Rabu, 19 Oktober 2005

Kata mas Zaim, Pemimpin itu dilahirkan

Siang ini aku menjelajahi seluruh channel TV, tapi tidak ada yang pas di hati. Kalau isinya bukan sinetron yang ceritanya mudah ditebak, ya acara infotainment [yang katanya berita tapi isinya gosip melulu]. Sekarang ini ditambah lagi dengan sinetron yang berlabel keagamaan tapi isinya tentang hantu dan takhayul. Yang rohani cuma di awal atau di akhir cerita doang. Selebihnya tentang dunia perklenikan.
Maka sampailah aku di ujung channel, yaitu saluran TVRI. Wilayah ini jarang aku kunjungi. Tapi hari ini aku menemukan sesuatu yang menarik, yaitu kemunculan temanku di layar kaca. Panggilannya "Oji", tapi nama lengkapnya Fahrurozi.
Melihat penampilannya yang semakin tambun, aku lalu teringat pertemuan kami sekitar setengah tahun yang lalu di hotel Radison.  Sudah lama kami tidak berjumpa. Pertemuan kami yang terakhir adalah di lapangan parkir hotel Sheraton. Waktu itu, aku sedang meliput acara sidang ICRP, dan Oji mengurus penjualan buku di sana.
Dulu kami sering bertemu pada acara-acara yang diselenggarakan oleh LSM. Lucunya, kami malah sering bertemu di luar kota. Seperti di Jakarta, Bogor atau Surabaya.
Ketika bertemu lagi di hotel Radison, kami saling menanyakan kabar. Oji menceritakan pengalaman lucu ketika kos selama beberapa waktu di Jakarta. Dia menyewa kamar kos milik seseorang yang punya hubungan dekat dengan Prabowo Subiyanto. Seusai Soeharto lengser, rumah ternyata diawasi oleh pihak intelijen. Suatu kali, ada orang asing yang datang ke tempat itu. Pihak intelijen yang sudah lama curiga, segera menggerebek tempat itu. Oji yang tidak tahu apa-apa ikut juga diangkut ke markas mereka. Di sana dia ikut diinterogasi juga. Untunglah, dia akhirnya dilepaskan.
Bincang-bincang itu kami teruskan di lounge hotel sambil makan siang.  Tak berapa lama, muncul Zaim Saidi. Kami memanggilnya mas Zaim. Dia termasuk aktivis LSM yang cukup senior. Tulisan-tulisannya sering muncul di harian Republika, Tempo dan Gatra.
Bergabungnya mas Zaim, mengubah topik pembicaraan tentang situasi politik Indonesia. Mas Zaim melontarkan sebuah gagasan yang aneh.  Dia menganjurkan supaya Yogyakarta memerdekakan diri saja. Pada mulanya kami tidak menanggapi dengan serius, namun rupanya dia bersungguh-sungguh dengan gagasan itu. Menurut mas Zaim, sistem demokrasi yang ada sekarang ini tidak mampu mengatasi persoalan yang membelit bangsa ini. Sisten demokrasi yang berlaku sekarang ini tidak lebih dari sebuah permainan cukong atau pemilik modal belaka.  Penguasa yang memegang pemerintahan saat ini lebih condong merepresentasikan kepentingan pemodal, daripada kepentingan rakyat. Dia mengajukan bukti bahwa sebagian besar pemimpin politik selalu didukung oleh orang-orang yang memiliki uang banyak. Hanya sedikit, jika tidak dapat dikatakan tidak ada, pemimpin yang berbasis pada dukungan rakyat. Jika pun ada, kekuatannya tidak begitu berarti karena dia tidak memiliki dukungan sumber daya.
Itu sebabnya, mas Zaim memandang perlu muncul seorang pemimpin yang mampu bertindak tegas atas nama rakyat.  Pemimpin ini harus memiliki dorongan untuk membela kepentingan rakyat. Dia sudah tidak punya pamrih untuk kepentingan dirinya lagi. Dalam hal ini, Sultan Jogja memenuhi syarat itu. Dia lalu mengambil model kepemimpinan pada kekhalifahan Arab. Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang tegas dalam memberantas kejahatan dan menegakkan hukum. Pemimpin tidak harus dipilih, karena sebenarnya pemimpin itu dilahirkan. Menurut mas Zaim, pemimpin itu merupakan sebuah wahyu illahi.
Mendengar penuturannya, aku agak terperangah. Bagaimana tidak? Mas Zaim termasuk jajaran vokalis yang berani menyuarakan isu-isu demokratisasi ketika Seoharto masih berjaya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Dia sepertinya sudah kehilangan kepercayaan lagi pada nilai-nilai demokrasi. Apakah mas Zaim sudah terlalu frustasi dengan situasi saat ini?
Diskusi lalu berlanjut tentang sistem mata uang. Dia juga melontarkan gagasan yang kontroversial. Sebenarnya saya sudah pernah membaca tulisannya tentang hal ini. Namun dengan mendengar langsung paparan dari mulutnya sendiri, saya bisa membayangkan betapa dia sungguh-sungguh meyakini pendapatnya. Dia melontarkan gagasan untuk mengganti mata uang kertas sekarang ini dengan dinar dan emas.
Menurutnya, anjloknya nilai rupiah saat ini sebenarnya ulah dari pemilik modal di negara Barat. Kita menjadi bulan-bulanan para spekulan itu. Karena itu dia menganjurkan supaya mengganti sistem mata kertas dengan sistem nilai tukar yang berlaku pada zaman nabi Muhammad. Dalam hal ini, nilainya selalu tetap.
Dari ruang rapat, terdengar suara panitia yang mengundang peserta seminar supaya segera memasuki ruangan. Aku segera menyelesaikan makanku. Selama sessi berikutnya, aku lebih banyak merenungkan perbincangan tadi. Situasi bangsa ini memang memerlukan sumbangan pemikiran untuk memberikan solusi yang terbaik. Sah-sah saja kalau ada warga bangsa yang menawarkan solusi yang dijiwai oleh nilai-nilai spiritualitas yang diyakininya. Yang mengganggu pikiranku adalah, adakah pemikir-pemikir lain yang dijiwai oleh semangat kasih Kristus?


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It