Selasa, 31 Mei 2005

Berlebihan, Ironis, Hentikan Saja!"

"Yogya, Bernas
Penarikan iuran televisi dalam bentuk apa pun tetap merupakan tindakan yang tidak sah dan harus dipertanyakan legalitasnya. Pelibatan aparat Bakorstanasda dalam penagihan iuran televisi sangat berlebihan dan merupakan tindakan ironis, karena itu lebih baik dihentikan.

  • Pendapat ini dikemukakan Anggota Komnas HAM Muladi SH, Direktur Lem- baga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Apong Herlina SH, Staf Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Perwakilan Yogyakarta, Ny Martopo dan Purnawan, serta penga- mat sosial dari LIPI Dwi Purwoko, Selasa (19/8).

    Mereka memberikan keterangan di tempat terpisah berkaitan dengan penagihan iuran televisi yang melibatkan aparat dari Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakorstanasda) di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), juga di daerah lain, setidaknya di Sumatera Selatan.

    Di lain pihak, Pangdam Jaya selaku Ketua Bakorstanasda setempat, Mayjen TNI Sutiyoso menegaskan, pihaknya akan menarik aparat Bakorstanasda dari keikutsertaannya menarik iuran televisi, jika ternyata meresahkan masyarakat.

    Sedangkan Menteri Penerangan R Hartono menyatakan keterlibatan aparat Bakorstanasda Jaya dalam penarikan iuran TVRI tetap dibenarkan sepanjang untuk memperlancar penarikan iuran, bukan malah menakut-nakuti rakyat.

    Sebagaimana diberitakan, Yayasan TVRI bekerja sama dengan Bakorstanasda sejak Senin (11/8), mulai mengadakan "pendataan" kembali dan menarik iuran televisi dari warga masyarakat di sekitar Jabotabek. Dan dimungkinkan kebijakan ini akan meluas di seluruh daerah di Indonesia, (Ber- nas, 19/8).

    Sampai kini, maksud, status hukum, dan tujuan penarikan iuran televisi itu masih dipertanyakan. Sebab pengertian dasar dari yang namanya iuran itu bersifat sukarela, tidak boleh ada pemaksaan, ujar Ny Martopo dan Purnawan dari Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Perwakilan Yogyakarta.

    Kalaupun selama ini Yayasan TVRI tetap menarik iuran dari masyarakat, dipertanyakan ke mana larinya uang tersebut, untuk apa, dan bagaimana penggunaannya, tambah mereka.

    Sedangkan Anggota Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) Muladi SH menilai, penarikan iuran televisi dengan melibatkan Bakorstanasda justru akan menimbulkan dampak yang kurang baik di mata masyarakat. "Nanti, masyarakat memandang momentum ini seperti halnya ketika terjadi kerusuhan sosial, mengingat mereka sudah berhadapan dengan tentara," katanya di Semarang, kemarin.

    Di samping itu, kata Muladi yang juga Rektor Undip Semarang ini, tindakan tersebut akan menimbulkan pandangan yang kurang baik di mata internasional. "Artinya, seolah-olah Indonesia itu tidak aman sehingga hal-hal yang kecil saja harus ditangani tentara," katanya.

    "Masalah iurannya sendiri masih kontroversial, lho kok sekarang Yayasan TVRI yang notabene lembaga swasta malah melibatkan aparat negara. Relevansinya apa? Dasar hukumnya apa? Kalau cuma karena permintaan pihak Yayasan TVRI, kenapa harus aparat negara yang dilibatkan," tegas Purnawan dari YLKI Yogya.

    "Kalau Bakorstanasda terlibat, dikhawatirkan akan menimbulkan ketakutan yang mendalam dari masyarakat," ujar Muladi lagi. Hal ini diperkuat oleh Purnawan yang mengatakan, status petugas penarik iuran dari Yayasan TVRI tetapi tetap menimbulkan persoalan. "Harus dipertanyakan lagi apa dengan melibatkan aparat Bakortanasda ini justru tidak menimbulkan te- kanan psikologis dan keterpaksaan bagi rakyat," katanya.

    Karena itu, menurut Muladi, kalau memang akan melibatkan aparat, sebaiknya hanya melibatkan Hansip atau polisi. "Jangan tentara yang tugasnya menjaga stabilitas keamanan nasional," tegas Muladi. "Saya kira keterlibatan aparat keamanan dalam hal ini, belum begitu mendesak dan yang penting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri," demikian Muladi.

    Di Jakarta, Ketua Bakorstanasda Jaya Mayjen TNI Sutiyoso menegaskan, bahwa keikutsertaan aparatnya dalam penagihan iuran televisi, hanya berupa bantuan. Karena itu, aparatnya akan ditarik jika ternyata membuat masyarakat resah.

    Artinya, aparat Bakorstanasda akan tetap diikutsertakan dalam mendampingi petugas yang melaksanakan pendataan dan penarikan iuran TVRI. Sedangkan Menteri Penerangan R Hartono mengemukakan, selama masih diperlukan, Bakorstanasda bisa saja dilibatkan. "Tapi tidak seluruh daerah mesti melibatkan Bakorstanasda, hanya pada daerah dengan kondisi tertentu saja," kata Menpen tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan 'kondisi tertentu' itu.

    Dikatakannya, sejak ada keterlibatan aparat Bakorstanas di dalam penarikan iuran televisi di DKI Jaya, belum ada laporan atau informasi yang menyatakan bahwa keterlibatan mereka membuat rakyat jadi takut. Sebelumnya, malah memacu semangat warga untuk bayar iuran.

    Sementara YLKI mencatat, sejak 14 Agustus 1997 hingga hari Senin (18/8) pihaknya telah menerima sekitar 1.000 keluhan dari warga Jabotabek mengenai penarikan iuran televisi itu.

    Sedangkan mengenai dasar hukum dari iuran itu, Menpen mengatakan, telah disesuaikan dengan ketentuan yang kuat yakni Keppres dan SK Menpen. Sedangkan bagi LBH Jakarta, sebagimana dikemukakan direkturnya, Apong Herlina, iuran TVRI sifatnya sukarela. Oleh karena itu ironis jika pihak pengelola televisi meminta bantuan Bakorstanasda untuk memenuhi target pengumpulan iuran tersebut.

    Keterlibatan Bakorstanasda dalam mendampingi petugas Yayasan TVRI agar petugas merasa aman dan nyaman dalam menarik iuran, merupakan suatu pendekatan keamanan. Tindakan ini, menurut pengamat sosial dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dwi Purwoko, akan menimbulkan penilaian kurang baik bagi masyarakat.

    "Aparat keamanan itu 'kan harusnya berdiri pada semua golongan. Lha kalau 'menyertai' petugas penarik iuran TVRI, apa kata masyarakat nanti," ujar Dwi.(ff/ant)

  • Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Bensin Tanpa Timbal: Konsumen Untung atau Rugi?

    Belakangan ini kita melihat semakin banyak pemakai sepeda motor di kota-kota besar yang memakai penutup hidung saat di jalan raya. Meskipun efektifitas kain untuk mengurangi dampak polusi udara masih diragukan, namun setidaknya hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat bahwa udara di perkotaan sudah tidak segar lagi untuk dihirup. Ini akibat dari peningkatan penggunaan kendaraan bermotor. Asap pembakaran yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan itu mengandung zat pencemar yang membahayakan kesehatan. Menurut WHO, Indonesia menderita kerugian ekonomi akibat pencemaran udara sekitar 424,3 juta pada tahun 1990 dan tahun 2000 naik menjadi 624 juta dollar. Karena itu, bila pemerintah tidak melakukan pengendalian pencemaran udara secara serius, maka tingkat kerugian yang dialami Indonesia akan bertambah besar. Untuk itulah, tahun lalu pemerintah meluncurkan produk bensin Super TT, alias bensin tanpa timbal. Bensin ini berbeda dengan premium dan premix yang masih menggunakan timbal dalam bentuk Tetra Ethyl Led (TEL) untuk menaikkan kadar oktannya. Tetapi bensin ini memerlukan alat khusus. Tanpa alat ini, kendaraan yang memakai bensin Super TT justru akan cepat rusak. Bagaimanakah sebenarnya pengaruh kebijakan penghapusan bensin tanpa timbal ini dari sisi kepentingan konsumen, apakah menguntungkan atau merugikan? Dampak Kesehatan Bensin adalah senyawa hidrokarbon yang berisi hidrogen dan atom karbon. Pada mesin yang "beres", oksigen akan mengubah semua hidrogen dalam bahan bakar ini menjadi air dan mengubah semua karbon menjadi karbon dioksida. Kenyataannya, proses pembakaran ini tidak selamanya berlangsung sempurna. Akibatnya mesin mobil mengeluarkan beberapa jenis polutan berbahaya, seperti hidrokarbon (HC), oksida nitrogen (NOx), karbon monoksida (CO), oksida belerang (SOx), partikel debu halus (PM10) dan yang paling berbahaya adalah timbal (Pb). Senyawa HC dilepaskan udara karena molekul ini tidak terbakar sepenuhnya. Jika bercampur bersentuhan dengan oksida nitrogen dan matahari, hidrokarbon akan berubah bentuk menjadi asap yang memedihkan mata, mengganggu tenggorokan dan saluran pernapasan. Karbon monoksida juga produk dari pembakaran yang tidak sempurna. Jika terhirup manusia, gas ini sangat mempengaruhi distribusi oksegen darah dalam jantung. Gas CO ini mudah sekali menyatu dengan Hb darah sekalipun dalam kadar yang rendah. Ini terjadi karena zat besi (Fe) dalam Hb memicu daya tarik CO menjadi 200 kali lebih besar daripada daya tarik O2. Meningkatnya CO dalam Hb sampai 9 % saja dalam darah dalam waktu satu-dua menit bisa menimbulkan kekurangan oksigen di jantung serta terhalangnya penambahan oksigen pada pembuluh darah koroner. Penelitian kedokteran menunjukkan, meski dalam dosis yang rendah, timbal adalah unsur yang sangat berbahaya. Jika paparannya sangat tinggi, racun ini bisa mengakibatkan kerusakan pada otak, ginjal dan gangguan gastrointestinal. Sedangkan paparan dalam waktu yang lama, akan mengganggu darah, sistem syaraf pusat, tekanan darah dan mengganggu penyerapan vitamin D. Sistem reproduksi manusia pun diganggu olehnya. Jumlah sperma pada pria berkurang dan menyebabkan keguguran pada wanita hamil. Pada kanak-kanak, bisa menghambat perumbuhan kecerdasan kognitif dan pertumbuhan badan. Sedangkan bagi lingkungan, pencemaran udara yang berat akan menurunkan hasil pertanian dan perikanan, menaikkan suhu bumi sebesar 0,3 derajat Celcius/10 tahun dan menyebabkan hujan asam. Hak-hak Konsumen Salah satu biang kerok dari semua persoalan itu adalah adanya kandungan timbal dalam bensin. Pada masa lalu, fungsi timbal di dalam bensin adalah dalam rangka untuk menaikkan kadar oktan. Mengingat bahaya yang besar ini, maka pemerintah mempercepat jadwal pemakaian bensin tanpa timbal yang seharusnya baru dimulai tahun 2003, sebagai bagian dari Program Langit Biru. Sayangnya, berdasarkan survei yang pernah diadakan YLKI dan Swisscontact, sejumlah 42,8 % dari responden, mengaku tidak pernah mendengar program ini. Padahal menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) No. 8 /1999, konsumen mempunyai "hak atas informasi yg benar jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa."(pasal 4 butir c) Informasi adalah hal yang sangat dibutuhkan konsumen sebelum memutuskan untuk membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Dalam hal ini, konsumen sebenarnya membutuhkan informasi tentang kelebihan dan kekurangan bensin Super TT ini, serta dampaknya terhadap kendaraan miliknya. Berkat kecanggihan teknologi yang bernama Residue Catalytic Cracking (RCC), sekarang ini bisa dihasilkan bensin dengan bilang oktan 92, tanpa minta bantuan timbal lagi. Sayangnya, ongkos produksi bensin Super TT terbilang mahal. Menurut hitungan Pertamina, biaya produksi premium akan melonjak menjadi Rp. 120/liter jika tidak menggunakan timbal. Ini terjadi karena pemerintah masih harus mengimpor High Octan Motogas Component (HOMC) sekitar 300 ribu barel/tahun. Padahal harga HOMC di pasaran dunia mencapai US$ 30/barel. Tanpa ada subsidi dari pemerintah, maka harga Bensin Super TT tidak terjangkau oleh konsumen. Di luar soal harga, ada lagi persoalan lainnya. Ternyata tidak semua kendaraan dapat menggunakan bensin Super TT ini. Bensin ini hanya cocok untuk memenuhi kebutuhan mesin-mesin kendaraan yang dirancang menggunakan bahan bakar tanpa timbal, atau untuk kendaraan yang telah dilengkapi catalytic converter yang merupakan ruang bakar tambahan. Konverter tersebut berfungsi meningkatkan kebersihan emisi gas buang kendaraan sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Caranya, aliran gas buang akan mengalami oksidasi sehingga unsur CO dan HC diubah menjadi CO2 yang relatif tidak berbahaya. Lalu apa yang terjadi apabila bensin Super TT digunakan untuk kendaraan yang masih harus menggunakan bahan bakar bertimbal? Tentu saja timbul masalah, sebab sejak tahun 1920-an, timbal dipakai sebagai bahan aditif dalam bensin sebagai anti-knocking pelumasan dudukan katup. Jika menggunakan bensin tanpa timbal, maka komponen mobil yang minus konverter akan cepat aus dan rusak. Padahal untuk memasang konverter, konsumen harus merogoh kocek sekitar 2,5 juta-5 juta rupiah. Pada mobil built up dari manca, sebenarnya sudah dilengkapi konverter ini, tetapi karena sebelumnya bensin kita masih bertimbal, maka alat ini dicopot oleh produsennya. Konsekunesi ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan konsumen di Jakarta sebagai pemakai perdana bensin jenis ini. Padahal pemerintah/Pertamina terlanjur bertekad memasok SPBU di Jakarta hanya dengan bensin Super TT. Itu artinya, kendaraan-kendaraan dari zaman bauhela akan semakin cepat aus jika tetap nekat "meminum" bensin super TT. Ongkos Kesehatan Pada tahun 2003, pemerintah menargetkan bensin bertimbal sudah lenyap dari bumi Indonesia. Realistiskah target ini? Bagaimana dengan kendaraan lama yang tidak memiliki konverter? Apakah mereka harus segera pensiun atau nekat memakai bensin super TT dengan risiko kendaraan cepat aus? Apakah program penghapusan bensin bertimbal ini layak diteruskan? Jawabannya sama sulitnya dengan pertanyaan: lebih dulu mana, ayam atau telur? Dalam hal ini, pertanyaannya menjadi: mana yang lebih dulu, menyiapkan semua kendaraan dulu atau menyediakan bensin tanpa timbal? Akan tetapi jika dikaji dari sudut pandang ongkos kesehatan, kita akan menemukan jawabannya. Laporan WHO menunjukkan bahwa dari 126 kota di seluruh dunia terdapat 130 ribu kematian prematur dan 50-70 insiden penyakit pernapasan tiap tahun akibat polusi udara. Di Beijing terdapat kematian sepuluh ribu kematian/tahun di Beijing dan di Jakarta terdapat enam ribu kematian/tahun. Nilai ekonomi dari kerusakan kesehatan ini bisa mewakili 3-10% dari pendapatan (GDP) kota itu. Bahkan di Beijing bisa mencapai 28 persen dari GDP kota. Angka ini belum termasuk biaya kendaraan dan nilai waktu yang hilang dalam kemacetan lalu lintas. Dengan kata lain, biaya lingkungan dari penggunaan bahan bakar di kota besar bisa sangat tinggi sehingga margin biaya kerusakan bisa sebanding atau bahkan melebihi nilai penghematan jika program bensin tanpa timbal ini dibatalkan atau ditunda. Hak mendapat lingkungan yang sehat adalah salah satu hak konsumen yang diakui PBB. Rumusannya berbunyi "Hak untuk hidup dan bekerja pada lingkungan yang tidak tercemar dan tidak berbahaya yang memungkinkan suatu kehidupan yang lebih manusiawi." Program Langit Biru (PLB) ini adalah salah satu upaya untuk mewujudkan hak itu. Namun perlu diingat, selain hak, PBB juga merumuskan kewajiban konsumen. Salah satunya berbunyi demikian," tanggung jawab untuk memahami segala akibat tindakan konsumsi kita terhadap lingkungan. Kita harus mengenali tanggung jawab pribadi dan sosial kita untuk menghemat sumberdaya alam dan melindungi bumi demi generasi mendatang." Memang bila dilihat dari kepentingan konsumen secara perorangan, pemilik mobil yang lama jelas dirugikan dengan adanya PLB ini karena harus mengeluarkan biaya ekstra. Namun untuk kepentingan jangka panjang, kebijakan ini sangat menguntungkan kita, sebab kita akan bisa menghirup udara yang relatif lebih bersih.
    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Senin, 30 Mei 2005

    Cara Mengelola Relawan

    Hampir sebagian besar tugas pelayanan dikerjakan oleh para relawan (volunteer). Mereka menyumbangkan tenaga, pikiran dan materi dengan sukarela. Karena sifat "sukarela", gereja biasanya kesulitan mendapatkan komitmen mereka. Berikut ini beberapa cara memotivasi para relawan: 1. Pastikan mereka mendapat "imbalan". Gereja tidak akan mampu menggaji seluruh relawannya, tetapi setiap orang yang telah menyumbang tenaga dan waktu layak mendapat "imbalan". Imbalan bagi mereka bisa berupa "kepuasan batin" jika bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Karena itu, gereja sebaiknya menyingkirkan semua yang berpotensi menghalangi penyelesaian tugas mereka.Kebanyakan rekawan juga merasa senag jika mendapat penghargaan dari jemaat atau pemimpin yang dia hormati. Penghargaan itu bisa berupa surat pujian yang ditulis tangan, ucapan terimakasih dengan menyebutkan tindakan tertentu, Foto bersama lalu dipajang di tempat umum,atau bingkisan kecil.2. Meninjau ketika relawan bekerja. Peninjauan ketika relawan bekerja dapat membesarkan hati mereka. Mereka akan merasa diperhatikan dan dibutuhkan. Peninjauan juga untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan3. Bantulah para relawan mengembangkan diri. Konsultan manajemen, Tom Peters, menyarankan lima cara pengembangan diri.Dalam konteks pelayanan, cara itu adalah sebagai berikut: · Mendidik: Memberi orientasi pelayanan bagi relawab baru, melatih relawan pemula hingga menjadi terampil, dan memfasilitasi perubahan harapan di dalam pelayanan. · Dukungan: Berikan kesempatan pada relawan berbakat untuk memberikan sumbangan khsusus dalam pelayanan dan bebaskan dia dari tugas-tugas yang menghambat dia. · Pendampingan: Berikan dorongan semangat sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan pelayanan. Berikan instruksi dan koreksi secara sederhana selama mereka bekerja. · Konseling: Selesaikan masalah pribadi antar relawan yang bisa merusak pelayanan. · Konfrontasi: Kurangi setiap hal yang bisa menghambat kinerja. Segera pindahkan relawan yang ada di tempat yang tidak sesuai. 4. Ciptakan komunitas relawan. Buatlah sebuah kelompok yang bisa menjadi sarana mereka untuk berkumpul. Di sini mereka bisa saling menguatkan, memperhatikan dan menguatkan. Wawan
    http://purnawan-kristanto.blogspot.com

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    IKLAN TV MERUSAK POLA KONSUMSI ANAK


    Oleh : Purnawan Kristanto
    Aktivis konsumen pada YLKI Yogyakarta
    Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan
    televisi yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara
    berpikir serta perilaku mereka (Peggy Chairen, pendiri Action for Children
    Television).

    Anak-anak bukanlah orang dewasa mini karena mereka belum mempunyai
    kematangan cara berpikir dan bertindak. Ia berada pada tahap sosialisasi
    dengan melakukan pencarian informasi di sekitarnya dalam rangka membentuk
    identitas diri dan kepribadiannya. Sumber informasi utama bagi anak adalah
    dari keluarga. Setelah itu, ia mengumpulkan informasi lainnya dari teman
    sebaya, sekolah, masyarakat dan media massa.
    Pada keluarga modern sekarang ini ada kecenderungan semakin sedikitnya waktu
    untuk berinteraksi antara orang tua dan anak-anak karena kesibukan kerja.
    Sementara itu, semakin tingginya angka kriminalitas dan semrawutnya lalu
    lintas di perkotaan , meningkatkan kecemasan orang tua terhadap keselamatan
    anak-anaknya. Karena itu, mereka merasa lebih tenang bila anak mereka
    berdiam diri di rumah seusai sekolah. Perubahan sosial ini berarti menambah
    intensitas anak di dalam menonton televisi. Padahal kita ketahui, di luar
    acara keagamaan, tidak ada satupun acara TV swasta yang tidak diselingi
    penayangan iklan. Semakin bagus acara itu, semakin banyak pula iklannya.
    Hal ini tidak dapat dihindarkan karena sumber pembiayaan stasiun TV swasta
    adalah dari iklan saja. Setiap upaya pembuatan acara TV selalu dilandasi
    motif untuk menjual, menjual dan menjual. Sehingga seperti kata Milton Chen
    dalam bukunya Chlidren and Television, "acara TV komersial yang kita
    saksikan hanyalah umpan untuk mendekatkan kita dengan iklan".
    Daya Tarik Emosional
    Pada umumnya fungsi dari iklan adalah untuk memberi informasi dan melakukan
    persuasi. Tujuan dari pemberian informasi adalah untuk (a) memperkenalkan
    produk baru atau perubahan pada produk lama, (b) menginformasikan
    karakteristik suatu produk, dan ©. memberi informasi tentang harga dan
    ketersediannya. Sedangkan tujuan dari persuasi adalah untuk meyakinkan
    konsumen tentang manfaat (benefit) suatu produk, untuk mengajak konsumen
    agar membeli produk dan untuk mengurangi keragu-raguan setelah membeli atau
    mengkonsumsi produk.
    Untuk mengkomunikasikan pesan-pesan itu, kalangan pengiklan bisa menggunakan
    daya tarik emosional yaitu dengan menyentuh rasa senang, gembira, kasihan,
    gengsi, takut sedih dll, atau daya tarik rasional dengan memberi informasi
    tentang kelebihan dan kekurangan suatu produk.
    Untuk iklan yang ditujukan buat anak-anak, pengiklan lebih sering memakai
    daya tarik emosional karena didukung kenyataan bahwa 75 % keputusan manusia
    dilandasi oleh faktor emosi. Selain itu daya tarik emosi juga mempunyai
    keunggulan yaitu (a). lebih menarik perhatian anak (b). klaim pada iklan
    lebih gampang diingat dan, ©. dapat menjadi faktor diferensiasi dari produk
    sejenis yang jadi pesaingnya. Sebagai contoh, kebanyakan kandungan
    miultivitamin hampir sama, tapi merek multivitamin yang diiklankan oleh
    Joshua ternyata lebih laris manis. Karena itulah para pembuat iklan anak
    lebih senang menampilkan tokoh idola anak-anak-anak, membuat visualiasi yang
    menerbitkan selera memberikan hadiah (gimmick), atau memakai musik yang
    riang gembira daripada memberikan informasi yang obyektif. dan memadai.
    Umumnya anak-anak belum mampu menapis informasi dari iklan yang dapat
    dipakai untuk membuat keputusan dalam membeli suatu produk. Hal ini
    ditunjukkan hasil penelitian LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan
    Konsumen) tahun 1995, bahwa 94,2 % responden anak-anak pernah membeli produk
    yang diiklankan TV karena tertarik pada bintang iklannya. Survei serupa
    oleh CERC (Consumer Education and Research Center) di India, mendapati 75 %
    anak-anak mengaku pernah meminta orang tua membelikan produk yang diiklankan
    TV. Mereka juga hapal siapa teman, tetangga atau saudaranya yang memakai
    produk yang sama.
    Iklan Pangan
    Di banyak negara, termasuk Indonesia, iklan yang paling sering muncul pada
    acara yang ditujukan untuk anak-anak adalah kateogri pangan. Kenyataan ini
    perlu dicermati secara kritis karena iklan bisa membentuk pola makan yang
    buruk pada masa anak-anak. Padahal makanan yang dikonsumsi pada masa
    anak-anak ini akan menjadi dasar bagi kondisi kesehatan di masa dewasa dan
    tua nanti.
    Efek yang paling disoroti adalah munculnya gejala obesitas (kegemukan) yang
    dikaitkan dengan intensitas menonton TV. Semakin seringnya anak nongkrong
    di depan TV apalagi ditambahi dengan aktifitas ngemil, berarti semakin
    sedikit anak melakukan aktifitas fisik yang bisa membakar kalori menjadi
    energi. Kelebihan kalori ini kemudian disimpan menjadi lemak yang
    menyebabkan kegemukan. Jurnal Pediatrics terbitan Amerika Serikat
    menyebutkan bahwa setiap penambahan alokasi waktu menonton TV sebesar 1 jam
    akan meningkatkan kemungkinan obesitas sebesar 2 persen.
    Penelitian LP2K juga menunjukkan bahwa waktu menonton anak di Semarang,
    rata-rata 4 jam/hari. Sedangkan penelitian Pratanthi Pudji Lestari (1996)
    di Bogor mendapati anak-anak yang obesitas menonton TV selama 4,65 jam/hari
    dan anak yang tidak obesitas 3,13 jam/hari. Padahal idealnya tidak lebih
    dari 2 jam/hari. Penelitian ini mendukung hasil penelitian di AS bahwa ada
    kecenderunbgan anak-anak meluangkan waktu untuk menonton TV lebih banyak
    daripada kegiatan apapun lainnya kecuali tidur.
    Selain obesitas, persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan
    zat-zat gizi dalam makanan yang digemari anak-anak. Pertama, kandungan
    garam. Garam mengandung unsur Natrium dan Sodium yang berfungsi sebagai
    elektrolit tubuh. Makanan yang kurang garam memang terasa hambar, namun
    kandungan garam yang berlebihan bisa menimbulkan ketidak-seimbangan
    elektrolit tubuh. Hal ini sangat riskan bagi penderita tekanan darah tinggi
    dan penyakit jantung.
    Menurut penelitian Puslitbang Gizi Bogor (1995), kandungan garam pada
    makananan jajanan hasil olahan pabrik lebih tinggi daripada hasil olahan
    rumah tangga. Biskuit yang rasanya manis, ternyata kandungan garamnya sangat
    tinggi (1.395,5 mg/100 gram makanan). Demikian juga dalam mie instant untuk
    berbagai merek dan rasa, apalagi dalam bumbunya, kandungan garamnya sangat
    tinggi. Setiap bungkus bumbu mie instant mengandung 3.448-4.940 mg.
    Kandungannya lebih tinggi lagi terdapat pada mie instant rasa pedas
    (tampaknya setiap penambahan rasa pedas perlu disertai penambahan rasa
    asin. ). Padahal angka kecukupan garam untuk anak-anak adalah 2.858 mg/hari.
    Kedua, kandungan kolesterol. Kolesterol adalah unsur penting dalam lemak
    dari keluarga sterol. Kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan pengapuran
    pembuluh darah yang menyumbat arteri koroner. Penyumbatan ini menyebabkan
    terganggunya suplai oksigen ke otak sehingga berresiko terkena serangan
    stroke.
    Hasil penelitian terakhir menunjukan bahwa penyakit jantung koroner
    sebenarnya mulai timbul pada masa anak-anak. Studi di AS menunjukkan 25
    dari 100 anak mempunyai tingkat kolesterol yang sudah mendekati batas aman.
    Penelitian lain menemukan bahwa pengapuran pembuluh darah terjadi justru
    pada usia 5-10 tahun. Pada remaja usia 18 tahun sudah ditemukan adanya garis
    lemak yang melapisi pembulunh darah koroner.
    Lalu bagaimana kandungan lemak pada makanan? Hasil pengujian YLKI (1997)
    terhadap fast food menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara komposisi
    gizi produk yang dipasarkan di Indonesia dan di AS. Perbedaan yang paling
    mencolok adalah kandungan lemak yang lebih tinggi di Indonesia. Konsumsi
    lemak yang dianjurkan adalah 20 % dari total kecukupan energi. Hasil
    pengujian menunjukkan 1 porsi burger keju menyumbang lemak 26,4 % dari total
    kecukupan energi untuk anak, 1 porsi kentang goreng 42 % dan ayam goreng
    41,7 %. Di sini terlihat bahwa sumbangan lemak dari fast food sangat
    tinggi. Padahal jumlah itu belum termasuk jika anak menambah porsi atau
    makanan lain yang dikonsumsi dalam satu hari itu.
    Ketiga kandungan MSG (MonoSodium Glutamate).Banyak makanan jajanan anak
    (snack) dan mie isntant yang mengandung MSG. Fungsi MSG adalah sebagai
    penyedap rasa berupa rasa gurih. MSG sebenarnya tidak mempunyai nilai gizi,
    malah tidak ada manfaat sama sekali bagi tubuh manusia. Bahkan pemakaian
    yang berlebihan (di atas 120 mg/kg berat badan/hari) dapat membahayakan
    kesehatan. Akibat yang sudah diketahui adalah timbulnya Sindroma Restoran
    Cina. Gejalanya berupa rasa haus, mual, pegal-pegal pada tengkuk, sakit dada
    dan sesak napas yang timbul 20-30 menit setelah mengkonsumsi MSG yang
    berlebihan. Akibat lainnya adalah resiko penyakit kanker. Penelitian di
    Jepang menyimpulkan bahwa MSG jika dipanaskan pada suhu sangat tinggi bisa
    berubah menjadi karsinogenik (menyebabkan penyakit kanker). Tapi untuk hal
    ini masih ada silang pendapat para pakar.
    Keempat, kandungan gula. Anak-anak sangat menyukai makanan yang manis-manis
    seperti permen, coklat, minuman ringan, sirup, kue dll. Gula adalah sumber
    kalori yang tinggi. Bila tidak dibakar, gula bisa berunbah menjadi lemak.
    Selain itu, gula juga bisa menyebabkan kerusakan gigi (karies) pada
    anak-anak.
    Pengaturan Iklan
    Mengingat adanya efek negatif dari iklan yang ditujukan pada anak-anak
    khususnya iklan makanan, sudah sepatutnya mulai dibuat peraturan periklanan
    untuk anak-anak. Sayangnya masalah iklan untuk anak-anak ini belum diatur
    secara spesifik dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen no 8/1999.
    Padahal di negara-negara maju yang "lebih kapitalistik" dari Indonesia,
    mereka sudah lama peduli pada nasib anak-anak dan mulai membatasi iklan pada
    acara TV anak-anak.
    Negara Swedia dan Norwegia melarang iklan untuk anak di bawah 12 tahun dan
    sama sekali melarang iklan di acara TV untuk anak. Australia melarang iklan
    pada acara anak pra sekolah dan menetapkan iklan makanan tidak boleh
    memberikan penafsiran ganda. Negara Belgia melarang penayangan iklan 5 menit
    sebelum dan sesudah acara anak dan iklan permen harus mencantumkan gambar
    sikat gigi. Negara Denmark dan Finlandia melarang sponsorship di acara anak.
    Di Denmark iklan snack, minuman ringan dan coklat dilarang mengklaim sebagai
    pengganti makanan. Negara Inggris menentukan bahwa iklan tidak boleh
    mendorong konsumsi sesering mungkin. Sedangkan AS mewajibkan setiap iklan
    makanan harus mendorong agar anak menjadi sadar gizi.
    Karena itulah, sudah saatnya bagi pihak-pihak yang peduli pada perlindungan
    anak-anak untuk segera melakukan tindakan untuk menghentikan eksploitasi
    kepentingan komersial terhadap anak-anak . Caranya adalah dengan mendesakkan
    pengaturan iklan anak-anak pada UU Penyiaran.***

    http://purnawan-kristanto.blogspot.com

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Asal-usul Perayaan Valentine

    Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi oleh hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol cinta ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?""Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita.""Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku.""Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine."Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap. Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia ). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma. Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine. Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, merka memasukka nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur,soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun.Nama Valentine lali diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.Di zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an. Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia" Sumber: http://crosswalk.com/faith/ministry_articles/guestcolumns/509916.html;

    http://www.christianitytoday.com/ct/2000/107/11.0.html;

    Koran Tempo; majalah Hidup.


    http://purnawan-kristanto.blogspot.com




    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Bahaya Tersembunyi di Balik Pornografi

    Hingga saat ini, pornografi masih menjadi bahan polemik yang belum ada titik
    temunya.Kubu pengecam pornografi menghendaki pembatasan sajian gambar dan
    foto sensual; sementara itu kubu yang lain menolak pembatasan ini karena
    dianggap memasung kreativitas. Sayangnya, hingga saat ini belum ada rumusan
    yang dapat dipakai untuk menakar kadar pornografi yang disajikan oleh media
    massa. Akibatnya kita kesulitan menentukan apakah sebuah gambar, tulisan
    atau pertunjukkan itu masih dapat dipahami dan dinikmati sebagai produk
    kesenian atau sudah mengarah kepada percabulan.
    Batasan yang Kabur
    Pornografi sebenarnya sebuah fenomena kuno yang telah menempuh perjalanan
    yang panjang. Kaisar Romawi, Tiberius Claudius Nero (berkuasa tahun 14-37
    M), diperkirakan memiliki koleksi pribadi berbagai benda-benda pornografi
    eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini
    dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah orang
    Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani,
    pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" +
    graphein= "tulisan"). Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya
    "menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga
    makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau
    tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi
    (seperti buku atau foto) yang menggambarkan perliaku erotis dan sengaja
    bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan
    dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat
    dan kuat.
    Pada zaman dulu, kebanyakan gambar-gambar porno justru tersebar luas di
    peradaban Timur, terutama di India dan Jepang. Di Indonesia, salah satu
    pengaruhnya, dapat kita lihat di candi Sukuh. Di masa modern ini,
    pornografi telah lama menjadi bahan perdebatan yang kontroversial, terutama
    menyangkut status legalitas dari pornografi itu. Perdebatan berpusat pada
    apakah pornografi bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari
    percabulan, atau tidak; dan apakah perlu dilakukan penyensoran terhadap
    pornografi, atau tidak.
    Kecanduan Pornografi
    Di Indonesia, kubu pengecam pornografi mengeluarkan argumentasi bahwa bahwa
    pornografi bisa berubah menjadi porno aksi. Mereka menyodorkan sejumlah
    fakta pemerkosan dan pelecehan seksual lainnya yang terjadi sesaat setelah
    si pelaku kriminal itu menonton gambar atau VCD porno. Harus diakui bahwa,
    bagaimanapun juga pornografi memiliki dampak buruk bagi kaum penikmatnya.
    Salah satunya berupa potensi yang dimilikinya dalam menciptakan kecanduan.
    Menurut Dr. Robert Weiss dari Sexual Recovery Institute di Los Angeles,
    pornografi memiliki reputasi efek mirip kokain, yaitu menimbulkan kecanduan
    seksual. "Cara kerjanya sangat cepat dan kuat," kata Weiss. Sama seperti
    penggunaan narkotika, pengalaman kenikmatan seksual yang didapat dengan
    melihat gambar-gambar porno dapat menimbulkan pola perilaku yang berulang
    dan semakin intensif. Walhasil, terciptalah kecanduan pornografi. Dalam hal
    ini, Dr. Victor Cline, dari University of Utah, membagi tahapan kecanduan
    menjadi lima bagian: (1). Terpaan Awal. Pada tahapan ini, orang itu mengenal
    pornografi untuk pertama kalinya. Biasanya terjadi pada usia muda. Mula-mula
    dia terkejut, jijik dan merasa bersalah.(2). Ketagihan. Setelah itu, dia
    mulai bisa menikmati pornografi dan berusaha mengulangi kenikmatan itu.
    Perilaku yang berulang ini tanpa disadarinya telah meresap menjadi bagian
    dari kehidupannya. Dia sudah terjerat dan sulit melepaskan diri dari
    kebiasaan itu. (3). Peningkatan. Dia mulai mencari lebih banyak lagi
    gambar-gambar porno. Dia mulai menikmati sesuatu yang pada mulanya dia
    merasa jijik melihatnya. (4). Mati Rasa. Dia mulai mati rasa terhadap gambar
    yang dia pelototi. Bahkan gambar yang paling porno sekalipun, sudah tidak
    lagi menarik minatnya. Dia berusaha mencari perasaan kepuasan yang
    didapatnya ketika pertama kali melihat gambar itu. Akan tetapi dia tidak
    bisa mendapatkannya lagi karena perasannya sudah kebal. (5). Tindakan
    seksual. Pada titik ini, dia melakukan lompatan besar, yaitu mencari
    kenikmatan seksual di dunia nyata.
    Dengan kata lain, perbuatan kriminal yang dipicu oleh pornografi sebenarnya
    hanyalah puncak gunung es dari efek negatif pornografi. Di bawah permukaan,
    justru ada lebih banyak efek negatif yang tidak kelihatan. Dalam bukunya,
    The Centrefold Syndrome, psikolog Gary R. Brooks, Ph.D memaparkan ada lima
    "gangguan mental" yang dikaitkan dengan konsumsi pornografi jenis soft-core
    semacam dari majalah Playboy atau Penthouse.
    Voyeurisme - Sebuah gangguan pikiran yang lebih suka memandangi tubuh wanita
    daripada menjalin interaksi dengannya. Brooks menyebutkan bahwa karena ada
    pemujaan dan objektifikasi terhadap tubuh wanita, maka hal ini menciptakan
    citra wanita yang semu, membiaskan realitas dan menciptakan sebuah obsesi
    berupa rangsangan visual. Hal ini mengabaikan pentingnya sebuah hubungan
    psikoseksual yang sehat dan dewasa.
    Objektifikasi - Sebuah sikap yang menaksir kualitas wanita berdasarkan
    ukuran, bentuk dan keharmonisan anggota tubuhnya semata. Brooks menegaskan
    bahwa jika seorang pria lebih suka menghabiskan energi emosionalnya pada
    fantasi seksual dengan orang yang tidak mungkin diaksesnya secara nyata,
    maka dia juga tidak akan bisa "diakses" oleh pasangannya untuk menciptakan
    momentum keintiman.
    Validasi-Yaitu suatu kebutuhan untuk membuktikan kesahihan kejantanan
    seorang pria dengan berhasil menggaet wanita cantik. Menurut Brooks, wanita
    dianggap memenuhi standard apabila dia mampu mempertahankan ksempurnaan
    tubuhnya. Kaum pria yang belum bisa mendapatan kenikmatan seksual dengan
    wanita impiannya, dia merasa belum menjadi pria sejati.
    Trofisme - Yaitu suatu sikap yang menganggap wanita sebagai sebuah koleksi
    trofi atau piala. Orang itu mengukur tingkatan kejantanan pria berdasarkan
    jumlah trofi yang berhasil dia koleksi. Brooks menambahkan mentalitas
    seperti ini sangat berbahaya di kalangan remaja, dan cukup merusak di
    kalangan orang dewasa.
    Ketakutan pada Keintiman Sejati - Yaitu suatu ketidak-mampuan untuk menjalin
    relasi secara jujur dan intim dengan wanita. Pornografi telah menutup mata
    kaum pria tentang pentingnya sensualitas dan keintiman. Karena hanya
    mementingkan pemuasan hawa nafsu seksual, beberapa pria mendapat hambatan
    dalam menjalin hubungan emosional dengan sesama kaum pria dan hubungan
    nonseksual dengan kaum wanita.
    Industri Menggiurkan
    Teman saya yang tinggal di Solo bercerita: Suatu kali dia pergi ke warnet.
    Ketika melewati bilik-bilik komputer, iseng-iseng dia melirik ke salah satu
    bilik. Dia melihat seorang remaja yang masih mengenakan seragam SMP. Dia
    terkejut, karena remaja itu sedang melakukan masturbasi sambil menatap layar
    monitor komputer. Dia bisa memastikan bahwa anak ingusan ini sedang
    mengakses situs porno.
    Majalah Time menulis pernah menulis"... pornografi menjadi sangat berbeda di
    dalam jaringan komputer. Anda bisa mendapatkan privasi di rumah Anda--tanpa
    harus mengendap-endap ke toko buku atau bioskop. Anda hanya tinggal download
    file yang membuat Anda terangsang, tidak perlu mengeluarkan uang atau
    terlibat masalah hukum." Gambar porno hanya sejauh satu "klik" pada mouse
    komputer Anda.
    Benarkah situs-situs porno menawarkan gambar porno dengan gratis? Ada
    pepatah, "dalam dunia bisnis tidak pernah ada makan siang gratis." Kita
    sering mendengar istilah "berselancar di internet," tetapi istilah ini lebih
    tepat jika diganti dengan kalimat "berjalan di pantai." Mengapa? Karena
    setiap kali berjalan di atas pasir, kita selalu meninggalkan "jejak kaki".
    Demikian juga di internet. Semua browser seperti Netscape, Internet
    Explorer, atau AOL, diperlengkapi dengan cache, yaitu sebuah file sementara
    yang menyimpan salinan halaman, gambar atau file. Tujuan semula bertujuan
    untuk mempercepat download pada akses di kesempatan lain. Akan tetapi dalam
    perkembangannya, file ini dimanfaatkan untuk memata-matai penggunaan
    komputer itu. Dalam dunia bisnis, data-data ini sangat berharga. Selain
    melalui chache dan cookie, pengelola situs biasanya mensyaratkan calon
    pengakses memasukkan alamat emailnya untuk mendapatkan password-nya. Begitu
    alamat email diberitahukan, maka kotak email si pengakses ini akan disesaki
    dengan kiriman email sampah (junk email).
    Ada juga yang menawarkan akses situs dengan membayar secara on line. Mereka
    diminta memasukkan nomor kartu kredit dan PIN untuk mendapatkan kode akses.
    Begitu nomor-nomor ini dimasukkan, maka dimulailah pembobolan kartu kredit.
    Sebagian besar pria yang tertipu modus operandi ini, biasanya enggan
    melaporkan karena merasa malu.
    Dalam e-commerce, industri pornografi termasuk pionirnya. Mereka yang
    pertama kali memakai teknologi belanja elektronik dan menggunakan kartu
    kredit untuk pembayaran on line. Mereka juga yang menemukan cara untuk
    mengirimkan file grafis berukuran besar melalui bandwith yang sempit.
    Mereka pula yang mempelopori penggunaan streaming video. Mereka juga yang
    menemukan cara "melumpuhkan" tombol "back" di browser Anda dan yang
    memunculkan teknik selalu memunculkan jendela baru ketika pengakses menutup
    satu jendela. Akibatnya, di layar itu selalu terpampang gambar porno.
    Hal ini tidak mengherankan karena industri pornografi ini telah menjadi
    bisnis yang menggiurkan. Bandingkan marjin keuntungan yang didapat sektor
    perdagangan on-line yang hanya 0,2 persen, dengan keuntungan yang diraup
    situs porno sebesar 30 persen! Pada tahun 1999, diperkirakan situs porno
    meraup 1,1-1,2 milyar Dollar. Sayangnya di Indonesia tidak ada data yang
    pasti. Tetapi untuk membayangkan saja, sebuah tabloid yang menonjolkan
    sensualitas seksual mengaku bisa mendapat keuntungan yang setara dengan
    sepuluh mobil (tapi tidak jelas, mobil merek apa).
    Itu artinya, dicegat dengan cara apapun, pornografi akan selalu mencari
    celah untuk bisa berkelit. Selama masih banyak penikmatnya, industri
    pemikat syahwat ini akan tetap memikat. Karena itu cara yang lebih efektif
    dengan menggalang gerakan masyarakat untuk menolak mengkonsumsi pornografi
    ini. Cara ini lebih elegan dan jauh dari kontroversi.

    http://purnawan-kristanto.blogspot.com

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Mengatasi Rasa Cemas Ketika Berbicara di Depan Umum

    Berbicara di muka umum, entah itu berkhotbah, mengajar, berpidato atau memberi sambutan, sering mendatangkan stress bagi orang mendapat mandat itu. Sedapat mungkin kita biasanya berusaha menghindar.  Namun pada saat tertentu kita akan tidak bisa mengelak lagi.

    Sesungguhnya, berbicara di depan umum itu TIDAK HARUS MEMBUAT ANDA STRESS! Rahasianya adalah jika Anda mengetahui penyebab stress ini, dan jika Anda menerapkan beberapa prinsip-prinsip ini, maka Anda justru akan menikmati ketika berbicara di depan umum.

    Prinsip #1--Kecemasan Berbicara di Muka Umum BUKAN Berasal dari Dalam

    Kebanyakan kita percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan! Untuk mengatasi kecemasan ini secara efektif, Anda mesti menyadari bahwa Anda TIDAK perlu mencemaskan hidup Anda, termasuk juga dalam berbicara di depan umum. Ribuan orang telah belajar untuk berbicara di depan umum tanpa rasa cemas (kalaupun ada hanya sedikit sekali). Pada mulanya, mereka ini juga sangat cemas.  Lutut mereka gemetaran, suara mereka bergetar, pikiran menjadi kacau . . . selanjutnya Anda tahu sendiri. Tapi akhirnya mereka berhasil menghapus kecemasan itu.

    Sebagai manusia biasa, Anda pun juga tidak berbeda dengan mereka. Jika mereka mampu mengatasi kecemasan itu, berarti Anda pun bisa! Anda hanya perlu mendapat pedoman, pengertian dan rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan hal itu.

    Percayalah, sudah banyak berhasil, termasuk saya.  Tetapi ingat juga, keberhasilan ini tidak bisa diraih dalam semalam. Ada proses yang harus dilalui.

    Prinsip #2--Anda tidak Harus Cerdas dan Sempurna

    Ketika melihat seorang sedang berkhotbah, kita lalu bergumam "Wow, saya tidak mungkin bisa secerdas, setenang, selucu dan semenarik dia." Sesungguhnya, Anda tidak harus cerdas, lucu atau menarik.  Saya mengatakan ini dengan serius.  Walaupun Anda hanya memiliki kemampuan rata-rata--bahkan di bawah rata-rata--Anda masih bisa menjadi pembicara sukses.

    Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kata "sukses" itu sendiri. Percayalah, hadirin itu tidak mengharapkan Anda tampil sempurna. Inti dari berbicara di depan umum adalah: memberikan sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi hadirin. Jika hadirin itu pulang sambil membawa sesuatu yang bermanfaat, maka mereka akan menilai Anda telah sukses. Jika mereka pulang dengan perasaan yang lega atau merasa mendapat manfaat untuk pekerjaannya, maka mereka akan menganggap bahwa tidak sia-sia meluangkan waktu untuk mendengarkan paparan Anda.

    Bahkan sekalipun lidah Anda terpeleset atau mengucapkan kata-kata yang tolol . . . mereka tidak peduli.  Yang penting mereka mendapat manfaat lain (Bahkan sekalipun Anda mengkritik mereka dan membuat gusar, Anda pun tetap berhasil karena membuat mereka lebih baik lagi.)

    Prinsip #3--Anda hanya Butuh Dua atau Tiga Pokok Utama

    Anda tidak perlu menyuguhkan segunung fakta pada hadirin. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali yang mampu diingat hadirin (kecuali jika mereka mencatat, tentu saja). Pilihlah dua atau tiga point utama saja.

    Yang diinginkan hadirin sebenarnya adalah mereka bisa membawa pulang dua atau tiga hal yang bermanfaat. Jika Anda bisa memasukkan hal ini dalam materi Anda, Anda bisa menghindari kompleksitas yang tidak perlu. Ini berarti juga membuat tugas Anda sebagai pembicara jadi lebih ringan, dan lebih menyenangkan juga!

    Prinsip #4--Anda Punya Tujuan yang Tepat

    Prinsip ini sangat penting . . . jadi simaklah baik-baik. Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh orang yang berbicara di depan umum adalah mereka tidak punya tujuan yang tepat. Inilah yang secara tidak mereka sadari menyebabkan kecemasan dan stress.

    Seorang pembicara mengisahkan pengalamannya:"Dulu, saya pikir tujuan utama berpidato adalah membuat semua orang yang hadir setuju dengan pendapat saya." Karena itu, dia berusaha keras untuk meyakinkan semua hadirin. Jika ada satu orang saja yang tidak setuju, dia langsung meradang.  Jika ada orang yang pulang duluan, jatuh tertidur, atau kelihatan tidak tertarik, orang ini merasa telah gagal.

    Tetapi kemudian dia menyadari hawa ambisi seperti ini terlihat menggelikan. Apakah ada pembicara yang bisa meyakinkan 100%  orang yang mendengarnya? Jawabannya: tidak ada!

    Sesungguhnya, sekeras apapun upaya Anda. . . selalu saja ada orang yang tidak sepakat dengan Anda.  Tetapi tidak apa-apa.  Ini hal yang biasa. Di dalam kumpulan orang banyak selalu ada perbedaan pendapat, penilaian dan tanggapan. Ada yang positif, ada pula yang negatif.

    Tidak ada yang pasti dalam hal ini. Jika lamban menyelesaikan pekerjaan Anda, ada yang bersimpati pada Anda, ada pula yang mengkritik Anda dengan tajam. Jika Anda menuntaskan pekerjaan Anda dengan baik, ada yang memuji kemampuan Anda, ada pula yang sangsi bahwa Anda bisa mengerjakannya sendirian. Orang yang pulang duluan, mungkin bukannya tidak tertarik pada uraian Anda melainkan mungkin karena ada keperluan mendesak. Yang tertidur, mungkin semalaman begadang karena anaknya sakit.

    Ingat, inti dari berbicara di depan umum adalah memberi nilai atau makna tertentu pada hadirin.  Kata kuncinya adalah MEMBERI, bukan MENDAPAT! Dengan kata lain, tujuannya bukan mendapat sesuatu(persetujuan, ketenaran, penghormatan, pengikut dsb) dari pendengar Anda, melainkan memberikan sesuatu yang bermanfaat.

    Prinsip #5--Kunci Sukses adalah Tidak Menganggap Diri Anda Seorang Pembicara!

    Prinsip ini tampak paradoks. Kebanyakan orang telah terpengaruh oleh pembicara yang sukses. Kemudian agar sukses, kita berusaha sekuat tenaga memperlihatkan kualitas tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki.

    Akibatnya kita menjadi putus asa ketika gagal meniru karakteristik dari orang terkenal, yang kita anggap sebagai kunci suksesnya.Jelasnya, alih-alih menjadi diri sendiri, kita sering berusaha menjadi seperti orang lain!

    Padahal sebagian besar pembicara yang sukses itu melakukan hal yang sebaliknya! Mereka tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi menjadi diri mereka sendiri. Dan mereka pun terkejut sendiri karena mereka bisa menikmati tugas yang bayak dicemaskan orang ini.

    Rahasianya, karena mereka tidak berusaha menjadi pembicara tetapi menjadi diri mereka sendiri!

    Kita bisa melakukan hal yang sama. Apapun jenis kepribadian Anda, ataupun ketrampilan dan talenta yang Anda miliki, Anda pasti mampu berdiri di muka umum dan menjadi diri Anda sendiri.

    Prinsip #6--Kerendahan Hati dan Humor Sangat Menarik Perhatian

    Ada dua hal yang dapat dipakai oleh siapa saja untuk menarik perhatian orang ketika berbicara di muka umum, yaitu: kerendahan hati dan humor.

    Semua orang mengenal humor.  Jika humor itu tidak menyakiti siapapun, cukup lucu dan sesuai dengan tema pembicaraan Anda, silahkan gunakan.  Humor selalu menarik meskipun Anda tidak cakap menyampaikannya.

    Sedangkan yang dimaksud kerendahan hati adalah ketika berbicara Anda  membagikan pergumulan, kelemahan dan kegagalan Anda. Sebagai manusia biasa kita punya kelemahan dan ketika Anda jujur mengungkapkannya Anda menciptakan suasana yang nyaman sehingga orang lain juga bersedia mengungkapkan hal yang sama.

    Dengan rendah hati di depan orang lain, justru akan membuat Anda lebih kredibel, bisa dipercaya dan disegani. Anda lebih mudah menjalin komunikasi dengan mereka karena dianggap sebagai "orangnya sendiri".

    Kombinasi antara  humor dan kerendahan hati seringkali sangat efektif. Dengan menceritakan pengalaman hidup Anda yang lucu dapat menjadi sarana komunikasi yang menarik.

    Demikian juga dengan menceritakan perasaan Anda saat itu. Misalnya, jika Anda merasa grogi ketika itu, jangan tutup-tutupi (karena mereka pasti bisa melihat).  Dengan rendah hati, akuilah ketakutan itu dengan jujur.

    Prinsip #7--Apa yang Terjadi Selama Anda Berbicara,  Bisa Anda Manfaatkan untuk Keuntungan Anda!

    Salah satu alasan orang takut berbicara di depan umum adalah karena dia tidak mau dipermalukan di hadapan orang banyak. Bagaimana nanti jika aku gemetaran dan suaraku tercekat?  Bagaimana jika aku lupa sama sekali apa yang harus kusampaikan? Bagaimana jika hadirin menolakku dan melempari aku dengan benda-benda?

    Bagaimana nanti jika mereka keluar ruangan semua? Bagaimana nanti jika mereka mengajukan pertanyaan sukar dan komentar tajam?

    Jika semua ini memang terjadi, memang akan membuat pembicara itu mendapat malu.  Untungnya, hal ini tidak sering terjadi. Sekalipun ini terjadi, ada jurus jitu yang dapat dipakai untuk menangkalnya. Ingin tahu?

    Jika orang mulai beranjak pergi, Anda bisa bertanya: "Apakah dari yang saya sampaikan ada yang tidak Anda setujui?  Apakah gaya dan cara saya menyampaikan kurang tepat?  Apakah yang saya sampaikan tidak sesuai dengan harapan Anda?  Ataukah ada yang salah masuk ruangan?"

    Dengan menanyakan hal ini secara jujur dan rendah hati, maka hadirin yang masih duduk akan setia hingga Anda selesai berbicara. Pertanyaan ini juga memberikan kesempatan pada Anda untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan saat itu.

    Prinsip yang sama juga dapat diterapkan menghadapi penentang dan pengejek Anda. Anda selalu punya kesempatan untuk memakai situasi apapun yang terjadi untuk keuntungan Anda.

    Prinsip #8--Anda Tidak Bisa Mengatur Perilaku Khalayak Anda

    Ada beberapa hal yang bisa Anda atur, yaitu: pikiran Anda, persiapan Anda, pengaturan alat peraga Anda,  penataan ruang pertemuan--tetapi satu hal yang tidak bisa diatur, yaitu audiens atau khalayak Anda. Mereka akan bertindak sesuai kehendak mereka sendiri.

    Jika mereka terlihat lelah atau gelisah, jangan coba-coba untuk mengaturnya. Jika mereka membaca koran, atau tertidur biarkanlah itu sepanjang tidak mengganggu yang lain. Jika mereka tidak menyimak, jangan menghukum mereka

    Jika Anda menganggap bahwa Anda harus mengatur perilaku orang lain, maka Anda akan stress sendiri.  Anda hanya bisa mengatur diri Anda sendiri dan sarana pendukung.

    Prinsip #9--Hadirin Sesungguhnya Menginginan Anda Berhasil

    Para hadirin menghendaki Anda sukses menyampaikan materi.  Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka sangat takut berbicara di depan orang banyak.  Mereka tahu risiko kegagalan dan dipermalukan yang Anda ambil ketika Anda maju di depan mereka. Mereka mengagumi keberanian Anda mengambil risiko itu. Mereka akan di pihak Anda, apa pun yang terjadi.

    Ini artinya, sebagian besar khalayak itu bisa memahami jika Anda membuat kesalahan. Tingkat toleransi mereka terhadap kesalahan Anda cukup tinggi.  Anda perlu meyakini prinsip ini, terutama ketika merasa bahwa penampinan Anda sangat buruk.

    Prinsip #10--Roh Kudus Akan Memampukan Anda

    Prinsip terakhir ini sangat penting.  Siapa pun Anda, ketika Roh Kudus berkarya dalam diri Anda, maka Anda akan menjadi pembicara yang mengubah hidup orang lain.  Ingatlah peristiwa Pentakosta. Petrus yang dikuasai Roh Kudus bisa menjadi pembicara yang hebat.  Tetapi siapa sebenarnya Petrus?  Dia "hanya" seorang Nelayan!

    Nah, dengan mengingat kesepuluh prinsip ini, percayalah Anda tidak akan merasa cemas lagi ketika harus berbicara di depan umum.  Cara paling mudah untuk mengingatnya, adalah dengan mempraktikannya dengan tekun. Saya sudah mengalami sendiri.  Dulu, setiap kali harus memimpin PA, saya selalu basah keringat dingin. Perut saya juga mulas.  Tetapi setelah beberapa kali melakukannya, perasaan cemas itu mulai sirna.  Jika saya bisa, Anda pun pasti bisa! (Wawan)

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    You Are What You Read

    Ada seorang tokoh (sayangnya saya lupa siapa) pernah berkata begini,
    "Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak
    seperti apakah diri Anda." Orang ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis
    buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas
    orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi menjadi sekadar pembaca
    buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki
    seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari
    kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari
    buku itu. Salah satu hasil dari proses 'pencernaan' ini berupa tulisan
    resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis
    resensi.
    Kata "resensi" diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin),
    yang berarti "melihat kembali","menimbang" atau "menilai". Sedangkan
    resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah
    buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi
    keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca." Ada berbagai nama
    yang dipakai oleh media massa untuk menandai rubrik resensi, antara lain:
    Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana
    atau lainnya.
    Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku. [1]. Resensi
    Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah. Jenis ini
    hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius.
    Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.
    [2]. Resensi Sinopsis. Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku. Sifatnya
    100 % objektif. [3].Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan
    menunjukkan faedah buku. Panjangnya sekitar 4 halaman. Sifatnya, 90%
    objektif.

    A. PERSIAPAN
    Persiapan yang wajib dilakukan oleh penulis resensi tentu saja adalah
    membaca isi buku itu (kalau perlu membaca berulang-ulang). Dalam hal ini
    penulis yang terutama harus membaca dengan seksama bagian "Kata Pengantar"
    atau "Pendahuluan" buku itu. Pada bagian inilah, Anda bisa memahami tujuan
    penulisan buku ini. Selama membaca buku itu, Anda harus mencermati dan
    mencatat hal-hal yang akan dipakai sebagai bahan penulisan nanti, yaitu:
    · Tema buku
    · Pengarang : Tuliskan Kapasitas, Latar Belakang dan Kualifikasinya.
    Apakah dia cukup terkenal dan berkompeten di bidangnya?
    · Penerjemahnya: Apakah penerjemah menguasai tema yang dibahas buku
    itu.
    · Penggunaan Bahan-bahan dan Referensi(Lihat Daftar Pustaka, Tabel
    dan Grafik)
    · Tujuan penulisan (lihat pengantar dan pendahuluan)
    · Sasaran pembaca buku ini
    · Data teknis: Jumlah halaman, harga, nama penerbit, tahun terbit.
    Format
    · Daftar Isi
    · Pembagian bab dan pemberian judul tiap bab
    · Indeks
    Selain itu, selama membaca Anda juga harus mencari jawaban atas
    pertanyaan-pertanyaan-pertanyaan ini:
    · Apakah judul buku sudah mencerminkan temanya? Apakah tujuan buku
    ini sudah diwujudkan penulis dalam seluruh bab?
    · Buku ini termasuk dalam golongan (genre) apa?
    · Sudut pandang apa yang dipakai oleh pengarang?
    · Gaya penulisan seperti apa yang dipakai pengarang? Apakah formal
    atau informal? Apakah itu sudah sesuai dengan sasaran pembaca?
    · Bagaimana pemakaian bahasanya? Apakah komunikatif, rumit atau
    bertele-tele?
    · Apakah pengarang merumuskan konsep dan definisi dengan jelas?
    Apakah pengarang menuturkan gagasannya dengan runtut (tidak meloncat-loncat)
    dan mudah diikuti? Apakah ada bidang.wilayah tertentu yang tidak dipaparkan
    oleh pengarang? Mengapa?
    · Jika buku yang diresensi adalah karya sastra, buatlah catatan
    seputar karakter, alur/plot dan setting dan bagaimana semuanya itu
    ber-relasi dalam tema besar.
    Jangan lupa, berilah tanda pada bagian buku yang perlu mendapat perhatian
    khusus atau yang bisa dikutip dalam tulisan nanti. Setelah itu, rumuskanlah
    sinopsis atau ringkasan buku itu.

    B. STRUKTUR TULISAN
    Kesalahan fatal yang umumnya dialami oleh penulis pemula, yaitu mereka
    mengabaikan pembuatan outline (kerangka) tulisan. Maunya, mereka sekali
    menulis langsung jadi. Banyak orang yang menganggap bahwa membuat kerangka
    karangan hanya untuk siswa SD saja dalam membuat karangan. Padahal
    sesungguhnya dengan kerangka karangan kita akan banyak terbantu karena bisa
    menulis secara sistematis, runtut dan berirama. Berikut ini struktur
    tulisan yang lazim dipakai dalam tulisan resensi:[1]
    1. Lead/Teras

    1. Lead/Teras
    Bagian awal sebuah tulisan adalah adalah wilayah yang sangat penting.
    Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca [atau redaktur] tertarik untuk
    membaca keseluruhan tulisan itu, atau tidak. Bagian ini ibarat seperti
    sebuah etalase sebuah toko. Etalase yang dirancang secara ciamik akan bisa
    menggaet pengunjung yang melintas di depannya untuk masuk toko itu.
    Demikian pula, sebuah etalasi yang indah akan menarik pembaca [dan redaktur]
    untuk menyelami tulisan itu. Sebuah tulisan tanpa etalase yang baik biasanya
    akan lebih cepat berakhir di keranjang sampah redaksi. Bagian tulisan ini
    dinamakan teras atau lead. Ada beberapa jenis lead yang dapat dipakai untuk
    mengawali tulisan resensi:
    a. Memperkenalkan Pengarang. Tulisan diawali dengan memaparkan nama
    pengarang, prestasinya, karyanya dan kompetensinya. Contoh: "Profesor J.D.
    Legge, dalam karya tulisnya kali ini memberikan sumbangan pengetahuan,
    pemahaman dan interprestasi mengenai sejarah perjuangan kemerdekaaan.(Tempo,
    5/3/94)
    b. Kekhasan Pengarang. Penulis memaparkan ciri khas yang menonjol dari
    pengarang. Namun penggunaan kekhasan ini harus tepat. Maksudnya, kekhasan
    itu harus relevan dengan topik buku itu.
    Contoh: Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap tulisan DR. H.
    Roeslan Abdulgani, yakni setiap kutipan suatu peryataan atau kutipan sebuah
    buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan.
    Tidak saja mempunyai relevansi, tetapi juga menambah bobot
    tulisan.(Margantoro, Bernas, 21/3/93).
    c. Keunikan Buku: Penulis bisa membuka tulisan dengan memaparkan keunikan
    yang jarang dimiliki oleh buku sejenis. Contoh: Luar biasa! Dengan format
    panjang-lebar 23x15 cm, ketebalan lebih dari 1056 halaman, buku ini
    barangkali tercatat sebagai satu-satunya buku paling tebal untuk jenis buku
    nonfiksi berbahasa Indonesia (St. Sularto, Kompas, 26/11/95).
    d. Tema Buku: tema yang diulas dalam buku dapat diungkap secara langsung.
    Contoh: Membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkara
    yang mudah dan gampang, apalagi bila kita kaitkan dengan besarnya cita-cita
    orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan tata nilai agama, akrab,
    setia kawan, sukses dan berprestasi.(Indarti Ef.Er., Kompas, 11/11/90).
    Lead ini untuk mengantarkan kupasan tentang buku cara mendidik anak..
    e.Kelemahan Buku: Dengan pertimbangan objektif, peresensi dapat memulai
    dengan kelemahan buku itu. Hal ini bisa dipakai jika materi buku tidak
    sesuai dengan topik yang dibahas atau memiliki kelemahan yang cukup
    mendasar. Contoh: Demokrasi mestinya dipahami sebagai sebuah proses. Untuk
    itu, persoalan tentang rentang waktu harus menjadi salah satu patokan.
    Sebab, membuat deskripsi final demokrasi tanpa menyebutkan patokan waktu,
    jelas akan menimbulkan bias. Apalagi jika menyangkut demokrasi ekonomi.
    Sebuah istilah yang sesungguhnya hanya "menumpang" pada istilah bakunya
    dalam studi ilmu Politik: demokrasi politik. Konsekuensinya adalah
    munculnya istilah-istilah yang tidak pas dengan makna yang dimaksudkan
    pengarangnya.
    Pemahaman kita tentang pemberian kesempatan yang sama dalam terminologi
    demokrasi politik, tidak begitu saja dapat diterapkan dalam terminologi
    demokrasi ekonomi. Berbagai faktor di atas sebetulnya membuat pemahaman
    tentang judul buku yang dibuat harian sore Surabaya Post ini terkesan agak
    kabur.(M. Taufiqurohman, Prospek, 18/9/93)
    f. Kesan Terhadap Buku: Lead diawali dengan kesan penulis yang cenderung
    subjektif. Peresensi memberikan penilaian yang relevan dan disertai
    argumentasi yang tepat. Contoh: Sangat elementer dan jauh dari pemikiran
    kritis. Itulah kesan awal jika kita membaca buku ini. Kesan tidak
    mengada-ada. Sebab, uraiannya sendiri tampak hanya di bagian-bagian
    permukaan saja. Namun, di balik pemaparan yang sederhana dan kurang kritis
    ini, terkandung butir-butir pemikiran yang cukup filosofis.(Agus Wahid,
    Warta Ekonomi).
    g. Penerbit Buku: Ada tiga pertimbangan pemakaian nama penerbit sebagai
    lead: (1). Objek yang dibicarakan sama; (2). penerbit baru atau; (3). Buku
    diterbitkan untuk acara tertentu. Contoh: Setelah menerbitkan buku
    Mendorong Jack Kuntikunti--pilihan sajak dari Australia, budaya dan Politik
    Australia, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku lagi tentang Australia,
    yakni Yang Tergusur. Kebetulan tahun terbitnya bisa berurutan, yakni 1991,
    1992, dan 1993. Satu lagi buku yang bisa membantu kita, tentang "suku
    putih"-nya Asia (Margantoro, Bernas, 8/8/93).
    h. Pertanyaan: Penulis melontarkan pertanyaan yang menarik minat pembaca.
    Contoh: Seringkali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang mengenai
    hubungan antara sains dan agama. Misalnya, apakah kemajuan sains menjadi
    ancaman bagi agama? Benarkah agama antimodernisasi, karena modernisasi
    merupakan buah dari perkembangan sains? (Daniel Samad, Suara Karya, 1/3/96).
    i. Dialog: Pendahuluan yang seolah-olah melibatkan pembaca secara pribadi.
    Ciri khasnya lead ini terdapat banyak kata "kita" dan "Anda". Contoh:
    Masalah keluagra adalah masalah kita bersama. Kita semua terlibat langsung,
    dan karenanya berkepentingan untuk menemukan alternatif-alternatif teoritis
    dan praktis guna membangun keluarga yang makin bermutu (Margantoro, Bernas,
    14/3/93).

    2. Pengantar
    Setelah puas dengan hasil perumusan lead, lanjutkan tulisan dengan
    menggambaran buku itu secara umum. Di sini Anda bisa menceritakan lebih
    terperinci tentang siapa pengarang buku ini, kapasitas yang dia miliki dalam
    kaitannya dengan subjek buku.
    Berikan juga ringkasan tujuan buku ini, tema atau argumen umum yang ada
    dalam buku ini. Termasuk juga pernyataan untuk siapa buku ini ditujukan
    (sasaran pembaca).

    3. Ringkasan Isi
    Sajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya
    menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas.
    Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis
    dalam suatu uraian yang bernas.

    4. Analisis Tulisan
    Pada bagian ini, Anda diharapkan menjabarkan hal-hal yang menonjol dari
    sinopsis/ringkasan isi. Berikan 5 atau 6 kutipan langsung. Panjang tiap
    kutipan sekitar 2-5 kalimat. Kutipan berfungsi memberi kesempatan pembaca
    untuk mencicipi gaya tulisan. Kutipan diapit tanda petik dan wajib 100 %
    sama dengan sumbernya. Manipulasi kalimat merupakan pelanggaran kode etik
    kepengarangan.
    Di sini pula Anda diharapkan memberikan ulasan mengenai hal-hal berikut:
    · Gaya apa yang dipakai penulis: sederhana/ teknis; persuasif/ logis?
    · Bagaimana metode yang dipakai untuk memberikan argumentasi dalam
    buku ini (perbandingan/kontras; sebab/akibat; analogi; persuasi dengan
    memberikan contoh)? Berikan contoh untuk mendukung analisis Anda.
    · Data dan bukti apa saja yang disajikan dalam buku ini untuk
    mendukung argumentasi pengarang(Misalnya: peta, bagan, tabel, tulisan pakar,
    kutipan, kliping).
    · Apakah data dan bukti itu cukup kuat? (Tunjukkan data yang lemah
    dan yang kuat, lalu jelaskan alasannya).
    · Apakah argumentasinya sudah lengkap?
    · Apakah ada fakta dan data yang terlewatkan oleh pengarang? (Dalam
    hal ini, Anda perlu memanfaatkan buku lain dengan topik yang sama untuk
    menunjukkan kelemahan buku ini.)
    · Apakah penyajian tulisan ini sudah sesuai dengan tujuan penulisan
    dan sasaran pembaca.

    5.Penilaian Tulisan
    · Berikan penilaian secara ringkas: kelemahan dan kekuatan buku ini.
    · Berikan penilaian tentang manfaat yang bisa dipetik pembaca dari
    buku ini.
    · Berikan catatan apakah Anda menyukai buku ini, atau tidak.

    6. Penutup
    Sebagaimana lazimnya penulisan artikel, tulisan resensi juga harus diakhiri
    dengan paragraf yang bernada pamit. Tujuannya supaya pembaca tahu bahwa
    tulisan ii akan segera berakhir. Untuk resensi, paragraf penutupnya
    biasanya diakhir dengan sasaran yang hendak dituju oleh buku itu.
    Contohnya: Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang berkiprah di
    pemerintahan, atau pengamat pemerintahan, melainkan juga bagi mereka yang
    mengelola organisasi-organisasi besar yang birokrasinya terasa
    menjerat.(Ramelan, Manajemen Nop-Des 1995). Apakah resensi hanya bisa
    ditutup dengan penyebutan sasaran pembaca? Tentu saja tidak, Anda bisa
    menutupnya dengan pesan atau ajakan penulis yang mempertegas uraian
    tulisannya.

    C. PELUANG
    Bukan kebetulan kalau Sekolah Jurnalistik BAHANA kali ini juga menyampaikan
    materi tentang teknik penulisan resensi. Kami melihat bahwa sesungguhnya
    bidang penulisan resensi ini seperti ladang tak bertuan, yang ksepian dan
    belum banyak dijamah orang. Padahal ladang ini lumayan subur, walaupun
    "hasil panenannya" memang tidak sebesar tulisan artikel. Setidak-tidaknya
    ada tiga manfaat yang bisa kita ambil dengan menulis resensi. Pertama, kita
    bisa mendapatkan honor jika tulisan itu dimuat. Kedua, kita bisa menambah
    koleksi buku kita secara gratis. Kok bisa begitu? Iya, karena bila tulisan
    kita dimuat, kita bisa mengirimkan fotokopi tulisan itu pada penerbit buku
    itu. Biasanya penerbit yang baik akan mengirimkan buku-buku terbaru mereka
    supaya diresensi kembali oleh orang itu. Pada umumnya penerbitsenang jika
    buku terbitan mereka diresensi karena bisa menjadi sarana promosi yang
    murah. Itulah sebabnya, ada penerbit yang secara rutin mengirimkan buku
    terbaru mereka kepada penulis resensi yang aktif.
    Ketiga, jika Anda rajin menulis resensi, nama Anda bisa mulai dikenal orang.
    Tingkat persaingan untuk rubrik resensi tidaklah begitu ketat, sehingga
    peluang untuk dimuat sangat besar. Ada beberapa orang yang menjadi penulis
    yang dikenal karena rajin menulis resensi. Contohnya, St. Kartono(guru SMU
    De Britto) dan Br. Paulus Mujiran (rohaniawan).
    Nah, jika Anda penulis pemula, Anda bisa memulai dengan menekuni ladang ini.
    Tunggu apa lagi?
    Dirangkum dari berbagai sumber

    [1] Daniel Samad, Dasar-Dasar Meresensi Buku, Grasindo, 1997

    http://purnawan-kristanto.blogspot.com

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    Draft Skenario: Tujuhpuluh Kali Tujuh Kali

    Durasi                                   : 30 menit

    Tokoh                                    :

    ·      Jurnalis "A"   : Wartawan sebuah majalah rohani yang idealis, suka    menolong dan gigih.

    ·      Pengusaha "B": Orang yang kaya raya tetapi terbelit hutang pada bank.  Dia pintar ngomong, lihai membujuk dan tidak punya belas kasihan.  Punya "sepasukan" preman yang selalu siap disuruh menteror orang.

    ·      Janda Pendeta "C": Polos, lemah tetapi bersandar kepada Tuhan.

    ·      Pemilik Bank "D"         : Bijaksana, baik hati, punya belas kasihan tetapi bisa bertindak tegas.

    ·      Preman

    ·      Dewan Redaksi

     


    Bab I

    Suruhan Pengusaha Kristen Mendatangi Janda Pendeta

    "Braaak!"

    Suara meja digebrak dengan keras.  Seorang ibu yang duduk di belakangnya tertunduk gemetar. Butiran-butiran keringat menetes dari dahinya.

    "Sudah berapa kali kamu berjanji akan membayar hutangmu, hah?!! Tetapi buktinya mana? " 

    "Maa ..maaf pak.  Ya, bagaimana lagi.  Kami memang tidak punya uang lagi."

    Ruang tamu itu terasa semakin panas.  Asap rokok yang mengepul dari mulut para penagih hutang itu membuat napas menjadi sesak dan memedihkan mata.  Sesekali ibu setengah baya itu mengusap air matanya.  Bukan pedih karena asap, tapi pedih dari dalam hatinya.  Ibu ini bernama Sumiyati.  Baru saja ditinggal mati suaminya.  Meski tanah kuburannya belum kering, sejumlah pemuda berbadan tegap dan berwajah sangar mendatangi janda yang masih berduka itu.  Mereka ini adalah suruhan Dew

    Si janda minta waktu seminggu lagi untuk melunasi utang.  Preman-preman ini pergi dengan gusar.  Dia mengancam akan mengusir dan menyegel rumah itu jika seminggu lagi si janda tak melunasi utangnya.

     

    Babak II:

    Bank Menagih Pengusaha Kristen

    Di tempat yang lain, si pengusaha memasuki kantor bank dengan wajah pucat.  Dia pusing tujuh keliling memikirkan cara melunasi hutangnya.  Akibat krisis ekonomi, usahanya menjadi ambruk dan dia tidak mampu lagi mencicil hutangya.  Kreditnya macet total.

    Pemilik bank mengancam akan menyita rumah beserta harta pribadi pengusaha yang lain, jika tidak segera melunasi hutang.  Mendengar hal itu, pengusaha ini langsung lemas.  Dengan suara menghiba-hiba, dia minta keringanan hutang.  Dia berdalih kalau usahanya ditutup, banyak orang yang di-PHK.  Karena merasa kasihan, akhirnya pemilik bank malah memutihkan hutang itu.  Dengan kata lain, hutangnya dianggap lunas.

     

    Babak III
    Rapat Redaksi

    Di kantor media, dewan Redaksi dan bagian pemasaran sedang membahas kasus janda pendeta itu.  Si jurnalis ngotot menurunkan tulisan itu.  Sementara itu, bagian pemasaran menginformasikan bahwa pengusaha kaya itu adalah pemasang iklan yang setia.  Jika berita tetap diturunkan, maka pengusaha tidak mau pasang iklan lagi.

    Argumentasi jurnalis akhirnya diterima.  Berita tetap diturunkan dengan resiko akan kehilangan pemasang iklan potensial. Tiba-tiba ada telepon yang memberitahu bahwa rumah janda itu akan disegel.  Si Jurnalis segera meluncur ke lokasi kejadian.

     

    Babak IV

    Penyegelan

    Diwarnai dengan jeritan tangisan istri pendeta dan anak-anaknya, orang suruhan pengusaha menyegel dan menyita rumah janda itu. Si jurnalis merekam peristiwa itu.  Sepeninggal orang suruhan pengusaha, si jurnalis mengajak keluarga istri pendeta itu untuk sementara menginap di kantor redaksi.

     

    Babak V

    Pemborongan Majalah

    Berita penggusuran itu diturunkan oleh jurnalis.  Tetapi rupanya si pengusaha sudah mengantisipasi berita itu. Ketika majalah itu terbit, dengan kekuatan uangnya, dia menyuruh bawahannya memborong majalah di semua agen dan toko buku.  Masyarakat yang mengetahui kejadian itu malah menjadi penasaran.  Mereka mencari majalah edisi itu yang tidak sempat diborong.  Bahkan fotokopinya pun laris manis tanjung kimpul.

    Tanpa dinyana, kasus ini malah menarik perhatian banyak orang.  Apalagi stsiun TV juga ikut menayangkan peristiwa itu. Akibatnya banyak orang tersentuh dan tergerak untuk memberi sumbangan. Tak pelak lagi, ruangan redaksi majalah itu menjadi sibuk oleh dering telepon orang yang bersimpati.

     

    Babak VI

    Ketahuan Belangnya

    Pihak bank yang tahu keculasan pengusaha itu menjadi berang.  Akhirnya mereka menyita rumah orang kaya beserta harta pribadi untuk melunasi hutangnya.

     

    Babak VII

    Ending

    Di sebuah perumahan yang sederhana, janda pendeta dan anak-anaknya memasuki rumah barunya dengan sukacita.  Mereka mengadakan kebaktian sederhana untuk memberkati rumah itu.

    Sementara itu, tepat di sebelahnya, ada keluarga baru yang juga pindahan saat itu.  Ternyata mereka adalah keluarga pengusaha yang terpaksa pindah ke rumah baru dengan bersungut-sungut dan bertengkar satu sama lain.

    Tamat

     http://purnawan-kristanto.blogspot.com

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More

    KISAH PENCIPTAAN LAGU NATAL

     

     

    Malam itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Joseph Mohr berjalan menulusuri jalan setapak, usai menonton pertunjukan drama Natal yang dipentaskan oleh sekelompok aktor keliling. Menurut rencana, sebenernya drama itu akan dipentaskan di gereja St. Nichoas, tetapi karena organ gereja rusak akibat digigiti tikus, maka pentas itu terpaksa dialihkan ke rumah salah satu jemaat.

    Ketika sampai di puncak bukit, Mohr berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di bawahnya.  Dia begitu terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh.  Hal itu membuat Mohr membayangkan suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem.  "Malam sunyi! Malam kudus!" Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.

    Sesampai di rumahnya, Mohr segera menyambar pena dan kertas untuk menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya.  Setelah itu, dia punya rencana untuk menyanyikan syair gubahannya itu pada malam kebaktian Natal di gerejanya.  Keesokan harinya, dia segera menemui Franz Xaver Grüber, seorang guru desa dan pemain organ gereja.  Pada hari itu juga, Grüber bisa merampungkan melodi untuk syair itu. Maka jadilah lagu "Malam Kudus" (Silent Night) yang beberapa abad kemudian menjadi "lagu wajib" pada setiap perayaann Natal.

    Siapakah Joseph Mohr? Dia dilahirkan tahun 1792 di Steingasse, di sebuah perkampungan kumuh di Austria.  Seorang pastor merasa kasihan melihat Mohr kecil terpaksa mengamen di jalanan. Imam Katolik itu lalu memungutnya dari jalanan dan menyekolahkan di Salzburg.  Di sana, selain belajar agama, Mohr juga belajar bermain organ, biola dan gitar. Tahun 1818, Mohr ditempatkn sebagai asisten pastor di gereja St. Nicholas.

    Sesuai dengan rencananya, pada malam Natal di tahun 1818, Mohr menyanyikan lagu ciptaanya itu dengan iringan gitar Grüber (karena organ gereja masih rusak). Lagu yang masih gres itu ternyata menyentuh hati jemaat yang datang beribadah.

    Meski terbilang sukses, namun mereka tidak pernah punya niat untuk menyebarkan lagu itu ke luar desa.  Seminggu kemudian, Karl Maurachen, tukang servis organ kenamaan dari Zillerthal datang untuk memperbaiki alat musik di gereja itu.  Ketika sudah beres, Grüber dipersilahkan mencoba memainkan organ itu. Pada kesempatan itu, Grüber memainkan lagu yang baru diciptakan itu.  Maurachen sangat terkesan mendengar lagu itu. Dia minta salinan komposisi lagu itu dan membawanya pulang.

    Di tangan Maurachen, lagu itu mulai menyebar dan menjadi lagu rakyat di wilayah Tyrol. Lagu ini menjadi semakin populer ketika kuartet Strasser,--empat wanita bersaudara--, menyanyikan lagu ini berkeliling di seluruh Austria. Tahun 1838, lagu ini sudah dikenal di Jerman sebagai "lagu tidak jelas asal-usulnya."

    Di Amerika, lagu ini diperkenalkan oleh Rainers, sebuah keluarga penyanyi dari Tyrol dalam sebuah tur konser, tahun 1839. Seperempat abad kemudian, Jane Campbell menterjemahkan syairnya ke dalam bahasa Inggris.  Tahun 1980, Yayasan Musik Gereja (Yamuger) menterjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Syairnya sebagai berikut: "Malam kudus, sunyi senyap. Dunia terlelap. Hanya dua berjaga terus.  Ayah Bunda mesra dan kudus. Anak tidur tenang."

     

    Nada-nada dari Sorga

    Lagu Natal lain yang juga terkenal adalah "O Litle Town of Betlehem".  Lagu ini berasal dari coretan pena Phillips Brooks, seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Brooks menuliskan lagu ini setelah berkunjung ke Israel, tahun 1865.  Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di  Betlehem. Tiga tahun kemudian, ketika menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu.  Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.

    Brooks lalu memberikan syair itu pada Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu. Brooks minta dibuatkan melodi untuk dipentaskan pada malam Natal. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tetapi tidak juga ditemukan yang pas. Hingga pada sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya.  Dia langsung menyusun komposisi lagu, yang tiba-tiba meluncur deras di batinnya. Sampai meninggal dunia, Redner tetap yakin bahwa nada-nada itu berasal dari Sorga. Yamuger menterjemahkannya menjadi "Hai Kota Mungil Betlehem", tahun 1978.

     

     Kebosanan Watts

    "Gembira" atau "Joy" merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada  masa Advent (saat-saat penantian menjelang Natal). Himne ini diciptakan oleh Isaac Watts (1674-1748), yang merupakan parafrase dari Mazmur 98:4-9. Perikop ayat ini menceritakan janji Tuhan untuk memulihkan dan melindungi umat-Nya.

    Sejak kecil, Isaac Watts sudah menampakann kejeniusannya. Pada usia lima tahun, bocah Inggris ini sudah fasih bahasa Latin. Usia sembilan tahun menguasai bahasa Yunani. Belajar bahasa Perancis pada usia sebelas tahun dan bahass Ibrani pada umur tiga belas. Pada usia 18 tahun, dia merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat mazmur pada masa Advent. Suatu hari Minggu, setelah kebaktian, ayahnya menantang Watts: "Anak muda, kalau kamu bosan, mengapa tidak menciptakan lagu yang lebih baik?"

    Merasa mendapat tantangan, Watts bertekad menciptakan lagu berdasarkan kitab Mazmur.  Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul "The Messiah's Coming and Kingdom".  Untuk musiknya, Lawol Mason, seorang musisi Amerika mengadaptasi fragmen komposisi George Frederick Handel, seorang komponis Jerman. Tahun 1980, Yamuger menterjemahkan lagu Joy to the World"  ini dengan judul "Hai Dunia, Gembiralah"

    Lagu Langka

    Pada tahun 1627, parlemen Inggris yang puritan melarang penggunaan lagu-lagu Natal (Christmas carol) karena mereka menganggap perayaan ini sebagai "festival duniawi".  Akibatnya, hingga awal abad ke-18, terjadi kelangkaan lagu-lagu Natal. Lagu "Hark! The Herald Angels Sing" yang ditulis Charles Wesley termasuk di antara sedikit lagu yang ditulis pada masa itu. Sama seperti 6500 lagu lainnya yang ditulis Wesley, lagu ini juga mengandung doktrin-doktrin Alkitabiah dalam bentuk puisi. Bait pertama menceritakan lagu para malaikat yang mengundang untuk bergabung memuji Kristus.

    Charles Wesley mengikuti jejak ayahnya dan John Wesley, kakaknya, masuk dalam  kegiatan pelayanan. Tahun 1730-an, tidak berapa lama setelah pentahbisannya, Charles Wesley dan dua saudaranya mengikuti gubernur Oglethorpe melakukan perjalanan ke Amerika.  Saat itu, Chares Wesley menjadi sekretaris gubernur.  Dalam pelancongan ini Charles Wesley mengalami pertobatan. Sekembalinya ke Inggris, dia lalu memutuskan menjadi pengkhotbah keliling.

    Setahun setelah pertobatannya, Wesley menciptakan lagu Natal yang oleh Yamuger diterjemahkan dengan judul "Gita Sorga Bergema" (1977). Menurut John Julian, pakar himne terkenal, lagu ini termasuk salah satu di antara empat himne paling populer di Inggris.

    Lagu yang terakhir ini memiliki syair sederhana sehingga mudah dimengerti maknanya oleh anak-anak sekalipun.  Itulah sebabnya, lagu ini termasuk lagu Natal yang pertama kali diajarkan pada anak-anak.  Pada mulanya, lagu "Away in the Manger" ini berjudul "Luther Cradle Hymn".   Konon, syair lagu ini sengaja ditulis Martin Luther untuk anak-anaknya.  Tetapi melalui penelitian yang seksama, ternyata tidak ada bukti yang mendukung kebenaran klaim ini. Bait pertama dan kedua pertama kali dimuat di "Litle Children's Book", Philadelphia, tahun 1885.  Sedangkan bait ketiga disusun oleh John T. Mcfarland, seorang pendeta Methodis.

    (Purnawan Kristanto/Berbagai Sumber)

    Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
    ]
    Read More