Kamis, 08 Desember 2005

Catatan Harian: Tenunan Tuhan

Begitu mendengar tugas ini, saya menjadi bingung. Tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana tidak. Saya diminta oleh ketua persekutuan kelompok 7/8-GKI Klaten untuk membawakan cerita untuk perayaan Natal. Kalau bercerita di depan anak-anak sih, bagi saya tidak terlalu sulit. Tapi tugas kali ini agak berbeda. Saya harus bercerita di depan orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental! Mereka dirawat dan diasuh di Panti Asuhan "Sumber Kasih", Salatiga.
Usia mereka rata-rata di atas usia saya, tetapi perkembangan mental mereka masih seperti anak-anak. Sebagai contoh, suatu kali mereka mendapat bingkisan sabun mandi. Mereka menerimanya dengan hati yang sangat gembira. Begitu senangnya, hingga dalam satu hari itu mereka bolak-balik mandi sampai sabun mandi itu habis.
(Saya lalu teringat cerita teman. Pada zaman Orde Baru, kendaraan yang melintas di markas Kopasus, Kandang Menjangan, Kartasura, Solo harus ekstra hati-hati. Di sana ada larangan menyalib kendaraan di depannya. Jika ada yang melanggar, maka orang itu akan dikejar, dihentikan dan digiring ke markas. Di dalam markas, orang itu diperintahkan masuk ke dalam kolam yang airnya kehijau-hijauan dan diberi sebatang sabun mandi. Dia dipaksa mandi hingga sabun itu habis! Teman saya pernah mengalami hukuman pahit ini.)
Saya mendapat informasi bahwa penghuni Panti itu senang melihat pertunjukan drama. Maka saya putuskan meminta bala bantuan guru-guru Sekolah Minggu untuk berlatih drama. Setelah berlatih selama empat kali, tanggal 4 Desember 2005 kami meluncur ke Panti Asuhan tersebut. Sesampai di sana, para anak didik langsung menyambut kami dengan hangat. Mereka langsung menjabat tangan kami erat-erat. Ada yang memeluk kuat-kuat. Ada pula yang langsung mengajak mengobrol msekipun dalam bahasa yang susah dimengerti. Mendapat sambutan istimewa itu, malah membuat beberapa guru Sekolah Minggu mula-mula merasa 'ngeri'. Namun perlahan-lahan mereka bisa menguasai diri.
Acara pun dimulai. Kak Ratna yang menjadi MC dapat mengatur perayaan Natal dengan baik. Dia berhasil menjalin komunikasi dengan anak-anak didik. Gayanya persis ketika dia mengajar Sekolah Minggu. Padahal orang-orang yang dia ajak berkomunikasi berusia jauh di atasnya. Bahkan banyak yang sudah berambut putih.
Ketika pertunjukan drama dimulai, anak didik menyambut dengan antusias. Namun ada satu peristiwa yang menggelikan sekaligus mengharukan. Dalam drama itu, ada adegan kemunculan Raksasa. Kak Martin yang berperan sebagai Raksasa Iri Hati mengunakan jubah hitam panjang yang menutupi kepala hingga ujung kaki. Supaya terlihat seram, sebagian wajahnya ditutup dengan kain hitam. Supaya semakin seram, pada saat masuk panggung, terdengar iringan musik yang berderap seram. Di luar perhitungan kami, ternyata kemunculan raksasa ini menimbulkan ketakutan di antara anak didik. Begitu melihat kemunculan raksasa, beberapa anak didik langsung melompat dan memeluk para pengasuhnya. Ada yang menangis sambil membenamkan wajahnya di badan pengasuhnya. Ada yang langsung masuk kamar. Ada pula yang . . . maaf . . . kencing di celana!
Meski begitu, sebagian anak didik yang lain masih bisa menguasai diri dan menikmati pertunjukan drama. Pertunjukan drama berdurasi 45 menit itu berlangsung lancar. Semoga saja, anak didik mendapatkan hikmat dan manfaat dari pertunjukan drama itu.
Oh, ya . . . satu hal lagi. Malam hari, sebelum kami berangkat ke Salatiga, seorang ibu menelepon isteri saya. Anggota jemaat ini sudah berusia di atas 60 tahun. Ibu ini menanyakan apakah isteri saya akan ikut ke Salatiga. Isteri saya menjawab, ikut. Ibu lalu bertanya, "Ibu 'kan sedang hamil. Apa ibu tidak takut jika nanti terjadi apa-apa dengan kehamilan itu?" Meski tidak menyebutkan maksudnya dengan tegas, tapi kami bisa menangkap pesan di balik pertanyaan itu. Dia memiliki kekuatiran jika anak kami nanti bernasib sama dengan penghuni panti itu.
Pada mulanya, pikiran kami tidak sampai ke sana. Akan tetapi setelah menerima telepon itu, selama semalaman kami terbebani oleh pikiran itu. Saya berusaha menghibur isteri saya: "Kita datang ke sana 'kan untuk melayani Tuhan. Kita sedang melakukan pekerjaan baik. Masakan sih Tuhan memberikan sesuatu yang tidak baik, untuk pekerjaan baik kita. Seandainya pun nanti memang begitu keadaannya, Tuhan pasti sedang merancangkan sesuatu yang baik bagi kita."
Dalam budaya Jawa, memang banyak sekali pantangan bagi orang Jawa. Misalnya, ketika terjadi gempa bumi, maka wanita hamil itu wajib mengoleskan abu ke perutnya.
Bagi suaminya, ada juga pantangannya. Contohnya, dilarang menyakiti binatang. Jika dilanggar, maka bayi yang dikandung akan menjadi cacat. Nah, soal larangan yang satu ini, saya pernah melanggarnya. Suatu kali saya mengajak koster gereja untuk memancing di Rowo Jombor. Pulang dari memancing, saya langsung mendapatkan kritikan dari anggota jemaat yang berusia tua. Kritikan itu disampaikan pada isteri saya, yang kemudian diteruskan kepada saya. Saya menjawab, "Apakah kamu masih percaya dengan tahayul itu? Bukankah pemazmur mengatakan bahwa Tuhanlah yang menenun kita? Kalau takhayul itu benar, itu artinya pekerjaan Tuhan itu bisa diintervensi oleh pihak lain, dong." Istri saya menjawab, "saya juga tidak percaya. Namun jika itu betul terjadi, maka orang-orang akan menghubung-hubungkannya dengan aktivitas memancingmu."
"Lalu bagaimana dengan nelayan?" sergah saya, "Apakah selama isterinya hamil dia tidak boleh mencari ikan. Bagaimana pula dengan tukang potong ayam dan jagal sapi. Apa mereka harus berganti profesi?" Isteri saya memilih diam.
Meski persoalan ini tidak sampai menimbulkan persoalan dalam rumah tangga kami, tak urung saya merasa deg-degan di dalam memikirkan kesehatan janin yang dikandung isteri saya. Selama empat bulan ini, kandungannya baik-baik saja. Pemeriksaan dengan USG pada usia empat bulan sudah menunjukkan detak jantung. Saya hanya bisa berdoa dan mengandalkan kekuatan pada Tuhan. Semoga Tuhan menghasilkan tenunan yang indah, sehingga hasilnya menjadi kebanggan kami.

Kla-10, 09 Des '05

* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It