Senin, 30 Mei 2005

IKLAN TV MERUSAK POLA KONSUMSI ANAK


Oleh : Purnawan Kristanto
Aktivis konsumen pada YLKI Yogyakarta
Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan
televisi yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara
berpikir serta perilaku mereka (Peggy Chairen, pendiri Action for Children
Television).

Anak-anak bukanlah orang dewasa mini karena mereka belum mempunyai
kematangan cara berpikir dan bertindak. Ia berada pada tahap sosialisasi
dengan melakukan pencarian informasi di sekitarnya dalam rangka membentuk
identitas diri dan kepribadiannya. Sumber informasi utama bagi anak adalah
dari keluarga. Setelah itu, ia mengumpulkan informasi lainnya dari teman
sebaya, sekolah, masyarakat dan media massa.
Pada keluarga modern sekarang ini ada kecenderungan semakin sedikitnya waktu
untuk berinteraksi antara orang tua dan anak-anak karena kesibukan kerja.
Sementara itu, semakin tingginya angka kriminalitas dan semrawutnya lalu
lintas di perkotaan , meningkatkan kecemasan orang tua terhadap keselamatan
anak-anaknya. Karena itu, mereka merasa lebih tenang bila anak mereka
berdiam diri di rumah seusai sekolah. Perubahan sosial ini berarti menambah
intensitas anak di dalam menonton televisi. Padahal kita ketahui, di luar
acara keagamaan, tidak ada satupun acara TV swasta yang tidak diselingi
penayangan iklan. Semakin bagus acara itu, semakin banyak pula iklannya.
Hal ini tidak dapat dihindarkan karena sumber pembiayaan stasiun TV swasta
adalah dari iklan saja. Setiap upaya pembuatan acara TV selalu dilandasi
motif untuk menjual, menjual dan menjual. Sehingga seperti kata Milton Chen
dalam bukunya Chlidren and Television, "acara TV komersial yang kita
saksikan hanyalah umpan untuk mendekatkan kita dengan iklan".
Daya Tarik Emosional
Pada umumnya fungsi dari iklan adalah untuk memberi informasi dan melakukan
persuasi. Tujuan dari pemberian informasi adalah untuk (a) memperkenalkan
produk baru atau perubahan pada produk lama, (b) menginformasikan
karakteristik suatu produk, dan ©. memberi informasi tentang harga dan
ketersediannya. Sedangkan tujuan dari persuasi adalah untuk meyakinkan
konsumen tentang manfaat (benefit) suatu produk, untuk mengajak konsumen
agar membeli produk dan untuk mengurangi keragu-raguan setelah membeli atau
mengkonsumsi produk.
Untuk mengkomunikasikan pesan-pesan itu, kalangan pengiklan bisa menggunakan
daya tarik emosional yaitu dengan menyentuh rasa senang, gembira, kasihan,
gengsi, takut sedih dll, atau daya tarik rasional dengan memberi informasi
tentang kelebihan dan kekurangan suatu produk.
Untuk iklan yang ditujukan buat anak-anak, pengiklan lebih sering memakai
daya tarik emosional karena didukung kenyataan bahwa 75 % keputusan manusia
dilandasi oleh faktor emosi. Selain itu daya tarik emosi juga mempunyai
keunggulan yaitu (a). lebih menarik perhatian anak (b). klaim pada iklan
lebih gampang diingat dan, ©. dapat menjadi faktor diferensiasi dari produk
sejenis yang jadi pesaingnya. Sebagai contoh, kebanyakan kandungan
miultivitamin hampir sama, tapi merek multivitamin yang diiklankan oleh
Joshua ternyata lebih laris manis. Karena itulah para pembuat iklan anak
lebih senang menampilkan tokoh idola anak-anak-anak, membuat visualiasi yang
menerbitkan selera memberikan hadiah (gimmick), atau memakai musik yang
riang gembira daripada memberikan informasi yang obyektif. dan memadai.
Umumnya anak-anak belum mampu menapis informasi dari iklan yang dapat
dipakai untuk membuat keputusan dalam membeli suatu produk. Hal ini
ditunjukkan hasil penelitian LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan
Konsumen) tahun 1995, bahwa 94,2 % responden anak-anak pernah membeli produk
yang diiklankan TV karena tertarik pada bintang iklannya. Survei serupa
oleh CERC (Consumer Education and Research Center) di India, mendapati 75 %
anak-anak mengaku pernah meminta orang tua membelikan produk yang diiklankan
TV. Mereka juga hapal siapa teman, tetangga atau saudaranya yang memakai
produk yang sama.
Iklan Pangan
Di banyak negara, termasuk Indonesia, iklan yang paling sering muncul pada
acara yang ditujukan untuk anak-anak adalah kateogri pangan. Kenyataan ini
perlu dicermati secara kritis karena iklan bisa membentuk pola makan yang
buruk pada masa anak-anak. Padahal makanan yang dikonsumsi pada masa
anak-anak ini akan menjadi dasar bagi kondisi kesehatan di masa dewasa dan
tua nanti.
Efek yang paling disoroti adalah munculnya gejala obesitas (kegemukan) yang
dikaitkan dengan intensitas menonton TV. Semakin seringnya anak nongkrong
di depan TV apalagi ditambahi dengan aktifitas ngemil, berarti semakin
sedikit anak melakukan aktifitas fisik yang bisa membakar kalori menjadi
energi. Kelebihan kalori ini kemudian disimpan menjadi lemak yang
menyebabkan kegemukan. Jurnal Pediatrics terbitan Amerika Serikat
menyebutkan bahwa setiap penambahan alokasi waktu menonton TV sebesar 1 jam
akan meningkatkan kemungkinan obesitas sebesar 2 persen.
Penelitian LP2K juga menunjukkan bahwa waktu menonton anak di Semarang,
rata-rata 4 jam/hari. Sedangkan penelitian Pratanthi Pudji Lestari (1996)
di Bogor mendapati anak-anak yang obesitas menonton TV selama 4,65 jam/hari
dan anak yang tidak obesitas 3,13 jam/hari. Padahal idealnya tidak lebih
dari 2 jam/hari. Penelitian ini mendukung hasil penelitian di AS bahwa ada
kecenderunbgan anak-anak meluangkan waktu untuk menonton TV lebih banyak
daripada kegiatan apapun lainnya kecuali tidur.
Selain obesitas, persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan
zat-zat gizi dalam makanan yang digemari anak-anak. Pertama, kandungan
garam. Garam mengandung unsur Natrium dan Sodium yang berfungsi sebagai
elektrolit tubuh. Makanan yang kurang garam memang terasa hambar, namun
kandungan garam yang berlebihan bisa menimbulkan ketidak-seimbangan
elektrolit tubuh. Hal ini sangat riskan bagi penderita tekanan darah tinggi
dan penyakit jantung.
Menurut penelitian Puslitbang Gizi Bogor (1995), kandungan garam pada
makananan jajanan hasil olahan pabrik lebih tinggi daripada hasil olahan
rumah tangga. Biskuit yang rasanya manis, ternyata kandungan garamnya sangat
tinggi (1.395,5 mg/100 gram makanan). Demikian juga dalam mie instant untuk
berbagai merek dan rasa, apalagi dalam bumbunya, kandungan garamnya sangat
tinggi. Setiap bungkus bumbu mie instant mengandung 3.448-4.940 mg.
Kandungannya lebih tinggi lagi terdapat pada mie instant rasa pedas
(tampaknya setiap penambahan rasa pedas perlu disertai penambahan rasa
asin. ). Padahal angka kecukupan garam untuk anak-anak adalah 2.858 mg/hari.
Kedua, kandungan kolesterol. Kolesterol adalah unsur penting dalam lemak
dari keluarga sterol. Kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan pengapuran
pembuluh darah yang menyumbat arteri koroner. Penyumbatan ini menyebabkan
terganggunya suplai oksigen ke otak sehingga berresiko terkena serangan
stroke.
Hasil penelitian terakhir menunjukan bahwa penyakit jantung koroner
sebenarnya mulai timbul pada masa anak-anak. Studi di AS menunjukkan 25
dari 100 anak mempunyai tingkat kolesterol yang sudah mendekati batas aman.
Penelitian lain menemukan bahwa pengapuran pembuluh darah terjadi justru
pada usia 5-10 tahun. Pada remaja usia 18 tahun sudah ditemukan adanya garis
lemak yang melapisi pembulunh darah koroner.
Lalu bagaimana kandungan lemak pada makanan? Hasil pengujian YLKI (1997)
terhadap fast food menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara komposisi
gizi produk yang dipasarkan di Indonesia dan di AS. Perbedaan yang paling
mencolok adalah kandungan lemak yang lebih tinggi di Indonesia. Konsumsi
lemak yang dianjurkan adalah 20 % dari total kecukupan energi. Hasil
pengujian menunjukkan 1 porsi burger keju menyumbang lemak 26,4 % dari total
kecukupan energi untuk anak, 1 porsi kentang goreng 42 % dan ayam goreng
41,7 %. Di sini terlihat bahwa sumbangan lemak dari fast food sangat
tinggi. Padahal jumlah itu belum termasuk jika anak menambah porsi atau
makanan lain yang dikonsumsi dalam satu hari itu.
Ketiga kandungan MSG (MonoSodium Glutamate).Banyak makanan jajanan anak
(snack) dan mie isntant yang mengandung MSG. Fungsi MSG adalah sebagai
penyedap rasa berupa rasa gurih. MSG sebenarnya tidak mempunyai nilai gizi,
malah tidak ada manfaat sama sekali bagi tubuh manusia. Bahkan pemakaian
yang berlebihan (di atas 120 mg/kg berat badan/hari) dapat membahayakan
kesehatan. Akibat yang sudah diketahui adalah timbulnya Sindroma Restoran
Cina. Gejalanya berupa rasa haus, mual, pegal-pegal pada tengkuk, sakit dada
dan sesak napas yang timbul 20-30 menit setelah mengkonsumsi MSG yang
berlebihan. Akibat lainnya adalah resiko penyakit kanker. Penelitian di
Jepang menyimpulkan bahwa MSG jika dipanaskan pada suhu sangat tinggi bisa
berubah menjadi karsinogenik (menyebabkan penyakit kanker). Tapi untuk hal
ini masih ada silang pendapat para pakar.
Keempat, kandungan gula. Anak-anak sangat menyukai makanan yang manis-manis
seperti permen, coklat, minuman ringan, sirup, kue dll. Gula adalah sumber
kalori yang tinggi. Bila tidak dibakar, gula bisa berunbah menjadi lemak.
Selain itu, gula juga bisa menyebabkan kerusakan gigi (karies) pada
anak-anak.
Pengaturan Iklan
Mengingat adanya efek negatif dari iklan yang ditujukan pada anak-anak
khususnya iklan makanan, sudah sepatutnya mulai dibuat peraturan periklanan
untuk anak-anak. Sayangnya masalah iklan untuk anak-anak ini belum diatur
secara spesifik dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen no 8/1999.
Padahal di negara-negara maju yang "lebih kapitalistik" dari Indonesia,
mereka sudah lama peduli pada nasib anak-anak dan mulai membatasi iklan pada
acara TV anak-anak.
Negara Swedia dan Norwegia melarang iklan untuk anak di bawah 12 tahun dan
sama sekali melarang iklan di acara TV untuk anak. Australia melarang iklan
pada acara anak pra sekolah dan menetapkan iklan makanan tidak boleh
memberikan penafsiran ganda. Negara Belgia melarang penayangan iklan 5 menit
sebelum dan sesudah acara anak dan iklan permen harus mencantumkan gambar
sikat gigi. Negara Denmark dan Finlandia melarang sponsorship di acara anak.
Di Denmark iklan snack, minuman ringan dan coklat dilarang mengklaim sebagai
pengganti makanan. Negara Inggris menentukan bahwa iklan tidak boleh
mendorong konsumsi sesering mungkin. Sedangkan AS mewajibkan setiap iklan
makanan harus mendorong agar anak menjadi sadar gizi.
Karena itulah, sudah saatnya bagi pihak-pihak yang peduli pada perlindungan
anak-anak untuk segera melakukan tindakan untuk menghentikan eksploitasi
kepentingan komersial terhadap anak-anak . Caranya adalah dengan mendesakkan
pengaturan iklan anak-anak pada UU Penyiaran.***

http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It