Rabu, 04 Mei 2005

Penipuan Surat Berhadiah

oleh: Purnawan Kristanto
Tersebutlah seorang pengacara, sebutlah namanya Poltak, yang mendapat kiriman surat. "Selamat! Anda memenangkan undian berhadiah. Silakan mengambil hadiah di counter kami di....[salah satu mal di Jogja]," demikian bunyi surat itu. Tergiur oelh hadiah itu, maka dengan semangat 45, si Poltak mengajak isterinya untuk mendatangi alamat yang tertera di surat itu.
Memang benar. Begitu Poltak menyerahkan "surat panggilan" itu, petugas di counter itu mencocokkan nama yang tertera di surat dengan KTP Poltak. Ternyata cocok. Petugas lalu menyodorkan sebuah kamera saku bermerek "Olymbus" (saya tidak salah ketik. Namanya memang mirip-mirip dengan brand produsen kamera saku terkenal "Olympus". Tapi jangan coba-coba membandingkan kualitasnya karena kamera plesetan ini htidak punya motordrive maupun lampu kilat. Lensanya pun terbuat dari plastik).
Tapi ketika Poltak bermaksud pulang, petugas itu berusaha mencegahnya. Menurutnya, Poltak mendapat kesempatan untuk memenangkan undian tahap kedua. Namanya undian suprise. Caranya, Poltak diminta untuk mencabut salah satu dari jenis hadiah yang disediakan. Mendengar penuturan itu, tentu saja girang hati Poltak. Dengan hati berdebar-debar, dia mencabut salah satu undian dan menyerahkannya pada petugas di counter itu untuk dibuka.
Mendadak raut muka petugas itu berubah. Dia minta permisi sebentar untuk menelepon kantor pusat di Jakarta. Dia terlihat berbicara serius dengan lawan bicaranya. Setelah mendapat konfirmasi, segera dia mengabarkan dengan muka cerah bahwa Poltak baru saja memenangkan undian sebesar 20 juta! Kontan seluruh ruangan menjadi heboh. Karyawan-karyawan yang ada di counter itu berebutan memberi selamat kepada Poltak. Mereka lalu memutar musik yang memenuhi kapling itu.
Setelah suasana mereda sedikit, petugas counter lalu menjelaskan bahwa untuk mendapatkan hadiah itu ada syarat-syaratnya. Dia mengatakan bahwa hadian tersebut tidak diberikan berupa uang, tapi berupa barang, yaitu produk mereka. Untuk itu, Poltak diwajibkan membeli barang-barang yang ada di counter itu dengan potongan harga yang sangat besar. Dia lalu menawarkan penjernih air seharga 8 juta, tapi didiskon menjadi 2,5 juta saja. Ada juga home teater DVD seharga 15 juta, yang dipotong menjadi 5 juta saja. Ditawarkan juga kursi pijat elektrik, panci listrik, microwave, AC untuk perokok, pesawat TV dll. Semuanya dengan diskon yang gila-gilaan!
Penawaran tersebut berlangsung secara bertubi, diselingi dengan dorongan semangat dari karyawan-karyawan lain supaya Poltak mengambil peluang emas. Suasananya seolah didesain supaya Poltak tidak punya kesempatan untuk berpikir secara rasional. Setiap kali Poltak hendak berpikir, dia disodori gelas yang berisi air hasil penjernihan. Dia diminta mencicipinya. Kemudian dia digiring untuk mencoba kursi pijat, sembari menikmati semilir AC untuk perokok. Slogan "konsumen adalah raja" benar-benar dilakukan secara harfiah pada saat itu.
Mendapat bombardir seperti itu, Poltak "menyerah" juga. Dia tergiur pada hometeater DVD. "Seandainya saya jual 10 juta saja, saya sudah untung 5 juta," demikian pikirnya. Saat itu dia hanya membawa uang 200 ribu. Karena itu, dia meminta supaya boleh membayar besok. Petugas itu menolak. "Tidak bisa, Pak. Bapak harus mengambil keputusan hari ini juga. Bapak beruntung, karena kami mengirimkan surat ini kepada 500 orang, dan hanya Bapak yang memenangkan hadiah ini. Kalau Bapak tidak mengambil hadiah ini, maka kami akan mengundinya lagi untuk konsumen berikutnya," tutur Petugas itu dengan meyakinkan. Sementara itu karyawan lain terus menerus membujuk Poltak supaya mengambil peluang itu.
Jebol juga pertahanan Poltak. Akhirnya dia permisi untuk mengambil uang di ATM. Dia mengajak isterinya, tapi petugas menahan isterinya dengan halus. Alasannya, supaya tidak capek. Singkat cerita, Poltak membayar uang sebanyak 2,5 juta sebagai uang muka untuk pembelian DVD hometeater.
Karena penasaran dengan harga-harga yang tertera, setelah dari counter itu, Poltak mengecek harga di toko elektronik. Betapa kaget hatinya manakala melihat DVD yang sejenis hanya dibandrol 250 ribu! Ketika kemudian membandingkan produk-produk yang lain, dia mendapati bahwa harga di pasaran hanya berkisar antara 10-30 persen dari harga yang ditawarkan oleh petugas di counter itu. Padahal harga itu adalah harga sesudah didiskon habis!
Karena merasa ditipu, keesokan harinya Poltak kembali ke counter untuk mengembalikan barang itu. Tentu saja pengembalian itu ditolak. Terjadilah perdebatan seru. Namun rupanya petugas di sana sudah dilatih untuk menghadapi situasi seperti itu. Sepertinya di sudah punya jawaban seperti apa yang harus diberikan jika mendapat argumentasi tertentu.
Kisah ini tidak hanya dialami oleh Poltak saja. Penipuan semacam ini sudah berlangsung setidaknya sejak tahun 1994 di Yogyakarta. Menurut catatan YLKI Jogja, setidaknya ada lima perusahaan yang melakukan praktik bisnis yang mengelabuhi ini. Mereka beroperasi di Galeria Mal, Ramai Mal, Maliboro Mal dan Toko Kawedar. Yang memprihatinkan, korban tidak hanya berasal dari kalangan yang kurang terdidik. Bahkan ada hakim dan doktor yang pernah tertipu oleh praktik dagang semacam ini. Jika orang yang berpendidikan tinggi saja bisa terkelabuhi, bagaimana dengan orang-orang yang bependidikan pas-pasan?
Pada mulanya, perusahaan ini beroperasi secara vulgar. Mereka mengirimkan surat yang isinya untuk mengambil hadiah. Begitu sampai di sana, konsumen diwajibkan membeli dagangan mereka supaya bisa mendapat hadiah itu. Praktik ini pernah diadvokasi oleh YLKI Jogja dan pernah dibahas di DPRD. Setelah itu modusnya diganti lebih halus lagi. Mereka benar-benar memberikan hadiah tanpa syarat. Tapi setelah itu mereka menggiring konsumen untuk membeli dagangan mereka. Caranya dnegan pengkondisian secara psikologis, melalui bujukan maupun dengan pujian, dan sesekali disertai ancaman (Mereka berkata: "Kesempatan ini hanya berlaku pada hari ini". Take it or leave it).
Meskipun setiap tahun kejadian ini selalu terulang, sayangnya pemerintah belum melakukan tindakan yang berarti untuk menncegah hal ini terulang lagi. Suatu kali, salah satu anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen mengadukan hal ini pada polisi. Bagaimana tanggapan polisi? "Kasus seperti ini sering terjadi. Biarkan sajalah, Soalnya susah menanganinya?" kata polisi dengan enteng.Menurut data YLKI, sedikitnya ada 20 orang yang mengadu ke YLKI sebagai korban. Jika angka ini dipandang sebagai fenomena gunung es, maka sebenarnya ada ratusan lagi orang yang mengkin tertipu dengan akumulasi nilai nominal sampai ratusan juta (asumsinya: mereka mengirimkan surat ini kepada 500 orang sekali kirim).
Kasus seperti ini sebaiknya tidak ditangani dalam level daerah, mengingat perusahaan ini juga beroperasi di propinsi lain. Yang lebih memprihatinkan lagi, salah satu perusahaan ini berasal dari negara Malaysia. Itu artinya, persoalan ini seharusnya menjadi persoalan di tingkat nasional. Hitung saja berapa besar kerugian secara nasional jika kondisi ini terus berlanjut!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It