Minggu, 23 Oktober 2005

Wisata Kuliner Teh

Saya dan isteri saya termasuk penggemar teh. Setiap kali mencoba masakan sebuah warung makan, biasanya kami memesan teh yang puaaaanas. Setelah menyeruput beberapa teguk, kami kemudian memberikan nilai pada teh yang disajikan. Kami memberikan nilai A, jika teh tersebut terasa sepat, harum bunga melati, berwarna kuning bening dan kental. Nilai B diberikan jika salah satu unsur tersebut tidak ada. Nilai C jika kehilangan dua unsur penilaian. Dan diberi nilai D jika teh yang terasa pahit dan berwarna merah menyala. Minuman seperti ini hasil seduhan dari teh yang berasal dari batang atau daun teh yang sudah tua. Sedangkan warna merah bukan dihasilkan dari dalam teh itu, melainkan dari hasil pewarnaan [cilakanya, ada yang menggunakan pewarna tekstil yang karsinogenik].

Dari hasil wisata kuliner di kota Klaten, ada dua warung makan lesehan yang menyediakan teh dengan nilai B. Pertama, nasi uduk di jl. Pemuda. Kedua, tempe penyet di daerah Tambakan. Namun secara pribadi, saya memberikan nilai plus kepada warung tempe penyet karena menyajikan teh menggunakan poci dan cangkir dari tanah liat. Pemilik warung sudah memasukkan sebongkah gula batu ke dalam cangkir kecil dari tanah liat. Pembeli dipersilahkan menuangkan sendiri teh ke dalam cangkir itu. Gula batu yang terbenam dalam teh itu tidak segera larut semuanya, sehingga dapat dinikmati sedikit demi sedikit. Orang di sini biasa menyebut gula batu itu seperti 'kebo njerum' atau kerbau yang sedang berendam.

Sementara itu, di pinggiran Jogja ada satu warung soto yang juga menyajikan teh yang cukup enak. Letaknya 10 km dari kota Jogja. Persisnya di belakang Puskesmas Payak. Saya memberikan nilai A kurang dikit untuk sajian teh mereka. Menurut pemilik warung, rahasianya adalah selalu menyeduh teh dengan menggunakan air yang mendidih. Setiap tamu disuguhi satu poci teh yang baru saja diseduh. Kalau kita langsung menyeruput begitu saja, pasti akan kepanasan. Rahasia lainnya adalah memasak air menggunakan kayu bakar. Entah benar atau tidak, tetapi kayu yang terbakar dapat menciptakan aroma khas yang tidak dapat ditandingi oleh kompor minyak, kompor gas ataupun batubara.

Jika mengendarai sepeda motor dari Wonosari ke Jogja, saya selalu menyempatkan diri mampir di sana. Kombinasi antara sensasi panas dan kafein mampu menyegarkan kembali konsentrasi otak, sehingga saya dapat mengendarai motor dengan kewaspadaan.

Belakangan ini, saya baru ingat. Sebenarnya di kota kelahiranku, yaitu di Wonosari juga ada beberapa sajian teh yang cukup nikmat juga. Kalau tidak salah, salah satunya adalah lesehan pak Wariyo yang ada di daerah terminal. Di situ kita bisa duduk lesehan semalaman sambil menyeruput sajian teh poci sedikit demi sedikit. Kalau lapar, kita bisa memesan nasi opor ayam. Saya kurang tahu, apakah tempatnya masih di situ atau tidak.

Sedangkan di daerah Semanu, dari Wonosari ke arah Timur sekitar 7 km, ada lagi warung makan yang menyajikan teh dengan nilai B.

Warung ini cukup istimewa karena juga menyajikan menu nasi merah, sayur cabe, gudeg daun pepaya dan lauk daging sapi (iwak empal). Di kalangan pejabat, warung yang berdinding bambu ini sangat terkenal. Tak kurang Guruh dan Sultan HB X pernah mampir ke sana. Nah, hari Sabtu (22 Okt), saya sempatkan untuk mampir ke sana bersama isteri saya dan dua orang teman (empat orang). Kami menghabiskan uang 53 ribu. Bagi saya itu sepadan dengan rasa teh yang enak dan nasi merah yang makin sulit didapatkan di kota besar.

Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 22 Oktober 2005

Selamat dari Bom Bali II. . . . dan kesaksian lainnya

Hari ini (22/10/2005) aku mendapat berkat rohani yang luarbiasa melalui kesaksian yang diceritakan oleh saudara-saudara seiman. Salah satunya adalah pengalaman nyaris menjadi korban bom Bali jilid II di Jimbaran.
Sore tadi aku dan isteriku menghadiri ibadah syukur dalam rangka kehamilan tujuh bulan (mitoni: bhs Jawa). Acara ini terasa istimewa karena calon ibu yang sedang hamil itu, sudah menantikannya selama 13 tahun. Pada awal acara, pak Yoyok yang menjadi pembawa acara mengatakan, "Kalau kita mendengar ada seorang wanita yang hamil, maka semua orang akan bersukacita." Ucapan ini diamini oleh Ibu Pdt. Tanti yang membawakan renungan pada malam itu. Dia lalu memberi kesaksian bahwa ketika mengandung anak pertama, pada mulanya hati kecilnya menolak. Menurutnya, kehamilan itu terlalu cepat padahal dia dan pasangannya merasa belum mapan.  Ketika orang lain memberi ucapan selamat kepadanya, hati kecilnya sebenarnya memberontak. Dia belum siap mempunyai anak.
Hingga suatu malam, dia bermimpi melihat anak kecil berwajah bulat dan berpakaian rompi [aku langsung berpaling kepada suaminya, yang memang berwajah bulat]. Malam itu juga, dia langsung membangunkan suaminya dan berkata, "Pa, besok anak kita laki-laki!" [Usia kandungannya saat itu baru 2 bulan, sehingga secara medis belum dapat diketahui jenis kelamin bayinya]. Sejak saat itu bu Tanti menerima dan mensyukuri kehamilannya. Tiga tahun kemudian, ketika anaknya bertumbuh besar, diam-diam mendandani anaknya dengan pakaian rompi dan menyisir rambutnya ke pinggir. Setelah diamati dengan seksama, ternyata wajah anak sulungnya itu mirip dengan wajah anak dalam mimpinya itu!
 
Usai khotbah, pembawa acara juga tergerak untuk menyampaikan sebuah kesaksian yang dialami oleh adiknya. Suatu ketika adik perempuannya mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Banjarnegara. Dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Daerah. Karena mengalami benturan di bagian kepala, dia kemudian tidak sadarkan diri. Keadaannya begitu parah, sementara peralatan di RS itu sangat minim. Wanita ini harus dibawa ke Rumah Sakit dengan peralatan yang lebih baik, yaitu ke Jogja [sekitar 5 jam perjalanan]. Situasinya menjadi dilematis karena melihat kondisinya yang belum stabil, dokter tidak dapat menjamin bahwa pasien ini dapat bertahan selama perjalanan. Namun di sisi lain, jika tetap dirawat di RS itu, kondisinya juga tidak akan lebih baik. Satu-satunya cara adalah keluarga pasien 'meminta dengan paksa', kata dokter itu. Dengan demikian, RS dibebaskan dari tanggungjawab apa pun terhadap pasien itu.
Pak Yoyok memilih alternatif terakhir. Dia mengambil langkah iman dengan 'mengambil paksa' pasien itu untuk kemudian melarikannya ke RS Betesda, Jogja. Sesampai di sana, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Setelah diperiksa, diketahui bahwa wanita ini sedang hamil. Dengan melihat obat-obatan yang telah diberikan dokter setelah kecelakaan itu, maka diperkirakan bayi dalam kandungan ikut menerima efek sampingnya. Dokter menyarankan supaya setelah operasi ini, pasien segera menggugurkan kandungannya. Alasannya, janin yang dikandungnya sudah tercemar obat-obatan. Sehingga sekalipun nanti lahir dalam keadaan hidup, bayi itu akan mengalami cacat.
Operasi berjalan dengan sukes. Setelah pasien sadar, dia diberitahukan tentang kemungkinan cacat yang terjadi pada bayinya. Meski begitu, adik pak Yoyok ini memutuskan untuk tetap meneruskan kehamilannya.
Bulan demi bulan berlalu. Pasien ini sudah sembuh dari luka-luka akibat kecelakaaanya. Hingga akhirnya tiba waktunya untuk melahirkan. Dia melahirkan dengan cara yang normal. Puji Tuhan, ketika lahir, keadaan bayi menunjukkan tanda-tanda yang normal. Bayi perempuan itu diberi nama Margareta.
Tahun demi tahun berlalu, Margareta bertumbuh dewasa dan mulai bersekolah. Anugerah Tuhan begitu nyata pada anak ini. Tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan yang berarti pada anak Margareta. Malahan, Margareta selalu menjadi juara kelas dari kelas 1 SD sampai dengan kelas 2 SMP. Tuhan belum berhenti memberikan kebaikan pada Margareta. Dia menganugerahkan kekuatan otot di dalam berenang, sehingga dia menjadi juara 1 untuk lomba renang sekabupaten Banjarnegara. Akhir-akhir ini, Pemerintah Daerah Medan menawarnya supaya pindah ke sana. Mereka berjanji akan memberi bea siswa. Akan tetapi keluarganya masih pikir-pikir dulu. Saat ini, segudang piala menghiasi rumah keluarga Margareta.
 
Mendengar kesaksian ini, hati tamu-tamu yang hadir pada acara tersebut meluap dengan ucapan syukur. Di akhir acara, koh Hoho dan cik Ie yang menjadi tuan rumah pada malam itu ingin menyumbangkan pujian. Namun sebelumnya, koh Hoho menyampaikan kesaksiannya.
Dia mengucapkan ucapan syukur yang tak terkira untuk kehamilan isterinya. Mereka sudah menantikannya selama 13 tahun. Selama bertahun-tahun mereka sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keturunan, tetapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya koh Hoho dan isteri sudah sampai pada titik penyerahan diri. Sekalipun Tuhan tidak menganugerahkan anak, koh Hoho tetap akan mencintai isterinya. "Dulu sewaktu saya mengucapkan janji pernikahan, saya 'kan tidak mengajukan syarat bahwa isteri saya harus bisa hamil." kata koh Hoho sambil melirik isterinya. Cik Ie membalas dengan senyuman.
"Namun pada tahun 1997, isteri saya hamil," kenang koh Hoho, "kami tentu saja menyambutnya dengan gembira." Namun kegembiraan itu hanya bertahan selama dua bulan, karena isterinya kemudian mengalami keguguran. Saat itu koh Hoho mengalami kekecewaan yang luar biasa. Dia memprotes kepada Tuhan, "Tuhan itu bagaimana, sih? Kami sudah bertahun-tahun minta anak, tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Kami sudah berusaha segala-galanya, namun tanpa hasil. Namun ketika kami sudah tidak begitu menginginkan akan lagi, eh Tuhan membuat isteri saya hamil. Namun ketika kami sudah mulai merasa senang, Tuhan mengambilnya kembali. Saya merasa kecewa sekali pada Tuhan."
Selama bertahun-tahun koh Hoho mengalami kepahitan dengan Tuhan. Hingga pada awal tahun ini (tahun 2005), cik Ie mengungkapkan keinginannya untuk mempunyai anak lagi. Koh Hoho menuruti keinginan isterinya, namun dengan perasaan yang dilingkupi dengan pesimisme dengan pertimbangan umur mereka yang sudah mulai lanjut. Mereka lalu menjalani terapi medis.
Pada tanggal 25 Maret 2005, seperti biasa setiap pagi ci Ie bersaat teduh. Bacaan renungan pagi itu adalah tentang Maria dan kelahiran Yesus. Ci merasa ada sesuatu yang menggerakkan hatinya. Dia lalu menyodorkan bacaan itu pada suaminya. Setelah membacannya, Koh Hoho juga merasa mendapat berkat dari renungan. Siangnya, koh Hoho mendapat telepon dari asisten dokter yang memberikan terapi kehamilan pada mereka. Dia memberitahukan kabar gembira bahwa menurut tes laboratorium, ci Ie dinyatakan positif hamil! "Saat itu, saya seperti melompat dari tempat itu!" kata koh Hoho dengan mata berkaca-kaca. Penantian selama tigabelas tahun akhirnya didengar oleh Tuhan. Di akhir kesaksian koh Hoho mengakui bahwa selama ini dia hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Dia lebih menggantungkan harapan terhadap terapi medis dan kurang menggantungkan pengharapan keduanya kepada Tuhan. Mereka lalu menutup kesaksian itu dengan bernyanyi duet dengan lagu "Prayer." Ya, doa-doa mereka telah terjawab.
 
Sesuai ibadah, kami bersantap malam sambil ramah tamah. Sambil memegang piring makan, saya terlibat percakapan dengan pak Joko Sudibyo. Dia adalah ketua majelis gereja kami. Saya menanyakan kesehatan beliau, karena baru saja mengalami kecelakaan sepeda motor. Dia mengaku sehat-sehat saja. Isteri saya dan salah satu jemaat ikut bergabung dana obrolan itu.   "Pemeliharaan Tuhan itu memang luar biasa," kata pak Joko memulai kesaksiannya. "Selama ini, kalau naik sepeda motor saya selalu memakai helm yang tidak standar [orang-orang di sini menyebutnya helm 'cidhuk'. Cidhuk = gayung air]". Suatu malam, dia bertamu ke rumah temannya. Ketika hendak pamitan pulang, tuan rumah melihat pak Joko hanya mengenakan helm 'cidhuk'. Maka dia buru-buru masuk ke dalam rumah untuk mengambil helm standar. Lalu dengan nada bercanda, tuan rumah itu berkata, 'Klaten masih membutuhkanmu. Kamu tidak boleh mati terlalu cepat karena kecelakaan. Nih, aku beri helm standar. Dipakai ya!' Pak Joko menerima pemberian helm itu, tapi dia tidak menanggapi saran temannya dengan serius.
Suatu sore, dia akan melayani di sebuah pos jemaat yang jaraknya sekitar 5 km. Entah mengapa, saat itu dia memutuskan untuk memakai helm standar. Helm itu yang kemudian menyelamatkan hidupnya.
Seperti biasa, dia berangkat dengan naik sepeda motor sendirian. Setelah melewati palang kereta api, pak Joko bermaksud menyalib truk yang ada di depannya. Setelah hampir sampai di depan truk, dia hampir truk, tiba sepeda motornya terpelanting. Dia terlempar dari kendaraan, tubuhnya menghantam aspal kemudian tercebur ke dalam selokan. Sementara itu, sepeda motornya juga berguling-guling selama beberapa kali dan masuk selokan juga.
Pertolongan Tuhan sungguh nyata. Meski juga tercebur selokan, tetapi sepeda motor itu tidak menimpa tubuh pak Joko. Yang lebih luar biasa lagi, helm standar itu telah melindungi kepala pak Joko dari akibat benturan dengan aspal. Setelah diperiksa, pelipis kiri helm itu mengalami keretakan. Pak Joko sendiri tidak mengalami luka-luka yang berarti. "Seandainya saya tidak memakai helm standar, saya tidak tahu apakah saya masih bisa berdiri di sini atau tidak" desis pak Joko dengan suara bergetar. Isteri pak Joko ikut bergabung. Dia lalu melanjutkan kesaksian anak-anaknya:
Akhir September tahun ini, anak-anaknya berlibur ke Bali. Pada hari pertama di bulan Oktober, mereka pergi mencari makan malam ke Jimbaran. Tempat yang mereka tuju adalah Cafe Nyoman. Mereka mengambil tempat duduk, yang ketika bom itu meledak sangat dekat dengan sumber ledakan. Namun tiba-tiba mereka berubah pikiran. Mereka sudah beberapa kalai ke tempat ini. Untuk itu mereka ingin mencoba tempat yang lain. Maka mereka pun pindah ke cafe di sebelahnya.
Ketika mereka sedang menunggu datangnya ledakan, tiba-tiba terdengarlah ledakan yang dahsyat. Mereka lari tunggang langgang untuk menyelematkan diri. Setelah dapat menenangkan diri, ternyata tidak ada satu pun yang terluka. Mereka segera kembali ke hotel lalu mengabarkan ke orangtua mereka bahwa mereka selamat. Anak-anak ini merasa bersyukur untuk perlindungan Tuhan. Keesokan paginya, mereka menyimak berita tentang bom-bom lainnya yang tidak meledak. Ketika melihat lokasi bom yang tidak sempat meledak itu, mereka sangat tercengang. Ternyata, pada malam itu saat melarikan diri, mereka sebenarnya sedang berlari arah bom-bom lainnya yang tidak sempat meledak itu. "Entah apa jadinya kalau bom itu meledak!"ujar pak Joko dengan penuh ucapan syukur.
 
Dalam perjalanan pulang, aku merenung betapa berharganya hidup ini. Kalau tidak belum memberikan keturunan pada suami-isteri, dengan cara apapun yang dilakukan manusia, hasilnya tetap saja nol. Namun ketika Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya, Dia dapat memakai cara-cara yang di luar dugaan kita. Dan ketika Allah berkenan memelihara kehidupan umat-Nya, Dia kadang menunjukkan-Nya dengan cara yang luar biasa dan menyentuh hati. Namun aku tahu, meski tanpa harus melalui cara yang spektakuler, Allah tetap memelihara kita. Inilah yang kusyukuri. Termasuk kusyukuri juga kehamilan istriku selama 2,5 bulan. Kusyukuri karena Allah segera mengaruniakan kehamilan pada 2 bulan setelah pernikahan kami. Kusyukuri juga karena selama kehamilan ini, dia tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti (kekuatan fisiknya emang hebat dia. Aku kagum padanya. Kusyukuri karena selama kehamilan, dia tidal nyidam yang macam-macam atau bersikap kemanja-manjaan. Syukur pada-Mu, Tuhan!
 
 
 
Purnawan Kristanto
------------------------------------------- 
 * Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
  * Read my writings at:
  http://purnawan-kristanto.blogspot.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 19 Oktober 2005

hallo Bung Xavier. . .

Emang disengaja Bu . . . Soalnya saya tahu banyak orang yang bingun menyebut nama mr X (pak Xavier). Ada yang menulis Safier, bahkan ini sungguh-sungguh terjadi, sewaktu mengisi di sebuah persekutuan dia mendapat souvenir, dan namanya ditulis Kavir. Lucunya lagi, mr X pernah dikira nama perempuan. Akibatnya dalam sebuah acara retret dia djadikan satu kamar dengan seorang wanita. Asyik, nggak tuh!

Pelajaran yang didapat dari sini, kalau pilih nama sebaiknya jangan yang aneh-aneh he...he...he... Kalau masih tidak percaya, masih ada akibat yang tidak enak lainnya. Karena nama Xavier adalah satu-satunya nama yang tercantum di buku telepon dengan nama "X" , maka beliau sering ditelepon oleh sales direct marketing. Atau setidak-tidaknya ditelepon oleh lembaga yang mengadakan jajak pendapat lewat telepon.
Jangan juga memilih nama dengan awalan "A" [seperti Ang Tel Khun], soalnya kalau ada pelajaran menyanyi di depan kelas, biasanya akan mendapat giliran pertama. Jangan juga yang berawalan Z, karena mendapat giliran terakhir [gurunya sudah bosan dan memberi nilai asal-asalan]. Enaknya sih yang di tengah-tengah, misalnya dengan awalan M seperti "Martha" atau P, seperti "Purnawan"

From: martha pratana <martha_pratana@yahoo.com>
Subject: Re: hallo Bung Xavier. . .

eh pak wawan, jangan salah eja dong......masak pak xavier ditulis pak kafir......hehehe......

mp

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Subsidi BBM: Istilah yang tidak tepat

Saya pernah membaca tulisan Kwik Kian Gie tentang Subsidi BBM. Selama ini ada persepsi yang kurang tepat tentang subsidi. Ada anggapan bahwa pemerintah mengeluarkan uang dari APBN untuk menalangi harga BBM sehingga harganya lebih murah. Padahal yang disebut anggaran subsidi itu sebenarnya adalah "opportunity lost" akibat selisih harga domestik dengan harga minya dunia. Lebih jelasnya begini, selama ini harga minyak dalam negeri selalu lebih rendah dari harga minyak dunia. Misalkan saja, harga minyak dunia $ 10/liter , sedangkan harga minyak domestik hanya $ 6/liter Dengan demikian, negara "kehilangan" kesempatan mendapat pemasukan sebesar $ 4/lt. Nah, selisih harga ini yang disebut sebagai 'subsidi'. Dengan kata lain, negara sebenarnya tidak menyetorkan uang kepada Pertamina supaya harga BBM menjadi murah.

Yang membuat saya miris adalah tingkat kenaikan HET minyak tanah. Setelah kenaikan, harga minyak tanah di Klaten mencapai Rp. 2.700.-/liter/ Kalau mencoba berpikir positif, maka kenaikan ini akan memaksa kita mengurangi konsumsi bahan bakar karbon dan beralih pada energi alternatif yang ramah lingkungan. Akan tetapi teori itu masih jauh dari praktiknya. Cara termudah bagi rakyat untuk menyiasati kenaikan ini adalah memakai kayu bakar kembali. Jika ini terjadi, maka hutan-hutan rakyat akan menjadi korban perambahan. Yang lebih menyedihkan lagi, menurut penelitian Dian Desa di Jogja, desain tungku kayu tradiosional sangat tidak efesien. Hampir 50 persen panas api yang terbuang sia-sia.

Bagi gereja situasi ini membuka peluang entri poin untuk melayani masyarakat, yaitu penyediaan enerji alternatif. Misalnya dengan cara mengajari membuat kompor tenaga surya, berbahan bio-gas, penerangan bertenaga hidro-mikro, angin dll. Dan yang sering terlewatkan adalah pendampingan masyarakat. Selama ini kita hanya senang mengajarkan cara membuat, tetapi lupa untuk mendampingi mereka cara menggunakan dan merawat tegnologi baru itu.

Bagi penulis, ada peluang nih membuat buku/tulisan tentang energi alternatif yang tepat guna.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Teologi Ddomba di Tengah Serigala'

Setelah pemerintah menaikkan BBM, terjadi gejolak di dalam masyarakat. Persentase kenaikannya sungguh di luar digaan banyak pihak. Untuk sesaat saya terperangah dan tak dapat berkata apa-apa ketika pertama kali mengetahui berita kenaikan tersebut.
Dampak kenaikan itu sudah terlihat di depan mata. Rakyat semakin sengsara oleh kebijakan itu. Namun yang menggelisahkan saya adalah tanggapan gereja terhadap situasi ini. Gereja terkesan diam dan tidak peduli terhadap persoalan ini.
Dimanakah suara kenabian gereja? Selama ini gereja lebih banyak mengafirmasi kebijakan pemerintah. Itu sebabnya dulu ada plesetan PGI menjadi "Persekutuan Gereja-gereja Istana [negara]." Dulu, gereja memakai simbol-simbol keagamaan untuk merepresi umat supaya tidak kritis pada rezim penguasa.
Sekarang, malah ada kecenderungan eskapisme. Untuk menyiasati hidup yang semakin berat ini, gereja ramai-ramai memberikan "khotbah penghiburan" supaya umat lupa sejenak pada masalah hidupnya. Salah satunya, seperti yang dicontohkan oleh Sampeyan itu tentang minyak urapan. [Saya kebetulan juga melihat tayangan TV itu. Saya suka acara seperti itu karena bisa membuat saya tertawa]
Apa mungkin karena teologi 'domba di tengah serigala' itu yang membuat gereja menjadi apatis, asosial dan teralienansi dengan dunia. Gereja menganggap semua orang di luar sebagai 'serigala' yang harus selalu dicurigai dan diwaspadai. Meski begitu, jika orang Kristen saja sudah kehilangan harapan pada gereja, lalu siapa lagi yang dapat mentransformasi. Setahun yang lalu saya merasa geli terhadap ide beberapa petinggi gereja yang ingin mentransformasi bangsa ini . . . hi. . .hi . . .hi Apa bisa tuh, mentransformasi dari yang kecil saja, yaitu diri mereka [gereja] saja susahnya setengah mati, apalagi mau mentransformasi bangsa . . .oiiii jauh panggang dari api.[Mungkin itu sebabnya, karena menyadari hal ini, mereka lalu berdoa ramai-ramai mengharap mukjizat transformasi]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Pelajaran dari SMS Berantai "GKI Ciledug"

Sebuah SMS masuk ke dalam handphone saya. Bunyinya:"GKI Ciledug saat sudah dikepung massa dan mau dibakar. Majelis dan Pdtnya masih dlm gereja. Mohon dukung dlm doa. Teruskan SMS ini." Saya pertama kali menerima SMS ini pada hari Minggu (28/8). Dua hari kemudian, saya menerima informasi yang sama persis. Hal itu membuat saya merenung. Kemungkinan besar, SMS ini sudah beredar di kalangan orang Kristen sehingga menjadi sbuah SMS berantai. Dilandasi oleh semangat solidaritas oleh sesama orang percaya, orang Kristen meneruskan pesan singkat ini kepada orang Kristen lainnya.

Mengamati fenomena ini, saya justru menilai bahwa orang Kristen yang memiliki HP (handphone) masih memiliki daya kritis yang kurang. Ada dua alasan. Pertama, orang Kristen tidak kritis dalam menerima isi informasi itu. Saya bertanya-tanya, apakah orang Kristen yang meneruskan informasi tersebut tidak mempersoalkan dari kata keterangan waktu "saat ini"? Kapankah waktu yang tepat, yang dimaksud dengan hari ini? Tanggal berapa, pukul berapa? Mengapa SMS yang saya terima pada hari Minggu, Senin dan Selasa tetap saja menggunakan kata "saat ini"? Apakah pengepungan terjadi terus-menerus selama tiga hari-tiga malam?

Isteri saya menduga pengepungan itu terjadi pada hari Minggu ketika dilangsungkan atau setidaknya seusai kebaktian Minggu. Hal itu terbersit dari kata "Majelis dan pendata" yang ada di dalam gereja. Dengan demikian, kata "saat ini" diperkitakan terjadi hari Minggu. Namun sesudah itu pasti terjadi perkembangan situasi, Perubahan itu dapat terjadi dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan detik. Dengan demikian, ketika SMS yang dikirim hari Senin masih menggunakan kata "saat ini", maka SMS tersebut sudah basi dan menyesatkan. Orang yang menerima SMS pada hari Senin akan menganggap pengepungan terjadi pada hari Senin. Demikian juga pada pengiriman harus Selasa. Padahal ketika saya mengkonfirmasi pada hari Senin malam (29/9), pukul 19:30, saya mendapat informasi bahwa kepolisian sudah melakukan langkah antisipasi. Meski begitu, rantai pergerakan SMS ini malah semakin panjang dan belum berujung.

Kedua, hanya sedikit penerima SMS yang menyelidiki sumber informasi. Karena mendapatkan kiriman SMS tersebut dari sesama orang Kristen, maka dia menganggap bahwa informasi tersebut berasal dari sumber informasi yang benar. Akan tetapi, coba kita renungkan sejenak: Betapa mudahnya seseorang menciptakan pesan SMS berantai semacam ini. Dia tinggal merumuskan isi informasi. Setelah itu membeli kartu perdana pra bayar yang tidak mengharuskan melakukan registrasi nama. Setelah itu dia menyebarkan pesan berantai itu kepada beberapa nomor orang Kristen. Maka mata rantai pesan itu mulai bergerak bertambah panjang.

Saya tidak bermaksud mengatakan informasi tentang GKI Ciledug ini sebagai sebuah kebohongan, namun dalam tulisan ini saya ingin mengajak orang Kristen bersikap kritis dalam menanggapi segala macam informasi. Kalangan orang Kristen pernah terkecoh manakala mendengar informasi pimpinan umat beragama yang memiliki "sejuta umat" dipabtis. Mungkin karena memiliki harapan yang sangat besar bahwa informasi itu benar-benar terjadi, maka orang Kristen memercayai rumor itu sebagai sebuah kebenaran dan meneruskannya dengan nada "kemenangan." Akibatnya, rumor ini menimbulkan gejolak di dalam masyarakat.

Teknologi SMS itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, kecanggihan teknologi ini dapat menghantarkan informasi dalam hitungan detik. Kita dapat mengabarkan pesan-pesan darurat dengan cepat dan murah. Meski begitu, kita juga harus menyadari bahwa SMS juga memiliki keterbatasan: (1). Soal akurasi informasi. Karna keterbatasan jumlah huruf/karakter yang dapat dimuat oleh SMS, kita tidak dapat menyampaikan informasi dalam jumlah banyak dan lengkap. Bahkan kadangkala kita masih harus menuliskan dengan singkatan.
Akibat dari keterbatasan ini adalah terjadinya misperception dan misinterpretation. Apa yang dimaksud oleh pengirim pesan tidak dapat ditangkap oleh penerima pesan secara utuh.

(2). Soal Validitas. Kita tidak dapat menelusuri jejak asal-usul pengirim informasi tentang sejarah perjalanan SMS berantai ini. Kita tidak mengetahui sejak kapan SMS ini beredar dan dibuat oleh siapa. Dalam ilmu komuniasi, pengirim pesan atau komunikatir sangat berperan besar dalam membangun kredibilitas sebuah informasi. Sebuah pesan yang disampaikan oleh orang yang berpengaruh dan dipercaya banyak orang, maka pesan tersebut memiliki kredibilitas informasi yang tinggi. Dalam hal pesan berantai ini, kita tidak dapat mengetahui sumber informasi tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa kredibilitas informasi ini sangat rendah Selain itu, kita juga kesulitan dalam menguji kebenaran informasi. Kecuali jika kita memiliki sekumpulandata yang lengkap, kita tidak dapat mencari kebenaran dari informasi tersebut. Tidak semua orang memiliki akses terhadap orang-orang yang dapat memberi kinformasi atas kebenaran fakta tersebut. Sebagai contoh, tidak semua orang memiliki akses terhadap petinggi di GKI Ciledug untuk menanyakan kebenaran informasio tersebut dan menanyakan perkembangan situasi terkini.

Lalu bagaimana jika mendapat SMS berantai seperti ini? Ini adalah pertanyaan yang dilematis. Kita tidak boleh bersikap skeptis dan mengabaikan SMS itu [siapa tahu isinya memang benar], tapi tidak bijak juga jika menelan
mentah-mentah informasi. Sikap yang terbaik adalah pertama-tama berdoa memohon pimpinan dan hikmat dari Tuhan.  Setelah itu mengkaji dampak apa yang bakal terjadi jika SMS tersebut semakin lama beredar.  Dalam keadaan darurat, ada kemendesakan untuk segera meneruskan pesan itu. Ini pantas untuk diteruskan. Akan tetapi jika kita masih ragu-ragu terhadao kebenaran informasi tersebut, alangkah baiknya jika kita menahan diri dulu sebelum memastikan kebenaran informasi tersebut.

Secara pribadi, saya menempatkan SMS seperti itu sebagai "clue" atau petunjuk awal untuk ditelusuri lebih lanjut. Layaknya sebuah pekerjaan detektif, secuil barang bukti yang ditinggalkan pelaku kejahatan akan menuntun sang detektif itu dalam merangkai kejadian dan mengungkapkan peristiwa kejahatan tersebut.  Demikian pula, jika ada kesempatan dan akses, kita perlu melakukan penelitian yang lebih dalam lagi.

Dari peristiwa ini, setidaknya kita dapat menarik suatu pelajaran yang sangat penting, yaitu perlunya ada sebuah pusat informasi atau "clearing house". Institusi ini berfungsi sebagai "jujugan" jika ada orang Kristen yang ingin menanyakan kebenaran sebuah fakta. Beberapa waktu yang lalu, pernah terlontar sebuah gagasan untuk membetuk sebuah sistem yang dapat memberikan peringatan dini kepada gereja (Early Warning System). Lembaga ini bertugas untuk menyebarkan peringatan sesegera mungkin kepada gereja-gereja jika ada sesuatu yang dapat "merugikan" gereja. Peristiwa pengepungan, penutupan dan intimidasi dari kelompok fundamentalis termasuk ke dalam kategori sistem peringatan ini. Lembaga ini wajib lebih dulu memastikan kebenaran informasi, setelah itu menyebar-luaskan melalui SMS secara serentak. Setelah itu, lembaga ini bersiap di depan telepon hotline untuk melayani permintaan konfirmasi dari penerima SMS tersebut. Sistem ini sangat
strategis karena dapat memberikan kesempatan kepada gereja untuk segera melakukan langkah antisipasi.

Kita perlumenyadari bahwa informasi merupakan komoditas yang sangat penting dalam perebutan pengaruh. Demi mendapatkan kekuasaan, pihak tertentu akan melakukan strategi disinformasi demi menciptakan situasi ketidak-pastian dan kebingungan di kalangan umat. Target akhirnya adalah terjadi "chaos" yang memungkinkan terjadinya rotasi rezim. Sekarang ini adalah saat yang tepat untuk menumbuhkan kesadarab kritis di antara warga gereja. Menurut rasul Paulus, tugas penyadaran ini ada di pundak "rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar" sehingga umat gereja tidak mudah "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan".
------------------------------------------------------------------

Komentar:
From: Okta Wiguna <oktawiguna@....l.com>
SMS GKI Ciledug itu datang pada saya hari Senin (atau selasa, saya : agak lupa) dengan nomor yang saya tidak kenal tapi ada sepenggal  identitas di ujung sms: rm bruno. Entah siap Bruno itu, kenal juga enggak.

Wawan: Kalau SMS yang saya terima, di bagian akhir diberi identitas : "Pdt Anthoni Chang."

Buat yang tidak mendapat info seperti saya, seperti kata Pak Wawan jangan taken : for granted semua info benar.
Wawan : That's what exactly I want to say

Nah untuk pertanyaan Pak Donny, ada benarnya. KIta perlu berdoa soal  ini karena tidak ada tanda2 SKB pembangunan gereja akan dicabut. Wawan: Setuju. Tapi setelah berdoa, sebaiknya ada tindakan yang nyata.
Berani nggak para petinggi gereja mengajukan Yudicial Review pada Mahkamah Konstitusi? Kalau cuma berharap "belas kasihan" pemerintah, rasanya hanya menunggu pepesan kosong. Ketidak-adilan harus dilawan!

--------------------------------------------------------------------
From: Donny Adi Wiguna <wiguna@.....net.id>

Soal keakuratan, memang betul: begitu hari berganti, pesan itu tidak akurat lagi. Tetapi, bukankah berita yang disampaikannya tetap aktual? Ketika saya meneruskan berita itu, kesadaran pada saya adalah untuk menyampaikan esensi berita, bahwa ada orang yang melakukan hal semacam itu di Cileduk. Pertanyaan yang tersirat sebenarnya: apakah Anda berdoa?

Wawan: Saya setuju 115% tentang perlunya berdoa. Namun yang ingin saya tekankan dalam tulisan itu adalah pentingnya daya kritis dalam menanggapi setiap informasi. Coba bayangkan seandainya orang Kristen berdoa pada hari Minggu, kemudian dijawab Tuhan dengan mengirimkan polisi ke sana. Eh, pada hari Senin, orang yang baru saja menerima SMS berdoa hal yang sama kepada Tuhan. Tuhan pun menjadi bingung, "Lho, bukannya doa ini sudah Aku jawab kemarin. Huuu...doamu sudah basi tuh." Kemudian, SMS itu beredar lagi pada hari Selasa. Karena memakai kata "saat ini" maka orang itu mendoakan hal yang sama pada Tuhan. Tuhan bingung lagi. "Ini bagaimana, sih. Kok ada yang mendoakan ini lagi. Hey, Michael, coba deh kamu ke GKI Ciledug. Periksa apa polisi-polisi itu masih di sana? Kalau tempat itu masih dikepung, tegur tuh para polisi di sana supaya tidak hanya mengurusi pelanggaran lalu-lintas doang."

Sementara itu di bumi, sebagian besar orang Kristen kebingungan menghadapi kesimpangsiuran informasi ini. Di Klaten, sampai ada isu ada pendeta yang digebuki oleh massa di dekat alun-alun, gara-gara SMS dari GKI Ciledug ini. Rupanya ada yang kreatif mengembangkan informasi ini sehingga bermetamorfose menjadi pesan yang lain.

Intinya, saya ingin mengajak orang Kristen supaya waspada terhadap upaya disinformasi [sssttttt jangan bilang siapa-siapa ya.....cara seperti ini sudah lama dipraktikkan oleh pihak-pihak yang sekarang ini kehilangan kekuasaan]

Salam Hangat

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumpa Darat Penjunan di Jakarta

Bulan Agustus 2005, aku punya kesempatan bertemu dengan teman-teman sesama penulis di Jakarta. Mereka tergabung dalam milisk Komunitas Penjunan. Kesan pertama yang kudapat dari pertemuan itu adalah KEHANGATAN
teman-teman [maklum duduknya berdempet-dempetan, sehingga bisa merasakan kehangatan tubuh orang lain]. But honestly, kehangatan pertama aku dapat saat bertemu bung Darsum untuk pertama kali di hotel Capitol. Meski baru berjumpa dalam hitungan menit, tapi rasanya sudah mengenal beliau lama sekali. Selama perjalanan di dalam mobil, kami dapat ngobrol dengan santai, tanpa hambatan komunikasi sama sekali. bahkan kadangkala disertai dengan guyonan.
Sesampai di Bentara Budaya, kami langsung ketemu dengan pak Khun. Pada mulanya sih pak Khun kelihatan "jaim" begitu. penampilannya dibuat se-cool mungkin. [Tapi begitu diskusi di apartemen Semanggi mulai menghangat, jurus-jurus kepenulisan dan ilmu-ilmu penerbitan meluncur deras dari lidah pak Khun].
Selebritis hari itu Denmas Arie Saptajie belum muncul. Kami menunggu sambil makan gudeg [Setinggi-tinggi orang Jogja terbang, makannya gudeg juga...he 3x]. Setengah jam kemudian, denmas Marto datang. Kali ini dengan penampilan baru, Rambutnya dipotong cepak, sehingga uban-ubannya kelihatan semakin jelas.

Sekitar pukul tiga sore acara dimulai. Namun ternyata didahului dengan kopi darat anggota milis Gramedia Pustaka Utama. Yang menarik, semua anggota milis GPU yang hadir berkelamin perempuan. Kami berlima (aku, pak Khun, bung Darsum, Denmas Arie dan bung Joni) menjadi pria-pria penyegar di sana. Aku berucap: "Kita ini adalah penyamun di sarang perawan."
Jumpa darat milis menyita waktu cukup banyak. Meski merasa bosan sedikit, tetapi setidaknya aku dapat mengetahui para pengaran-pengarang teenlit dan chiklit yang diterbitkan Gramedia. Yang bikin ngiri adalah kehadiran penulis yang usianya di bawah 10 tahun. Gile bener.....!!!
Selama acara berlangsung, teman-teman Penjunan mulai bermunculan. Mbak Ning muncul, disusul oleh Eman, kemudian pak Gunawan Setiadi, Maya dan Steve Hadi Pratama (anggota milis Fornape).
Usai acara di Bentara Budaya, kami menunggu selebritis kita, denmas Arie yang sedang melayani permintaan tanda tangan dari pembeli bukunya. Setelah itu, rombongan dibagi menjadi tiga kloter, kemudian terbang ke apartemen Semanggi. Di sana sudah menunggu bung Gurgur dan kak Tio.
Sambil menunggu Ito Ita yang dalam perjalanan turun gunung, kami memulai pertemuan di lobby apartemen. Acara dimulai oleh bung Darsum, lalu dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing peserta pertemuan.
Tak berapa lama, Ito Ita datang. Kami pun eksodus ke lantai 7 untuk melanjutkan diskusi.
Pada mulanya tema pembicaraan agak 'ngalor-ngidul', tapi lama-kelamaan mengerucut juga pada satu tema, yaitu pentingnya "menggarami dunia ini".
Sebagai anak Tuhan yang dipanggil Tuhan untuk melayani Tuhan lewat tulisan, kita semestinya menjangkau wilayah-wilayah yang belum mendengar Injil Kristus.
Dalam diskusi ini, peserta diskusi membagikan informasi yang sangat menarik. Pokoknya yang tidak datang pada pertemuan itu pasti rugi. Begitu asyik kami berdiskusi, sehingga tak sadar kalau hari sudah merambat malam.
Pada kesempatan ini saya ingin memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada teman-teman yang hadir:
Bung Darsum: Tks untuk sambutannya yang hangat dan yang sudah menjemput serta menghantar saya. Txs juga untuk fried chicken dan french friesnya.
Pak Khun: yang sudah membagikan ilmu kepenulisan dan info penerbitan.
Okta Wiguna: yang sudah berbagi pengalaman kepenulisan.
Bung Gurgur: yang berbicara dengan antusiasme. Semangat itu ternyata dapat menular pada orang lain.
Ito Ita : yang sudah menyediakan tempat, minum dan menutup dengan doa.
Pak Gunawan: untuk tumpangannya dan kehadirannya yang jauh-jauh dari Cibinong
Denmas Marto, Maya, Camelia, Joni, Tio: yang sudah berbagi pengalaman informasi dan telah menjadi pendengar yang baik.
Saya hanya mengingatkan pada komitmen yang "diikrarkan" dalam pertemuan itu,
yaitu untuk membuat kehidupan milis ini menjadi semakin hidup. Saya mulai merasakan komitmen ini sudah mulai diwujudkan oleh teman-teman. Terimakasih banyak untuk hal ini.
Saya masih punya impian untuk mendengarkan sharing teman-teman di Jawa Timur. Ada banyak penulis-penulis hebat di sana. Ada kak Fanni, ada bu Martha, ada bung Jojo, ada Ellen, ada David dan masih banyak lagi. Pasti asyik tuh mendengar kisah kepenulisan mereka. Ayo dong, bikin pertemuan darat.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sekolah Minggu: Sarana PI yang strategis

"For the first time ever in Indonesia's history a case has been brought to court charging Christians with the criminal act of christianizing children." Demikian komentar beberapa media asing di luar negeri menyusul vonis tiga tahun penjara Pengadilan Negeri (PN) Indramayu, Jawa Barat, Kamis (1/9) siang terhadap tiga guru sekolah minggu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD), yakni dr. Rebecca Laonita, Ratna Mala Bangun serta Ety Pangesti.(Sinar Harapan (7/92005)

Miris juga membaca berita ini. Kenangan saya lalu terbang pada masa kecil. Saya tinggal di sebuah desa di tengah-tengah kabupaten Gunungkidul. Waktu itu, Sekolah Minggu menjadi sesuatu yang baru di desa kami. Anak-anak tertarik ikut acara ini karena acaranya asyik. Ada nyanyinya, ada ceritanya, ada doanya. Para orangtua juga tidak keberatan anak-anak mereka mengikuti Sekolah Minggu.

Para orangtua melihat bahwa acara SM berpengaruh baik pada anak-anak mereka. Mereka melihat anak-anak SM mengalami perubahan hidup. Perubahan ini ternyata menggerakkan hati para orangtua untuk mau pergi ke gereja. Yang
agak unik, pertambahan jemaat di gereja saya jarang sekali karena adanya PI seperti dalam bayangan kita selama ini. Kita membayangkan PI adalah dengan mengetok pintu atau mendatangi orang di tempat umum. Kemudian menceritakan Injil Kristus kepada mereka, dan akhirnya 'menantang' mereka untuk menerima Kristus. Hal semacam ini jarang sekali dilakukan di gereja kami.

Namun sering terjadi, orang-orang di sekitar gereja yang mendatangi gereja untuk minta ijin ikut dalam ibadah dan persekutuan. Mereka adalah orangtua dari anak-anak SM. Jadi di gereja saya yang 'menginjili' para orang dewasa adalah anak-anak. Pada tahun 1980-an, mereka menyerahkan diri untuk dibaptis. Saya masih ingat, kami menyewa dua bus besar untuk mengangkut orang-orang yang akan dibaptis di gereja induk. Sampai saat ini, 'pertobatan massal' ini tidak pernah menimbulkan gejolak di desa kami.

Sejak saat itu, memang tidak lagi terjadi 'baptisan massal', namun ada satu-dua orang yang menjadi gereja kami. Mereka bukan 'domba-domba' dari gereja lain, melainkan 'domba-domba' baru. Polanya masih sama: Mereka yang datang ke gereja kami setelah terkesan melihat perilaku komunitas Kristen.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rumput Gereja Tetangga Lebih Hijau

Dalam milis Komunitas Penjunan Martha Pratana menuliskan kegelisahannya tentang persaingan antar gereja. Dia menulis ada kegelisahan di antara gereja karena khawatir "domba-dombanya" mencicipi rumput di tempat yang baru itu dan akhirnya kerasan karena ternyata memang rumputnya di sana lebih segar, lebih bergizi dan lebih hijau........" Dan sedihnya juga, sebagian domba memang domba yang nakal,suka ganti-ganti gembala jika dirasa gembalanya ga menyenangkan
hatinya" demikian tulis Martha.

Meminjam istilah denmas Arie, "rumput tetangga memang lebih hijau dan segar.....tapi rekening airnya juga besar." Tul, juga. Lha untuk menumbuhkan "rumput yang lebat" 'kan butuh biaya dan tenaga, to. Lalu darimana asal biaya dan tenaga itu? Kalau untuk gereja, sumber pemasukan ya dari persembahan.... Nah saya tidak akan melanjutkan pangudarasa ini, soalnya dapat menjurus ke arah sinisme. Tapi, sebagai 'clue' dalam ilmu ekonomi ada istilah, "tidak ada makan siang gratis."

Suatu kali saya bertemu dengan Yusuf Roni di Jogja [Kalo dia ke Jogja, yang menjemput dan mengawalnya adalah mahasiswa IAIN]. Dia berkomentar soal pertumbuhan gedung gereja yang marak di kota-kota besar. Menurut pengamatannya, biasanya sebuah jemaat berani 'membuka' sebuah jemaat/gereja baru jika di sekitar tempat situ sudah ada gereja. Lalu dengan kritis dia berkata, "Coba tanya kepada mereka, berani nggak mereka membangun gereja di tengah-tengah masyarakat yang belum ada orang Kristennya. Berani nggak mereka membuka gereja baru di Aceh atau di Padang sana?"

Soal perpindahan jemaat, menurut saya sih merupakan gejala yang bagus. Itu menandakan mulai adanya keterbukaan terhadap hal-hal yang baru. Saya justru senang melihat orang Kristen yang beribadah berpindah-pindah. Dengan begitu,
dia tidak mengenakan kacamata kuda, yaitu doktrin yang diterima dari satu gereja. Meski begitu, memang ada satu prasyarat yang harus dimiliki yaitu kedewasaan rohani dan daya kritis. Ada beberapa hal doktrin tertentu yang tidak dapat dikompromikan. Misalnya tentang Keselamatan. Sedangkan soal doktrin-doktrin pinggiran, seperti apakah kalau memuji Tuhan harus bertepuk tangan, menari atau tenang, semuanya itu dikembalikan kepada pilihan pribadi. Dalam hal ini tidak ada kebenaran absolut.

Saat bekerja di majalah rohani, saya memiliki kesempatan mengikuti ibadah berbagai denominasi. Jika kita mengikuti dengan dengan open mind dan open heart, ternyata asyik juga. Saya mendapatkan sukacita yang luarbiasa saat ikut bernyanyi, bersorak dan berjingkrak-jingkrak [sekalian olahraga]. Saya merasakan kesejukan saat mendengarkan khotbah romo Sindhunata dalam Misa Requiem untuk romo Dick.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Gejala Pragmatisme

Ada gejala pragmatisme dalam masyarakat. Sebagai contoh, di Klaten, orang-orang lebih memilih antre di SPBU daripada mencoblos Pilkadal di Klaten. Mereka lebih memprioritaskan nasib mereka dalam seminggu ke depan, daripada memikirkan nasib mereka lima tahun ke depan. Atau mungkin juga mereka sudah menyadari bahwa dalam pilkadal ini mereka akan dikadali lagi. Jadi tak ada gunanya menelan pil yang seharusnya untuk kadal itu.
Apakah pragmatisme ini sudah menjadi budaya bangsa ini? Entahlah, tapi kalau menengok pada masa perjuangan kemerdekaan dulu, rasanya para pejuang-pejuang kita tidak berpikir pragmatis.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Satu Gedung Gereja Digunakan Bersama

From: Dalam menanggapi maraknya penutupan gereja di Bandung, Abednego Tri Gumono <abednegotry@......com> mengajukan usul penggunaan satu gedung gereja secara bersama. Abednego menulis: "bangun
gedung gereja yang besar dalam batas wilayah tertentu. Lalu gereja itu bisa digunakan bersama oleh Bethel, Pentakosta, GLPS atau aliran yang lain.caranya tinggal atur jadwal saja."

Menurut saya pembangunan satu gedung gereja untuk dipakai bersama itu adalah ide yang bagus. Tapi implementasinya kok tidak semudah itu. Untuk saat ini masih ada hambatan di antara aliran gereja sendiri, yaitu ego yang besar. Lucu memang. Kalau dengan orang non Kristen kita bisa mengasihi dengan total, tapi dengan sesama orang percaya kita malah saling curiga. Saat ada gereja yang berkembang pesat, gereja di dekatnya merasa iri dan cemas kalau-kalau jemaatnya ikutan pindah ke sana.

Satu hal lagi yang perlu kita refleksikan. Orang Islam seringkali merasa 'gerah' melihat pertambahan gedung gereja di sekitar mereka. Mereka melihat gedung gereja yang berderet-deret di satu ruas gereja. Hal itu membuat mereka menjadi gelisah. Namun bila kita melihat perspektif orang Islam, kita dapat memahami kegelisahan ini. Kebanyakan orang Islam tidak mengetahui bahwa ada berbagai aliran/denominasi gereja Protestan. Mereka memandang gereja itu satu aliran saja. Bagi umat Islam, beribadah di mesjid mana saja sebenarnya tidak ada bedanya. Saya punya teman satu kos yang Muslim. Kalau
pas hari Jumat, dia bisa Jumatan di mesjid mana saja. Dia bisa Jumatan di mesjid di dekat kos kami, di mesjid UGM, mesjid IAIN, atau mesjid mana saja.

Dengan memakai ukuran ini, maka orang Islam menjadi heran, mengapa harus ada bangunan gereja baru di dekat bangunan gereja yang lama. Mengapa tidak beribadah di gereja yang sudah ada saja? Hal seperti ini perlu dikomunikasikan kepada saudara kita yang beragama Muslim. Saya pernah menyewa satu kamar kos bersama teman lulusan IAIN. Dari pergaulan selama satu tahun, saya banyak mendapat pengetahuan seputar keislaman dari dia. Teman saya pun mendapat pengetahuan tentang keristenan dari saya. Bayangkan, lulusan IAIN saja tidak dapat membedakan antara Pendeta dengan Pastur!

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

SEANDAINYA ESTER TIDAK BERPOLITIK

Politik itu kotor! Demikian anggapan sebagian besar orang Kristen. Selama ini masih ada anggapan bahwa politik adalah upaya seseorang atau sekelompok orang untuk memaksakan kepentingannya dengan segala cara. Entah itu dengan tipu muslihat, mengorbankan orang lain atau dengan kekerasan. Mungkin itulah sebabnya mengapa hanya sedikit orang Kristen yang mau terjun ke dunia politik.

Benarkah anggapan ini? Mungkin kita dapat belajar dari Ester, sang Ratu itu. Waktu itu, Israel berada di masa pembuangan. Adalah seorang pembesar yang mendapat kekuasaan besar dari raja Ahasyweros. Namanya Haman. Dia begitu membenci orang Israel, termasuk kepada Mordekhai, orang Yahudi yang berjasa menyelamatkan raja dari rencana pembunuhan. Haman berencana membantai semua orang Yahudi. Mengetahui rencana busuk ini, Mordekhai membujuk Ester--satu-satunya orang Yahudi yang memiliki akses ke pusat kekuasaan--agar memberitahukan hal ini pada raja.

Bayangkan seandainya Mordekhai dan Ester enggan berpolitik. Maka punahlah seluruh bangsa Israel. Meski sama-sama berpolitik, namun Mordekhai dan Ester masih mengindahkan nilai-nilai moral, sedangkan Haman tidak. Mordekhai dan Ester berpolitik demi kepentingan orang banyak, sedangkan Haman berpolitik demi kemuliaan pribadinya.

Orang Kristen perlu berpolitik! Bukan berpolitik demi kepentingan dirinya sendiri ataupun kepentingan orang Kristen, melainkan untuk memperjuangkan kesejahteraan umat manusia. Jika saat ini mendapat kedudukan yang strategis, seperti Ester, manfaatkan itu untuk menyelamatkan bangsa ini. "Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang [Indonesia] akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, ...Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai....(Isi kedudukan Anda saat ini)

Seandainya pun kita hanya orang Kristen "biasa", Anda masih bisa mengubah nasib bangsa ini dengan tetap bersikap kritis terhadap segala situasi yang ada di Indonesia. Kita dapat melakukan aksi-aksi penyadaran politik dari lingkungan di sekitar kita. Misalnya dalam perbincangan di warung-warung kopi, lapo dan angkringan, kita dapat menyelipkan penyadaran kritis di
dalamnya. Cara lain yang paling efektif adalah menulis di Surat Pembaca.
Sebagai contoh, jika saya menemui ketidak-beresan dalam pelayanan publik, saya sering menulis surat pembaca. Pernahkah kita peduli pada banyaknya fasilitas Telepon Umum yang rusak dan tidak terawat? Karena berdalih sudah banyak wartel, maka Telkom merasa tidak punya tanggung jawab lagi memelihara fasilitas telepon umum. Pengawasan kinerja para birokrat juga perlu kita soroti, supaya mereka tidak bekerja seenaknya saja karena merasa menjadi golongan priyayi. aya salut pada bung Darsum yang berani melabrak pak Polisi ketika mereka minta suap/sogok.

Kalau orang Kristen berdiam saja dan apolitis, maka dapat saja pertolongan itu datang dari pihak lain. Andaikata pihak lain itu adalah kelompok orang-orang yang senang menutup gereja....iiiiihhh ngeriiii!

"Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (Ester 4:14)

----------------------------------------
Komentar:
From: "Ang Tek Khun" <kairos@....net.id>

Mas Wawan ini kurang jeli ato kura2 dalam perahu seh :)
Siapa bilang orang Kristen tidak berpolitik?
Justru politik di dalam gereja termasuk level/kategori tingkat tinggi lo...

khun

Purnawan Kristanto
-------------------------------------------
* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kata mas Zaim, Pemimpin itu dilahirkan

Siang ini aku menjelajahi seluruh channel TV, tapi tidak ada yang pas di hati. Kalau isinya bukan sinetron yang ceritanya mudah ditebak, ya acara infotainment [yang katanya berita tapi isinya gosip melulu]. Sekarang ini ditambah lagi dengan sinetron yang berlabel keagamaan tapi isinya tentang hantu dan takhayul. Yang rohani cuma di awal atau di akhir cerita doang. Selebihnya tentang dunia perklenikan.
Maka sampailah aku di ujung channel, yaitu saluran TVRI. Wilayah ini jarang aku kunjungi. Tapi hari ini aku menemukan sesuatu yang menarik, yaitu kemunculan temanku di layar kaca. Panggilannya "Oji", tapi nama lengkapnya Fahrurozi.
Melihat penampilannya yang semakin tambun, aku lalu teringat pertemuan kami sekitar setengah tahun yang lalu di hotel Radison.  Sudah lama kami tidak berjumpa. Pertemuan kami yang terakhir adalah di lapangan parkir hotel Sheraton. Waktu itu, aku sedang meliput acara sidang ICRP, dan Oji mengurus penjualan buku di sana.
Dulu kami sering bertemu pada acara-acara yang diselenggarakan oleh LSM. Lucunya, kami malah sering bertemu di luar kota. Seperti di Jakarta, Bogor atau Surabaya.
Ketika bertemu lagi di hotel Radison, kami saling menanyakan kabar. Oji menceritakan pengalaman lucu ketika kos selama beberapa waktu di Jakarta. Dia menyewa kamar kos milik seseorang yang punya hubungan dekat dengan Prabowo Subiyanto. Seusai Soeharto lengser, rumah ternyata diawasi oleh pihak intelijen. Suatu kali, ada orang asing yang datang ke tempat itu. Pihak intelijen yang sudah lama curiga, segera menggerebek tempat itu. Oji yang tidak tahu apa-apa ikut juga diangkut ke markas mereka. Di sana dia ikut diinterogasi juga. Untunglah, dia akhirnya dilepaskan.
Bincang-bincang itu kami teruskan di lounge hotel sambil makan siang.  Tak berapa lama, muncul Zaim Saidi. Kami memanggilnya mas Zaim. Dia termasuk aktivis LSM yang cukup senior. Tulisan-tulisannya sering muncul di harian Republika, Tempo dan Gatra.
Bergabungnya mas Zaim, mengubah topik pembicaraan tentang situasi politik Indonesia. Mas Zaim melontarkan sebuah gagasan yang aneh.  Dia menganjurkan supaya Yogyakarta memerdekakan diri saja. Pada mulanya kami tidak menanggapi dengan serius, namun rupanya dia bersungguh-sungguh dengan gagasan itu. Menurut mas Zaim, sistem demokrasi yang ada sekarang ini tidak mampu mengatasi persoalan yang membelit bangsa ini. Sisten demokrasi yang berlaku sekarang ini tidak lebih dari sebuah permainan cukong atau pemilik modal belaka.  Penguasa yang memegang pemerintahan saat ini lebih condong merepresentasikan kepentingan pemodal, daripada kepentingan rakyat. Dia mengajukan bukti bahwa sebagian besar pemimpin politik selalu didukung oleh orang-orang yang memiliki uang banyak. Hanya sedikit, jika tidak dapat dikatakan tidak ada, pemimpin yang berbasis pada dukungan rakyat. Jika pun ada, kekuatannya tidak begitu berarti karena dia tidak memiliki dukungan sumber daya.
Itu sebabnya, mas Zaim memandang perlu muncul seorang pemimpin yang mampu bertindak tegas atas nama rakyat.  Pemimpin ini harus memiliki dorongan untuk membela kepentingan rakyat. Dia sudah tidak punya pamrih untuk kepentingan dirinya lagi. Dalam hal ini, Sultan Jogja memenuhi syarat itu. Dia lalu mengambil model kepemimpinan pada kekhalifahan Arab. Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang tegas dalam memberantas kejahatan dan menegakkan hukum. Pemimpin tidak harus dipilih, karena sebenarnya pemimpin itu dilahirkan. Menurut mas Zaim, pemimpin itu merupakan sebuah wahyu illahi.
Mendengar penuturannya, aku agak terperangah. Bagaimana tidak? Mas Zaim termasuk jajaran vokalis yang berani menyuarakan isu-isu demokratisasi ketika Seoharto masih berjaya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Dia sepertinya sudah kehilangan kepercayaan lagi pada nilai-nilai demokrasi. Apakah mas Zaim sudah terlalu frustasi dengan situasi saat ini?
Diskusi lalu berlanjut tentang sistem mata uang. Dia juga melontarkan gagasan yang kontroversial. Sebenarnya saya sudah pernah membaca tulisannya tentang hal ini. Namun dengan mendengar langsung paparan dari mulutnya sendiri, saya bisa membayangkan betapa dia sungguh-sungguh meyakini pendapatnya. Dia melontarkan gagasan untuk mengganti mata uang kertas sekarang ini dengan dinar dan emas.
Menurutnya, anjloknya nilai rupiah saat ini sebenarnya ulah dari pemilik modal di negara Barat. Kita menjadi bulan-bulanan para spekulan itu. Karena itu dia menganjurkan supaya mengganti sistem mata kertas dengan sistem nilai tukar yang berlaku pada zaman nabi Muhammad. Dalam hal ini, nilainya selalu tetap.
Dari ruang rapat, terdengar suara panitia yang mengundang peserta seminar supaya segera memasuki ruangan. Aku segera menyelesaikan makanku. Selama sessi berikutnya, aku lebih banyak merenungkan perbincangan tadi. Situasi bangsa ini memang memerlukan sumbangan pemikiran untuk memberikan solusi yang terbaik. Sah-sah saja kalau ada warga bangsa yang menawarkan solusi yang dijiwai oleh nilai-nilai spiritualitas yang diyakininya. Yang mengganggu pikiranku adalah, adakah pemikir-pemikir lain yang dijiwai oleh semangat kasih Kristus?


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Mujizat Terbesar adalah Perubahan Hidup

Mukjizat terbesar adalah perubahan hidup yang nyata. Ketika saya renungkan, sebagian besar orang yang menerima mukjizat jasmani dari Yesus (seperti kesembuhan dari penyakit, dilepaskan dari ikatan kuasa gelap dll), pada akhirnya mereka tidak menjadi bagian yang berarti dalam sejarah gereja. Setelah menerima mukjizat itu, mereka menghilang begitu saja. Hanya sedikit yang kemudian tetap dicatat oleh Alkitab, sesudah perstiwa mukjizat itu.
Akan tetap pada orang-orang yang mengalami perubahan hidup, mereka menjadi orang yang militan bagi Kristus. Contoh paling jelas adalah Petrus dan Tomas. Nama mereka mendapat tempat yang khusus di dalam sejarah gereja hingga sekarang.

Selama bulan Ramadhan ini, saya pernah melihat 'kesaksian' ustadz Jefry. Dulunya dia adalah pemuda dugem, hedonis dan pengguna narkoba. Sekarang dia menjadi Dai yang kondang. Pertanyaan saya adalah apakah perubahan hidupnya bisa juga disebut mukjizat rohani, ya?

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More