Senin, 30 Mei 2005

Radio Komunitas

Hari ini saya diminta oleh pak lurah desa Wiladeg untuk "presentasi" di depan sembilan lurah di kecamatan Karangmojo. Selama dua minggu ini saya mengerjakan sebuah program komputer untuk sistem administrasi kelurahan atas dasar pesanan pak Sukoco, lurah desa Wiladeg. Dia membutuhkan sebuah program yang bisa menyediakan data kependudukan dengan cepat, akurat dan aktual. Setelah "mencicipi" program yang saya buat, dia tergerak untuk menyampaikan "kabar baik" ini kepada kolega-koleganya, sesama lurah desa.

Lurah yang satu ini memang sangat progresif. Dia termasuk salah satu lurah desa yang sudah menerapkan sistem akuntabilitas dan transparansi di dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Manakala lurah-lurah di desa lain masih belum mampu lepas dari bayang-bayang gaya pemerintahan ala rezim Orde Baru, pak Koco sudah mengakomodasi suara warga di dalam setiap pengambilan keputusan desa. Ketika LPJ masih terasa asing di telinga para lurah desa, dia sudah memberikan LPJ ala desa Wiladeg. Di desa ini ada tradisi bersih desa atau "rasulan". Dalam acara ritual tahunan ini, lurah Desa wajib menyampaikan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan selama setahun. Pada kesempatan ini, warga bebas menyampaikan tanggapannya.

Salah satu usahanya yang membuat saya salut adalah keterbukaannya dalam menerima usulan dari warga. Suatu ketika, ada satu warga yang mengusulkan pendirian sebuah radio komunitas. Dia setuju. Tidak beberapa lama kemudian, berdirilah sebuah stasiun radio yang mengudara dari salah satu ruangan di kantor balai desa. Ketika saya tanya, berapa biaya untuk mendirikan stasiun radio? Dia menjawab enteng, "ah murah kok mas. Cuma duaratus ribu rupiah saja." Lho kok bisa? "Ya bisa aja. Uang itu dipakai untuk membeli konsumsi acara sarasehan warga. Nah, di acara itulah warga desa ini ramai-rama iuran untuk membeli peralatan radio."

Dengan memakai kanal 91,5 FM ini, radio itu melakukan siaran dari pagi sampai pukul satu pagi. Jangan dibayangkan, gaya siarannya seperti dalam radio profesional. Di sini, tidak diterapkan syarat-syarat yang ketat untuk menjadi penyiar. Asalkan bisa berbicara dan berani malu, semua orang boleh "on air".  Meski begitu, acara pilihan pendengar pada jam-jam prime time (19.00-21.00),ternyata meraup banyak pendengar. Hal itu terbukti dari banyaknya telepon yang masuk. Setiap segmen dalam acara yang berdurasi dua jam itu tidak pernah sepi dari penelepon. Terasa ada keakraban gaya desa di acara ini, karena sering terdengar "gojekan-gojekan" (gurauan) antar pendengar.

Kehadiran radio komunitas ini rasanya sudah menjadi medium yang merekatkan kembali kohesivitas warga yang sekian lama telah lama tercerai-berai oleh intervensi media televisi. Selama beberapa tahun, warga di desa ini terpaku dan "terjerat" oleh sajian acara-acara TV yang memikat warga. Mereka lebih memilih asyik menekuni siaran TV daripada beranjak keluar rumah untuk bersosialisasi dengan warga lain. Akibatnya, terjadi gejala alienansi (keterasingan) di desa itu. Warga desa sudah lama kehilangan media untuk bercanda dan bercengkerama. Wadah-wadah pertemuan yang ada seperti rapat RT, arisan, pengajian atau bible study cenderung bersifat formal dan impersonal.

Selain sebagai sarana untuk "say hello", radio ini juga dimanfaatkan untuk menyiarkan aktivitas desa. Pada event-event tertentu, mereka menyiarkan acara sholawatan, karawitan, dan pertunjukan wayang secara langsung. Bahkan acara rapat desa pun disiarkan secara langsung.

Meskipun dengan peralatan seadanya, siaran radio ini mampu menjangkau 80 persen wilayah kabupaten Gunungkidul (catatan: wilayah Gunungkidul mencakup hampir setengah dari propinsi DIY). Ini artinya bahwa pesan yang dibawa oleh siaran ini bisa menjangkau batas-batas desa dan menerobos sampai ke dalam bilik-bilik warga. Tanpa disadari, radio ini telah andil dalam proses demokratisasi di negeri ini.

Mengakhiri catatan singkat ini, ada satu cerita unik dari pak Koco. Pak Koco punya kerinduan untuk meningkatkan kapasitas kolega-koleganya, sesama perangkat desa. Itu sebabnya dia mengambil inisiatif mengumpulkan pada lurah, dukuh, kaur dan anggota BPD dari desa-desa tetangga di balai desa, kemudian mengundang LSM "USC/Satunama" untuk memberikan latihan "capacity building" kepada mereka. Acara pelatihan ini disiarkan secara langsung oleh radio komunitas.

Dalam salah satu sessi, fasilitator pelatihan mengundang peserta untuk menyampaikan permasalahan yang terjadi di desa masing-masing.  Ada salah satu anggota BPD (Badan Perwakilan Desa) di desa "K" yang kemudian memakai kesempatan itu untuk membeberkan persoalan di desanya. Rupanya hal itu membangkitlam emosi lurah desa "K". Dia tidak mau dipermalukan di forum itu. Dia pun menanggapi "serangan" dari "rivalnya" itu dengan nada sengit. Tak ayal lagi, terjadilah polemik di forum itu.

Pak Koco menuturkan bahwa rivalitas mereka sebenarnya sudah lama ada, namun terjadi di balik permukaan. Dalam forum inilah mereka seolah menemukan katarsisnya. Karena disiarkan langsung oleh radio, perdebatan yang seru itu didengarkan oleh banyak warga desa "K". Mereka akhirnya menjadi tahu, apa yang sebenarnya terjadi di jajaran pimpinan mereka.

Entah mereka menyadari bahwa acara itu di"live"kan oleh radio, atau tidak, tetapi kedua kubu itu kembali melanjutkan "pertarungan" mereka pada hari kedua dan ketiga dalam pelatihan itu..... Ah...mahalnya sebuah harga diri!

Lembah kapur, 27 April 2005
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It