Senin, 14 November 2005

Pelimpahan Kepemimpinan

Pelimpahan Kepemimpinan

Jika saya memegang lilin yang sudah sangat pendek, bagaimana caranya menjaga supaya nyala api tetap nyala? Tentu saja dengan menyalakan lilin baru yang masih panjang. Demikian juga dalam kehidupan seorang pemimpin. Sebagai manusia, kita tidak akan hidup abadi. Jika kita menghendaki oganisasi atau lembaga yang kita pimpin tetap menyala, maka kita harus meneruskan api kita kepada generasi berikutnya. Paulus menyadari hal ini. Dia tidak dapat selamanya memimpin jemaat. Kelemahan fisiknya suatu saat akan menghambat keleluasan aktivitasnya. Meminjam lagu band Serius, "Pengkhotbah juga manusia." Dia punya berbagai keterbatasan. Paulus menyadari hal ini. Itu sebabnya, sebagai pemimpin jemaat, ia telah menyiapkan calon pemimpin yang akan menggantikan dirinya.

Dia memilih Timotius sebagai salah seorang penggantinya. Ia melimpahkan tugas selanjutnya kepada seorang muda.

Untuk tujuan itu, Paulus mempersiapkan Timotius dengan berbagai kemampuan dan kecakapan, sehingga diharapkan mampu menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari. Cara yang dipakai Paulus untuk menyiapkan Timotius adalah dengan membimbingnya setiap hari, dengan cara memberikan teladan. Selama beberapa tahun, Timotius mengikuti kemana pun Paulus pergi. Setiap hari Timotius melihat dan belajar bagaimana Paulus berkhotbah, bagaimana Paulus mengajar jemaat, bagaimana Paulus memimpin jemaat, bagaimana Paulus bersaat teduh dengan Tuhan dan sebagainya. Dengan setiap hari melihat itu, Timotius pun perlahan-lahan belajar untuk melakukan hal yang serupa.

Ada sebuah cerita yang menarik tentang cara belajar dengan melihat ini. Kalian tentu sudah mengenal Albert Einstein yang jenius itu 'kan? Ceritanya, dia punya seorang sopir pribadi yang selalu mengantar Einstein kemana pun dia pergi. Sopirnya ini punya semangat belajar yang tinggi. Jika Einstein memberikan kuliah, dia ikut duduk di dalam kelas dan mendengarkan kuliah yang diberikan Enstein. Jika Einstein menjadi pembicara seminar, dia pun ikut mendengarkan. Einstein kadang mengajak sesama ilmuwan ikut dalam mobilnya. Di dalam mobil itu, Enisten dan temannya sering mengobrol tentang ilmu-ilmu fisika. Sopir ini selalu mendengar dengan cermat.

Demikianlah, karena sudah sering ikut mendengarkan ceramah Einstein, lama-lama sang sopir ini bisa menghapal dan memahami teori relativitas yang diciptakan oleh Albert Einstein.

Suatu hari, Albert Einstein diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar di luar kota. Pada waktu itu, Einstein belum begitu populer. Belum banyak orang yang mengenal wajah Einstein. Dalam perjalanan ke tenpat seminar, tiba-tiba timbul ide eksentrik dalam pikiran Einstein. Dia bertukar tempat dengan sopir. Einstein yang menjadi sopir dan Sopir itu yang menjadi Einstein.

Setibanya di tempat seminar, dengan kepercayaan yang tinggi sang sopir segera menuju ke meja pembicara. Dengan lancar dia menguraikan teori relativitas. Tamu-tamu yang mengira sopir ini adalah Eisntein beneran, terkagum-kagum dengan uraian tadi.

Lalu, tibalah pada acara tanya jawab. Beberapa pertanyaan ringan dapat dijawab oleh Enistein gadungan itu dengan mudah. Lalu, ada seorang profesor yang sudah tua. Ilmunya sangat tinggi. Dia mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sulit.

Einstein gadungan ini kebingungan harus menjawab apa. Dia belum menguasai teori untuk menjawab pertanyaan sulit itu. Keringat dingin mulai keluar dari badannya. Semua mata peserta seminar tertuju kepadanya. Mereka ingin tahu jawaban yang diberikan. Einstein segera memutar otaknya. Tiba-tiba muncul ide cemerlang. Dia berkata, "Pertanyaan profesor ini sebenarnya mudah saja. Bahkan sopir saya bisa menjawabnya. Saya persilakan sopir saya untuk menjawabnya," kata Einstein gadungan ini sambil menyerahkan mikropon kepada Eisntein yang asli.

Sopir Einstein ini bisa menguasai teori-teori relativitas karena dia bergaul lama dengan Albert Einstein. Demikian juga Timotius. Karena bergaul lama dengan Paulus, maka Timotius pun dapat menyerap ilmu-ilmu kepemimpinan dari Paulus.

Ketika Paulus merasa bahwa Timotius sudah siap menjadi pemimpin, maka langkah pertama yang dilakukan oleh Paulus adalah memberikan pengumuman atau memprokalamasikan terpilihnya Timotius menjadi pemimpin.

Ayat-ayat yang kita baca tadi menjadi semacam pernyataan bahwa Timotius ditetapkan menjadi pemimpin yang akan melanjutkan tugas Paulus. Pernyataan secara terbuka ini penting dilakukan karena di dalam lingkungan jemaat sendiri ada orang-orang yang menentang kemimpinan Paulus. Dan ada kemungkinan nantinya ada juga yang menentang kepemimpinan Timotius.

Untuk menguatkan posisi kepemimpinan Timotius, maka Paulus menegaskan bahwa sejak semula Timotius telah dinubuatkan untuk menjadi pemimpin. Dengan demikian, pemilihan ini bukan semata-mata keinginan Paulus saja, tetapi juga sesuai dengan kehendak Allah.

Apakah Paulus cukup menyatakan Timotius sebagai pemimpin? Ternyata tidak. Selain memberikan pernyataan kepada semua orang, Paulus juga memberi nasihat kepada calon penggantinya itu agar tetap setia terhadap kehendak Allah yang dinyatakan untuk hidupnya. Selaku gembala dan penilik gereja, dia harus tetap setia kepada iman rasuli dan berjuang melawan ajaran palsu yang mulai menyusup ke dalam gereja.

Tugas ini cukup berat, karena Timotius mendapat tentangan dari dua orang yang bernama Aleksander dan Himeneus. Kedua orang ini mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam jemaat. Ajaran palsu yang mereka sebarkan sudah menjalar seperti penyakit kanker. Dia sudah menyebar dan menggerogoti tubuh Kristus yaitu jemaat. Menyadari bahwa hal ini sangat berbahaya, maka Paulus telah menyerahkan mereka kepada Iblis. Yang dimaksud diserahkan kepada Iblis adalah tindakan disiplin gereja. Tujuannya supaya orang tersebut bertobat dan menemukan iman sejati dalam Kristus. Mereka dikucilkan dari jemaat, supaya mereka tidak mempengaruhi anggota jemaat lainnya.

Sebagai manusia biasa, Paulus memiliki keterbatasan. Dia tidak dapat mengurusi semua jemaat satu-persatu. Itu sebabnya Paulus berbagi tugas dengan Timotius. Paulus memberikan tugas kepada Timotius untuk mengurusi jemaat di Efesus. Dengan demikian, beban pekerjaan Paulus menjadi lebih ringan. Ada sebuah cerita tentang pembagian tugas ini.

Dalam sebuah kotak peralatan tukang kayu, alat-alat yang ada di dalamnya sedang mengadakan rapat. Rapat itu dipimpin oleh martil/palu. Akan tetapi alat-alat yang lain memprotes. Alasannya karena Palu itu selalu bikin ribut. Kalau dia bekerja sering menimbulkan suara yang gaduh. Bahkan mereka mengusir Palu dari ruang pertemuan itu.

"Oke, kalau kalian menghendaki aku keluar dari tempat ini, aku akan keluar dari tempat ini" kata Palu dengan suara yang tinggi. Dia merasa marah, "tapi aku juga menuntut si Paku juga keluar dari tempat ini. Menurutku dia terlalu pemalas. Dia tidak mau bergerak kalau tidak aku dorong-dorong dan aku pukul-pukul."

Paku bangkit dari tempat duduknya dengan muka merah. "Baik. Aku juga mau keluar dari tempat ini. Tapi aku juga menuntut supaya si Ketam juga ikut keluar dari tempat ini. Menurutku, pekerjaannya hanya baik di permukaan saja. Dia tidak mengerjakan bagian-bagian yang tidak kelihatan."

Si Ketam ikut naik pitam. "Kalau kalian mengusir aku keluar dari ruangan ini, maka aku juga menuntut supaya Penggaris juga ikut keluar. Kerjaannya hanya mengukur-ukur. Seolah-olah dia yang paling benar."

Penggaris langsung menuding Kertas Amplas, "Kalau begitu, kertas Amplas juga harus ikut keluar dari ruangan ini. Ia bertindak terlalu kasar. Ia selalu menjengkelkan hati."

Suasana perdebatan semakin panas. Tiap alat pertukangan saling berteriak. Tiba-tiba masuklah tukang kayu. Dia mulai bekerja. Satu persatu alat dipergunakannya. Mulai dari penggaris, ketam, palu, paku hingga kertas amplas. Beberapa jam kemudian, tukang kayu itu telah menyelesaikan sebiah mimbar yang indah, yang dapat dijadikan untuk mewartakan firman Tuhan.

Alat-alat pertukangan itu tidak dapat bekerja sendirian. Dia harus bekerja dengan alat lain untuk menciptakan karya yang indah. Demikian juga kita. Di dalam melayani Tuhan, kita sebaiknya tidak bekerja sendirian. Kita adalah manusia yang terbatas. Kita membutuhkan orang lain.

Demikian juga seorang pemimpin. Dia tidak selamanya menjadi pemimpin. Ada waktunya dia harus menyerahkan api kepemimpinan itu kepada penerusnya. Untuk itu, selama masa kepemimpinannya, dia sudah harus menyiapkan calon pemimpinnya. Ada ucapan menarik tentang penyiapan pemimpin, yang dikatakan oleh Becky Brodin. Becky Brodun mengatakan:

"Kepemimpinan bukanlah menggunakan kewenangan, melainkan memberdayakan orang-orang"

Dalam mengomentara kata-kata ini, John Maxwell menulis demikian, "Terlalu banyak pemimpin membuat kekeliruan berpikir bahwa ketika mereka mencapai puncak, itu berarti mereka dapat menggunakan posisi dan kekuasaan mereka untuk memaksakan perilaku tertentu kepada para bawahannya."

"Kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan. Kepemimpinan adalah soal memberikan kekuasaan kepada orang-orang di bawah Anda. Kepemimpinan adalah soal memberikan peralatan yang mereka butuhkan untuk melaksanakan pekerjaanya."

Sementara itu, Andrew Carnegie memberikan tambahan pengetahuan kepada kita tentang perilaku pemimpin yang baik. Andrew carnegie mengatakan, "Seseorang yang ingin melakukan segala sesuatu sendirian, atau memonopoli pujian untuk dirinya sendiri, maka dia tidak akan pernah menjadi diri sendiri."

John Maxwell setuju dengan pendapat Andrew Carnegie. Dia mengatakan, "Kepemimpinan, kalau dilihat dari definisinya, tak mungkin menjadi pertunjukan satu orang. Kalau saya tidak memiliki kerendahan hati dan kemauan untuk memuji orang lain, serta mengakui kesuksesan mereka, maka kepemimpinan saya sangat lemah. Kalau ego saya demikian besarnya, sehingga saya ngotot memonopoli sambutan, perhatian dan penegasan, maka calon-calon mitra saya akan meninggalkan saya."

Di dalam sebuah organisasi, regenerasi atau pergantian kepengurusan adalah hal yang biasa dan harus terjadi. Apalagi dalam organisasi remaja. Perjalanan waktu yang tidak dapat dihentikan akan memaksa pengurus remaja untuk menanggalkan jabatannya karena dia sudah tidak remaja. Dia sudah menjadi pemuda dewasa dan siap mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Itu sebabnya, dalam sebuah organisasi, pengurusnya harus selalu menyiapkan calon-calon pemimpin berikutnya. Teladanilah Paulus. Dia sudah menyiapkan calon pemimpin penggantinya. Sementara itu, bagi generasi yang lebih muda, jadilah seperti Timotius. Dia memakai waktu selama bergaul dengan Paulus sebagai kesempatan untuk belajar dan menyiapkan diri menjadi pemimpin. Ketika tiba waktunya untuk memimpin, Timotius menerima tugas itu dengan sukacita dan penuh dengan tanggung jawab.

*) Renungan ini pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam kebaktian Remaja GKI Klaten, Jateng.


-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It