibat tertimpa reruntuhan. Selain itu juga gangguan kesehatan yang umum ditemui seperti tekanan darah tinggi, pusing, masuk angin dll. Yang perlu diwaspadai ke depan adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), karena sisa reruntuhan sudah mulai menimbulkan debu. Ini perlu juga diperhatikan oleh relawan.
Ada satu peristiwa yang cukup mengharukan. Pukul 10 pagi, relawan yang ada di GKI Klaten mendapat informasi dari lapangan bahwa ada bayi berumur 8 hari yang ditinggal mati oleh ibunya. Pada saat gempa terjadi, keluarga ini tertimpa rumah yang roboh. Sang Ibu meninggal di lokasi. Sedangkan Suaminya mengalami luka-luka pada pinggangnya. Yang sungguh ajaib adalah nasib bayi ini. Dia sempat ikut terkubur dalam reruntuhan. Namun ketika sang Nenek mengais-ngais puing-puing, ternyata bayi yang ketika gempa terjadi masih berumur 5 hari itu SELAMAT! Padahal seluruh tubuhnya sudah tertutup oleh debu-debu.
Begitu mendengar kabar itu, Ibu Budi Kusnan dan Ibu Kristin segera meluncur ke lokasi. Pada mulanya sang Ayah dari bayi enggan untuk membawa bayinya ke Rumah Sakit. [Kemungkinan dia trauma pada RS karena hari sebelumnya dia sempat dilarikan ke RS Kustati Solo (khusus tulang), tetapi disuruh pulang karena tidak mampu membayar]. Akan tetapi setelah dibujuk-bujuk, akhirnya dia bersedia membawa bayinya ke RS. Selama perjalanan ke RS (sekitar 10 km), bayi ini tidak menangis sama sekali.
Ketika melewati desa Tegalngawen, saya mulai mencium bau busuk. Entah itu dari bau binatang, tapi bisa juga dari korban manusia yang belum sempat dievakuasi. Hal yang sama dialami oleh relawan lain, koh Yoyok, di tempat lain. Jika memang masih ada jenazah yang belum ditemukan, maka hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Di antara kepedulian dari sesama anak bangsa yang patut diacungi jempol, ada juga perilaku para pemberi bantuan yang menyebalkan. Kami menyebutnya "wisatawan bencana". Mereka telah menjadikan daerah bencana sebagai sarana rekreasi. Bantuan yang diberikan disertai dengan rombongan yang datang beramai-ramai. Sesampai di lokasi, setelah menyerahkan bantuan, mereka berfoto-foto dengan riangnya. Perilaku ini justru tidak menunjukkan empati kepada korban bencana. Selain itu kendaraan yang dibawa oleh para "wisatawan" ini juga memacetkan jalan utama yang dilalui oleh mobil ambulans, pembawa bantuan dan kendaraan relawan. Dalam perjalanan pulang, mobil yang saya tumpangi hanya bisa merayap dengan kecepatan di bawah 20 km/jam. Padahal dalam kondisi biasa, dapat mencapai kecepatan 40 km/jam.
Selain itu, mengantarkan bantuan secara beramai-ramai ini kadangkala malah merepotkan penerima bantuan. Sebagai contoh, ada pemberi bantuan yang 'ngotot' harus membagikan bantuan secara langsung ke para korban. Situasi di lapangan hal ini tidak efesien karena bantuan tersebut harus dipilah dan disistribusikan sesuai kebutuhan. Misalnya saja, desa ini hanya butuh beras. Semantara desa itu, yang jaraknya cukup jauh hanya membutuhkan selimut. Jika menuruti keinginan mereka, tentu saja sangat merepotkan pengelola posko. Setelah adu argumentasi, akhirnya dicapai jalan tengah. Bantuan diturunkan di Posko Utama, kemudian rombongan ini diantar untuk "meninjau" lokasi.
Demikian jurnal untuk hari ini. Jika Anda tergerak untuk memberikan sumbangan, Anda dapat menghubungi Posko Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang berpusat di GKI Klaten, dengan alamat Jl. Pemuda 195, Klaten Jawatengah. Telepon 0272-321187. Untuk saat ini bantuan justru diharapkan dalam bentuk barang. Mengapa begitu? Karena persediaan barang-barang di Klaten mulai menipis. Sebagai contoh, kami kesulitan mencari tenda. Kami terpaksa mencarinya di Solo atau Semarang. Adapun kebutuhan Posko saat ini adalah:
* Tenda Terpal (jumlah ratusan)
* Sembako (beras, mie instan)
* Sandal
* Senter, Lampu badai, petromaks
* Obat-obatan
* Air mineral
Jika ada yang membutuhkan informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi saya di 08122731237 atau 0272-327776 (malam)
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 29 Mei 2006

Foto kondisi pasca gempa tanggal 29 Mei 2006


Mimbar yang terbuat dari kayu masih utuh berdiri

Bantuan sedang disalurkan
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More