Rabu, 19 Oktober 2005

Rumput Gereja Tetangga Lebih Hijau

Dalam milis Komunitas Penjunan Martha Pratana menuliskan kegelisahannya tentang persaingan antar gereja. Dia menulis ada kegelisahan di antara gereja karena khawatir "domba-dombanya" mencicipi rumput di tempat yang baru itu dan akhirnya kerasan karena ternyata memang rumputnya di sana lebih segar, lebih bergizi dan lebih hijau........" Dan sedihnya juga, sebagian domba memang domba yang nakal,suka ganti-ganti gembala jika dirasa gembalanya ga menyenangkan
hatinya" demikian tulis Martha.

Meminjam istilah denmas Arie, "rumput tetangga memang lebih hijau dan segar.....tapi rekening airnya juga besar." Tul, juga. Lha untuk menumbuhkan "rumput yang lebat" 'kan butuh biaya dan tenaga, to. Lalu darimana asal biaya dan tenaga itu? Kalau untuk gereja, sumber pemasukan ya dari persembahan.... Nah saya tidak akan melanjutkan pangudarasa ini, soalnya dapat menjurus ke arah sinisme. Tapi, sebagai 'clue' dalam ilmu ekonomi ada istilah, "tidak ada makan siang gratis."

Suatu kali saya bertemu dengan Yusuf Roni di Jogja [Kalo dia ke Jogja, yang menjemput dan mengawalnya adalah mahasiswa IAIN]. Dia berkomentar soal pertumbuhan gedung gereja yang marak di kota-kota besar. Menurut pengamatannya, biasanya sebuah jemaat berani 'membuka' sebuah jemaat/gereja baru jika di sekitar tempat situ sudah ada gereja. Lalu dengan kritis dia berkata, "Coba tanya kepada mereka, berani nggak mereka membangun gereja di tengah-tengah masyarakat yang belum ada orang Kristennya. Berani nggak mereka membuka gereja baru di Aceh atau di Padang sana?"

Soal perpindahan jemaat, menurut saya sih merupakan gejala yang bagus. Itu menandakan mulai adanya keterbukaan terhadap hal-hal yang baru. Saya justru senang melihat orang Kristen yang beribadah berpindah-pindah. Dengan begitu,
dia tidak mengenakan kacamata kuda, yaitu doktrin yang diterima dari satu gereja. Meski begitu, memang ada satu prasyarat yang harus dimiliki yaitu kedewasaan rohani dan daya kritis. Ada beberapa hal doktrin tertentu yang tidak dapat dikompromikan. Misalnya tentang Keselamatan. Sedangkan soal doktrin-doktrin pinggiran, seperti apakah kalau memuji Tuhan harus bertepuk tangan, menari atau tenang, semuanya itu dikembalikan kepada pilihan pribadi. Dalam hal ini tidak ada kebenaran absolut.

Saat bekerja di majalah rohani, saya memiliki kesempatan mengikuti ibadah berbagai denominasi. Jika kita mengikuti dengan dengan open mind dan open heart, ternyata asyik juga. Saya mendapatkan sukacita yang luarbiasa saat ikut bernyanyi, bersorak dan berjingkrak-jingkrak [sekalian olahraga]. Saya merasakan kesejukan saat mendengarkan khotbah romo Sindhunata dalam Misa Requiem untuk romo Dick.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It