Senin, 30 Mei 2005

Draft Skenario: Tujuhpuluh Kali Tujuh Kali

Durasi                                   : 30 menit

Tokoh                                    :

·      Jurnalis "A"   : Wartawan sebuah majalah rohani yang idealis, suka    menolong dan gigih.

·      Pengusaha "B": Orang yang kaya raya tetapi terbelit hutang pada bank.  Dia pintar ngomong, lihai membujuk dan tidak punya belas kasihan.  Punya "sepasukan" preman yang selalu siap disuruh menteror orang.

·      Janda Pendeta "C": Polos, lemah tetapi bersandar kepada Tuhan.

·      Pemilik Bank "D"         : Bijaksana, baik hati, punya belas kasihan tetapi bisa bertindak tegas.

·      Preman

·      Dewan Redaksi

 


Bab I

Suruhan Pengusaha Kristen Mendatangi Janda Pendeta

"Braaak!"

Suara meja digebrak dengan keras.  Seorang ibu yang duduk di belakangnya tertunduk gemetar. Butiran-butiran keringat menetes dari dahinya.

"Sudah berapa kali kamu berjanji akan membayar hutangmu, hah?!! Tetapi buktinya mana? " 

"Maa ..maaf pak.  Ya, bagaimana lagi.  Kami memang tidak punya uang lagi."

Ruang tamu itu terasa semakin panas.  Asap rokok yang mengepul dari mulut para penagih hutang itu membuat napas menjadi sesak dan memedihkan mata.  Sesekali ibu setengah baya itu mengusap air matanya.  Bukan pedih karena asap, tapi pedih dari dalam hatinya.  Ibu ini bernama Sumiyati.  Baru saja ditinggal mati suaminya.  Meski tanah kuburannya belum kering, sejumlah pemuda berbadan tegap dan berwajah sangar mendatangi janda yang masih berduka itu.  Mereka ini adalah suruhan Dew

Si janda minta waktu seminggu lagi untuk melunasi utang.  Preman-preman ini pergi dengan gusar.  Dia mengancam akan mengusir dan menyegel rumah itu jika seminggu lagi si janda tak melunasi utangnya.

 

Babak II:

Bank Menagih Pengusaha Kristen

Di tempat yang lain, si pengusaha memasuki kantor bank dengan wajah pucat.  Dia pusing tujuh keliling memikirkan cara melunasi hutangnya.  Akibat krisis ekonomi, usahanya menjadi ambruk dan dia tidak mampu lagi mencicil hutangya.  Kreditnya macet total.

Pemilik bank mengancam akan menyita rumah beserta harta pribadi pengusaha yang lain, jika tidak segera melunasi hutang.  Mendengar hal itu, pengusaha ini langsung lemas.  Dengan suara menghiba-hiba, dia minta keringanan hutang.  Dia berdalih kalau usahanya ditutup, banyak orang yang di-PHK.  Karena merasa kasihan, akhirnya pemilik bank malah memutihkan hutang itu.  Dengan kata lain, hutangnya dianggap lunas.

 

Babak III
Rapat Redaksi

Di kantor media, dewan Redaksi dan bagian pemasaran sedang membahas kasus janda pendeta itu.  Si jurnalis ngotot menurunkan tulisan itu.  Sementara itu, bagian pemasaran menginformasikan bahwa pengusaha kaya itu adalah pemasang iklan yang setia.  Jika berita tetap diturunkan, maka pengusaha tidak mau pasang iklan lagi.

Argumentasi jurnalis akhirnya diterima.  Berita tetap diturunkan dengan resiko akan kehilangan pemasang iklan potensial. Tiba-tiba ada telepon yang memberitahu bahwa rumah janda itu akan disegel.  Si Jurnalis segera meluncur ke lokasi kejadian.

 

Babak IV

Penyegelan

Diwarnai dengan jeritan tangisan istri pendeta dan anak-anaknya, orang suruhan pengusaha menyegel dan menyita rumah janda itu. Si jurnalis merekam peristiwa itu.  Sepeninggal orang suruhan pengusaha, si jurnalis mengajak keluarga istri pendeta itu untuk sementara menginap di kantor redaksi.

 

Babak V

Pemborongan Majalah

Berita penggusuran itu diturunkan oleh jurnalis.  Tetapi rupanya si pengusaha sudah mengantisipasi berita itu. Ketika majalah itu terbit, dengan kekuatan uangnya, dia menyuruh bawahannya memborong majalah di semua agen dan toko buku.  Masyarakat yang mengetahui kejadian itu malah menjadi penasaran.  Mereka mencari majalah edisi itu yang tidak sempat diborong.  Bahkan fotokopinya pun laris manis tanjung kimpul.

Tanpa dinyana, kasus ini malah menarik perhatian banyak orang.  Apalagi stsiun TV juga ikut menayangkan peristiwa itu. Akibatnya banyak orang tersentuh dan tergerak untuk memberi sumbangan. Tak pelak lagi, ruangan redaksi majalah itu menjadi sibuk oleh dering telepon orang yang bersimpati.

 

Babak VI

Ketahuan Belangnya

Pihak bank yang tahu keculasan pengusaha itu menjadi berang.  Akhirnya mereka menyita rumah orang kaya beserta harta pribadi untuk melunasi hutangnya.

 

Babak VII

Ending

Di sebuah perumahan yang sederhana, janda pendeta dan anak-anaknya memasuki rumah barunya dengan sukacita.  Mereka mengadakan kebaktian sederhana untuk memberkati rumah itu.

Sementara itu, tepat di sebelahnya, ada keluarga baru yang juga pindahan saat itu.  Ternyata mereka adalah keluarga pengusaha yang terpaksa pindah ke rumah baru dengan bersungut-sungut dan bertengkar satu sama lain.

Tamat

 http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It