Senin, 30 Mei 2005

Bahaya Tersembunyi di Balik Pornografi

Hingga saat ini, pornografi masih menjadi bahan polemik yang belum ada titik
temunya.Kubu pengecam pornografi menghendaki pembatasan sajian gambar dan
foto sensual; sementara itu kubu yang lain menolak pembatasan ini karena
dianggap memasung kreativitas. Sayangnya, hingga saat ini belum ada rumusan
yang dapat dipakai untuk menakar kadar pornografi yang disajikan oleh media
massa. Akibatnya kita kesulitan menentukan apakah sebuah gambar, tulisan
atau pertunjukkan itu masih dapat dipahami dan dinikmati sebagai produk
kesenian atau sudah mengarah kepada percabulan.
Batasan yang Kabur
Pornografi sebenarnya sebuah fenomena kuno yang telah menempuh perjalanan
yang panjang. Kaisar Romawi, Tiberius Claudius Nero (berkuasa tahun 14-37
M), diperkirakan memiliki koleksi pribadi berbagai benda-benda pornografi
eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini
dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah orang
Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani,
pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" +
graphein= "tulisan"). Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya
"menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga
makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau
tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi
(seperti buku atau foto) yang menggambarkan perliaku erotis dan sengaja
bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan
dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat
dan kuat.
Pada zaman dulu, kebanyakan gambar-gambar porno justru tersebar luas di
peradaban Timur, terutama di India dan Jepang. Di Indonesia, salah satu
pengaruhnya, dapat kita lihat di candi Sukuh. Di masa modern ini,
pornografi telah lama menjadi bahan perdebatan yang kontroversial, terutama
menyangkut status legalitas dari pornografi itu. Perdebatan berpusat pada
apakah pornografi bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari
percabulan, atau tidak; dan apakah perlu dilakukan penyensoran terhadap
pornografi, atau tidak.
Kecanduan Pornografi
Di Indonesia, kubu pengecam pornografi mengeluarkan argumentasi bahwa bahwa
pornografi bisa berubah menjadi porno aksi. Mereka menyodorkan sejumlah
fakta pemerkosan dan pelecehan seksual lainnya yang terjadi sesaat setelah
si pelaku kriminal itu menonton gambar atau VCD porno. Harus diakui bahwa,
bagaimanapun juga pornografi memiliki dampak buruk bagi kaum penikmatnya.
Salah satunya berupa potensi yang dimilikinya dalam menciptakan kecanduan.
Menurut Dr. Robert Weiss dari Sexual Recovery Institute di Los Angeles,
pornografi memiliki reputasi efek mirip kokain, yaitu menimbulkan kecanduan
seksual. "Cara kerjanya sangat cepat dan kuat," kata Weiss. Sama seperti
penggunaan narkotika, pengalaman kenikmatan seksual yang didapat dengan
melihat gambar-gambar porno dapat menimbulkan pola perilaku yang berulang
dan semakin intensif. Walhasil, terciptalah kecanduan pornografi. Dalam hal
ini, Dr. Victor Cline, dari University of Utah, membagi tahapan kecanduan
menjadi lima bagian: (1). Terpaan Awal. Pada tahapan ini, orang itu mengenal
pornografi untuk pertama kalinya. Biasanya terjadi pada usia muda. Mula-mula
dia terkejut, jijik dan merasa bersalah.(2). Ketagihan. Setelah itu, dia
mulai bisa menikmati pornografi dan berusaha mengulangi kenikmatan itu.
Perilaku yang berulang ini tanpa disadarinya telah meresap menjadi bagian
dari kehidupannya. Dia sudah terjerat dan sulit melepaskan diri dari
kebiasaan itu. (3). Peningkatan. Dia mulai mencari lebih banyak lagi
gambar-gambar porno. Dia mulai menikmati sesuatu yang pada mulanya dia
merasa jijik melihatnya. (4). Mati Rasa. Dia mulai mati rasa terhadap gambar
yang dia pelototi. Bahkan gambar yang paling porno sekalipun, sudah tidak
lagi menarik minatnya. Dia berusaha mencari perasaan kepuasan yang
didapatnya ketika pertama kali melihat gambar itu. Akan tetapi dia tidak
bisa mendapatkannya lagi karena perasannya sudah kebal. (5). Tindakan
seksual. Pada titik ini, dia melakukan lompatan besar, yaitu mencari
kenikmatan seksual di dunia nyata.
Dengan kata lain, perbuatan kriminal yang dipicu oleh pornografi sebenarnya
hanyalah puncak gunung es dari efek negatif pornografi. Di bawah permukaan,
justru ada lebih banyak efek negatif yang tidak kelihatan. Dalam bukunya,
The Centrefold Syndrome, psikolog Gary R. Brooks, Ph.D memaparkan ada lima
"gangguan mental" yang dikaitkan dengan konsumsi pornografi jenis soft-core
semacam dari majalah Playboy atau Penthouse.
Voyeurisme - Sebuah gangguan pikiran yang lebih suka memandangi tubuh wanita
daripada menjalin interaksi dengannya. Brooks menyebutkan bahwa karena ada
pemujaan dan objektifikasi terhadap tubuh wanita, maka hal ini menciptakan
citra wanita yang semu, membiaskan realitas dan menciptakan sebuah obsesi
berupa rangsangan visual. Hal ini mengabaikan pentingnya sebuah hubungan
psikoseksual yang sehat dan dewasa.
Objektifikasi - Sebuah sikap yang menaksir kualitas wanita berdasarkan
ukuran, bentuk dan keharmonisan anggota tubuhnya semata. Brooks menegaskan
bahwa jika seorang pria lebih suka menghabiskan energi emosionalnya pada
fantasi seksual dengan orang yang tidak mungkin diaksesnya secara nyata,
maka dia juga tidak akan bisa "diakses" oleh pasangannya untuk menciptakan
momentum keintiman.
Validasi-Yaitu suatu kebutuhan untuk membuktikan kesahihan kejantanan
seorang pria dengan berhasil menggaet wanita cantik. Menurut Brooks, wanita
dianggap memenuhi standard apabila dia mampu mempertahankan ksempurnaan
tubuhnya. Kaum pria yang belum bisa mendapatan kenikmatan seksual dengan
wanita impiannya, dia merasa belum menjadi pria sejati.
Trofisme - Yaitu suatu sikap yang menganggap wanita sebagai sebuah koleksi
trofi atau piala. Orang itu mengukur tingkatan kejantanan pria berdasarkan
jumlah trofi yang berhasil dia koleksi. Brooks menambahkan mentalitas
seperti ini sangat berbahaya di kalangan remaja, dan cukup merusak di
kalangan orang dewasa.
Ketakutan pada Keintiman Sejati - Yaitu suatu ketidak-mampuan untuk menjalin
relasi secara jujur dan intim dengan wanita. Pornografi telah menutup mata
kaum pria tentang pentingnya sensualitas dan keintiman. Karena hanya
mementingkan pemuasan hawa nafsu seksual, beberapa pria mendapat hambatan
dalam menjalin hubungan emosional dengan sesama kaum pria dan hubungan
nonseksual dengan kaum wanita.
Industri Menggiurkan
Teman saya yang tinggal di Solo bercerita: Suatu kali dia pergi ke warnet.
Ketika melewati bilik-bilik komputer, iseng-iseng dia melirik ke salah satu
bilik. Dia melihat seorang remaja yang masih mengenakan seragam SMP. Dia
terkejut, karena remaja itu sedang melakukan masturbasi sambil menatap layar
monitor komputer. Dia bisa memastikan bahwa anak ingusan ini sedang
mengakses situs porno.
Majalah Time menulis pernah menulis"... pornografi menjadi sangat berbeda di
dalam jaringan komputer. Anda bisa mendapatkan privasi di rumah Anda--tanpa
harus mengendap-endap ke toko buku atau bioskop. Anda hanya tinggal download
file yang membuat Anda terangsang, tidak perlu mengeluarkan uang atau
terlibat masalah hukum." Gambar porno hanya sejauh satu "klik" pada mouse
komputer Anda.
Benarkah situs-situs porno menawarkan gambar porno dengan gratis? Ada
pepatah, "dalam dunia bisnis tidak pernah ada makan siang gratis." Kita
sering mendengar istilah "berselancar di internet," tetapi istilah ini lebih
tepat jika diganti dengan kalimat "berjalan di pantai." Mengapa? Karena
setiap kali berjalan di atas pasir, kita selalu meninggalkan "jejak kaki".
Demikian juga di internet. Semua browser seperti Netscape, Internet
Explorer, atau AOL, diperlengkapi dengan cache, yaitu sebuah file sementara
yang menyimpan salinan halaman, gambar atau file. Tujuan semula bertujuan
untuk mempercepat download pada akses di kesempatan lain. Akan tetapi dalam
perkembangannya, file ini dimanfaatkan untuk memata-matai penggunaan
komputer itu. Dalam dunia bisnis, data-data ini sangat berharga. Selain
melalui chache dan cookie, pengelola situs biasanya mensyaratkan calon
pengakses memasukkan alamat emailnya untuk mendapatkan password-nya. Begitu
alamat email diberitahukan, maka kotak email si pengakses ini akan disesaki
dengan kiriman email sampah (junk email).
Ada juga yang menawarkan akses situs dengan membayar secara on line. Mereka
diminta memasukkan nomor kartu kredit dan PIN untuk mendapatkan kode akses.
Begitu nomor-nomor ini dimasukkan, maka dimulailah pembobolan kartu kredit.
Sebagian besar pria yang tertipu modus operandi ini, biasanya enggan
melaporkan karena merasa malu.
Dalam e-commerce, industri pornografi termasuk pionirnya. Mereka yang
pertama kali memakai teknologi belanja elektronik dan menggunakan kartu
kredit untuk pembayaran on line. Mereka juga yang menemukan cara untuk
mengirimkan file grafis berukuran besar melalui bandwith yang sempit.
Mereka pula yang mempelopori penggunaan streaming video. Mereka juga yang
menemukan cara "melumpuhkan" tombol "back" di browser Anda dan yang
memunculkan teknik selalu memunculkan jendela baru ketika pengakses menutup
satu jendela. Akibatnya, di layar itu selalu terpampang gambar porno.
Hal ini tidak mengherankan karena industri pornografi ini telah menjadi
bisnis yang menggiurkan. Bandingkan marjin keuntungan yang didapat sektor
perdagangan on-line yang hanya 0,2 persen, dengan keuntungan yang diraup
situs porno sebesar 30 persen! Pada tahun 1999, diperkirakan situs porno
meraup 1,1-1,2 milyar Dollar. Sayangnya di Indonesia tidak ada data yang
pasti. Tetapi untuk membayangkan saja, sebuah tabloid yang menonjolkan
sensualitas seksual mengaku bisa mendapat keuntungan yang setara dengan
sepuluh mobil (tapi tidak jelas, mobil merek apa).
Itu artinya, dicegat dengan cara apapun, pornografi akan selalu mencari
celah untuk bisa berkelit. Selama masih banyak penikmatnya, industri
pemikat syahwat ini akan tetap memikat. Karena itu cara yang lebih efektif
dengan menggalang gerakan masyarakat untuk menolak mengkonsumsi pornografi
ini. Cara ini lebih elegan dan jauh dari kontroversi.

http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It