Rabu, 19 Oktober 2005

SEANDAINYA ESTER TIDAK BERPOLITIK

Politik itu kotor! Demikian anggapan sebagian besar orang Kristen. Selama ini masih ada anggapan bahwa politik adalah upaya seseorang atau sekelompok orang untuk memaksakan kepentingannya dengan segala cara. Entah itu dengan tipu muslihat, mengorbankan orang lain atau dengan kekerasan. Mungkin itulah sebabnya mengapa hanya sedikit orang Kristen yang mau terjun ke dunia politik.

Benarkah anggapan ini? Mungkin kita dapat belajar dari Ester, sang Ratu itu. Waktu itu, Israel berada di masa pembuangan. Adalah seorang pembesar yang mendapat kekuasaan besar dari raja Ahasyweros. Namanya Haman. Dia begitu membenci orang Israel, termasuk kepada Mordekhai, orang Yahudi yang berjasa menyelamatkan raja dari rencana pembunuhan. Haman berencana membantai semua orang Yahudi. Mengetahui rencana busuk ini, Mordekhai membujuk Ester--satu-satunya orang Yahudi yang memiliki akses ke pusat kekuasaan--agar memberitahukan hal ini pada raja.

Bayangkan seandainya Mordekhai dan Ester enggan berpolitik. Maka punahlah seluruh bangsa Israel. Meski sama-sama berpolitik, namun Mordekhai dan Ester masih mengindahkan nilai-nilai moral, sedangkan Haman tidak. Mordekhai dan Ester berpolitik demi kepentingan orang banyak, sedangkan Haman berpolitik demi kemuliaan pribadinya.

Orang Kristen perlu berpolitik! Bukan berpolitik demi kepentingan dirinya sendiri ataupun kepentingan orang Kristen, melainkan untuk memperjuangkan kesejahteraan umat manusia. Jika saat ini mendapat kedudukan yang strategis, seperti Ester, manfaatkan itu untuk menyelamatkan bangsa ini. "Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang [Indonesia] akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, ...Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai....(Isi kedudukan Anda saat ini)

Seandainya pun kita hanya orang Kristen "biasa", Anda masih bisa mengubah nasib bangsa ini dengan tetap bersikap kritis terhadap segala situasi yang ada di Indonesia. Kita dapat melakukan aksi-aksi penyadaran politik dari lingkungan di sekitar kita. Misalnya dalam perbincangan di warung-warung kopi, lapo dan angkringan, kita dapat menyelipkan penyadaran kritis di
dalamnya. Cara lain yang paling efektif adalah menulis di Surat Pembaca.
Sebagai contoh, jika saya menemui ketidak-beresan dalam pelayanan publik, saya sering menulis surat pembaca. Pernahkah kita peduli pada banyaknya fasilitas Telepon Umum yang rusak dan tidak terawat? Karena berdalih sudah banyak wartel, maka Telkom merasa tidak punya tanggung jawab lagi memelihara fasilitas telepon umum. Pengawasan kinerja para birokrat juga perlu kita soroti, supaya mereka tidak bekerja seenaknya saja karena merasa menjadi golongan priyayi. aya salut pada bung Darsum yang berani melabrak pak Polisi ketika mereka minta suap/sogok.

Kalau orang Kristen berdiam saja dan apolitis, maka dapat saja pertolongan itu datang dari pihak lain. Andaikata pihak lain itu adalah kelompok orang-orang yang senang menutup gereja....iiiiihhh ngeriiii!

"Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (Ester 4:14)

----------------------------------------
Komentar:
From: "Ang Tek Khun" <kairos@....net.id>

Mas Wawan ini kurang jeli ato kura2 dalam perahu seh :)
Siapa bilang orang Kristen tidak berpolitik?
Justru politik di dalam gereja termasuk level/kategori tingkat tinggi lo...

khun

Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It