Senin, 14 November 2005

Integritas Pemimpin

Integritas Pemimpin

1 Timotius 4:1-16:

Seorang aktor terkenal bernama Charles Coburn pernah bercerita begini: ketika masih kanak-kanak, saya jatuh cinta pada teater dan karena waktu itu belum ada bisokop, saya berkeliling menonton semua pertunjukan hidup yang saya jumpai.

Ayah saya memberi nasihat, "Nak, satu hal yang tidak pernah boleh engkau lakukan ialah tidak boleh pergi ke pertunjukan tertutup yang mempertotonkan wanita-wanita telanjang."

Tentu saja saya bertanya mengapa.

Dan kata ayah saya, "Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat." Ayah mengulanginya sekali lagi, ""Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat."

Jawaban itu justru membuat saya penasaran. Saya malah semakin ingin tahu. Pada kesempatan berikutnya, ketika saya mendapat cukup banyak uang, saya langsung pergi ke pertunjukan tertutup itu. Ayahku ternyata benar. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya lihat, yaitu Ayahku sendiri.

Dalam istilah Jawa, apa yang dilakukan oleh ayah Charles Coburn dikatakan seperti "Gajah diblangkoni. Iso kojah (ngomong) nangin ora iso nglakoni" artinya, "Bisa memberi nasihat, tapi dia sendiri tidak melakukan hal itu." Ayah Charles Coburn melarang anaknya menonton pertunjukan tarian telanjang, tapi dia sendiri malah menontonnya. Inilah contoh seorang yang tidak dapat memberi contoh atau teladan yang baik.

Perikop renungan kita hari ini berupa isi surat ini ditulis oleh Paulus dan ditujukan kepada Timotius. Siapakah Timotius? Kita akan sejenak mengenal Timotius. Ditilik dari namanya, Timotius berarti "orang yang saleh." Timotius memang cocok menyandang nama ini karena sejak kecil dia sudah mengenal ajaran-ajaran Kitab Suci. Peran ibunya, yang bernama Eunike, dalam hal ini sungguh luar biasa. Ibunya telah menenamkan benih yang kekal dalam hidup Timotius. Selain itu, neneknya yang bernama Lois, juga ikut membangun jati dirinya menjadi orang yang teguh dalam iman.

Timotius tinggal di kota Listra, suatu daerah di propinsi Kilikia. Suatu kali, Paulus mengunjungi kota ini. Paulus mengamati bahwa Timotius cukup menonjol di antara orang Kristen lainnya di kota itu. Itu sebabnya, Paulus mengangkat Timotius menjadi asistennya.

Pilihan Paulus tidak salah, karena Timotius menunjukkan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Ia menunjukkan pengabdian yang tulus untuk menerima setiap tugas dalam bentuk apapun yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah membantah kepercayaan yang diberikan kepadanya. Semuanya itu diterimanya dengan baik dan bertanggung jawab.

Dia sering mendapat tugas khusus dari Paulus untuk ke beberapa tempat untuk mengatasi persoalan di dalam jemaat. Timotius pernah diutus untuk pergi ke kota Berea, Makedonia, Korintus, Filipi dan Tesalonika. [Namun rupanya pelayanan Timotius tidak selamanya berjalan mulus. Di dalam pelayanannya, dia mendapatkan dua hambatan. Hambatan yang pertama, berasal dari luar dirinya yaitu berupa ajaran sesat. Ajaran ini mengajarkan tentang keutamaan tubuh. Tubuh harus dijaga dengan baik misalnya dengan olahraga, berpantang makanan tertentu, bahkan kalau perlu tidak menikah (ayat 3). Jika dapat melakukan semua ini, maka orang tesebut dipandang lebih saleh atau lebih rohani dibandingkan orang yang lain. Paulus menantang ajaran seperti ini.

Hambatan kedua, berasal dari dalam dirinya, yaitu dari usianya yang masih muda. Pada saat memulai pelayanan, Timotius masih berusia 15 tahun (siapa yang berusia 15 tahun? Kira-kira seusia itulah Timotius saat itu). Pada saat menerima surat yang pertama ini (1 Timotius), Timotius berusia 33 tahun. Tepat dengan seusia saya. Bayangkan Timotius seusia saya. Apakah sudah termasuk tua? Ternyata tidak. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dapat dianggap dewasa pada usia 30 tahun. Namun bagi seorang guru atau pemimpin jemaat, umur sekian ini masih dianggap terlalu muda.

Pada usia semuda ini, Timotius harus memimpin dan mengajar orang-orang yang lebih tua daripadanya. Hal ini membuat jemaat dan orang lain memandang remeh Timotius. Dalam bahasa di sini, mungkin saja ada orang yang berkata dengan sinis, "Huh, anak kemarin sore. Tahu apa kamu?", "Kamu itu masih hijau, tidak usah sok tahu!" atau "Apa sih yang kamu tahu? Tahu nggak, rasanya baru kemarin aku mengganti popokmu."

Dengan kata lain, saat itu jemaat mempersoalkan kewibawaan Timotius sebagai pemimpin mereka. Menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Timotius? Bagaimana dia dapat meningkatkan wibawanya di depan jemaatnya? Bagi seseorang, kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting. Tanpa kewibawaan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengerakkan anak buahnya. Coba bayangkan seandainya Tessi menjadi komandan pasukan tentara. Apa yang terjadi? Mungkin perintahnya akan ditertawakan anak buahnya, karena dia tidak memiliki kewibawaan sebagai seorang komandan militer.

Lalu darimanakah seseorang mendapatkan kewibawaanya? Ada beberapa sumber yang dapat mendatangkan kewibawaan:

1. Kefasihan berkata-kata. Seseorang yang berbicara dengan baik dapat mempengaruhi orang untuk berbuat sesuatu. Sebagai contoh, bung Karno dan bung Tomo adalah orang yang pandai berbicara. Dengan berbicara di corong radioa, bung Tomo berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur melawan tentara Inggris.

2. Kepandaian. Seorang yang pandai, berilmu tinggi, berwawasan luas, mempunyai gelar yang banyak, biasanya disegani dimana-mana.

3. Kekuasaan. Seseorang yang memiliki kedudukan penting akan dihormati banyak orang. Ketika kita bertemu dengan Bupati Klaten, maka secara otomatis kita akan menunduk hormat.

4. Uang. Orang kaya biasanya ditempatkan sebagai orang terpandang. Apalagi jika dia dermawan.

5. Kecantikan/ketampanan. Kelebihan fisik semacam ini biasanya mendatangkan kekaguman banyak orang.

6. Keturunan. Menjadi anak orang ternama, biasanya akan menempatkan orang itu menjadi orang ternama juga. Contohnya Megawati atau anak-anak artis yang sekarang menjadi artis juga.

Namun sumber-sumber kewibawaan yang disebutkan tadi tidak dapat bertahan lama. Contohnya wibawa berdasarkan kekuasaan. Bagaimana jika dia tidak berkuasa lagi. Apakah dia masih dapat berwibawa. Sebagai contoh, mantan bupati Gunungkidul. Setelah turun dari jabatannya, sekarang ini dia mendekam di penjara karena dugaan kasus korupsi. Apakah dia masih memiliki kewibawaan? Rasanya tidak. Bagaimana dengan orang yang kehilangan uang? Atau kecantikannya semakin memudar seiring dengan pertambahan usianya? Kewibawaan seperti itu tidak akan bertahan lama.

Kembali lagi persoalan Timotius tadi. Di dalam menghadapi ajaran sesat dan anggapan remeh dari jemaat, maka Timotius harus memiliki wibawa di tengah-tengah jemaat. Bagaimana Timotius mendapatkan wibawa itu? Simak baik-baik nasihat Paulus kepada Timotius.

Menurut Pulus, cara yang terbaik untuk mendapatkan kewibawaan adalah dengan keteladanan hidup. Paulus ingin mentabahkan Timotius dengan mengatakan bahwa orang-orang tidak akan menganggap remeh dia, bila dia menjadi teladan bagi orang-orang percaya. Kewibawaan seorang pemimpin rohani tidak terletak pada hal-hal lahiriah seperti kekayaan, usia, kekayaan, kepintaran, penggunaan kekerasam, melainkan di dalam keteladanan hidup. Bilamana orang percaya melihat dalam diri pemimpin itu mencerminkan Kristus maka dengan sendirinya mereka akan menghormatinya.

Ada sebuah contoh keteladanan yang bagus:

Suatu ada seorang ibu yang dengan risau menemui Mahatma Gandhi, sambil menggandeng putrinya. Dia menjelaskan bahwa putrinya mempunyai kebiasaan gemar makanan manis. "Dapatkan Mahatma menasihati anak saya dupa meninggalka kebiasaan buruk itu," pinta ibu kepada Gandhi.

Gandhi berdiam sejenak, lalu berkata, "Bawalah kembali putrimu setelah tiga minggu. Saya akan berbicara kepadanya," kata Gandhi.

Ibu itu lalu pergi. Tiga minggu kemudian, dia kembali lagi bersama putrinya.

Kali ini Gandhi dengan tenang mendekati anak dan dengan kata-kata yangs ederhana dia menjelaskan dampak buruk jika makan terlalu banyak makanan manis. Dia meyakinkan supaya anak perempuan itu meninggalkan kebiasaan buruknya.

Sang Ibu merasa lega dan berterimakasih pada Gandhi. Namun, dia itu masih penasaran pada sesuatu. Dia bertanya kepada Gandhi, "Saya ingin tahu, mengapa tiga minggu yang lalu Anda tidak langsung mengatakan hal ini kepada putri saya. Mengapa harus menunggu tiga minggu?"

Dengan sabar Gandhi menjawab, "Soalnya tiga minggu yang lalu saya juga masih ketagihan makanan manis. Selama tiga minggu ini, saya harus menghentikan kebiasaan buruk saya sebelum saya menasihati putri ibu."

Paulus mengatakan bahwa Timotius harus menjadi teladan dalam hal perkataan dan tingkah laku. Itu artinya bahwa perbuatan seorang pemimpin rohani harus sama dengan perkataannya. Gandhi harus berjuang menghentikan kebiasaan buruknya lebih dulu sebelum dia menasihati orang lain supaya menghentikan kebiasaan buruk itu.

Inilah yan disebut dengan INTEGRITAS. Seorang pemimpin harus memiliki integritas. Yang dimaksud dengan integritas di sini adalah antara yang diucapkan oleh pemimpin itu sama dengan yang dilakukannya. Jika pemimpin itu berkata, 'mari kita berantas korupsi', maka dia tidak boleh korupsi. Pemimpin yang baik akan tetap menjaga integritasnya walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Sebagai contoh, pada malam hari dia melewati lampu merah yang sepi. Tidak ada satu orang pun di sana. Seandainya dia menerobos lampu merah, tidak ada seorang pun yang tahu. Namun pemimpin yang berintegritas, tidak akan melakukan hal ini sekalipun tidak ada orang yang tahu.

Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa keteladaan itu harus harus dinampakkan dalam bentuk kasih, kesetiaan dan kesucian. Dalam hal kasih, Seorang pemimpin yang baik memberikan teladan dalam mengasihi anakbuahnya. Misalnya, sekalipun ada anak buahnya yang menentang dia, namun dia tetap mengasihi orang itu. Jika ada anak buahnya yang mengalami kesulitan, dia membantu dengan tulus.

Sementara itu keteladanan dalam kesetiaan ditunjukkan dengan kekokohan imannya kepada Tuhan. Dalam situasi seperti apapun, pemimpin tidak kehilangan keyakinannya atas kuasa Tuhan. Dia selalu mengandalkan Tuhan. Kemudian kesucian ditunjukkan dengan pengendalian dirinya terhadap godaan dosa. Dia berusaha memberi contoh kepada anak buahnya dalam menghadapi segala tantangan dan godaan yang dapat menyebabkannya jatuh ke dalam dosa.

Apakah Anda pernah mendengar ada orang yang berkata kepada Anda begini: "Kamu adalah calon pemimpin di masa depan?" Apakah Anda setuju? Kalau saya tidak setuju. Anda adalah pemimpin pada saat ini juga. Bukan pemimpin di masa mendatang.

Anda dapat menjadi pemimpin ketika ada di sekolah, di tempat kursus atau les, di lapangan, di tempat bermain, di mal, di pasar. Dimana saja Anda dapat menjadi pemimpin. Ketika Anda menjadi pemimpin, tidak usah merasa risau. Ingatlah nasihat Paulus ini: Kita harus menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang kita pimpin. Bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik? Caranya dengan mempertahankan integritas. Hidup kita harus memberi teladan yang baik. Misalnya, dengan tidak mencontek saat ujian meski ada kesempatan. Dengan menolak merokok meskipun diejek tidak jantan. Kita tidak mau ikut ngerumpi untuk menjelek-jelekkan orang lain, meskipun dicap tidak gaul. Kita tidak mau mencuri mangga tetangga, meskipun tidak ada orang yang tahu. Kita menolak ikut tawuran, walaupun dituduh tidak setia kawan.

Jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka orang lain akan merasa segan dan hormat kepada kita.

*) Renungan ini pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam kebaktian Remaja GKI Klaten, Jateng.


-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It