Senin, 14 November 2005

Janji

Janji

Cukup lama Nasrudin menabung supaya bisa memiliki baju baru. Suatu hari dia membawa kain kepada tukang jahit. Setelah mengukur badan Nasrudin, tukang jahit berkata, "kembalilah seminggu lagi. Insya Allah, bajumu sudah selesai dijahit."

Seminggu kemudian, Nasrudin mendatangi tukang jahit kembali.

"Maaf, bajumu belum selesai dijahit. Tapi, insya Allah besok sudah jadi."

Keesokan harinya, Nasrudin datang lagi. "Sekali lagi, maaf," kata tukang jahit,"sedikit waktu lagi akan selesai. Cobalah besok datang lagi. Insya Allah bajumu betul-betul sudah selesai."

Nasrudin menjadi gusar. Menurutnya, penjahit ini sudah keterlaluan. Nasrudin berkata dengan gemas, "Berapa lama sih waktu yang kau butuhkan untuk menjahit baju ini seandainya tanpa membawa-bawa nama Allah?"

Saya punya pengalaman yang serupa. Suatu kali saya ingin menggandakan dan menjilidkan naskah buku pada jasa fotokopi. Pegawai jasa fotokopi meminta waktu 5 hari untuk mengerjakan pesanan itu. Menurut saya itu terlalu lama. Di tempat lain, pesanan saya bisa dikerjakan hanya dalam 2 hari. Meski begitu, saya setuju. Lima hari kemudian, saya datang ke tempat itu. Ternyata pesanan saya belum diapa-apakan! Sampai sekarang, saya belum mengambil hasil pesanan saya itu.

"Janji" merupakan aspek yang krusial dalam bisnis. Setiap perusahaan selalu memiliki janji kepada para stake-holder-nya. Janji laba kepada pemegang saham; janji gaji dan fasilitas lainnya kepada karyawan; janji produk bermutu kepada konsumen; janji bunga kepada bank; janji kelestarian pada lingkungan dll.

Sayangnya, saat ini banyak pelaku usaha yang senang mengobral janji, tapi gagal dalam menepatinya. Gagal menepati janji melunasi utang; gagal menepati janji yang disampaikan dalam iklan; gagal menepati janji memberikan gaji di atas UMR; gagal menepati janji berkompetisi sehat; gagal menepati janji tidak mencemari lingkungan.

Semua itu terjadi karena sebagian besar pengusaha masih belum menghormati etika bisnis. Etika bisnis memang masih terdengar asing di telinga kita. Hal ini bisa dimengerti karena gagasan tentang etika bisnis memang lebih dulu berkembang pesat di negara Barat. Di sana, setiap perusahaan besar biasanya merumuskan nilai-nilai dan kode etik perusahaan. Setiap keputusan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh perusahaan harus lebih dulu merujuk kepada rumusan etika perusahaan ini. Jika ternyata rencana tersebut bertentangan dengan nilai dan etika perusahaan, maka harus direvisi.

Di sini, praktik seperti ini belum menjadi kebiasaan. Jangankan membuat aturan untuk diri sendiri, lha wong aturan yang dibuat oleh negara dan disertai dengan seperangkat sanksi saja masih sering dilanggar, kok. Meski begitu, dalam era globalisasi ini dunia usaha tidak dapat berkelit dari perkembangan dunia. Jika dunia usaha ingin menang dalam persaingan global, maka mereka harus memahami dan menghormati etika bisnis.

Lanskap etika bisnis itu sangat luas dan mencakup banyak hal. Namun setidaknya, kita dapat merangkumnya menjadi tiga apek yang disingkat menjadi 3R: (1). RESPECT (Rasa Hormat). Rasa hormat patut diberikan oleh perusahaan kepada orang-orang, sumber daya (resources) perusahaan dan lingkungan. Sebagai contoh:

· Memperlakukan setiap orang (konsumen, karyawan, pemasok dll) dengan penuh hormat, bermartabat dan kesantunan.

· Menggunakan persediaan, peralatan, waktu dan uang perusahaan dengan tepat, efesien dan hanya untuk kepentingan bisnis.

· Melindungi dan memperbaiki lingkungan kerja, serta menghormati hukum peraturan yang melindungi bumi dan kehidupan kita.

(2). RESPONSIBILITY (Tanggung Jawab). Setiap perusahaan mengemban tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan dan komponen stake holder lainya. Sebagai contoh:

· Menyediakan barang dan jasa berkualitas tinggi.

· Bekerja sama, saling membantu dan berbagi beban pekerjaan.

· Memenuhi semua standar yang ditetapkan dan menambahkan nilai lebih (added value).

(3). RESULT (Hasil). Dalam bisnis, hasil (atau lebih tepatnya disebut laba) merupakan ukuran keberhasilan sebuah perusahaan. Meski begitu, dalam upaya menghasilkan laba ini, perusahaan tersebut wajib melakukannya secara legal dan bermoral.

Dengan berpatokan kepada tiga aspek tersebut, maka perusahaan tersebut akan dapat menepati janji-janjinya kepada para stake holder. Ingatlah pada pepatah, "janji adalah utang." Semakin lama menunda pelunasannya, maka semakin besar bunga yang harus ditanggungnya.

Purnawan Kristanto


* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It