Senin, 30 Mei 2005

You Are What You Read

Ada seorang tokoh (sayangnya saya lupa siapa) pernah berkata begini,
"Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak
seperti apakah diri Anda." Orang ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis
buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas
orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi menjadi sekadar pembaca
buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki
seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari
kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari
buku itu. Salah satu hasil dari proses 'pencernaan' ini berupa tulisan
resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis
resensi.
Kata "resensi" diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin),
yang berarti "melihat kembali","menimbang" atau "menilai". Sedangkan
resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah
buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi
keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca." Ada berbagai nama
yang dipakai oleh media massa untuk menandai rubrik resensi, antara lain:
Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana
atau lainnya.
Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku. [1]. Resensi
Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah. Jenis ini
hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius.
Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.
[2]. Resensi Sinopsis. Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku. Sifatnya
100 % objektif. [3].Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan
menunjukkan faedah buku. Panjangnya sekitar 4 halaman. Sifatnya, 90%
objektif.

A. PERSIAPAN
Persiapan yang wajib dilakukan oleh penulis resensi tentu saja adalah
membaca isi buku itu (kalau perlu membaca berulang-ulang). Dalam hal ini
penulis yang terutama harus membaca dengan seksama bagian "Kata Pengantar"
atau "Pendahuluan" buku itu. Pada bagian inilah, Anda bisa memahami tujuan
penulisan buku ini. Selama membaca buku itu, Anda harus mencermati dan
mencatat hal-hal yang akan dipakai sebagai bahan penulisan nanti, yaitu:
· Tema buku
· Pengarang : Tuliskan Kapasitas, Latar Belakang dan Kualifikasinya.
Apakah dia cukup terkenal dan berkompeten di bidangnya?
· Penerjemahnya: Apakah penerjemah menguasai tema yang dibahas buku
itu.
· Penggunaan Bahan-bahan dan Referensi(Lihat Daftar Pustaka, Tabel
dan Grafik)
· Tujuan penulisan (lihat pengantar dan pendahuluan)
· Sasaran pembaca buku ini
· Data teknis: Jumlah halaman, harga, nama penerbit, tahun terbit.
Format
· Daftar Isi
· Pembagian bab dan pemberian judul tiap bab
· Indeks
Selain itu, selama membaca Anda juga harus mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan-pertanyaan ini:
· Apakah judul buku sudah mencerminkan temanya? Apakah tujuan buku
ini sudah diwujudkan penulis dalam seluruh bab?
· Buku ini termasuk dalam golongan (genre) apa?
· Sudut pandang apa yang dipakai oleh pengarang?
· Gaya penulisan seperti apa yang dipakai pengarang? Apakah formal
atau informal? Apakah itu sudah sesuai dengan sasaran pembaca?
· Bagaimana pemakaian bahasanya? Apakah komunikatif, rumit atau
bertele-tele?
· Apakah pengarang merumuskan konsep dan definisi dengan jelas?
Apakah pengarang menuturkan gagasannya dengan runtut (tidak meloncat-loncat)
dan mudah diikuti? Apakah ada bidang.wilayah tertentu yang tidak dipaparkan
oleh pengarang? Mengapa?
· Jika buku yang diresensi adalah karya sastra, buatlah catatan
seputar karakter, alur/plot dan setting dan bagaimana semuanya itu
ber-relasi dalam tema besar.
Jangan lupa, berilah tanda pada bagian buku yang perlu mendapat perhatian
khusus atau yang bisa dikutip dalam tulisan nanti. Setelah itu, rumuskanlah
sinopsis atau ringkasan buku itu.

B. STRUKTUR TULISAN
Kesalahan fatal yang umumnya dialami oleh penulis pemula, yaitu mereka
mengabaikan pembuatan outline (kerangka) tulisan. Maunya, mereka sekali
menulis langsung jadi. Banyak orang yang menganggap bahwa membuat kerangka
karangan hanya untuk siswa SD saja dalam membuat karangan. Padahal
sesungguhnya dengan kerangka karangan kita akan banyak terbantu karena bisa
menulis secara sistematis, runtut dan berirama. Berikut ini struktur
tulisan yang lazim dipakai dalam tulisan resensi:[1]
1. Lead/Teras

1. Lead/Teras
Bagian awal sebuah tulisan adalah adalah wilayah yang sangat penting.
Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca [atau redaktur] tertarik untuk
membaca keseluruhan tulisan itu, atau tidak. Bagian ini ibarat seperti
sebuah etalase sebuah toko. Etalase yang dirancang secara ciamik akan bisa
menggaet pengunjung yang melintas di depannya untuk masuk toko itu.
Demikian pula, sebuah etalasi yang indah akan menarik pembaca [dan redaktur]
untuk menyelami tulisan itu. Sebuah tulisan tanpa etalase yang baik biasanya
akan lebih cepat berakhir di keranjang sampah redaksi. Bagian tulisan ini
dinamakan teras atau lead. Ada beberapa jenis lead yang dapat dipakai untuk
mengawali tulisan resensi:
a. Memperkenalkan Pengarang. Tulisan diawali dengan memaparkan nama
pengarang, prestasinya, karyanya dan kompetensinya. Contoh: "Profesor J.D.
Legge, dalam karya tulisnya kali ini memberikan sumbangan pengetahuan,
pemahaman dan interprestasi mengenai sejarah perjuangan kemerdekaaan.(Tempo,
5/3/94)
b. Kekhasan Pengarang. Penulis memaparkan ciri khas yang menonjol dari
pengarang. Namun penggunaan kekhasan ini harus tepat. Maksudnya, kekhasan
itu harus relevan dengan topik buku itu.
Contoh: Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap tulisan DR. H.
Roeslan Abdulgani, yakni setiap kutipan suatu peryataan atau kutipan sebuah
buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan.
Tidak saja mempunyai relevansi, tetapi juga menambah bobot
tulisan.(Margantoro, Bernas, 21/3/93).
c. Keunikan Buku: Penulis bisa membuka tulisan dengan memaparkan keunikan
yang jarang dimiliki oleh buku sejenis. Contoh: Luar biasa! Dengan format
panjang-lebar 23x15 cm, ketebalan lebih dari 1056 halaman, buku ini
barangkali tercatat sebagai satu-satunya buku paling tebal untuk jenis buku
nonfiksi berbahasa Indonesia (St. Sularto, Kompas, 26/11/95).
d. Tema Buku: tema yang diulas dalam buku dapat diungkap secara langsung.
Contoh: Membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkara
yang mudah dan gampang, apalagi bila kita kaitkan dengan besarnya cita-cita
orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan tata nilai agama, akrab,
setia kawan, sukses dan berprestasi.(Indarti Ef.Er., Kompas, 11/11/90).
Lead ini untuk mengantarkan kupasan tentang buku cara mendidik anak..
e.Kelemahan Buku: Dengan pertimbangan objektif, peresensi dapat memulai
dengan kelemahan buku itu. Hal ini bisa dipakai jika materi buku tidak
sesuai dengan topik yang dibahas atau memiliki kelemahan yang cukup
mendasar. Contoh: Demokrasi mestinya dipahami sebagai sebuah proses. Untuk
itu, persoalan tentang rentang waktu harus menjadi salah satu patokan.
Sebab, membuat deskripsi final demokrasi tanpa menyebutkan patokan waktu,
jelas akan menimbulkan bias. Apalagi jika menyangkut demokrasi ekonomi.
Sebuah istilah yang sesungguhnya hanya "menumpang" pada istilah bakunya
dalam studi ilmu Politik: demokrasi politik. Konsekuensinya adalah
munculnya istilah-istilah yang tidak pas dengan makna yang dimaksudkan
pengarangnya.
Pemahaman kita tentang pemberian kesempatan yang sama dalam terminologi
demokrasi politik, tidak begitu saja dapat diterapkan dalam terminologi
demokrasi ekonomi. Berbagai faktor di atas sebetulnya membuat pemahaman
tentang judul buku yang dibuat harian sore Surabaya Post ini terkesan agak
kabur.(M. Taufiqurohman, Prospek, 18/9/93)
f. Kesan Terhadap Buku: Lead diawali dengan kesan penulis yang cenderung
subjektif. Peresensi memberikan penilaian yang relevan dan disertai
argumentasi yang tepat. Contoh: Sangat elementer dan jauh dari pemikiran
kritis. Itulah kesan awal jika kita membaca buku ini. Kesan tidak
mengada-ada. Sebab, uraiannya sendiri tampak hanya di bagian-bagian
permukaan saja. Namun, di balik pemaparan yang sederhana dan kurang kritis
ini, terkandung butir-butir pemikiran yang cukup filosofis.(Agus Wahid,
Warta Ekonomi).
g. Penerbit Buku: Ada tiga pertimbangan pemakaian nama penerbit sebagai
lead: (1). Objek yang dibicarakan sama; (2). penerbit baru atau; (3). Buku
diterbitkan untuk acara tertentu. Contoh: Setelah menerbitkan buku
Mendorong Jack Kuntikunti--pilihan sajak dari Australia, budaya dan Politik
Australia, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku lagi tentang Australia,
yakni Yang Tergusur. Kebetulan tahun terbitnya bisa berurutan, yakni 1991,
1992, dan 1993. Satu lagi buku yang bisa membantu kita, tentang "suku
putih"-nya Asia (Margantoro, Bernas, 8/8/93).
h. Pertanyaan: Penulis melontarkan pertanyaan yang menarik minat pembaca.
Contoh: Seringkali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang mengenai
hubungan antara sains dan agama. Misalnya, apakah kemajuan sains menjadi
ancaman bagi agama? Benarkah agama antimodernisasi, karena modernisasi
merupakan buah dari perkembangan sains? (Daniel Samad, Suara Karya, 1/3/96).
i. Dialog: Pendahuluan yang seolah-olah melibatkan pembaca secara pribadi.
Ciri khasnya lead ini terdapat banyak kata "kita" dan "Anda". Contoh:
Masalah keluagra adalah masalah kita bersama. Kita semua terlibat langsung,
dan karenanya berkepentingan untuk menemukan alternatif-alternatif teoritis
dan praktis guna membangun keluarga yang makin bermutu (Margantoro, Bernas,
14/3/93).

2. Pengantar
Setelah puas dengan hasil perumusan lead, lanjutkan tulisan dengan
menggambaran buku itu secara umum. Di sini Anda bisa menceritakan lebih
terperinci tentang siapa pengarang buku ini, kapasitas yang dia miliki dalam
kaitannya dengan subjek buku.
Berikan juga ringkasan tujuan buku ini, tema atau argumen umum yang ada
dalam buku ini. Termasuk juga pernyataan untuk siapa buku ini ditujukan
(sasaran pembaca).

3. Ringkasan Isi
Sajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya
menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas.
Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis
dalam suatu uraian yang bernas.

4. Analisis Tulisan
Pada bagian ini, Anda diharapkan menjabarkan hal-hal yang menonjol dari
sinopsis/ringkasan isi. Berikan 5 atau 6 kutipan langsung. Panjang tiap
kutipan sekitar 2-5 kalimat. Kutipan berfungsi memberi kesempatan pembaca
untuk mencicipi gaya tulisan. Kutipan diapit tanda petik dan wajib 100 %
sama dengan sumbernya. Manipulasi kalimat merupakan pelanggaran kode etik
kepengarangan.
Di sini pula Anda diharapkan memberikan ulasan mengenai hal-hal berikut:
· Gaya apa yang dipakai penulis: sederhana/ teknis; persuasif/ logis?
· Bagaimana metode yang dipakai untuk memberikan argumentasi dalam
buku ini (perbandingan/kontras; sebab/akibat; analogi; persuasi dengan
memberikan contoh)? Berikan contoh untuk mendukung analisis Anda.
· Data dan bukti apa saja yang disajikan dalam buku ini untuk
mendukung argumentasi pengarang(Misalnya: peta, bagan, tabel, tulisan pakar,
kutipan, kliping).
· Apakah data dan bukti itu cukup kuat? (Tunjukkan data yang lemah
dan yang kuat, lalu jelaskan alasannya).
· Apakah argumentasinya sudah lengkap?
· Apakah ada fakta dan data yang terlewatkan oleh pengarang? (Dalam
hal ini, Anda perlu memanfaatkan buku lain dengan topik yang sama untuk
menunjukkan kelemahan buku ini.)
· Apakah penyajian tulisan ini sudah sesuai dengan tujuan penulisan
dan sasaran pembaca.

5.Penilaian Tulisan
· Berikan penilaian secara ringkas: kelemahan dan kekuatan buku ini.
· Berikan penilaian tentang manfaat yang bisa dipetik pembaca dari
buku ini.
· Berikan catatan apakah Anda menyukai buku ini, atau tidak.

6. Penutup
Sebagaimana lazimnya penulisan artikel, tulisan resensi juga harus diakhiri
dengan paragraf yang bernada pamit. Tujuannya supaya pembaca tahu bahwa
tulisan ii akan segera berakhir. Untuk resensi, paragraf penutupnya
biasanya diakhir dengan sasaran yang hendak dituju oleh buku itu.
Contohnya: Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang berkiprah di
pemerintahan, atau pengamat pemerintahan, melainkan juga bagi mereka yang
mengelola organisasi-organisasi besar yang birokrasinya terasa
menjerat.(Ramelan, Manajemen Nop-Des 1995). Apakah resensi hanya bisa
ditutup dengan penyebutan sasaran pembaca? Tentu saja tidak, Anda bisa
menutupnya dengan pesan atau ajakan penulis yang mempertegas uraian
tulisannya.

C. PELUANG
Bukan kebetulan kalau Sekolah Jurnalistik BAHANA kali ini juga menyampaikan
materi tentang teknik penulisan resensi. Kami melihat bahwa sesungguhnya
bidang penulisan resensi ini seperti ladang tak bertuan, yang ksepian dan
belum banyak dijamah orang. Padahal ladang ini lumayan subur, walaupun
"hasil panenannya" memang tidak sebesar tulisan artikel. Setidak-tidaknya
ada tiga manfaat yang bisa kita ambil dengan menulis resensi. Pertama, kita
bisa mendapatkan honor jika tulisan itu dimuat. Kedua, kita bisa menambah
koleksi buku kita secara gratis. Kok bisa begitu? Iya, karena bila tulisan
kita dimuat, kita bisa mengirimkan fotokopi tulisan itu pada penerbit buku
itu. Biasanya penerbit yang baik akan mengirimkan buku-buku terbaru mereka
supaya diresensi kembali oleh orang itu. Pada umumnya penerbitsenang jika
buku terbitan mereka diresensi karena bisa menjadi sarana promosi yang
murah. Itulah sebabnya, ada penerbit yang secara rutin mengirimkan buku
terbaru mereka kepada penulis resensi yang aktif.
Ketiga, jika Anda rajin menulis resensi, nama Anda bisa mulai dikenal orang.
Tingkat persaingan untuk rubrik resensi tidaklah begitu ketat, sehingga
peluang untuk dimuat sangat besar. Ada beberapa orang yang menjadi penulis
yang dikenal karena rajin menulis resensi. Contohnya, St. Kartono(guru SMU
De Britto) dan Br. Paulus Mujiran (rohaniawan).
Nah, jika Anda penulis pemula, Anda bisa memulai dengan menekuni ladang ini.
Tunggu apa lagi?
Dirangkum dari berbagai sumber

[1] Daniel Samad, Dasar-Dasar Meresensi Buku, Grasindo, 1997

http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It