Kamis, 30 Desember 2004

Tips Konsumen: MEMBANGUN BIOSKOP DI RUMAH

Ada trend baru di kota besar, yakni membangun bioskop di rumah (home theatre). Dengan menempatkan TV berlayar lebar, serta seperangkat tata suara hi fi, kedahsyatan perang dapat dinikmati layaknya di bioskop. Tapi, apa saja yang perlu diperhatikan?


Pernahkah Anda mencermati acara TV yang diangkat dari film layar lebar? Bila dicermati dengan seksama, di bagian atas dan bawah film tersebut ada semacam blok hitam memanjang, yang membuat gambar di layar televisi menjadi tidak penuh. Mengapa bisa demikian? Hal ini bisa terjadi karena rasio (perbandingan) antara panjang dan lebar ukuran layar TV berbeda dengan layar lebar. Rasio ukuran layar TV adalah 4:3, sedangkan layar lebar bioskop 16:9. Dari kedua rasio tersebut, rasio layar lebar lebih mendekati rasio lebarnya pandangan mata manusia.

Kini dengan semakin banyaknya penayangan film layar lebar di televisi, penonton menginginkan pesawat TV yang mempunyai rasio seperti layar lebar. Maka produsen pun berlomba?lomba membuat TV layar lebar atau wide screen dengan berbagai ukuran dari 16 inchi sampai 23 inchi.


Haruskah TV Layar Lebar?

Di negara Inggris, TV layar lebar semakin digemari dan laris karena stasiun televisi setempat mulai memancarkan siaran TV dalam format layar lebar. Stasiun TV BBC, sudah membuat siaran dalam format layar lebar digital ini. Pada dasarnya, pada akhirnya teknologi penyiaran akan mengarah ke sana. Namun setiap negara memiliki kerangka waktu yang berbeda.

Bagaimana dengan Indonesia? Hingga saat ini, belum ada satu pun stasiun TV yang memancarkan siaran dalam format layar?lebar. Namun demikian kita sudah dapat membeli pesawat televisinya, karena di Indonesia pun sudah tersedia TV format demikian.

Yang perlu diingat, karena stasiun TV kita masih memancarkan siaran dalam format TV biasa (konvensional), maka penyajian gambar pada TV layar lebar akan mengalami penyesuaian. Adapun kemungkinan penyesuaian adalah sebagai berikut:

Pertama, menarik gambar ke samping kanan?kiri hingga memenuhi seluruh layar. Akibatnya, gambar akan mengalami distorsi. Wajah aktor atau aktrisnya kelihatan lebih gemuk karena melebar ke samping.

Kedua, Zoom in yaitu dengan memotong gambar bagian atas dan bawah. Gambar yang dihasilkan tidak mengalami distorsi, tetapi pada adegan close?up kepala jagoan film bisa terpotong.

Ketiga, menayangkan gambar pada format TV biasa (4:3). Akibatnya, timbul blok hitam vertikal di samping kiri?kanan.

Penyiaran televisi Indonesia menggunakan standard PAL, yang setiap detiknya mengirimkan 50 field. Setiap 2 field membentuk satu frame gambar. Dalam satu gambar mengandung 625 garis. Pada kenyataannya, dari 625 garis itu, tidak semuanya berisi informasi gambar. Hanya 572 yang berisi gambar, sisanya yang 49 garis tidak berisi informasi sama sekali.

Sedangkan pada siaran TV layar?lebar, hanya terdin dari 430 garis saja yang berisi informasi gambar. Sisanya, yang 195 membentuk blok hitam di bagian atas dan bawah. Jumlah garis yang lebih sedikit ini mempengaruhi kualitas gambar. Resolusi TV layar lebar lebih rendah atau gambarnya kurang tajam dibandingkan TV biasa.

Alasan orang membeli TV layar lebar karena rasio ukurannya serupa dengan di bioskop. Tetapi, selain TV layar lebar Anda dapat memakai TV layar besar untuk bioskop pribadi. Ukuran yang tersedia 22-36 inchi. Bedanya TV layar besar masih menggunakan rasio TV biasa. Angka 36 inchi merupakan panjang diagonal maksimal yang bisa dicapai tabung TV. Selebihnya itu pembuatan tabung TV akan semakin sulit dan mahal. Walau demikian, ukuran layar TV masih bisa diperbesar dengan cara memproyeksikan gambar pada layar yang lebih besar. Namun kualitas gambarnya tidak sebagus TV tabung dan terasa ada kedipan.


Sistem Suara

Pada saat memilih atau membeli TV, para calon pembeli selain melihat kualitas harga atau kelengkapan yang dimiliki, juga melirik kualitas suara TV. Kualitas suara seperti ini ditentukan oleh kekuatan dan jumlah speakernya (woofer)

Saat ini, dikenal ada dua pembangkit nada bas yaitu super wooffer dan sub woofer. Pada umumnya pemakaian super woofer adalah untuk mengangkat bas dari radio compo atau televisi yang mempunyai kekuatan keluaran suara kecil (di bawah 40 watt per kanal). Menurut pengamatan ir Doharto J. Simatupang, kualitas suara merupakan salah satu andalan (selling point) agar tetap eksis di pasar domestik. Namun berdasarkan perbandingan di antara berbagai merek TV, ia menemukan beberapa merk yang kurang pas, terlalu membesar-besarkan dalam mengklaim kekuatan output audio TV produknya (Suara Pembaruan. 15/7/96).

Bila belum puas terhadap tata suara yang built?in pada pesawat, Anda dapat membangun tata suara bioskop di rumah. Perangkat yang selalu dipakai adalah sub woofer yang bisa mengeluarkan daya sampai 100 watt.

Menurut Ir. Tjandra Ghozali, sub woofer terdiri dari atas dua macam, pasif dan aktif. Pasif artinya sub woofer ini membutuhkan tambahan amplifier dan Penapis Nada Rendah. Sedangkan yang aktif, amplifier dan penapisnya sudah built in di dalam kotak.

Dilihat dari sistem akustiknya, sub woofer terbagi dalam dua jenis yakni berlubang (port) dan yang rapat (sealed). Jenis yang rapat untuk menghasilkan nada bas yang rendah dan bulat, sedangkan jenis lubang untuk mendapatkan tekanan bas.

Dengan membangun tata suara yang berkekuatan besar, maka gemuruhnya gelombang tsunami siap menggetarkan gendang telinga Anda. Hanya yang perlu diingat: jangan menyetel volume suara di atas 98 desibel (dB), karena tekanan suara yang dahsyat mampu membuat pendengar muntah?muntah, kejang dan tidak mustahil meninggal dunia (Which?, June 1995).


Memilih Sub Woofer

Seperti telah disebut di atas, dilihat dari sistem akustiknya, sub woofer terbagi atas dua jenis: berlubang (port) dan rapat (sealed).

Bila menginginkan yang jenis lubang, perhatikan bunyi angin yang menerpa silinder lubang. Sub woofer yang bagus tidak menimbulkan siulan angin di lubangnya, sekecil apapun. Untuk jenis rapat, tidak boleh ada rembesan aliran udara di tiap sudut sambungan dan terminal. Juga tidak ada bunyi berderak saat bas bergetar.

Sub Woofer yang aktif, minimal harus mempunyai terminal masukan speaker stereo. Lebih baik lagi bila punya masukan RCA Mono/Stereo.



Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It