Senin, 30 Mei 2005

Pak Cip

Bertepatan dengan hari ulangtahunku, aku mendapat kabar pak Cip meninggal dunia pada usia 64 tahun. Beliau dipanggil Bapa di Sorga secara mendadak, pada saat mandi pagi setelah bersih-bersih rumahnya.

Memang tidak banyak orang yang mengenal pak Cip, karena dia adalah sosok yang low profile, tenang dan kalem. Perjumpaanku dengan pak Cip dikarenakan dia menjadi suami bu Nunuk, yang  sekarang menjadi anggota Komnas Perempuan. Sebelum menjadi anggota Komnas Perempuan, bu Nunuk atau nama lengkapnya Agustina Prasetyo Murniati terlibat aktif di di Ornop yang bergerak di bidang lingkungan, perempuan dan perlindungan konsumen. Ketika  Orde Baru masih jaya, aku, bu Nunuk dan teman-teman melakukan berbagai cara untuk  'menggerogoti' hegemoni rezim Soeharto yang sangat kokoh itu. Kami melakukan pengorganisasian masyarakat di tingkat akar rumput dengan lebih dulu memberikan penyadaran kritis terhadap situasi ketidak-adilan saat itu.

Kami melakukan gerilya di desa-desa maupun perkotaan dengan mendatangi  kelompok-kelompok masyarakat untuk memberikan pelatihan atau sekadar berbincang-bincang. Kami biasa melakukan ini pada malam hari, ketika orang-orang sudah selesai bekerja. Di sinilah kami sangat terbantu oleh jasa pak Cip yang mengantarkan kami dengan kijang kotak yang sudah berusia tua itu. Lucunya, sebagai sopir, pak Cip punya kelemahan yang mendasar. Daya ingat visualnya payah. Dia susah sekali menghapal tempat-tempat baru, sehingga kalau diminta menyetir sendirian, pastilah kesasar. Itu sebabnya, pak Cip selalu membutuhkan seorang Navigator yang memberi aba-aba kapan harus berbelok. Biasanya tugas ini dijalankan oleh bu Nunuk.

Sebagai suami dari seorang aktivis, apalagi aktivis perempuan,  aku membayangkan pak Cip tentu mengalami satu pergumulan. Pada saat itu gerakan perempuan masih dipandang sebelah mata. Istilah-istilah dalam feminisme seperti "gender", "kesetaraan", "peran ganda", "stereotype" masih terasa asing di telinga. Gerakan ini belum mendapat tempat di dalam masyarakat. Bahkan di kalangan aktivis LSM sendiri sering dijadikan bahan lelucon. Sementara itu, dalam struktur sosial yang masih patriarkhi ini, masyarakat masih menganggap negatif terhadap perempuan yang memasuki sektor publik dan lebih menonjol dibandingkan suaminya. Hal ini yang terjadi pada pak Cip. Orang-orang lebih banyak mengenal bu Nunuk daripada pak Cip.

Pergumulan lainnya ada di dalam pekerjaan pak Cip, yang menjadi pegawai negeri.  Pada saat itu, penguasa menerapkan monoloyalitas para birokrat yaitu hanya pada negara. Kebijakan (yang tidak bijak) ini pastilah menimbulkan conflict of role di dalam diri pak Cip. Di satu sisi, pada saat jam kerja dia dituntut untuk setia pada negara, tetapi di luar jam-jam kerja dia harus mendukung kerja-kerja yang berusaha mengikis dominasi negara itu.

Pergumulan yang lebih berat lagi adalah ketika bu Nunuk menolak untuk aktif di organisasi Dharma Wanita, lazimnya isteri birokrat. Menurut bu Nunuk, organisasi ini cenderung melecehkan perempuan karena hanya mendompleng jabatan suaminya dan lebih sering dipakai sebagai alat kekuasaan untuk mobilisasi.  Pak Cip bisa menerima alasan ini. Di sinilah kebesaran hati dan kearifan pak Cip terlihat nyata. Di sisi lain, pak Cip yang pendiam ini ternyata juga punya keberanian dalam menentang ketidak-adilan. Saat  itu menjelang Pemilu. Seperti yang sudah-sudah, penguasa 'menghimbau' (baca: mewajibkan) para pegawai negeri untuk mendukung kontestan Pemilu yang berlambang beringin. Dengan sistem komando ala militer, 'himbauan' ini mengalir turun dari pucuk pimpinan hingga ke aras paling bawah. Sebagai pimpinan kantor, pak Cip juga mendapat 'himbauan' ini dari atasan. Akan tetapi dia berani untuk tidak meneruskan himbauan ini kepada bawahannya. "Saya memang mendapat pengarahan supaya menghimbau kalian untuk memilih partai tertentu, tetapi saya membebaskan kalian dalam memilih partai dalam pemilu nanti," demikian kata pak Cip kepada anak buahnya.

Kini pak Cip, atau nama lengkapnya Vincencius Sucipto, sudah di Sorga. Bagi bu Nunuk, kepergiaan pak Cip merupakan kehilangan yang besar. Setelah memasuki pensiun, pak Cip semakin setia mengantarkan bu Nunuk mondar-mandir Jogja-Jakarta dan ke kota-kota lainnya. Rupanya pendampingan ini dirasakan sangat membentu bu Nunuk. Hal itu yang disampaikannya ketika berdoa pada misa reqiuem hari ini (3/5). "Tuhan, sebenarnya dua minggu terakhir ini aku sudah melihat tanda-tanda bahwa Engkau akan memanggil mas Cip," demikian doa bu Nunuk, "waktu itu aku berdoa supaya Engkau memberikan umur panjang pada mas Cip karena aku masih membutuhkannya untuk menemaniku ke tempat-tempat yang Engkau utus kepadaku. Tapi Engkau berkehendak lain. Kiranya kehendakMu saja yang terjadi."

Dengan kesederhanaannya, pak Cip telah menggarami dunia ini. Beliau merelakan rumahnya untuk dijadikan markas Gerakan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Dia tidak keberatan privasinya terganggu oleh banyaknya anak muda yang berkunjung ke rumahnya. Entah itu untuk rapat, numpang membaca, atau sekadar bermain. Dia juga bersedia mengangkat karung-karung beras pertanian organik. Berdasarkan hal ini, aku kok punya keyakinan Bapa di Sorga telah menyambut pak Cip sambil berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia." 

Selamat jalan pak Cip. Aku yakin Sampeyan tidak akan kesasar karena Sampeyan sudah memiliki Navigator yang sejati
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It