Minggu, 27 November 2005

Mencelakai Perempuan, Memancing Amarah Laki-laki

Hari Sabtu/Minggu (27/28 Nop 2005), aku mengikuti Musyawarah Anggota YLKI, Jogja. Dalam acara itu, aku bertemu dengan bu Nunuk P Murniati. Sudah lama kami tidak berjumpa dengan beliau. Kesempatan itu tidak kusia-siakkan untuk mendengarkan cerita pengalamannya sebagai anggota Komnas Perempuan. Salah satu yang menarik adalah cerita-cerita tentang kekerasan terhadap perempuan.
Dia memulai ceritanya dengan kisah tragis seorang perempuan di Manggarai, Flores. Di daerah Nusa Tenggara itu, penduduk asli sering menggali ubi sebagai tambahan makanan (sumber karbohidrat). Suatu kali ada seorang Ibu yang yang masuk ke dalam hutan untuk mencari ubi. Menurut adat, hutan itu menjadi milik desa sehingga boleh dimanfaatkan oleh siapa saja. Cilakanya, Ibu itu tidak menyadari bahwa hutan itu telah dikuasai pemerintah dan disulap menjadi kawasan reservasi. Tak ayal lagi, maka ditangkaplah si Ibu tadi dan digelandang ke kantor polisi. Meski begitu, si Ibu tadi tidak merasa bersalah karena dia mengambil ubi di hutan milik desa kok. Sementara itu, suaminya mendengar berita penangkapan itu. Terbitlah amarahnya. Dia mengumpulkan laki-laki di desanya untuk menyerbu kantor polisi, tempat penahanan isterinya. Dengan emosi yang meluap dan membawa parang, rombongan laki-laki ini bergerak ke kantor polisi. Namun di sana, para polisi sudah siap dengan senjata lengkap. Maka terjadilah bentrokan berdarah. Akibatnya 10 orang tewas.
Tragedi ini menarik perhatian Komnas HAM dan Komnas Perempuan untuk melakukan investigasi. Komnas HAM hanya memberikan laporan adanya 10 orang yang tewas. Namun Komnas Perempuan mencoba menelusuri akar konflik itu. Rupanya, status kepemilikan hutan itu telah lama menjadi pangkal sengketa antara masyarakat dengan pemerintah. Pemerintah mengklain hutan itu milik negara, sementara penduduk desa mengklaim hutan itu menjadi hak ulayat mereka. Dengan demikian, ketika ada perempuan di desa itu yang ditangkap karena mencari ibu di hutan, maka penduduk desa menjadi marah. Yang aneh, menurut Komnas Perempuan, ketika masyarakat berjalan menuju kantor polisi, mereka uidah dihadang oleh sepasukan polisi berpasukan lengkap. Seolah-olah mereka sudah mempersiapkan diri. Polisi beralasan, mereka hanya memertahankan diri karena penduduk desa datang sambil membawa parang. Sementara penduduk desa berkilah, mereka terbiasa membawa parang ke mana-mana (seperti orang Jawa kumo yang sering membawa keris: wawan).
Bu Nunuk menduga penangkapan ini sengaja dilakukan untuk membangkitkan kemarahan penduduk desa.
Setelah itu cerita berlanjut tentang Inong Bale di Aceh. Dua tahun sebelum Tsunami, bu Nunuk mengadakan penelitian terhadap Inong Bale (tentara perempuan GAM). Pada awalnya agak sulit mendapatkan akses ke Inong Bale, karena belum tercipta kepercayaan. Lama-lama, pihak GAM bersedia membuka diri terhadap aktivis perempuan. Ketika akan berangkat menuju markas GAM, bu Nunuk, Ita F Nadia dan kawan-kawan melapor ke kantor polisi. Pihak polisi tidak berani mengantar bu Nunuk. "Kami pasti masti kalau ke sana," kata polisi yang ditirukan bu Nunuk. Para polisi itu hanya mengantarkan sampai dengan "perbatasan kekuasaan" polisi. Setelah itu, bu Nunuk cs dijemput empat personel GAM menggunakan sepeda motor. Mata mereka harus ditutup, kemudian diboncengkan menuju markas GAM, selama sekitar 2 jam perjalanan.
Dari data-data yang dikumpulkan, bu Nunuk melihat ada sebuah pola pada kasus pemerkosaan perempuan di Aceh. Dia melihat bahwa, sebagian besar perempuan-perempuan di Aceh yang diperkosa, memiliki hubungan kekerabatan dengan anggota GAM (laki-laki). Pola lainnya yang ditemukan adalah, pemerkosaan terhadap perempuan non Aceh yang tinggal di Aceh, sebagian besar dilakukan oleh laki-laki yang memiliki salah satu familinya menjadi korban pemerkosaan.
Bu Nunuk kemudian menyinggung pemerkosaan massal kerusuhan Mei 1998. Semua itu ada maksud tersembunyi, yaitu untuk membangkitkan kemarahan laki-laki.
Dalam struktur dan budaya masyarakat yang masih patriakrkis (didominasi laki-laki), posisi perempuan/isteri diposisikan sebagai properti atau hak milik laki-laki. Hal ini dilestarikan dalam bentuk pemberian mahar atau mas kawin. Karena merasa sudah "membeli" dalam bentuk mas kawin, maka pihak suami menganggap isterinya itu sebagai hak miliknya. Anak-anak juga mengalami nasib serupa. Mereka pun tidak lebih beruntung daripada ibu mereka.
Ketika ada pihak lain yang mengusik milik ini, maka meledaklah amarah laki-laki itu. Pola-pola seperti ini sudah terjadi selama beratus-ratus tahun di masa lampau. Ketika satu pihak ingin mencari gara-gara, maka mereka akan mencederai kelompok perempuan atau anak di pihak lawan. Hal ini untuk membangkitkan kemarahan laki-laki. Dengan begitu, mereka akan kalap dan mudah untuk ditundukkan.
Pada masa DOM di Aceh, beberapa pemerkosaan di Aceh dilakukan oleh personel militer. Dalam berita-berita di koran, biasanya disebutkan oleh 'oknum' tentara. Menurut bu Nunuk, pemerkosaan ini sudah menjadi salah satu dari strategi perang. Jadi istilah oknumisasi ini tidak tepat karena dilakukan secara sistematis.
Aku kemudian merenungkan serangkaian kekerasan di Poso. Menurutku, bukan kebetulan kalau sebagian besar korbannya adalah perempuan. Ada yang dipenggal, ada pula yang ditembak. Lalu bagaimana dengan pengeboman di pasar? Bukankah sebagian besar pengunjung pasar adalah perempuan? Aku tidak bisa memastikan siapa yang menjadi pelaku kekerasan ini. Tapi paling tidak hal ini mengindikasikan satu hal: pelakunya adalah sekelompok orang yang masih berpikiran patriarkis. Tujuannya adalah untuk melestarikan kekuasaan.
Apa yang bisa dilakukan oleh gereja? Gereja berperan strategis sebagai agen perubahan. Dengan menggenggam setumpuk kepercayaan dari umat, gereja dapat menjadi pelopor di dalam upaya pengikisan budaya patriarkis ini. Hal ini tidak saja demi kepentingan pembelaan perempuan dan anak-anak, tetapi juga untuk kebaikan laki-laki juga.

Wawan

* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 21 November 2005

Resensi Buku: Memahami Yesus, Ala Mr. Bean atau Mr. Bond?

Resensi Buku:

Memahami Yesus, Ala Mr. Bean atau Mr. Bond?

Sejak kecil, orang Kristen telah mendapatkan berbagai ajaran tentang iman Kristen yang bersifat baku. Ajaran ini kurang memberikan ruang untuk merenungkannya secara kritis. Penulis mengibaratkan fenomena ini seperti film Mr. Bean. Dalam pembukaan film ini, kita melihat ada seberkas sinar kecil yang menyertai kejatuhan sosok Mr. Bean, entah dari mana asalnya. Kita tidak pernah tahu darimanakah asal Pria lucu ini. Meski begitu, penonton tidak pernah memusingkan hal ini. Yang penting bagi mereka adalah menikmati kekonyolannya, dagelannya, dan perbuatan gilanya. Hampir sepeerti itulah pemahaman sebagian orang Kristen tentang Yesus. Pada awalnya, pengetahuan itu merupakan pasokan dari luar. Setiap hari Minggu kita datang ke gereja untuk dibombardir dengan pemahaman teologis yang jatuh dari awan-awan.

Dalam kristologi, pendekatan seperti ini dikenal sebagai "kristologi dari atas" (descending christology). Alhasil, umat memang taat pada asas dan dogma, tetapi sama sekali tidak mengenal Kristus yang mereka sembah. Pemutlakan dogma, membuat mereka takut untuk mencoba memahami Yesus secara kreatif. Daripada repot-repot, lebih baik datang kepada-Nya untuk minta disembuhkan dari penyakit, dibebaskan dari stress dan melihat mukjizat-mujizat-Nya. Mereka lebih tertarik melihat "perbuatan gila" Yesus, daripada mengenal Yesus.

Berbeda dengan Mr. Bean, kehebatan dan kegilaan dalam film James Bond telah dibingkai dalam kisah dengan alur yang jelas. Dalam film ini, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang sosok Mr. Bond : mengenai asal-usulnya, misinya, relasinya, kecerdasannya, karakternya dan sebagainya. Penonton mempunyai informasi yang memadai tentang sosok mr Bond ini. Dalam scene tertentu penonton juga disodori fakta-fakta dan diajak untuk berpikir dan menebak misteri dalam film tersebut.

Film James Bond ini merupakan gambaran dari pendekatan "kristologi dari bawah" (ascending christology). Pendekatan ini mencoba memahami Yesus secara historis, terlepas apakah dogma gereja mengatakannya, atau tidak. Titik berangkatnya adalah pengalaman perjumpaan dengan Yesus di dalam sejarah. Meski begitu, pendekatan ini tidak hendak menyangkal keilahian Yesus. Kristologi ini merupakan cara alternatif untuk memahami iman kepada Yesus Kristus.

Buku ini merupakan hasil dari pergulatan alumni STF Driyarkara dalam menggali dan menemukan sosok Kristus. Pada bagian pertama, penulis memaparkan berbagai problematika di seputar sosok Yesus. Bagian kedua, mengenalkan dua pendekatan kristologi (dari atas dan dari bawah), lalu menawarkan fungsi simbol yang bisa menjembatani perbedaan kedua pendekatan itu. Menurutnya, tanpa memahami simbol, maka umat akan kesulitan memahami relevansi rumusan dogma dalam realitas kehidupan.

Bagian ketiga, terdapat paparan kronologis bagaimana kegilaan Yesus itu dipahami dan dirumuskan oleh para murid dan gereja purba, kemudian dilestarikan dalam bentuk tradisi gereja. Dalam perkembangannya, tradisi gereja ini memuncukanl suatu perdebatan tentang status Yesus Kristus: Apakah Dia itu manusia atau Tuhan? Pembahasan tentang status Yesus ini dikupas pada bagian keempat buku ini. Pada bagian kelima, penulis menjelaskan langkah-langkah untuk menerapkan kedua pendekatan tadi untuk memahami kristologi pada zaman sekarang. Bagian terakhir menunjukkan dimensi praksis dalam berkristologi.

Buku ini bisa menjadi pintu bagi kaum awam untuk memasuki ruang studi tentang kristologi. Dengan cerdas, penulis berhasil mendaratkan konsep-konsep yang abstrak menggunakan analogi dan metafora sehingga lebih mudah dipahami. Dengan bahasa yang akrab dan memakai idiom-idiom yang ngepop, kita dipandu mengenal konsep-konsep teologi seperti soteriologi (keselamatan), eskatologi (akhir zaman), kenostisisme, dll. Sayangnya, di dalam hal Trinitas, penulis tidak menjelaskannya dengan tuntas. Setyawan mengaku mengalami kesulitan mencari analogi yang pas untuk menjelaskan hal ini. Penulis menduga Trinitas ini merupakan misteri yang memang sengaja diciptakan Allah untuk memberi ruang terbuka bagi pertanyaan-pertanyaan yang tiada habisnya.

Judul Buku : Orang Gila dari Nazaret

Pengarang : A. Setyawan, S.J.

Penerbit : Kanisus, Yogyakarta

Tahun : 2005

Tebal : 289 halaman

Ukuran : 12,5 cm x 20 cm

Purnawan Kristanto

(penulis buku dan moderator milis "Komunitas Penjunan")


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 14 November 2005

Integritas Pemimpin

Integritas Pemimpin

1 Timotius 4:1-16:

Seorang aktor terkenal bernama Charles Coburn pernah bercerita begini: ketika masih kanak-kanak, saya jatuh cinta pada teater dan karena waktu itu belum ada bisokop, saya berkeliling menonton semua pertunjukan hidup yang saya jumpai.

Ayah saya memberi nasihat, "Nak, satu hal yang tidak pernah boleh engkau lakukan ialah tidak boleh pergi ke pertunjukan tertutup yang mempertotonkan wanita-wanita telanjang."

Tentu saja saya bertanya mengapa.

Dan kata ayah saya, "Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat." Ayah mengulanginya sekali lagi, ""Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat."

Jawaban itu justru membuat saya penasaran. Saya malah semakin ingin tahu. Pada kesempatan berikutnya, ketika saya mendapat cukup banyak uang, saya langsung pergi ke pertunjukan tertutup itu. Ayahku ternyata benar. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya lihat, yaitu Ayahku sendiri.

Dalam istilah Jawa, apa yang dilakukan oleh ayah Charles Coburn dikatakan seperti "Gajah diblangkoni. Iso kojah (ngomong) nangin ora iso nglakoni" artinya, "Bisa memberi nasihat, tapi dia sendiri tidak melakukan hal itu." Ayah Charles Coburn melarang anaknya menonton pertunjukan tarian telanjang, tapi dia sendiri malah menontonnya. Inilah contoh seorang yang tidak dapat memberi contoh atau teladan yang baik.

Perikop renungan kita hari ini berupa isi surat ini ditulis oleh Paulus dan ditujukan kepada Timotius. Siapakah Timotius? Kita akan sejenak mengenal Timotius. Ditilik dari namanya, Timotius berarti "orang yang saleh." Timotius memang cocok menyandang nama ini karena sejak kecil dia sudah mengenal ajaran-ajaran Kitab Suci. Peran ibunya, yang bernama Eunike, dalam hal ini sungguh luar biasa. Ibunya telah menenamkan benih yang kekal dalam hidup Timotius. Selain itu, neneknya yang bernama Lois, juga ikut membangun jati dirinya menjadi orang yang teguh dalam iman.

Timotius tinggal di kota Listra, suatu daerah di propinsi Kilikia. Suatu kali, Paulus mengunjungi kota ini. Paulus mengamati bahwa Timotius cukup menonjol di antara orang Kristen lainnya di kota itu. Itu sebabnya, Paulus mengangkat Timotius menjadi asistennya.

Pilihan Paulus tidak salah, karena Timotius menunjukkan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Ia menunjukkan pengabdian yang tulus untuk menerima setiap tugas dalam bentuk apapun yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah membantah kepercayaan yang diberikan kepadanya. Semuanya itu diterimanya dengan baik dan bertanggung jawab.

Dia sering mendapat tugas khusus dari Paulus untuk ke beberapa tempat untuk mengatasi persoalan di dalam jemaat. Timotius pernah diutus untuk pergi ke kota Berea, Makedonia, Korintus, Filipi dan Tesalonika. [Namun rupanya pelayanan Timotius tidak selamanya berjalan mulus. Di dalam pelayanannya, dia mendapatkan dua hambatan. Hambatan yang pertama, berasal dari luar dirinya yaitu berupa ajaran sesat. Ajaran ini mengajarkan tentang keutamaan tubuh. Tubuh harus dijaga dengan baik misalnya dengan olahraga, berpantang makanan tertentu, bahkan kalau perlu tidak menikah (ayat 3). Jika dapat melakukan semua ini, maka orang tesebut dipandang lebih saleh atau lebih rohani dibandingkan orang yang lain. Paulus menantang ajaran seperti ini.

Hambatan kedua, berasal dari dalam dirinya, yaitu dari usianya yang masih muda. Pada saat memulai pelayanan, Timotius masih berusia 15 tahun (siapa yang berusia 15 tahun? Kira-kira seusia itulah Timotius saat itu). Pada saat menerima surat yang pertama ini (1 Timotius), Timotius berusia 33 tahun. Tepat dengan seusia saya. Bayangkan Timotius seusia saya. Apakah sudah termasuk tua? Ternyata tidak. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dapat dianggap dewasa pada usia 30 tahun. Namun bagi seorang guru atau pemimpin jemaat, umur sekian ini masih dianggap terlalu muda.

Pada usia semuda ini, Timotius harus memimpin dan mengajar orang-orang yang lebih tua daripadanya. Hal ini membuat jemaat dan orang lain memandang remeh Timotius. Dalam bahasa di sini, mungkin saja ada orang yang berkata dengan sinis, "Huh, anak kemarin sore. Tahu apa kamu?", "Kamu itu masih hijau, tidak usah sok tahu!" atau "Apa sih yang kamu tahu? Tahu nggak, rasanya baru kemarin aku mengganti popokmu."

Dengan kata lain, saat itu jemaat mempersoalkan kewibawaan Timotius sebagai pemimpin mereka. Menghadapi situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Timotius? Bagaimana dia dapat meningkatkan wibawanya di depan jemaatnya? Bagi seseorang, kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting. Tanpa kewibawaan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengerakkan anak buahnya. Coba bayangkan seandainya Tessi menjadi komandan pasukan tentara. Apa yang terjadi? Mungkin perintahnya akan ditertawakan anak buahnya, karena dia tidak memiliki kewibawaan sebagai seorang komandan militer.

Lalu darimanakah seseorang mendapatkan kewibawaanya? Ada beberapa sumber yang dapat mendatangkan kewibawaan:

1. Kefasihan berkata-kata. Seseorang yang berbicara dengan baik dapat mempengaruhi orang untuk berbuat sesuatu. Sebagai contoh, bung Karno dan bung Tomo adalah orang yang pandai berbicara. Dengan berbicara di corong radioa, bung Tomo berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur melawan tentara Inggris.

2. Kepandaian. Seorang yang pandai, berilmu tinggi, berwawasan luas, mempunyai gelar yang banyak, biasanya disegani dimana-mana.

3. Kekuasaan. Seseorang yang memiliki kedudukan penting akan dihormati banyak orang. Ketika kita bertemu dengan Bupati Klaten, maka secara otomatis kita akan menunduk hormat.

4. Uang. Orang kaya biasanya ditempatkan sebagai orang terpandang. Apalagi jika dia dermawan.

5. Kecantikan/ketampanan. Kelebihan fisik semacam ini biasanya mendatangkan kekaguman banyak orang.

6. Keturunan. Menjadi anak orang ternama, biasanya akan menempatkan orang itu menjadi orang ternama juga. Contohnya Megawati atau anak-anak artis yang sekarang menjadi artis juga.

Namun sumber-sumber kewibawaan yang disebutkan tadi tidak dapat bertahan lama. Contohnya wibawa berdasarkan kekuasaan. Bagaimana jika dia tidak berkuasa lagi. Apakah dia masih dapat berwibawa. Sebagai contoh, mantan bupati Gunungkidul. Setelah turun dari jabatannya, sekarang ini dia mendekam di penjara karena dugaan kasus korupsi. Apakah dia masih memiliki kewibawaan? Rasanya tidak. Bagaimana dengan orang yang kehilangan uang? Atau kecantikannya semakin memudar seiring dengan pertambahan usianya? Kewibawaan seperti itu tidak akan bertahan lama.

Kembali lagi persoalan Timotius tadi. Di dalam menghadapi ajaran sesat dan anggapan remeh dari jemaat, maka Timotius harus memiliki wibawa di tengah-tengah jemaat. Bagaimana Timotius mendapatkan wibawa itu? Simak baik-baik nasihat Paulus kepada Timotius.

Menurut Pulus, cara yang terbaik untuk mendapatkan kewibawaan adalah dengan keteladanan hidup. Paulus ingin mentabahkan Timotius dengan mengatakan bahwa orang-orang tidak akan menganggap remeh dia, bila dia menjadi teladan bagi orang-orang percaya. Kewibawaan seorang pemimpin rohani tidak terletak pada hal-hal lahiriah seperti kekayaan, usia, kekayaan, kepintaran, penggunaan kekerasam, melainkan di dalam keteladanan hidup. Bilamana orang percaya melihat dalam diri pemimpin itu mencerminkan Kristus maka dengan sendirinya mereka akan menghormatinya.

Ada sebuah contoh keteladanan yang bagus:

Suatu ada seorang ibu yang dengan risau menemui Mahatma Gandhi, sambil menggandeng putrinya. Dia menjelaskan bahwa putrinya mempunyai kebiasaan gemar makanan manis. "Dapatkan Mahatma menasihati anak saya dupa meninggalka kebiasaan buruk itu," pinta ibu kepada Gandhi.

Gandhi berdiam sejenak, lalu berkata, "Bawalah kembali putrimu setelah tiga minggu. Saya akan berbicara kepadanya," kata Gandhi.

Ibu itu lalu pergi. Tiga minggu kemudian, dia kembali lagi bersama putrinya.

Kali ini Gandhi dengan tenang mendekati anak dan dengan kata-kata yangs ederhana dia menjelaskan dampak buruk jika makan terlalu banyak makanan manis. Dia meyakinkan supaya anak perempuan itu meninggalkan kebiasaan buruknya.

Sang Ibu merasa lega dan berterimakasih pada Gandhi. Namun, dia itu masih penasaran pada sesuatu. Dia bertanya kepada Gandhi, "Saya ingin tahu, mengapa tiga minggu yang lalu Anda tidak langsung mengatakan hal ini kepada putri saya. Mengapa harus menunggu tiga minggu?"

Dengan sabar Gandhi menjawab, "Soalnya tiga minggu yang lalu saya juga masih ketagihan makanan manis. Selama tiga minggu ini, saya harus menghentikan kebiasaan buruk saya sebelum saya menasihati putri ibu."

Paulus mengatakan bahwa Timotius harus menjadi teladan dalam hal perkataan dan tingkah laku. Itu artinya bahwa perbuatan seorang pemimpin rohani harus sama dengan perkataannya. Gandhi harus berjuang menghentikan kebiasaan buruknya lebih dulu sebelum dia menasihati orang lain supaya menghentikan kebiasaan buruk itu.

Inilah yan disebut dengan INTEGRITAS. Seorang pemimpin harus memiliki integritas. Yang dimaksud dengan integritas di sini adalah antara yang diucapkan oleh pemimpin itu sama dengan yang dilakukannya. Jika pemimpin itu berkata, 'mari kita berantas korupsi', maka dia tidak boleh korupsi. Pemimpin yang baik akan tetap menjaga integritasnya walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Sebagai contoh, pada malam hari dia melewati lampu merah yang sepi. Tidak ada satu orang pun di sana. Seandainya dia menerobos lampu merah, tidak ada seorang pun yang tahu. Namun pemimpin yang berintegritas, tidak akan melakukan hal ini sekalipun tidak ada orang yang tahu.

Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa keteladaan itu harus harus dinampakkan dalam bentuk kasih, kesetiaan dan kesucian. Dalam hal kasih, Seorang pemimpin yang baik memberikan teladan dalam mengasihi anakbuahnya. Misalnya, sekalipun ada anak buahnya yang menentang dia, namun dia tetap mengasihi orang itu. Jika ada anak buahnya yang mengalami kesulitan, dia membantu dengan tulus.

Sementara itu keteladanan dalam kesetiaan ditunjukkan dengan kekokohan imannya kepada Tuhan. Dalam situasi seperti apapun, pemimpin tidak kehilangan keyakinannya atas kuasa Tuhan. Dia selalu mengandalkan Tuhan. Kemudian kesucian ditunjukkan dengan pengendalian dirinya terhadap godaan dosa. Dia berusaha memberi contoh kepada anak buahnya dalam menghadapi segala tantangan dan godaan yang dapat menyebabkannya jatuh ke dalam dosa.

Apakah Anda pernah mendengar ada orang yang berkata kepada Anda begini: "Kamu adalah calon pemimpin di masa depan?" Apakah Anda setuju? Kalau saya tidak setuju. Anda adalah pemimpin pada saat ini juga. Bukan pemimpin di masa mendatang.

Anda dapat menjadi pemimpin ketika ada di sekolah, di tempat kursus atau les, di lapangan, di tempat bermain, di mal, di pasar. Dimana saja Anda dapat menjadi pemimpin. Ketika Anda menjadi pemimpin, tidak usah merasa risau. Ingatlah nasihat Paulus ini: Kita harus menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang kita pimpin. Bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik? Caranya dengan mempertahankan integritas. Hidup kita harus memberi teladan yang baik. Misalnya, dengan tidak mencontek saat ujian meski ada kesempatan. Dengan menolak merokok meskipun diejek tidak jantan. Kita tidak mau ikut ngerumpi untuk menjelek-jelekkan orang lain, meskipun dicap tidak gaul. Kita tidak mau mencuri mangga tetangga, meskipun tidak ada orang yang tahu. Kita menolak ikut tawuran, walaupun dituduh tidak setia kawan.

Jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka orang lain akan merasa segan dan hormat kepada kita.

*) Renungan ini pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam kebaktian Remaja GKI Klaten, Jateng.


-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

PMK Terjangkiti Minority Complex?

Saya mau berbagi sedikit soal pengalaman bersentuhan dengan Persekutuan Mahasiwa Kampus (PMK). Begitu diterima di Fisipol, UGM, sejak dari masa Opspek saya, saya dan teman seangkatan yang Kristen sudah 'digiring' untuk masuk PMK. Pada mulanya, saya merasakan asyik karena bisa berkumpul dengan teman-teman seiman. Tapi lama-kelamaan, saya merasakan persekutuan ini tidak lebih dari sekadar sebuah 'acara pergaulan' yang dibumbui dengan pujian dan Firman. Sebagian besar agenda kegiatannya adalah persekutuan, latihan vokal, retret dan pergi bareng-bareng.

Saya merasakan anggota PMK Fisipol terjangkiti mentalitas minority complex. Karena merasa sebagai 'kawanan domba' yang sedikit di antara segerombolan besar 'serigala', PMK malah mengalienansi diri. Sebagian besar anggotanya tidak terlibat aktif dalam aktivitas di kampus. Saya menduga, hal ini terjadi karena sejak awal kami masuk, para senior mengindoktrinasi dengan ideologi bahwa kami ini kelompok minoritas. Mereka selalu menghembus-hembuskan adanya 'hantu hijau' yang siap 'menindas' orang Kristen jika ikut beraktivitas di kampus. Mereka lalu menciptakan dikotomi Merah-Kristen.

Akibatnya, dalam perkuliahan maupun dalam aktivitas ekstra kurikuler saya memandang kelompok hijau itu sebagai lawan. Saya selalu curiga dan waspada kepada mereka, dan menganggap mereka seolah-olah menyimpan agenda tersembunyi bagi orang Kristen.

Hingga suatu saat, saya memutuskan meloncat keluar dari 'tempurung' ini. Saya justru malah bergaul dengan aktivis-aktivis hijau. Luarbiasa, ternyata mereka mau berteman dengan tulus. Yang saya kagumi, "PMK" versi mereka memiliki program pengkaderan yang sangat rapi. Mereka memiliki program 'mentoring' bagi mahasiswa-mahasiswa baru. Setiap 5-8 mahasiswa baru, mendapat satu 'mentor' yang siap membimbing mereka di dalam kuliah atau organisasi. Mereka juga punya pelatihan kepemimpinan. Di dalam acara 'persekutuan', mereka mengundang dosen-dosen Fisipol yang ternama, seperti Amin Rais, Sunyoto Usman, Affan Gaffar, Yahya Muhaimin dll, untuk memberikan ceramah. Mereka juga punya program training Jurnalistik dengan kurikulum yang bagus.

Sekarang saya tidak tahu, apakah PMK di Fisipol sudah mengalami metamorfose atau masih meneruskan pola-pola lama?


Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Protes: Buku Jangan Diplastiki (2)

Ke dalam milis penulis, saya pernah memposting protes saya tentang buku-buku yang semakin banyak dibungkus dengan plastik. Akibatnya, saya tidak bisa membaca isi buku itu sebelum membelinya. Posting tersebut mendapat tanggapan dari Ang Tek Khun. Dia mengatakan kalo saya salah protes. Menurut pak Khun, harusnya saya protes ke toko, karena penerbit sudah menanggung retur buku rusak. Pertanyaan saya, bukankah pembungkusan buku tersebut dengan plastik itu dilakukan oleh penerbit? Artinya toko buku tidak memplastiki buku. Jadi saya tidak salah dong kalo protes ke penerbit! Lha kalo saya protes ke toko buku, bisa jadi jawaban dari toko buku begini: "Lha kami menerima buku dari penerbit ya sudah diplastiki begini, kok. Protes Anda salah alamat, Bung. Protes sono tuh sama penerbit!"

Sebagai besar konsumen tidak tahu mekanisme kerja antara penerbit dan toko buku. Yang mereka tahu adalah: buku itu dipastiki. Nah, dalam hukum Perlindungan Konsumen, pelaku usaha (penerbit sebagai produsen dan toko sebagai penyalur) memiliki kewajiban untuk menghormati hak-hak konsumen. Sebagai tambahan informasi, saya kutipkan hak-hak konsumen yang tercantum dalam UU Perlindungan Konsumen no. 8/tahun 1999

1. Hak mendapatkan kenyamanan, keselamatan dan keamanan;

2. Hak untuk memilih;

3. Hak mendapatkan informasi;

4. Hak untuk didengarkan pendapat dan keluhannya;

5. Hak mendapatkan advokasi;

6. Hak mendapat pendidikan;

7. Hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif;

8. Hak mendapatkan ganti rugi;

9. Hak yang diatur peraturan perundangan lain. Contohnya dalam UU Kesehatan, setiap pasien mempunyai hak: mendapat informasi, memberikan persetujuan medis, rahasia kedokteran dan mendapat opini kedua (second opinion).

Saya bukannya menakut-nakuti, tetapi pelanggaran atas UUPK ini diancam dengan sanksi administrasi, denda (200 juta sampai 2 milyar) dan kurungan penjara (2-5 tahun).

Ada baiknya, setiap penerbit yang membaca posting ini mulai mempelajari UUPK ini. Sebab dengan diberlakukannya UU ini, konsumen lebih mudah menggugat pelaku usaha. Dalam UU ini 3 terobosan hukum yang menarik untuk dicermati:

1. Selain melalui pengadilan, konsumen dapat menuntut hak-haknya melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Lembaga ini semacam badan arbitrase/wasit yang menjadi penengah di dalam sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Keputusannya bersifat final. Artinya tidak bisa dibanding. Menurut UU ini, BPSK akan didirikan di setiap Daerah Tingkat II (Kota/Kabupaten). Di kota Jogja dan Jakarta Pusat (kalo tidak salah) sudah ada BPSK.

2. Gugatan Kelompok (Class Action). Jika jumlah orang yang dirugikan sangat banyak (masif), maka sekelompok orang dapat mewakili seluruh korban untuk mengungat pelaku usaha. Sebagai misal, ada produk mie instan yang meracuni ribuan orang. Menurut UU ini, sekelompok orang dapat mengajukan gugatan kepada pembuat mie instan. Hasil dari persidangan itu nanti akan berlaku untuk seluruh korban. Misalnya jika Hakim menetapkan ganti rugi 5 juta perorang. Maka setiak korban, meskipun dia tidak ikutan menggugat, dia berhak mendapat ganti rugi. Mengingat buku juga dicetak secara massal, maka ada kemungkinan untuk terjadi gugatan kelompok terhadap penerbit. Jadi harap berhati-hati.

3. Sistem pembuktian terbalik. Kalau dalam sistem acara hukum perdata ada ketentuan: "yang menggugat wajib membuktikan kesalahan tergugat", maka dalam hukum Perlindungan Konsumen justru berlaku kebalikannya. Meskipun konsumen yang menggugat, tapi penggugat tidak berkewajiban membuktikan kesalahan pelaku usaha. Justru pihak tergugat, yang harus membuktikan bahwa pihaknya yang tidak bersalah.

Ketiga terobosan ini sebenarnya diadopsi dari hukum lingkungan hidup. Di luar negeri, terutama di Amerika, ketentuan ini sudah lazim diterapkan. Masih ingat film "Erin Bro?????" yang dibintangi Julia Roberts? Kira-kira seperti itulah contoh praktisnya.

Menurut saya,sih jalan keluarnya adalah memberi satu buku sampel untuk setiap toko buku. Soal kerugian yang ditanggung penerbit terhadap buku sampel, jawabannya mudah. Masukkan saja sebagai salah satu komponen ongkos produksi. Nanti akhirnya akan ditanggung oleh konsumen juga, to?

Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Pelimpahan Kepemimpinan

Pelimpahan Kepemimpinan

Jika saya memegang lilin yang sudah sangat pendek, bagaimana caranya menjaga supaya nyala api tetap nyala? Tentu saja dengan menyalakan lilin baru yang masih panjang. Demikian juga dalam kehidupan seorang pemimpin. Sebagai manusia, kita tidak akan hidup abadi. Jika kita menghendaki oganisasi atau lembaga yang kita pimpin tetap menyala, maka kita harus meneruskan api kita kepada generasi berikutnya. Paulus menyadari hal ini. Dia tidak dapat selamanya memimpin jemaat. Kelemahan fisiknya suatu saat akan menghambat keleluasan aktivitasnya. Meminjam lagu band Serius, "Pengkhotbah juga manusia." Dia punya berbagai keterbatasan. Paulus menyadari hal ini. Itu sebabnya, sebagai pemimpin jemaat, ia telah menyiapkan calon pemimpin yang akan menggantikan dirinya.

Dia memilih Timotius sebagai salah seorang penggantinya. Ia melimpahkan tugas selanjutnya kepada seorang muda.

Untuk tujuan itu, Paulus mempersiapkan Timotius dengan berbagai kemampuan dan kecakapan, sehingga diharapkan mampu menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari. Cara yang dipakai Paulus untuk menyiapkan Timotius adalah dengan membimbingnya setiap hari, dengan cara memberikan teladan. Selama beberapa tahun, Timotius mengikuti kemana pun Paulus pergi. Setiap hari Timotius melihat dan belajar bagaimana Paulus berkhotbah, bagaimana Paulus mengajar jemaat, bagaimana Paulus memimpin jemaat, bagaimana Paulus bersaat teduh dengan Tuhan dan sebagainya. Dengan setiap hari melihat itu, Timotius pun perlahan-lahan belajar untuk melakukan hal yang serupa.

Ada sebuah cerita yang menarik tentang cara belajar dengan melihat ini. Kalian tentu sudah mengenal Albert Einstein yang jenius itu 'kan? Ceritanya, dia punya seorang sopir pribadi yang selalu mengantar Einstein kemana pun dia pergi. Sopirnya ini punya semangat belajar yang tinggi. Jika Einstein memberikan kuliah, dia ikut duduk di dalam kelas dan mendengarkan kuliah yang diberikan Enstein. Jika Einstein menjadi pembicara seminar, dia pun ikut mendengarkan. Einstein kadang mengajak sesama ilmuwan ikut dalam mobilnya. Di dalam mobil itu, Enisten dan temannya sering mengobrol tentang ilmu-ilmu fisika. Sopir ini selalu mendengar dengan cermat.

Demikianlah, karena sudah sering ikut mendengarkan ceramah Einstein, lama-lama sang sopir ini bisa menghapal dan memahami teori relativitas yang diciptakan oleh Albert Einstein.

Suatu hari, Albert Einstein diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar di luar kota. Pada waktu itu, Einstein belum begitu populer. Belum banyak orang yang mengenal wajah Einstein. Dalam perjalanan ke tenpat seminar, tiba-tiba timbul ide eksentrik dalam pikiran Einstein. Dia bertukar tempat dengan sopir. Einstein yang menjadi sopir dan Sopir itu yang menjadi Einstein.

Setibanya di tempat seminar, dengan kepercayaan yang tinggi sang sopir segera menuju ke meja pembicara. Dengan lancar dia menguraikan teori relativitas. Tamu-tamu yang mengira sopir ini adalah Eisntein beneran, terkagum-kagum dengan uraian tadi.

Lalu, tibalah pada acara tanya jawab. Beberapa pertanyaan ringan dapat dijawab oleh Enistein gadungan itu dengan mudah. Lalu, ada seorang profesor yang sudah tua. Ilmunya sangat tinggi. Dia mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sulit.

Einstein gadungan ini kebingungan harus menjawab apa. Dia belum menguasai teori untuk menjawab pertanyaan sulit itu. Keringat dingin mulai keluar dari badannya. Semua mata peserta seminar tertuju kepadanya. Mereka ingin tahu jawaban yang diberikan. Einstein segera memutar otaknya. Tiba-tiba muncul ide cemerlang. Dia berkata, "Pertanyaan profesor ini sebenarnya mudah saja. Bahkan sopir saya bisa menjawabnya. Saya persilakan sopir saya untuk menjawabnya," kata Einstein gadungan ini sambil menyerahkan mikropon kepada Eisntein yang asli.

Sopir Einstein ini bisa menguasai teori-teori relativitas karena dia bergaul lama dengan Albert Einstein. Demikian juga Timotius. Karena bergaul lama dengan Paulus, maka Timotius pun dapat menyerap ilmu-ilmu kepemimpinan dari Paulus.

Ketika Paulus merasa bahwa Timotius sudah siap menjadi pemimpin, maka langkah pertama yang dilakukan oleh Paulus adalah memberikan pengumuman atau memprokalamasikan terpilihnya Timotius menjadi pemimpin.

Ayat-ayat yang kita baca tadi menjadi semacam pernyataan bahwa Timotius ditetapkan menjadi pemimpin yang akan melanjutkan tugas Paulus. Pernyataan secara terbuka ini penting dilakukan karena di dalam lingkungan jemaat sendiri ada orang-orang yang menentang kemimpinan Paulus. Dan ada kemungkinan nantinya ada juga yang menentang kepemimpinan Timotius.

Untuk menguatkan posisi kepemimpinan Timotius, maka Paulus menegaskan bahwa sejak semula Timotius telah dinubuatkan untuk menjadi pemimpin. Dengan demikian, pemilihan ini bukan semata-mata keinginan Paulus saja, tetapi juga sesuai dengan kehendak Allah.

Apakah Paulus cukup menyatakan Timotius sebagai pemimpin? Ternyata tidak. Selain memberikan pernyataan kepada semua orang, Paulus juga memberi nasihat kepada calon penggantinya itu agar tetap setia terhadap kehendak Allah yang dinyatakan untuk hidupnya. Selaku gembala dan penilik gereja, dia harus tetap setia kepada iman rasuli dan berjuang melawan ajaran palsu yang mulai menyusup ke dalam gereja.

Tugas ini cukup berat, karena Timotius mendapat tentangan dari dua orang yang bernama Aleksander dan Himeneus. Kedua orang ini mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam jemaat. Ajaran palsu yang mereka sebarkan sudah menjalar seperti penyakit kanker. Dia sudah menyebar dan menggerogoti tubuh Kristus yaitu jemaat. Menyadari bahwa hal ini sangat berbahaya, maka Paulus telah menyerahkan mereka kepada Iblis. Yang dimaksud diserahkan kepada Iblis adalah tindakan disiplin gereja. Tujuannya supaya orang tersebut bertobat dan menemukan iman sejati dalam Kristus. Mereka dikucilkan dari jemaat, supaya mereka tidak mempengaruhi anggota jemaat lainnya.

Sebagai manusia biasa, Paulus memiliki keterbatasan. Dia tidak dapat mengurusi semua jemaat satu-persatu. Itu sebabnya Paulus berbagi tugas dengan Timotius. Paulus memberikan tugas kepada Timotius untuk mengurusi jemaat di Efesus. Dengan demikian, beban pekerjaan Paulus menjadi lebih ringan. Ada sebuah cerita tentang pembagian tugas ini.

Dalam sebuah kotak peralatan tukang kayu, alat-alat yang ada di dalamnya sedang mengadakan rapat. Rapat itu dipimpin oleh martil/palu. Akan tetapi alat-alat yang lain memprotes. Alasannya karena Palu itu selalu bikin ribut. Kalau dia bekerja sering menimbulkan suara yang gaduh. Bahkan mereka mengusir Palu dari ruang pertemuan itu.

"Oke, kalau kalian menghendaki aku keluar dari tempat ini, aku akan keluar dari tempat ini" kata Palu dengan suara yang tinggi. Dia merasa marah, "tapi aku juga menuntut si Paku juga keluar dari tempat ini. Menurutku dia terlalu pemalas. Dia tidak mau bergerak kalau tidak aku dorong-dorong dan aku pukul-pukul."

Paku bangkit dari tempat duduknya dengan muka merah. "Baik. Aku juga mau keluar dari tempat ini. Tapi aku juga menuntut supaya si Ketam juga ikut keluar dari tempat ini. Menurutku, pekerjaannya hanya baik di permukaan saja. Dia tidak mengerjakan bagian-bagian yang tidak kelihatan."

Si Ketam ikut naik pitam. "Kalau kalian mengusir aku keluar dari ruangan ini, maka aku juga menuntut supaya Penggaris juga ikut keluar. Kerjaannya hanya mengukur-ukur. Seolah-olah dia yang paling benar."

Penggaris langsung menuding Kertas Amplas, "Kalau begitu, kertas Amplas juga harus ikut keluar dari ruangan ini. Ia bertindak terlalu kasar. Ia selalu menjengkelkan hati."

Suasana perdebatan semakin panas. Tiap alat pertukangan saling berteriak. Tiba-tiba masuklah tukang kayu. Dia mulai bekerja. Satu persatu alat dipergunakannya. Mulai dari penggaris, ketam, palu, paku hingga kertas amplas. Beberapa jam kemudian, tukang kayu itu telah menyelesaikan sebiah mimbar yang indah, yang dapat dijadikan untuk mewartakan firman Tuhan.

Alat-alat pertukangan itu tidak dapat bekerja sendirian. Dia harus bekerja dengan alat lain untuk menciptakan karya yang indah. Demikian juga kita. Di dalam melayani Tuhan, kita sebaiknya tidak bekerja sendirian. Kita adalah manusia yang terbatas. Kita membutuhkan orang lain.

Demikian juga seorang pemimpin. Dia tidak selamanya menjadi pemimpin. Ada waktunya dia harus menyerahkan api kepemimpinan itu kepada penerusnya. Untuk itu, selama masa kepemimpinannya, dia sudah harus menyiapkan calon pemimpinnya. Ada ucapan menarik tentang penyiapan pemimpin, yang dikatakan oleh Becky Brodin. Becky Brodun mengatakan:

"Kepemimpinan bukanlah menggunakan kewenangan, melainkan memberdayakan orang-orang"

Dalam mengomentara kata-kata ini, John Maxwell menulis demikian, "Terlalu banyak pemimpin membuat kekeliruan berpikir bahwa ketika mereka mencapai puncak, itu berarti mereka dapat menggunakan posisi dan kekuasaan mereka untuk memaksakan perilaku tertentu kepada para bawahannya."

"Kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan. Kepemimpinan adalah soal memberikan kekuasaan kepada orang-orang di bawah Anda. Kepemimpinan adalah soal memberikan peralatan yang mereka butuhkan untuk melaksanakan pekerjaanya."

Sementara itu, Andrew Carnegie memberikan tambahan pengetahuan kepada kita tentang perilaku pemimpin yang baik. Andrew carnegie mengatakan, "Seseorang yang ingin melakukan segala sesuatu sendirian, atau memonopoli pujian untuk dirinya sendiri, maka dia tidak akan pernah menjadi diri sendiri."

John Maxwell setuju dengan pendapat Andrew Carnegie. Dia mengatakan, "Kepemimpinan, kalau dilihat dari definisinya, tak mungkin menjadi pertunjukan satu orang. Kalau saya tidak memiliki kerendahan hati dan kemauan untuk memuji orang lain, serta mengakui kesuksesan mereka, maka kepemimpinan saya sangat lemah. Kalau ego saya demikian besarnya, sehingga saya ngotot memonopoli sambutan, perhatian dan penegasan, maka calon-calon mitra saya akan meninggalkan saya."

Di dalam sebuah organisasi, regenerasi atau pergantian kepengurusan adalah hal yang biasa dan harus terjadi. Apalagi dalam organisasi remaja. Perjalanan waktu yang tidak dapat dihentikan akan memaksa pengurus remaja untuk menanggalkan jabatannya karena dia sudah tidak remaja. Dia sudah menjadi pemuda dewasa dan siap mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Itu sebabnya, dalam sebuah organisasi, pengurusnya harus selalu menyiapkan calon-calon pemimpin berikutnya. Teladanilah Paulus. Dia sudah menyiapkan calon pemimpin penggantinya. Sementara itu, bagi generasi yang lebih muda, jadilah seperti Timotius. Dia memakai waktu selama bergaul dengan Paulus sebagai kesempatan untuk belajar dan menyiapkan diri menjadi pemimpin. Ketika tiba waktunya untuk memimpin, Timotius menerima tugas itu dengan sukacita dan penuh dengan tanggung jawab.

*) Renungan ini pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam kebaktian Remaja GKI Klaten, Jateng.


-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Janji

Janji

Cukup lama Nasrudin menabung supaya bisa memiliki baju baru. Suatu hari dia membawa kain kepada tukang jahit. Setelah mengukur badan Nasrudin, tukang jahit berkata, "kembalilah seminggu lagi. Insya Allah, bajumu sudah selesai dijahit."

Seminggu kemudian, Nasrudin mendatangi tukang jahit kembali.

"Maaf, bajumu belum selesai dijahit. Tapi, insya Allah besok sudah jadi."

Keesokan harinya, Nasrudin datang lagi. "Sekali lagi, maaf," kata tukang jahit,"sedikit waktu lagi akan selesai. Cobalah besok datang lagi. Insya Allah bajumu betul-betul sudah selesai."

Nasrudin menjadi gusar. Menurutnya, penjahit ini sudah keterlaluan. Nasrudin berkata dengan gemas, "Berapa lama sih waktu yang kau butuhkan untuk menjahit baju ini seandainya tanpa membawa-bawa nama Allah?"

Saya punya pengalaman yang serupa. Suatu kali saya ingin menggandakan dan menjilidkan naskah buku pada jasa fotokopi. Pegawai jasa fotokopi meminta waktu 5 hari untuk mengerjakan pesanan itu. Menurut saya itu terlalu lama. Di tempat lain, pesanan saya bisa dikerjakan hanya dalam 2 hari. Meski begitu, saya setuju. Lima hari kemudian, saya datang ke tempat itu. Ternyata pesanan saya belum diapa-apakan! Sampai sekarang, saya belum mengambil hasil pesanan saya itu.

"Janji" merupakan aspek yang krusial dalam bisnis. Setiap perusahaan selalu memiliki janji kepada para stake-holder-nya. Janji laba kepada pemegang saham; janji gaji dan fasilitas lainnya kepada karyawan; janji produk bermutu kepada konsumen; janji bunga kepada bank; janji kelestarian pada lingkungan dll.

Sayangnya, saat ini banyak pelaku usaha yang senang mengobral janji, tapi gagal dalam menepatinya. Gagal menepati janji melunasi utang; gagal menepati janji yang disampaikan dalam iklan; gagal menepati janji memberikan gaji di atas UMR; gagal menepati janji berkompetisi sehat; gagal menepati janji tidak mencemari lingkungan.

Semua itu terjadi karena sebagian besar pengusaha masih belum menghormati etika bisnis. Etika bisnis memang masih terdengar asing di telinga kita. Hal ini bisa dimengerti karena gagasan tentang etika bisnis memang lebih dulu berkembang pesat di negara Barat. Di sana, setiap perusahaan besar biasanya merumuskan nilai-nilai dan kode etik perusahaan. Setiap keputusan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh perusahaan harus lebih dulu merujuk kepada rumusan etika perusahaan ini. Jika ternyata rencana tersebut bertentangan dengan nilai dan etika perusahaan, maka harus direvisi.

Di sini, praktik seperti ini belum menjadi kebiasaan. Jangankan membuat aturan untuk diri sendiri, lha wong aturan yang dibuat oleh negara dan disertai dengan seperangkat sanksi saja masih sering dilanggar, kok. Meski begitu, dalam era globalisasi ini dunia usaha tidak dapat berkelit dari perkembangan dunia. Jika dunia usaha ingin menang dalam persaingan global, maka mereka harus memahami dan menghormati etika bisnis.

Lanskap etika bisnis itu sangat luas dan mencakup banyak hal. Namun setidaknya, kita dapat merangkumnya menjadi tiga apek yang disingkat menjadi 3R: (1). RESPECT (Rasa Hormat). Rasa hormat patut diberikan oleh perusahaan kepada orang-orang, sumber daya (resources) perusahaan dan lingkungan. Sebagai contoh:

· Memperlakukan setiap orang (konsumen, karyawan, pemasok dll) dengan penuh hormat, bermartabat dan kesantunan.

· Menggunakan persediaan, peralatan, waktu dan uang perusahaan dengan tepat, efesien dan hanya untuk kepentingan bisnis.

· Melindungi dan memperbaiki lingkungan kerja, serta menghormati hukum peraturan yang melindungi bumi dan kehidupan kita.

(2). RESPONSIBILITY (Tanggung Jawab). Setiap perusahaan mengemban tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan dan komponen stake holder lainya. Sebagai contoh:

· Menyediakan barang dan jasa berkualitas tinggi.

· Bekerja sama, saling membantu dan berbagi beban pekerjaan.

· Memenuhi semua standar yang ditetapkan dan menambahkan nilai lebih (added value).

(3). RESULT (Hasil). Dalam bisnis, hasil (atau lebih tepatnya disebut laba) merupakan ukuran keberhasilan sebuah perusahaan. Meski begitu, dalam upaya menghasilkan laba ini, perusahaan tersebut wajib melakukannya secara legal dan bermoral.

Dengan berpatokan kepada tiga aspek tersebut, maka perusahaan tersebut akan dapat menepati janji-janjinya kepada para stake holder. Ingatlah pada pepatah, "janji adalah utang." Semakin lama menunda pelunasannya, maka semakin besar bunga yang harus ditanggungnya.

Purnawan Kristanto


* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Protes: Buku Jangan Diplastiki!

Sebagai konsumen, saya mau protes kepada penerbit. Jika saya mengunjungi toko buku, hampir semua buku yang dipajang dibungkus dan disegel dengan plastik. Akibatnya saya tidak bisa membaca isinya sebelum membelinya. Tadinya saya pikir hanya di toko buku Toga Mas saja yang diplastikin. Saya belum begitu ambil pusing, karena toh sudah dikompensasi dengan diskon yang lumayan gede [meskipun kalo datang di siang hari, saya sering protes dalam hati karena puaaaaanaaaas!]. Tapi, ternyata di toko buku yang lain pun juga berbuat serupa. Beberapa bulan yang lalu, Gramedia masih memajang buku yang tidak dibungkus plastik sebagai buku contoh untuk dibaca. Akan tetapi hari kemarin (26 Okt), aku datang ke Gramedia Jogja, ternyata hampir 80% bukunya dibungkus dengan plastik. Ketika saya meminati sebuah buku, saya kecewa karena tidak menemukan buku yang tidak dibungkus plastik.

Menurut UU Perlindungan Konsumen, konsumen memiliki hak atas informasi. Konsumen membutuhkan informasi yang benar dan dalam jumlah yang memadai sebagai dasar pengambilan keputusan dalam membeli sesuatu. Dalam hal ini, penerbit buku berarti telah melanggar hak-hak konsumen. Saya sebagai konsumen membutuhkan informasi tentang kualitas buku itu sebelum saya membelinya. Jika tertarik pada sebuah buku, pertama-tama saya akan membaca informasi di back cover. Setelah itu, saya membuka daftar isi buku itu. Jika kelihatannya sesuai dengan kebutuhan saya, maka saya akan membaca beberapa paragraf yang saya minati. Apakah penuturannya baik, lancar dan logis. Setelah itu mengamati kualitas cetaknya. Apakah terlihat jelas atau samar-samar. Setelah itu, jika sempat saya akan mengecek kelengkapan buku tesebut (jumlah halaman, lampiran-lampiran, CD/Disket yang disertakan--untuk majalah komputer).

Nah, jika buku tersebut dibungkus dengan plastik, bagaimana saya bisa melihat kualitas buku tersebut. Apakah saya hanya mengandalkan informasi dalam backcover, yang kadangkala agak bombastis itu? Bagaimana kalau kualitas cetaknya kurang bagus? Bagaimana kalau jumlah halamannya kurang? Memang sih, ada penerbit yang bersedia menukar buku yang cacat dengan buku yang lebih bagus. Tapi pembeli 'kan sudah dirugikan secara waktu dan ongkos untuk menghubungi penerbit!

Saya tidak tahu motivasi apa yang mendorong penerbit untuk membungkus buku dengan plastik. Apakah mereka tidak suka karena banyak orang yang hanya numpang baca buku mereka di toko buku, tapi akhirnya tidak jadi beli? Saya teringat ketika gedung Gramedia masih kecil dan masih jadi satu dengan gedung Bentara Budaya, Jogja. Suasananya sangat akrab. Ada banyak anak-anak kecil yang cekikan di pojokan rak komik. Mereka asyik membaca tanpa diusir oleh penjaga tojo atau satpam. Kemudian di sela-sela rak, kadang saya menemui mahasiswa yang duduk di lantai sambil menyalin beberapa bagian dari buku yang dipajang di sana. Mungkin mahasiswa itu tidak punya uang untuk beli buku. Tetapi suasana itu semakin hilang. Gramedia sudah sangat angkuh. Kalau ada orang yang jongkok di sela-sela rak buku, pasti ditegur oleh pegawainya, Anak-anak juga sudah menghilang di rak-rak buku untuk anak-anak.

Kemungkinan yang lain, penerbit membungkus bukunya supaya bukunya tidak rusak. Bisa jadi ini keputusan yang logis dan bisa dimengerti. Tapi apakah tidak ada cara lain yang dapat menghindari kerusakan buku? Misalnya dengan memberika lapisan tertentu pada cover, penjilidan yang kuat, cara pemajangan yang hati-hati dll.

Saya melihat ada cara elegan yang bisa menjadi jalan tengah. Sambil menunggu boarding, saya iseng-iseng mampir di toko buku 'Periplus' di bandara. Buku-buku yang dipajang disana hampir semuanya dibungkus plastik. Meski begitu, pihak toko memasang tulisan menyolok dalam bahasa Inggris. "Jika Anda ingin membaca isi buku, dengan senang hati kami akan membubakan bungkus plastiknya." Andaikata pun pengunjung urung membeli buku yang sudah dibuka itu, mereka tidak menunjukkan muka masam, apalagi ngedumel.


Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More