Selasa, 22 Maret 2005

Menulis Buku yang Laris

Menulis Buku yang Laris[i]
Oleh Purnawan Kristanto[ii]


Menulis Buku?!! Kebanyakan orang langsung bergidik ketika ditanya apakah punya rencana menulis buku. Padahal sebenarnya menulis buku itu gampang. Yang susah adalah mengarang buku yang bemutu dan laku. Padahal naskah seperti ini yang diidam-idamkan penerbit buku. Mengapa? Karena dalam industri penerbitan, ada aspek perhitungan bisnis dan nilai idealisme yang harus dipertimbangkan. Itulah sebabnya, untuk buku yang bermutu tapi tidak laku, pihak masih harus berpikir berulang-ulang sebelum menerbitkannya. Biasanya, mereka memutuskan menerbitkannya karena pertimbangan idealisme. Idealisme ini biasanya bisa kita baca dalam mission statement penerbit itu.

A. Penulis Harus Berwawasan Pasar
Dalam penerbitan, ada dua sisi dari satu keping mata uang yaitu: bisnis dan idealisme. Kedua hal ini, kadang-kadang berjalan seiring, tapi tidak jarang juga saling tarik-menarik dan bahkan saling meniadakan. Idealnya, memang hanya buku bermutu tinggi yang diterbitkan, tetapi penerbit yang melakukan ini biasanya tidak berumur panjang karena buku itu tidak laku di pasar. Di sisi lain, jika hanya menerbitkan buku yang semata-mata mengikuti selera pasar, maka penerbit tersebut tidak bisa menjadi penerbit yang berwibawa dan disegani. Reputasi seperti ini menimbulkan kepuasan batin dan bermanfaat dalam jangka panjang.
Karena kesulitan mencari naskah yang bermutu plus laku, maka pihak penerbit biasanya mengambil jalan tengah. Mereka menerbitkan buku yang laku, tetapi "dengan mutu yang tidak jeblok-jeblok amat."
Persoalannya, seperti apa sih naskah buku yang laku itu? Nah ini yang sulit dipastikan. Jangankan penulis pemula, pihak penerbit yang sudah punya pengalaman puluhan tahun sekalipun, kadangkala masih terpeleset dalam memprediksi tema-tema buku yang laris di pasar. Di sisi lain, ada penerbit yang merasa seperti mendapat "durian runtuh" lantaran buku yang diterbitkannya, tanpa dinyana menjadi buku terlaris (best seller). Ada banyak cerita dimana sebuah naskah yang ditolak diberbagai penerbit, tetapi begitu ada yang berani menerbitkan, buku itu meledak di pasar.
Meskipun begitu, tidak berarti bahwa tidak ada cara untuk memprediksi tema-tema yang bakal laris-manis. Berikut ini beberapa cara yang bisa dipakai:
1. Melihat daftar buku terlaris (best seller)
Cara ini cukup mudah dan cukup valid karena berdasarkan pada angka-angka yang telah terbukti di lapangan. Dengan mengikuti tema apa saja yang sedang ngetop di pasar saat itu, maka kemungkinan besar buku itu akan ikut pula laris di pasar. Cara paling mudah adalah mengumpulkan katalo-katalog dar penerbit, rajin mendatangi pameran atau menghubungi penulis. Dari situ kita bisa menganalisis, kira-kira buku apa yang sedang menjadi trend di pasar saat ini. Sebagai contoh, dalam industri penerbitan rohani, yang laris adalah buku-buku hasil transkrip kotbah penginjil terkenal, buku cerita inspiratif dan ilustrasi, buku permainan, dan buku kiat sukses & motivasi.

2. Melakukan Analisis Khalayak
Setiap orang sebenarnya berkepentingan dengan marketing. Sadar atau tidak, kita ini adalah marketer. Dari urusan membujuk pacar, sampai berjualan suatu produk, kita sebenarnya berurusan dengan prinsip-prinsip marketing. Begitu juga sebagai penulis kita harus mempunyai seperangkat alat untuk menganalisis khalayak pembaca. Sebelum menulis sesuatu, kita harus sadar mengenai siapa target readers, lalu bertanya bagaimana cara "memuaskan pelanggan"(yaitu target readers kita). Kiatnya adalah: mengenali harapan pelanggan, lalu memberi sedikit lebih dari yang diharapkan.
Di benak orang yang sedang mencari produk atau jasa, entah terucap atau tidak, selalu ada pertanyaan yang bunyinya: "Apa untungku dengan memakai produk atau jasa itu? Apa manfaatnya bagiku jika aku membeli produk ini?" Keberhasilan Anda sebagai penulis akan ditentukan oleh seberapa jelas dan tegas Anda bisa menjawab pertanyaan pelanggan seperti itu. Jika kebutuhan ini terpenuhi maka niscaya buku itu akan laris dengan sendirinya.
Contoh kasus: Buku "77 Permainan Asyik" yang saya tulis adalah hasil pengamatan dan pengalaman saya. Ketika saya mengajar Sekolah Minggu dan memimpin Persekutuan Pemuda, saya kesulitan mencari buku tentang permainan. Buku yang tersedia di pasar ketika itu hanyalah terbitan Kalam Hidup dan BPK. Itu pun tidak semua permainannya, cocok digunakan. Karena itulah, saya menciptakan permainan sendiri. Tiba-tiba terbersit ide, "Saya yakin ada banyak orang yang mempunyai kebutuhan yang sama. Mengapa tidak saya membuatnya menjadi buku?" Maka saya memutuskan untuk membukukan permainan-permainan yang pernah saya terapkan di Sekolah Minggu dan Persekutuan itu. Dalam menulis ini, saya berusaha membayangkan kebutuhan guru Sekolah Minggu dan pemimpin persekutuan, yang akan menjadi target reader (TR) dari buku saya ini.
Sebuah naskah harus ditulis dengan sasaran pembaca yang jelas. Sasaran yang jelas ini amat membantu penerbit maupun penulis.
· Bagi Penerbit: TR Menentukan Pangsa Pasar
Untuk menyetujui atau menolak penerbitan suatu naskah, penerbit tentu memikirkan siapa calon pembacanya: pembaca umum‚ atau pembaca spesifik (specialized readers). Ada kemungkinan penerbit memilih menjadi niche player, yaitu pemain dalam bidang yang sempit, tetapi memiliki potensi pangsa pasar yang besar.
Dalam kondisi nyata dan menyangkut naskah tertentu, tidak dapat langsung disimpulkan bahwa pembaca umum pasti menyajikan pangsa pasar besar, atau sebaliknya bahwa pembaca spesifik menyajikan pangsa pasar kecil. Demikian juga sebagai pengarang, kita perlu memposisikan diri kita: apakah kita akan menjadi penulis spesialis atau generalis. Pada zaman yang semakin kompleks ini, orang yang mempunyai spesialisasi di bidang tertentu akan mempunyai keuntungan yang besar. Sebagai contoh, Safir Senduk sudah dikenal sebagai penulis di bidang pengelolaan keuangan. Naek L Tobing dikenal sebagai penulis seputar persoalan seksual. Dengan spesialiasasi seperti ini, keberadaan kita mudah diingat, karena orang menjadi mudah mengasosiasikan pengarang dengan karyanya.
· Bagi Penulis: TR Menentukan Pilihan Logika dan Gaya Tutur
Bagi penulis, pemilahan pembaca itu langsung menyodorkan pilihan logika tutur dan gaya penulisan karya tulisnya. Karya tulis yang dimaksudkan untuk pembaca umum tentu harus menghindari penggunaan bahasa/istilah teknis yang mengandaikan kualifikasi dalam bidang ilmu tertentu guna memahaminya. Logika tutur dan pilihan-pilihan katanya perlu diusahakan agar dapat dipahami hanya dengan common sense, dengan akal sehat.
Di sini ada akrobrat tersendiri yang perlu dikuasai oleh penulis: di satu pihak tidak boleh terlalu mengandaikan bahwa pembaca tahu apa yang dimaksudkan, di lain pihak dia dituntut untuk tidak terlalu menjelaskan sampai terkesan terlalu menggurui.
Apabila seorang penulis membayangkan pembacanya adalah para specialized readers, ia dapat memasukkan istilah-istilah teknis dan logika yang biasa dipakai di bidang yang bersangkutan. Di sini penulis agak leluasa untuk mengandaikan bahwa pembacanya akan tahu apa yang ia maksudkan.

3. Melakukan Analisis Pasar
Pada tulisan yang sebelumnya, kita menggunakan metode analisis trend (kecenderungan) yang ada di pasar. Kemana arah angin bertiup di situlah kita berusaha mengikuti selera pasar. Kita hanya berusaha memenuhi permintaan pasar (demand). Kelemahan cara ini, jika kita menjadi pemain baru di bidang ini, maka kita akan mengalami entry barrier (hambatan untuk masuk) ke pasar yang sangat tinggi. Kita ibaratnya seekor semut pendatang yang ikut-ikutan berebut secuil kue, yang sebelumnya telah jadi bahan rebutan banyak semut lainnya (dan mereka lebih kuat). Jika kita tidak punya cukup kekuatan (misalnya punya keunikan, isi lebih baik, modal lebih kuat, harga lebih murah dsbnya), maka kita akan kalah.
Jika tembok itu terlalu tinggi untuk dilompati dan terlalu tebal untuk ditembus, maka kita harus mencari jalan sendiri. Jika kita dilarang ikut bermain oleh pemain yang lebih kuat, maka kita perlu membuat arena permainan sendiri. Kita perlu menciptakan permintaan baru (create demmand). Kita menciptakan produk yang sama sekali baru, yang belum pernah ada di pasar. Namun untuk itu diperlukan inovasi dan strategi promosi yang intensif untuk memberitahu konsumen bahwa ada produk baru dan mereka membutuhkan produk ini. Contohnya produk teh botol Sosro. Pada mulanya, orang menilai bahwa teh yang dimasukkan dalam botol itu adalah produk yang aneh (karena teh biasanya dimasukkan dalam gelas). Tetapi Sosro berhasil meyakinkan orang bahwa pada jaman modern ini, orang membutuhkan kepraktisan. Kita tidak perlu lagi repot-tepot menyeduh teh apabila kedatangan tamu (apalagi jika tamunya ratusan seperti dalam resepsi pernikahan atau seminar seperti ini). Hal yang sama juga terjadi pada produk Aqua. "Ini lebih gila lagi. Masa' air putih dibotolin. Mending, kalau isinya air teh," pikir orang ketika itu. Tapi lihatlah hasilnya sekarang! Aqua menjadi market leader untuk produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).[1] Yang ingin saya katakan, jika Anda merasa tidak mampu "berebut kue" dengan pelaku pasar yang lebih kuat, maka ciptakanlah kue Anda sendiri dan nikmatilah sendiri.

B. Bagaimana Memilih Tema?
Banyak (calon) penulis mengeluhkan bahwa kesulitan terbesar mereka adalah menemukan tema tulisan. Akan tetapi jika kita sudah berangkat dari analisis pasar dan kita memposisikan diri kita, maka kita bisa menentukan tema tulisan dengan mudah. "Jangankan memilih tema, lha wong mencari satu tema saja sulit sekali," keluh seorang peserta Sekolah Jurnalistik BAHANA. Kepada orang ini saya lalu membagikan dua cara untuk menggali dan menemukan tema:
Pertama, kita bisa menemukan tema dari bidang yang sedang menjadi pusat perhatian khalayak. Dari sebuah peristiwa yang sedang menjadi pusat perhatian, kita bisa menuliskan tema itu menggunakan sudut pandang kita yang unik. Contohnya, ketika terjadi pemadaman listrik di Jawa Bali, saya menulis artikel di harian Bernas berdasarkan perspektif Perlindungan Konsumen. Tulisan saya dimuat karena saya memakai sudut pandang yang unik [2]
Karena itu, saya menganjurkan pada setiap penulis untuk menggali keunikan yang dia miliki. Keunikan inilah yang memberi nilai lebih pada pengarang.
Kedua, kita bisa menemukan tema dari bidang yang kita geluti. Jika kita mempunyai spesialisasi yang tidak dikuasai oleh banyak orang, kita mempunyai keuntungan tersendiri. Jika Anda punya pengalaman menginjili suku-suku yang terabaikan, mengapa Anda tidak menuliskan pengalaman itu? Tidak semua orang punya pengalaman seperti itu. Ada rekan saya yang gerejanya mempunyai pelayanan terhadap kaum homoseks, pekerja seks, anak jalanan, orang gila dan panti asuhan. Saya bilang, "Wah, kalian mempunyai banyak sekali bahan tulisan." Sebagai contoh, ada naskah buku berupa kumpulan khotbah yang masuk ke Yayasan Andi. Padahal sudah ada puluhan naskah seperti ini. Meski begitu, naskah ini tetap diterbitkan[3] Mengapa? Karena naskah ini ditulis oleh Marthinus Theodorus Mawene yang berasal dari Papua. Dia mampu bersaing dengan puluhan naskah lain yang serupa karena punya keunikan. Dia berasal dari Papua, sedangkan kebanyakan penulis lainnya berdomisili di Jawa.
Uji kelayakan informasi awal
Setelah mendapatkan tema, maka langkah lanjutannya adalah menguji kelayakan tema itu. Caranya dengan menjawab dua pertanyaan pokok ini:
1. Apakah bahan yang akan ditulis itu berdasarkan informasi awal yang menarik? Kriteria "menarik" ini sulit sekali ditetapkan dengan jelas. Menurut Slamet Soeseno, tema dikatakan menarik jika mengandung unsur: baru, aneh, terkenal, luar biasa atau kontroversial. Jika salah satu saja dari unsur itu terpenuhi, maka tema itu layak diteruskan. Jika tema itu sudah lulus ujian ke-menarikan-nya, ujian berikutnya adalah azas manfaatnya.
2. Apakah kalau nanti jadi ditulis akan dapat menambah pengetahuan pembaca, menambah ketrampilan, memecahkan masalah, menghibur, menggugah rasa estetis atau menyentuh kepekaan etis? Kalau salah satu dari manfaat ini terpenuhi, maka penulisan boleh diteruskan.

C. Tahap-tahap Penulisan
a. Perencanaan
Jika tema sudah digenggam, langkah berikutnya adalah mencari bahan-bahan informasi pendukungnya. Seperti koki yang sudah memutuskan jenis masakan tertentu, dia lalu berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Dalam ucapan Hemingway ini, kita bisa mengingat-ingat sumber-sumber pencarian informasi: (1). Dari apa yang dia tahu (ingatan); (2) dari apa yang di lihat (pengamatan); (3) dari apa yang dia dengar dari ucapan orang lain (penelitian).
b. Penulisan Naskah Kasar
Jika pengumpulan bahan dirasa sudah cukup (tidak perlu menunggu bahan terkumpul semua), selanjutnya kita bisa mulai menulis naskah kasar (outline). Pekerjaan merangkai sari informasi menjadi tulisan baru ini dikenal sebagai mengkompilasikan (merangkum bahan informasi).
Perangkuman ini mengandung dua tugas penting:
(1). Mencakup pelbagai pokok pernyataan
(2) Mengemukakan kembali kumpulan pernyataan itu dengan kata-kata lain dan kalimat baru secara ringkas.
Selama rangkuman itu tidak menunjukkan lebih dari satu sumber informasi, maka hasilnya belum bisa disebut rangkuman tetapi jiplakan yang diringkas. Agar rangkuman itu enak dibaca, maka kumpulan informasi itu harus disusun berdasarkan urut-urutan tertentu. Ada beberapa cara pengurutan outline:
1. Kronologis. Tulisan ini disusun berdasarkan urutan waktu. Teknik ini sering digunakan untuk menulis (auto)biografi. Ada juga pengarang yang suka memutar-balikkan waktu. Teknik ini disebut flashback atau kilas balik. Cara ini sering dipakai untuk menulis fiksi.
2. Lokal. Tulisan disusun berdasarkan urutan ruang. Untuk menggambarkan suasana sebuah museum, misalnya, pengarang mulai dari halaman depan, tengah, belakang. Urut dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Dari satu lantai ke lantai lain.
3. Klimaks. Tulisan disusun berdasarkan jenjang kepentingannya. Mulai dari yang kurang penting, agak penting sampai yang paling penting. Mulai dari yang kurang rumit sampai yang paling kompleks.
4. Familiaritas. Tulisan disusun berdasarkan jenjang dikenal-tidaknya bahan tulisan yang akan dijelaskan kepada pembaca. Dimulai dari sesuatu yang paling dikenal pembaca sampai ke sesuatu yang masih asing baginya. Hal ini dimaksudkan untuk menggiring pembaca ke arah sesuatu yang sudah amat familiar dengannya.
5. Akseptabilitas. Tulisan disusun berdasarkan diterima-tidaknya informasi yang dikemukakan. Dimulai dengan mengemukakan hal-hal yang bisa diterima pembaca sampai hal-hal yang mungkin tidak bisa diterima bahkan ditolaknya.
6. Kausal. Tulisan disusun berdasarkan hukum sebab akibat. Penulis memulainya dengan sebab yang kemudian diuraikan akibat-akibatnya setelah itu. Susunannya dapat diubah dulu, dai akibat dulu baru sebab.
7. Logis. Tulisan disusun berdasarkan aspek umum ke aspek khusus. Susunan ini dapat pula diubah dengan membicarakan masalah-masalah khusus dulu baru ke umum.
8. Apresiatif. Tulisan disusun berdasarkan pemilihan baik-buruk, untung-rugi, salah-benar dst. Tulisan jenis ini biasanya digunakan untuk menjabarkan suatu peraturan atau trend baru.
c. Penulisan Naskah
Sampai di sini, kita sudah memiliki kerangka karangan. Maka langkah selanjutnya menjadi lebih mudah karena kita tinggal menempelkan "daging" pada kerangka itu. Artinya, kita tinggal menuliskan detil atau rincian dari setiap tulang kerangka. Yang dibutuhkan di sini adalah sikap konsisten pada kerangka itu.
d. Penulisan Ulang
Tidak satu pun naskah buku yang sudah sempurna dan siap diterbitkan tanpa dibaca lagi dan ditulis ulang. Jika Anda sudah selesai menyelaikan penulisan, simpanlah dulu naskah itu dan lupakan selama beberapa hari. Gantilah aktivitas lain. Beberapa hari kemudian, bacalah kembali naskah itu dengan pikiran yang baru. Hampir pasti, Anda bakal menemukan kesalahan dan kekurangan yang sebelumnya Anda tidak sadari.

D. Pengiriman Naskah
Langkah selanjutnya adalah mengirimkan naskah itu ke pihak penerbit. Sebelumnya, usahakan untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak penerbit tersebut. Hal ini untuk kemudahan kedua belah pihak. Untuk itu, jangan segan-segan menanyakan prosedur itu pada pihak penerbit. Berikut ini contoh persyaratan pengiriman naskah Yayasan Andi:
1. Naskah belum pernah diterbitkan oleh penerbit lain, dalam bentuk apapun.
2. Jika berupa saduran, sumber harus dicantumkan.
3. Naskah terjemahan harap dilampiri surat izin penerjemahan dari penerbit /penulis aslinya.
4. Naskah karya sendiri harus diketik dalam komputer dengan jarak ketik dua spasi, dan dicetak di atas kertas HVS ukuran folio atau kwarto.
5. Tulisan bersifat interdenominasi dan tidak menyerang aliran gereja tertentu yang dapat menimbulkan konflik atau perpecahan.
6. Tulisan merupakan kupasan, pengajaran atau uraian Firman Tuhan yang bersifat inovatif, praktis dan Alkitabiah.
7. Tema tulisan hangat, bukan klise, (suatu pokok bahasan yang baru dan belum pernah ditulis orang lain)
8. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan mengikuti kaidah penulisan yang baku dan benar.
9. Bagi penulis yang baru pertama kali mengirimkan naskahnya, dimohon melampirkan daftar riwayat hidup dan dua buah pasfoto ukuran 3 X 4 atau 4 X 6.
10. Naskah yang dikirimkan kepada Penerbit adalah hasil cetakan yang asli (bukan fotocopi).
11. Penulis diminta membuat arsipnya sendiri
12. Naskah yang tidak dapat diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.
13. Pengiriman naskah ditujukan kepada:Bagian Editorial Penerbit Yayasan ANDI Jl. Beo 38 Jogja 55281.
Sebagai bahan perbandingan, berikut ini persyaratan yang ditetapkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU)
1. Naskah harus lengkap dan dibendel. Lengkap berarti: naskah itu 100% komplit, termasuk gambar. [4]
2. Menyertakan informasi tentang:
a. Keunggulan naskah tsb dibandingkan dengan buku yang sudah ada di pasar.
b. Sasaran pembaca. Siapa saja yang berkepentingan dengan naskah buku tsb, dan seberapa besar populasinya?
c. Perkiraan berapa banyak buku yang bisa diserap pasar selama 12 bulan, bila memasarkannya hanya lewat jaringan toko buku.
d. Apakah pengarang memiliki forum di mana naskah tsb akan digunakan bila sudah terbit? (misal: "Saya adalah dosen dengan mahasiswa 50 orang per semester, dan rekan-rekan saya juga akan memakainya") Bila "ya", berapa banyak Anda sendiri akan menyerap buku tersebut dalam setahun?
e. Apakah akan ada event tertentu yang menciptakan momentum yang menguntungkan publikasi naskah tersebut. (Misal, "Bulan xxx tahun zzz akan ada Nasional Seminar On bla bla bla, dan buku ini akan di-launch di sana" atau "Saya akan melakukan in house training untuk 500 karyawan PT yyy, bulan bbb tahun ttt, dan buku ini akan dipakai sebagai panduan.")
E. Lebih Hebat Daripada Pengkhotbah
Setiap kali berkhotbah, berapa orang yang mendengarkan Anda? Pernahkan pesan yang Anda sampaikan itu mencapai dua sampai tiga ribu orang? Mungkin hanya pengkhotbah besar sekaliber Yusuf Roni atau Gilbert Lumoindong saja yang bisa mengundang orang sebanyak itu, ketika dia berkhotbah. Itu saja orang yang masih tetap ingat isi khotbah ketika mereka pulang, jumlahnya tidak ada separonya.
Akan tetapi tahukah Anda, bahwa Anda bisa "berkhotbah" pada ribuan orang? Hal ini bisa dilakukan jika Anda menulis buku. Dengan menulis, Anda punya kesempatan "menginjili" orang lain tanpa risiko dipukuli massa. Banyak sudah orang yang hidupnya diubahkan karena membaca buku rohani. Paling tidak saya bisa menyebutkan 3 narapidana yang dipenjara di tempat dan waktu yang berbeda, yang akhirnya menyerahkan hidupnya pada Kristus berkat buku terbitan Yayasan Andi dan Metanoia.
Di luar alasan rohani itu, saya ingin berbagi juga pengalaman mendapat berkat jasmani dari menulis buku. Saya mengarang buku yang dengan cetakan pertama sebanyak 2000 eks, dan dijual seharga Rp.15.000,-. Lazimnya, setiap penulis buku mendapat royalti sebesar 10 % dari harga jual buku. Itu artinya nilai nominal dari royalti yang saya peroleh: 10 % x (2000 eks x Rp.15.000,-) = Rp. 3.000.000,-. Jika dalam 6 bulan buku saya habis terjual, maka setiap bulannya rata-rata mendapat penghasilan Rp. 500.000,-[5]. Inilah yang disebut penghasilan pasif (pasive income). Coba hitung sendiri jika buku saya itu sudah naik cetak sebanyak 5 kali dengan tiras total 11.000 eks! Itu baru satu judul buku. Bagaimana kalau 3 judul buku? Angka ini lebih besar lagi jika buku Anda dicetak di penerbit umum semacam Gramedia. Nah, sekarang tunggu apa lagi….!

Pustaka
Hadi Nafiah, "Anda Ingin Jadi Pengarang?" Usaha Nasional, Surabaya, 1981
James M., McCrimmon, "Writing With a Purpose", Houghton Mifflin Company, 1984
Slamet Soeseno, "Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Nonfiksi untuk Majalah", Gramedia Pustaka Utama, 1985
Wandi S. Brata, "Menulis Untuk Diterbitkan" dalam http://www.gramedia.com
[1] Bahkan "Aqua" telah menjadi nama generik. Orang langsung teringat merek itu, ketika membutuhkan AMDK. Ini mirip sepeda motor "Honda", kamera "Kodak" dan pasta gigi "Odol"
[2] Saat itu belum banyak orang yang menggeluti masalah perlindungan konsumen. Sedangkan saya sudah berkecimpung di dalamnya selama 5 tahun.
[3] Dua karyanya diterbitkan Yayasan Andi, berjudul "Allah itu Kekuatanku" dan "Iman Kristen di Tengah Realita"
[4] Gambar yang disertakan hanya foto kopi dari aslinya, bukan masternya. Ini penting karena master gambar-gambar itu berikut data elektronik naskah tersebut baru akan diserahkan ketika sudah jelas akan diterbitkan. Ini menjadi sarana pengaman bagi Penulis. Misalnya jika penerbit itu nakal dengan menerbitkan tanpa sepengetahuan pengarang..

[5] Angka ini belum dipotong pajak PPN 15 %, yang dipotong langsung oleh penerbit.
[i] Tulisan ini adalah hasil penyempurnaan dari makalah acara "Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan Buku", diselenggarakan oleh Komisi Media Sinode GITJ di Jepara, 3 April 2003
[ii] Purnawan Kristanto adalah penulis buku laris. Email: Purnawan_krist@telkom.net. Situs: Www.Geocities.com/Purnawankristanto
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More